Rabu, 16 Maret 2016

MILEA, SUARA DILAN



"MILEA"
SUARA DILAN
- Seperti yang diceritakan oleh Dilan kepadaku -


(Belum diedit)

BAB I
PENGANTAR BUKU

1
Aku tidak jadi nelepon si Komar, tapi sudah membaca dua buku yang ditulis oleh Pidi Baiq, judulnya “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” dan “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991”.

Kebetulan kedua buku itu bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia (Milea Adnan Hussain) pada waktu masih duduk di bangku SMA, tahun sembilan puluhan di Bandung.

Sebetulnya aku tidak ingin berpikir apapun soal itu. Tapi setelah kedua buku itu aku baca, terus terang, aku seperti merasa mendapatkan kehidupanku yang lama sedang kembali. Otomatis semuanya serasa seperti hidup lagi.

Aku juga gak mau menilai lebih jauh mengenai isi bukunya. Tapi waktu kubaca, aku banyak menghabiskan waktu untuk menelaah lebih jauh apa sih yang Lia pikirin, apa sih yang Lia rasakan saat itu. Kukira semua itu bukanlah omong kosong. Itu, buat aku pribadi, sangat menarik, termasuk aku jadi tahu bagaimana dulu Lia memandang diriku melalui apa yang dia ungkapkan.

Meski sebagian besar yang dikatakan oleh Lia pernah Lia ungkapkan sendiri secara langsung ke aku, tapi di buku itu, Lia seperti bercerita dengan tanpa penghalang. Rasanya, gimana ya? Bebas merdeka tanpa tedeng aling-aling.

Di dalam buku itu, aku sendiri menikmati cukup banyak momen-momen berharga yang diceritakan oleh Lia. Sesuatu yang perlu dipertimbangkan kalau aku ingin kembali mengenang. Di sana Lia ngasih tahu bagaimana dia merasakan kembali hal-hal yang sudah lama berlalu. Sampai-sampai aku mengira, dengan buku itu Lia sedang berusaha menggali perasaanku untuk merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghargai apa yang jadi pendapatnya. Aku memliki rasa hormat setinggi-tingginya untuk mengatakan kepadanya bahwa itu adalah sepenuhnya hak Lia untuk bebas bicara, dan kemudian tetap saja semuanya adalah sejarah.

2
Samasekali gak pernah kuduga kalau kisahku dengan Lia akan ditulis jadi buku. Dan sebetulnya aku malu, karena di buku itu aku ngerasa jadi tokoh utama yang punya kedudukan cukup istimewa, terutama kalau Lia sudah mulai memujiku.

Juga sekaligus jadi risih, karena di situ aku betul-betul jadi kayak orang yang amat dimaui. Seolah-olah, aku ini, yang barusan makan nasi bakar, adalah orang yang paling menakjubkan di dunia dan juga romantis dengan apa yang pernah aku lakukan kepadanya. Sebagian besar yang bisa aku lakukan untuk hal itu adalah cuma tersenyum.

Tapi, kukira, kalau dulu Lia punya sikap macam itu ke aku, harusnya bisa kuanggap sebagai hal yang normal, karena kalau ada orang yang sudah cinta ke kamu, dia hanya akan melihat sisi baikmu. Dan kalau kamu berpikir tentang hal ini, kebanyakan kisah cinta memang selalu dimulai dari hal macam itu.

3
Kupikir, harusnya aku merasa beruntung dengan adanya buku itu, nyatanya memang iya. Kedua buku itu sudah membantuku mengingat masa-masa yang sudah berlalu, maksudku aku cuma tinggal baca saja, gak usah capek-capek nulis kalau ingin mengenang apa yang dulu pernah aku dan Lia alami.

Apalagi sebagian besar cerita yang ada di dalam buku itu, memang sangat sesuai dengan kejadian sebenarnya, malahan aku merasa ceritanya cukup detil. Entah bagaimana Lia bisa mengingat semuanya, padahal kejadiannya sudah lama sekali.

4
Gak tahulah. Pokoknya aku mau berterimakasih ke Pidi Baiq, pertama-tama untuk kedua bukunya yang kudapatkan secara gratis. Maksudku, tanpa perlu melihat situasi ekonomi saat ini, kita perlu memahami alasan mengapa kebanyakan dari kita lebih suka dikasih daripada membeli. Kedua, ya itu tadi, bisa membantu aku mengingat lagi masa-masa remajaku di saat aku masih bersama dengan Lia.

Sekalian aku juga mau bilang terimakasih ke Lia, karena kata Pidi Baiq, data dan informasi untuk menulis buku itu 60% adalah bersumber dari Lia sendiri. Itu artinya Pidi Baiq hanya mengolah data yang bersumber dari Lia untuk kemudian dia susun menjadi sebuah buku novel yang lengkap, dan dari apa yang sudah dia lakukan itu, segalapuji bagi Allah, Pidi Baiq dapat uang royalti.
“Tapi setengahnya, aku kasih ke Lia”, katanya
“Royalti?”
“Iya”, jawabnya. “Lia juga harus dapat”

Ini berarti bisa sama-sama kita katakan, bahwa buku “DILAN, dia adalah Dilanku”, semua cerita di dalamnya berdasar pada apa yang bisa diingat dan dikatakan oleh Lia, dan kukira itu adalah haknya karena selain diriku, Lia juga adalah pemilik masa lalu yang bersangkut paut dengan kisah asmara antara aku dan dia. 

5
Tanggal 15 Agustus 2015, Pidi Baiq datang ke rumahku. Kami ngobrol berdua cukup lama, terutama membahas buku itu, sampai kemudian dia bilang bahwa katanya dia mau nulis buku “Suara Dilan”, itu membuat aku ketawa karena merasa aneh ada novel macam gini. Dia juga ketawa, dan bilang “Suara Dilan” itu adalah buku yang berisi kisah aku dan Lia, sama seperti buku “Dilan, dia adalah Dilanku” tetapi bersumber dari sudut pandangku. 

Hmm. Sebenarnya aku pribadi lebih suka cerita Spiderman, yaitu Spiderman menurut versiku sendiri. Kamu harus tahu bagaimana Spiderman bisa dikalahkan oleh hanya dua cucu Kelongwewe. 
Atau kalau bukan yang itu, aku lebih suka cerita tentang si Piyan yang pernah nyihir aku jadi seekor kucing, cuma agar dengan itu aku bisa dikejar sampai depresi dan kehilangan nafsu makan. Si Piyan emang gitu, menurut pribadiku dia itu sedikit lebih baik dari kuman, makanya jangan sampai kamu heran kalau ada banyak kuman yang mau ke dia.

Cerita tentang Spiderman versiku, atau cerita tentang aku yang disihir jadi kucing garong, kurasa lebih oke daripada harus bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia. Maaf, maksudku pada situasi yang serius, sebetulnya aku merasa gak enak kalau harus nyeritain lagi apa-apa yang dulu pernah aku alami dengan Lia, mengingat Lianya juga sekarang sudah menjadi istri Mas Herdi yang sangat aku hormati. 

Biar bagaimanapun soal ini harus aku katakan karena, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin kelak ada salah tanggap dengan apa yang aku ceritakan tentang Lia dan orang yang sudah bersamanya sekarang.  Samasekali aku tidak bermaksud mau berdebat soal ini, tetapi itulah yang aku pikirkan. 

6
Pidi Baiq mengerti, dan kemudian dia bilang, bahwa pada intinya bukan lagi soal asmara. Novel “Suara Dilan” harus bisa menjadi pelajaran buat mereka yang baca. Hah? Pelajaran macam apa? Entahlah, tapi setidaknya ada orang yang bilang bahwa novel Dilan itu bisa dianggap seperti buku taktik menguasai wanita. Mungkin Pidi Baiq bercanda, tetapi bisa jadi begitu oleh orang yang menganggapnya begitu.  

Katanya, di buku itu ada juga pelajaran ekonomi, terutama cerita tentang aku ngasih kado ulangtahun berupa buku TTS yang sudah kuisi. Aku ketawa karena aku berpikir barangkali itu berdasar pada seolah-olah aku sedang berusaha ngajarin bagaimana caranya ngasih kado dengan biaya yang irit, meskipun jujur saja, sebetulnya bikin capek, karena harus begadang semalaman untuk bisa mengisi jawabannya. Tapi justeru emang di situlah nilainya: Perjuangan he he he!  

Ada juga pelajaran olah raga. Berantem itu, katanya, sama seperti olahraga. Sama-sama melakukan gerakan badan sampai ngeluarin keringat, meskipun badan kita jadi sakit dikarenai oleh luka! Tapi harus mikir panjang, jangan sampai asal berantem. 

Sedangkan di buku DILAN kedua, di situ sepertinya Lia banyak nangis! Tapi katanya, itu juga memberi kita pelajaran, yaitu pelajaran Biologi, bahwa air mata itu, air mata yang mengalir di pipi itu, adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membantu membersihkan dan melumasi mata kita he he he.

7
Pidi Baiq terus membujukku untuk mau membantu dia mewujudkan buku “Suara Dilan”, oke, tapi aku tidak benar-benar punya waktu yang dijadwalkan untuk duduk dan menulis macam dia. 
Juga, bukan orang terbaik yang bisa menceritakan kisah-kisah macam itu. Tapi kalau cuma ngasih masukan sebagaimana Lia lakukan, sepertinya aku siap. Mudah-mudahan bisa aku nikmati meskipun aku tidak pernah berpikir berencana untuk menulis cerita macam ini.

Siaplah kalau begitu, aku mau cerita. 

Tapi maaf, kalau aku tidak sepandai Lia di dalam mengatakan perasaan. Aku hanya akan menulis apa-apa yang diperlukan dengan tanpa harus mengulang apa yang sudah Lia kisahkan. Semua yang aku katakan hanya akan mengacu kepada apa yang bisa kuingat dan kepada apa yang ingin aku katakan. 

Aku akan menceritakannya dengan berusaha sedikit memilah mana-mana yang aku rasa perlu saja. Dan dengan cara tertentu aku juga akan coba mengatur, agar apa yang aku katakan tidak sampai menyinggung perasaan seseorang yang terlibat di dalamnya. 

Cerita ini akan aku mulai dengan pengenalan singkat tentang diriku, dan beberapa informasi yang menjadi latar belakang hidupku, baik sebagai kenangan atau mungkin bisa dianggap sebagai sesuatu yang cukup andil di dalam mempengaruhi sifat dan kepribadianku. Karena pengalaman akan terus sepanjang waktu mempengaruhi hidup seseorang 

Mudah-mudahan, setelah ini, kita bisa menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini.


BAB II

AKU


1
Langsung saja. Namaku Dilan, jenis kelamin laki-laki, bernafas menggunakan paru-paru, sama seperti seekor paus. Tahun 1977, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin.

Aku lahir di Bandung, dari seorang Ibu yang oleh anaknya dipanggil Bunda, kecuali kalau akunya sedang mau minta uang, aku memanggilnya “Bundahara” (seperti yang sudah Lia  ceritakan di dalam buku itu). Tapi aku pernah sekali memanggilnya Sari Bunda, yaitu pada kasus di saat aku ingin makan.

Asal tahu saja, ibuku, si Bunda itu, adalah Pujakesuma, tetapi bukan bunga, melainkan akronim dari Putri Jawa Kelahiran Sumatera, karena dia lahir di Aceh, tepatnya di kota Sigli, ibu kota kabupaten Pidie. Dia alumnus IKIP Bandung, jurusan Sastra dan Bahasa. Ayahnya seorang guru SD, yang dulu di daerahnya dikenal sebagai seorang penyair kelas lokal.  

Sejak nikah dengan Ayah, dia selalu dibawa pindah, yaitu ke berbagai daerah di Indonesia. Hidup ini, kata Einstein, bagai naik sepeda. Untuk tetep bisa di dalam keseimbangan, harus terus bergerak. Tapi bukan karena itu ayahku pindah, melainkan karena tugas dari komandan, salah satunya ke daerah Teluk Jambe, Karawang.

Waktu aku duduk di kelas 3 SD, kami pernah tinggal di Kabupaten Manatuto, salah satu kota di daerah Timor-Timur yang dulu masih bagian dari wilayah Indonesia sebagai propinsi. Terus pindah lagi ke Ambon, terus pindah lagi ke Manahan, Solo, tapi cuma sebentar, gak tau kenapa. 

Hidup berkembang, di saat anak-anak sudah mulai tumbuh besar, Bunda sudah merasa cukup baik untuk memilih tinggal di Bandung, yaitu di kota tempat dulu dia kuliah, sekaligus menjadi mungkin untuk bisa lebih dekat dengan saudara-saudara ayahku yang pada tinggal di Bandung, karena ayahku adalah asli orang Bandung. 

Waktu aku duduk di kelas 5 SD, ayah membeli rumah di komplek perumahan Riung Bandung, sebagai fasilitas untuk membangun rumah tangga yang sakinah dan mawardah di bawah iringan lagu-lagu Rolling Stones kesukaan si Bunda, dan suara gelak tawa dari kawan-kawan kuliahnya kalau mereka sedang pada ngumpul di rumah. 

Si Bunda tidak bisa ikut ayah yang harus tinggal di rumah dinasnya di Karawang, karena harus ngajar di salah satu SMA yang ada di Bandung. Melalui semua itu kami hanya bisa bertemu ayah kalau ayah pulang ke Bandung, yaitu setiap dia bebas tugas atau karena ambil cuti. 

Awalnya si Bunda hanya guru biasa yang ngajar bahasa Indonesia. Entah bagaimana, tahun 1989, dia naik jabatan menjadi seorang kepala sekolah di salah satu SMA yang ada di Bandung. Mengenai soal ini, ada yang harus aku syukuri, yaitu: si Bunda bukan Kepala Sekolah di SMA-ku. Sebab kalau iya, pernah aku bayangkan aku akan dimarah dua kali, ya di sekolah ya di rumah. 

Itulah ceritaku tentang si Bunda, ibuku. Jangan sampai banyak-banyak, biar buku ini tidak melenceng menjadi buku biografi si Bunda. Apalagi Lia sudah bercerita cukup banyak tentang si Bunda di dalam buku “Dilan, dia adalah Dilanku”. 

2
Sekarang tentang ayahku. Dia lahir di Bandung. Dulu aku mengira, pekerjaan ayahku adalah berpindah-pindah tempat, seperti nabi Ibrahim yang nomaden, nyatanya ayahku adalah seorang anggota TNI-AD yang suka lagu “What A Wonderful World” nya Louis Armstrong atau “My Way” nya Frank Sinatra dan ditambah lagu-lagu perjuangan Indonesia.   

Selain sebagai seorang prajurit sejati yang lumayan cukup galak, ayahku bisa berubah menjadi seorang pria yang manis, dan juga romantis. Dia tidak pernah lupa nulis surat untuk kami di saat mana dia sedang jauh di tempat tugasnya. Seperti yang bisa kuingat, dia nulis kira-kira begini: “Jangan kuatir, ayah hanya jalan-jalan. Di sini, ayah terus gembira karena Ayah yakin akan segera bertemu dengan kalian. Ayah tidak punya musuh. Ayah membela Indonesia dari mereka yang mau ganggu”

Ayahku orang yang tegas kalau bicara tetapi cepat untuk tertawa. Dia dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya di dalam berbagai cara. Suatu hari, waktu aku masih duduk di kelas 6 SD, aku pulang ke rumah terlalu malam karena ada acara bersama teman-teman. Aku kaget, karena pintu rumah dibuka oleh ayah. Kupikir dia tak akan pulang ke Bandung malam itu.  Aku benar-benar berhadapan dengan ayahku yang berdiri kokoh menghadang:  
“Siapa kamu?!”, tanya dia seperti kepada orang asing. Tangannya berkacak pinggang. Mukanya serius. Matanya menatapku dengan pandangan yang tajam. Awalnya aku bingung, setelah aku merasa harus ikut permainannya, kujawab dia dengan sambil memandangnya:
“Dilan!”
“Siapa ibumu?”
“Bunda!”
“Siapa ayahmu?”
“Kamu!”, jawabku spontan. Aku tidak bermaksud untuk menjawab tidak sopan. Itu, aku menjawab dengan refleks karena dia bertanya cukup cepat. Ayah langsung ketawa dan kamu jadi tahu dia tidak benar-benar serius menginterogasi. Aku selalu memiliki beberapa momen terbaik bersamanya. 

Sepertinya dia tahu dia memiliki waktu yang sibuk sehingga merasa harus menghemat waktu yang baik untuk keluarganya. Jika ada waktu, kami suka pergi ke tempat-tempat wisata di bawah jaminan tiket diskon khusus untuk keluarga anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekarang TNI). 

Atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang ada di Bandung. Aku pernah diajak ke tempat billiard di daerah Kiara Condong. Sebagai seorang anak SMP kelas satu, tentu saja itu bukan tempat yang baik menurut para pakar pendidikan, tapi malam minggu itu ayah mengajak aku dan kakakku pergi ke sana.

Apa yang aku dan kakak aku lakukan hanya duduk minum Green Spot dan kacang goreng sambil nonton ayah bermain billiard. Masih bisa aku ingat waktu itu ayah main billiard bersama Abah Apeng (Bandar togel dari Cicadas) dan Kang Ceper (penguasa tempat itu). Tentu saja aku mengenalnya karena ayah pernah cerita tentang mereka. 
“Kalau Abah Apeng itu, bandar judi”, kata Ayahku di perjalanan kami pulang
“Gak boleh judi, Ayah”, kata Bang Landin
“Iya dong. Gak boleh,” jawab Ayah. “Ayah cuma berteman”
“Ayah ikut judi gak?”, kutanya
“Ayah sudah bilang cuma berteman”, jawab Ayah
“Iya”
“Jangan bilang ke Bunda, kita dari tempat billiard,” kata ayahku kemudian. 
“Jangan bohong, Ayah”, kata kakakku.
“Oh iya”, jawab ayahku. “Bilang ke Bunda udah dari tempat Billiar, terus nanti kita janji gak 
akan ke sana lagi”

Sesampainya di rumah, si Bundanya sudah tidur, sehingga yang buka pintu Bi Diah. Besoknya Bunda tidak bertanya dari mana kami semalem. Syukur alhamdulilah, sehingga dengan itu kami jadi gak perlu janji ke si Bunda untuk tidak akan pernah datang lagi ke tempat billiard. 

Tahun 1997 (kalau gak salah), yaitu waktu aku sudah tingkat akhir kuliah, ada khabar bahwa tempat billiard itu diserbu oleh kelompok tertentu, kemudian aku tidak pernah melihat tempat itu lagi sampai sekarang. 

Aku tidak mau memberi pandangan tentang apa yang dilakukan oleh kelompok agama itu, yang  pasti, biar bagaimana pun, tempat itu menjadi salah satu saksinya untuk banyak kenangan yang pernah aku alami bersama ayah. 

Mau gimana lagi, apapun yang kau katakan, secara pribadi aku berterimakasih kepada Ayah bahwa aku pernah punya kesempatan untuk pernah datang ke tempat itu dan aku tidak pernah datang lagi ke tempat seperti itu sampai sekarang. 

Setiap aku mengenang ayah, aku masih ingat bagaimana ayahku begitu riang dan nyanyi dengan suara keras di kamar mandi, seolah-olah dia tidak akan pernah lupa untuk melakukan hal itu setiap kali sedang mandi:

“Hampir malam di Jogya
Ketika keretaku tiba
Remang remang cuaca
Terkejut aku tiba tiba”

Kalau ada anaknya yang cemberut disebabkan karena ngambek oleh masalah yang sepele, biasanya dia datang untuk duduk di sampingnya dan aku masih ingat dia pernah bicara: 
“Tak ada yang selesai dengan menangis”, katanya.
“Aku gak nangis”
“Masa ada air matanya?”
“Gak tau”, kataku langsung telungkup di atas sofa, sambil menghapus air mata diam-diam. Aku masih TK waktu itu.
“Bunda! Air mata siapa di pipi Dilan?”, Ayah nanya ke Bunda dengan agak teriak karena si Bundanya sedang ada di ruang tengah.
“Air matanya laaah!!”, jawab Bunda
“Bukan katanya”
“Diaaaam!”, kataku sambil terus telungkup.

Pada masa mudanya, ayahku cukup dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Selain dekat dengan Pak Asni, ulama di daerahku, dia juga dekat dengan preman-preman di wilayah tertentu yang ada di Bandung. 

Kadang-kadang ayahku sering nyuruh Mang Saman untuk ngantar dia ke tempat yang mau dia tuju, menjadi seperti sopir pribadi. Dan kamu harus tahu Mang Saman itu siapa, dia adalah salah seorang preman yang ada di daerah Buahbatu. 

Sesekali Mang Saman suka datang ke rumahku bersama istrinya, termasuk untuk membetulkan mobil Nissan si Bunda kalau mogok. Sedangkan istrinya akan diam di dapur untuk membantu Bi Diah membuat masakan. 

Kalau ayah lagi di rumah, kadang-kadang suka nyuruh Mang Saman ngajak aku dan Disa  jalan-jalan. 
“Asiiik!”, kata Disa. Kalau gak salah waktu itu Disa masih TK dan aku sudah kelas 5 SD (Aku hanya bisa ngira-ngira, karena benar-benar sudah lupa)

Kami pergi dengan Mang Saman menggunakan mobil Nissan. Tidak jauh, hanya menyusuri jalan di komplek perumahan yang belum rame kayak sekarang. Betul-betul masih sepi sehingga Mang Saman bisa nyetir dengan cara turun dari mobil. Entah bagaimana, dia bisa melakukannya. Dia benar-benar lari di samping mobil yang pintunya dia buka, sementara tangannya masih terus megang setir, sehingga mobil yang sedang maju pelan bisa tetap di dalam kendalinya. Aku ketawa menyaksikan akrobat yang hanya berlangsung sebentar itu:
“Lagiiii!!!”, kataku, setelah Mang Saman loncat dan duduk lagi di bangku sopir.
“Udah ah”, kata Mang Saman, “Nanti dimarah Ayah”
“Ayah di rumah!”, kata Disa tiba-tiba.

Tidak jarang Mang Saman ngajak kami untuk nongkrong di warung kopi yang dulu dikenal sebagai sarang preman, sehingga oleh itu kami bisa mengenal beberapa orang di antaranya. 
“Siapa, Man?”, tanya orang gemuk bertatto ke Mang Saman. Aku lupa namanya. Dia memakai jaket jeans belel yang bagian tangannya digunting.
“Anak Pak Ical”, jawab Mang Saman
“Oh?”, kata dia. 
“Siapa namamu?”, tanya orang itu ke aku dengan muka yang ramah
“Aku Dilan, kelas 5 SD”, kujawab dengan lantang.
“Waah”, katanya
“Aku Disa!”, Disa menjawab 
“Dilan, Disa”, katanya. “Mau jajan apa?”
“Krupuk!”, kujawab sambil mengacungkan krupuk yang sebagiannya sedang kukunyah.
“Ambil aja ya. Nanti Om yang bayar”, kata dia kemudian kepadaku.  

Sekitar tahun 1983, preman-preman itu habis karena dibunuh oleh para penembak misterius atau Petrus, entah bagaimana hatiku merasa seperti berhenti saat itu. Banyak orang menduga Petrus adalah operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto untuk menanggulangi tingkat kejahatan. 

Selama persitiwa itu, Mang Saman sembunyi di rumahku. Dia selamat, tapi yang lain tidak. Mayoritas yang tewas adalah preman yang tubuhnya dipenuhi oleh tatto. Jenazahnya dimasukin ke dalam karung dan dibuang di tempat umum, salah satunya adalah kang Oji. Aku sedih karena anaknya Kang Oji adalah temanku, namanya Uung. Istri Kang Oji datang ke rumahku bersama Uung dan menangis di teras rumah di saat mereka sedang ngobrol dengan Bunda. 

Aku sangat dekat dengan Mang Saman, aku pikir dia adalah temanku. Dia meninggal tahun 1988 disebabkan oleh karena dia sakit. Sebelum meninggal dia dikenal sebagai orang yang agamis dan menjadi pengurus DKM di salah satu masjid yang ada di daerahnya. Siapa akan nyangka di ujung hidupnya Mang Saman menjadi orang yang baik sekaligus dikenal sebagai seorang Muadzin. Aku melihat ayah menangis di kuburan Mang Saman sore itu.

Itulah ayahku, sebagian tentang dia sudah Lia ceritakan di dalam buku “Dilan, Dia Adalah Dilanku”. Biar bagaimana pun, aku merasa cerita di atas perlu aku sampaikan untuk bisa memahami bagaimana aku tumbuh. 


BAB III

KEHIDUPAN REMAJAKU

1
Waktu aku SMP, aku punya sepeda. Aku pergi sekolah dengan pake sepeda sampai kelas 3 SMP, karena jaraknya tidak jauh dari rumahku. 

Sepedaku namanya “Mobil Derek”. Dulu, kalau kamu mendengar aku pergi ke sekolah dengan naik Mobil Derek, harusnya sudah tidak perlu kaget lagi karena kamu sudah tahu maksudku.

Apakah dengan memberinya nama itu aku punya tujuan biar sepedaku jadi keren dan gagah? Oh, aku gak tahu. Mungkin semacam terserah aku mau ngasih nama apa, karena itu sepedaku. Tetapi pamanku protes. Dia itu ayahnya si Wati, namanya Ibrahim, aku biasa memanggilnya Mang Iim.
“Masa’ sepeda namanya Mobil Derek?”. 
“Iya. Namanya Mobil Derek. Mobil Derek bin Kontainer”, kataku ke dia tanpa maksud menjawab omongannya. Itu aku bicara sebagai seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP.

Berbeda dengan si Bunda, kalau dia bisa cuek. Menurutku, dia itu orang dewasa yang bisa bicara sebagai seorang anak kecil ketika sedang berbicara dengan anak yang masih kecil. 
“Bunda, lihat Mobil Derek?”, tanyaku ke si Bunda sambil nyari sepeda di halaman depan rumah karena mau kupake.
“Mobil Derekmu?” Bunda nanya balik, seperti sama sedang nyari. 
“Iya”
“Oh, dipake Bi Diah”, katanya kemudian. “Minjem bentar, ke warung”
“Bi Diah gak boleh naik Mobil Derek”, kataku dengan sedikit agak kesal
“Sebentar kok”

Sejak mulai kelas satu SMA, aku ke sekolah tidak pake sepeda lagi, karena jaraknya cukup jauh. Sebetulnya bisa saja pake sepeda, tapi capek. Gak mau. Kadang-kadang aku naik angkot ke sekolah, tapi lebih sering naik motor. 

Pulangnya nongkrong di daerah Gatot Subroto, yaitu semacam warung kopi punya Kang Ewok. Dipanggil Ewok karena dia itu brewok. Tempatnya enak untuk nongkrong. Di sana, aku biasa kumpul bersama Burhan, Ivan dan lain-lain. 

Kami bergaul dan melakukan hal bersama-sama yang nampaknya lebih menyenangkan daripada diam gak jelas di rumah yang dulu belum ada internet. Dan di sana juga untuk pertama kalinya aku mulai merokok, tentu dengan perasaanku yang cemas karena kuatir ketauan sama si Bunda.

2
Sebelum jauh cerita, aku ingin membahas Burhan sebentar. Aku sudah kenal Burhan sejak masih duduk di kelas 3 SMP, sedangkan saat itu dia sudah kelas 3 SMA dan anggota salah satu geng motor yang ada di Bandung. 

Jaman SMP, aku suka nongkrong dengan si Burhan di warung kopi “Tiga Putri”. Tempatnya tidak jauh dari rumahku, yaitu di salah satu hook pertigaan jalan Riung Asri, komplek perumahan Riung Bandung. Di sana kami ngobrol sambil ngopi dan tertawa lebih keras dari siapa pun. 

Motor CB yang biasa kupake itu, dapat beli dari si Burhan. Harganya murah. Entah bagaimana Ayah setuju dan ngasih uang untuk membeli motor itu. Kemudian aku modif di bengkel yang ada di daerah Kebaktian, Kiara Condong, atas saran si Akew, temen sekolahku, yang rumahnya deket dari bengkel itu.

Sejak peristiwa aku dikeroyok di daerah BIP (Bandung Indah Plaza), Burhan gak pernah mau datang ke rumahku, dia juga tidak pernah datang untuk menengok aku yang dirawat karena mendapat luka tusukan. Dia bilang takut sama si Bunda, padahal si Bunda juga tidak begitu mengenalnya. 

3
Hari itu, seperti biasa, sepulang dari sekolah, aku ngobrol dengan Burhan, Ivan, Akew dan lain-lain di warung Kang Ewok.
“Gimana Susi?”, tanya Burhan. 
Burhan tahu Susi karena aku pernah cerita soal Susi yang mau ke aku. Aku juga cerita ke Burhan dan teman-teman tentang Susi yang datang ke rumahku dan akunya sembunyi dalam lemari. 
“Masih”, kujawab Burhan.
“Masih apa?”
“Masih perempuan”
 “Kalau gak mau, buat aku aja deeeh”, kata Burhan
“Tadi ngajak nonton”, kujawab. “Aku bilang hayu”. 
Susi memang ngajak nonton, tadi, pas istirahat di warung Bi Eem.
“Eit!!”, kata Burhan tersenyum.
“Nonton aja,” kataku senyum. “Gak jadian”
“Kenapa sih gak mau?”, tanya Ivan. “Susi cantik”
“Iya. Bahenol, kaya lagi”, Burhan ikut ngomong
“Eiii..lagi pada ngomongin Remi ya?”, tiba-tiba datang Remi, bergabung dengan kami di warung Kang Ewok.

Kamu harus tahu, Remi adalah waria yang suka ngamen  di perempatan Binong, Bandung. Kalau kamu kenalan dengannya, dia akan bilang namanya: Remi Moore. Kurasa itu nama yang bagus untuk kedenger seperti Demi Moore, artis Hollywood yang lagi beken dengan film “GHOST”nya di masa itu. Tentu saja, tidak semua orang Binong mengenal Remi Moore. Kami kenal, karena kami berkawan dengan siapapun. 

Remi Moore, suka bawa-bawa kartu Tarot yang dia simpan di dalam tas cokelat mudanya. Kamu harus tahu dia suka ngeramal. Sekali diramal, harus bayar seribu rupiah ( Atau berapa ya? Aku lupa)
“Giliran aku yang ramal kamu”, kataku ke Remi Moore. Dia mau, sambil ketawa.

Setelah kartu Tarot dia kocok, aku hanya minta dia ngambil satu kartu saja.
“Hmm..nanti, kalau dilihat dari...“, kataku sambil mikir mengamati kartu yang tadi sudah dia  ambil itu. “Ini kan digambarnya banyak pedang yang nancep ke orang ini. Nah, nanti kamu akan beneran jadi Demi Moore!”. 
“Aamiiin, ya Alllah, Aamiiin!!”, kata Remi.
Aku dengar Akew ketawa paling keras.
“Pedang ini, artinya, kamu harus dioperasi”, kataku selanjutnya. 
Orang-orang hanya bisa ketawa, karena Remi Moore memang lucu.
“Tapi, bentar,” kataku. “Nanti kamu akan pacaran sama Hantu”
“Amit-amiiittt. Amit-Amiiitt”, jawab Remi sambil mengetuk-ngetukkan tangannya ke meja.
“Kan Demi Moore, di filmnya juga pacaran sama hantu”
“Remi mah gak mau, “ jawab Remi. “Takuuuttt”
“Maunya pacaran sama siapa?”, tanya Bowo
“Kang Jeje!”, jawab Remi sambil ngakak
“Ha ha ha”

Kang Jeje itu orang kaya. Dia seorang pejabat sekaligus pengusaha. Rumahnya mewah, tidak jauh dari warung Kang Ewok. Tanahnya, Airnya, simpanan kekayaan. 

Aku benar-benar merasa harus cerita soal Remi Moore, karena dari dialah muncul ide nanti aku meramal Milea Adnan Hussain.  
“Mana si Anhar?”, Kataku kemudian seperti nanya ke diri sendiri. “Tadi katanya mau ke sini”
“Jemput si Yeni dulu kayaknya”, jawab Ivan. 

Yeni adalah pacarnya si Anhar yang sekolah di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) di daerah Buah Batu. 

Kamu pasti sudah tahu siapa Anhar yang kumaksud. Iya betul, Lia sudah cerita tentang dia di buku “DILAN, Dia Adalah Dilanku”.  Sekarang mau aku tambahin ceritanya, biar kamu lebih kenal siapa Anhar sebenarnya. 

Anhar adalah kakak kelasku. Rumahnya di daerah jalan Sunda. Kakaknya sekolah di pendidikan bagi calon aparat negara. Awal aku mengenalnya adalah ketika aku masuk SMA, yaitu saat aku pulang dari acara penataran P4. 
“Hey!”

Aku yang sedang jalan sama Piyan, mendengar ada suara yang manggil, entah kepada siapa, tapi aku menoleh ke arah suara itu. 
“Kamu! sini!” kata seseorang yang sedang ngumpul dengan teman-temannya di toko Tohjaya, di pertigaan jalan menuju ke sekolahku.
 “Aku?”, kataku kepadanya untuk memastikan apakah benar aku yang dipanggilnya?
“Iya!”, katanya. “Kamu!”
Aku dan Piyan berjalan untuk mendekati mereka, bersamaan dengan mereka pada berdiri menyambutku. 
“Budak mana maneh?”, Anhar nanya. Mukanya nampak menyebalkan dan dibikin supaya aku takut padanya. Artinya:”Kamu anak mana?”
“Riung Bandung”
“Ulah belagu di dieu mah” (Jangan belagu kalau di sini)
Saat itu aku betul-betul tidak mengerti apa maunya
“Belagu gimana?”
“Boga duit teu?”, katanya (Punya uang gak?”)
“Duit?”
“Enya”, jawab dia. “Menta aing” (Iya. Aku minta)
“Kamu pengemis?”
“Eh?” kata Anhar, matanya mendelik. “Naon? Ngomong aing pengemis” (Apa? Ngomong aku pengemis?)
“Calutak tah!”, kata temennya (Kurang ajar tuh!)
“Geus. Hajar”, kata temennya yang lain. (Udah. Hajar!)

Itulah awalnya, kemudian aku dan Piyan dikeroyok, untung akhirnya bisa dilerai oleh pemilik toko Tohjaya. Aku dan Piyan luka. Meski gak parah, aku dan Piyan pergi ke puskesmas terdekat untuk mendapat pengobatan.

Besoknya, aku pergi ke sekolah, tetapi bukan untuk mengikuti kegiatan penataran P4. Aku datang bersama Burhan dan kawan-kawan gengmotornya. Aku sudah lupa berapa motor waktu itu, tapi lumayan cukup banyak, dan parkir tidak jauh dari toko Tohjaya untuk menunggu Anhar keluar dari sekolah. 

Kamu tebak sendiri apa yang terjadi ketika si Anhar tiba di toko Tohjaya bersama beberapa temannya itu. Betul, kami melakukan balas dendam. Dengan tanpa usaha keras, kami berhasil membuat Anhar duduk tak berdaya. Sedangkan teman-temannya entah pada kemana, sudah lari dari semenjak Anhar bisa kami jinakkan.   

Dari sejak itu Anhar mulai mengenalku. Dengan cepat kami menjadi kawan dan kemudian hampir setiap hari kumpul bersama di warung Bi Eem. Waktu berlalu, ketika akhirnya aku gabung jadi anggota geng motor si Burhan, Anhar juga ikut gabung, Bowo juga, Akew juga, Piyan juga (meski gak aktif). 

Hari-hari berikutnya Anhar jadi akrab denganku. Dia hampir selalu bersamaku. Dia hampir bisa kukatakan selalu ada denganku di tiap acara kegiatan anak muda. Hal yang disayangkan darinya adalah, seperti yang sudah Lia katakan di dalam buku itu, Anhar sering melakukan tindakan yang buruk dengan merugikan banyak orang. 

Sudah banyak nasehat dari kami untuk Anhar, tapi mau gimana lagi, pada dasarnya itulah Anhar. Kukira ini bukan soal sederhana. Ketika dia tidak pernah mengubahnya, kami merasa putus asa. 

4
Sebagian besar dari kita tidak tahu apa yang kelak terjadi. Sebagai seorang remaja, aku melakukan apa yang harus aku lakukan, tahu-tahu aku diangkat jadi Panglima Tempur geng motor si Burhan. Sama sekali tidak pernah kusadari bahwa kiranya ada orang-orang yang punya pikiran buruk mengenai hal itu.
“Orang-orang baik itu bilang kita semua anak nakal. Kita gak pernah bilang mereka anak nakal. Otak mereka itu pikirannya negatif terus ya? Mana? Katanya baik?”, kataku sambil ketawa ketika sedang ngumpul di warung Kang Ewok.
“Aaah, bukan geng motor yang harus dibubarin,“ kataku ke kawan-kawan di kesempatan yang lain. “Yang harus dibubarin itu, pokoknya siapa aja yang jahat, siapa aja yang kriminal”
“Yoi!”
“Bubarin mah kumpulan pejabat koruptor”, kata Bowo sambil mengunyah makanan 
“Sekolah tuh bubarin”, kata Burhan
“Jangan heh!,” kataku. “Ibuku Kepala Sekolah”
“Oh ha ha ha iya”
“Bubarin si Kojek”, kata si Akew
“Kenapa si Kojek?”, tanya Bowo
“Iya, bubarin pacaran sama si Erni-nya”, jawab Akew sambil ketawa,“Biar Erninya buat aku ha ha ha”.
Si Akew memang pengen ke si Erni. Aku tahu.
“Ha ha ha. Kamu mau ke si Erni?”, tanya Bowo. Bowo belum tahu.
“Bukan", jawab Akew sambil masih ada sisa ketawa. “Si Erninya maksa terus aku pengen ke dia”, kata Akew lagi. 
“Maksa gimana?”
“Iya, kan cantik. Itu tuh artinya si Erni maksa-maksa aku mau ke dia ha ha ha”, jawab Akew
“Ha ha ha ha”
Akew emang punya selera humor yang bagus.

5
Menurut pendapat pribadiku, geng motorku itu adalah gengmotor biasa, tidak benar-benar seperti yang dikatakan oleh Lia di dalam buku itu, di mana seolah-olah sepenuh hidupku aku persembahkan untuk meraih kejayaan geng motorku. Tidak sama sekali. Bahkan aku tidak menempatkan perkelahian sebagai hal yang penting. 
“Kalau dia bilang “Anjing” ke kamu, ya harus kamu gigit dia’, kataku. “Kan kata dia juga kamu Anjing”
“Bener”
“Kalau dia bilang “Monyet” ke kamu, ya harus dicakar. Kata dia juga kan kamu monyet”, kataku lagi
“Kalau dia bilang ke saya “Ganteng?”, tanya Akew
“Jangan percaya,” kujawab. “Bohong dia”
“Ha ha ha”

Hendaknya orang mengerti, ini adalah hidupku, dan aku bisa baik-baik saja dengan itu. Kepercayaan diriku justeru tumbuh di jalanan. Aku bisa mengidentifikasi diriku dengan banyak bergaul dan dengan tantangan yang aku hadapi tanpa ada orang yang mendikteku. Aku tahu dalam hatiku bahwa jika aku tinggal di mana ada orang yang mendikteku, hidupku akan selalu menjadi pemberontakan.
“Bunda percaya ke kamu”, suatu hari ketika aku di mobil Nissan dengan si Bunda
“Siap, Bunda”
“Menurut Bunda kamu anak yang cerdas”
“Anak Bunda”
“Bunda gak ngelarang kamu main sama siapa pun”, kata si Bunda, “Bunda gak akan ngekang kamu, karena Bunda percaya kamu gak akan kebawa-bawa mereka”
“Kebawa kemana?”
“Ya kebawa narkoba. Kriminal. Jahat ke orang”
“Enggak, Bunda”
“Bunda percaya kamu”
“Kalau berantem?”
Bunda diam sebentar
“Setiap Bunda denger kamu berantem, Bunda yakin bukan kamu yang duluan, “ kata Bunda kemudian. “Tapi Bunda gak suka kamu berantem”
“Iya”
“Kamu tau, Nak, dulu waktu kamu dikeroyok sampai koma itu?”
“Gak tau“, langsung kujawab. “Kan akunya koma”
“Bunda belum selesai ngomong, tapi kamu potong”
“Kirain udah selesai”
“Bunda serius,” kata Bunda. 
Aku langsung diam
“Saat itu Bunda sediiih sekali, Nak”
Aku diam. Aku tahu sebagian besar waktu ketika Bunda bicara kepadaku, dia tidak selalu berharap aku punya semua jawaban, dia hanya ingin telingaku. 
“Bunda panik, Nak”
Aku mencoba untuk masih tetap diam
“Kau tau rasanya, nak?”, tanya Bunda. “Gak karuan”. Dia jawab sendiri. Aku tetap diam
“Bunda cemas sekali waktu itu. Merasa takut kehilangan anak yang Bunda sayangi”, kata Bunda lagi. “Bunda nangis”
Aku diam. Enggak tahu kenapa kata-katanya yang itu langsung bisa mengubek perasaanku. Menurutku dia adalah jenis ibu yang mudah merasuk ke hati anak-anaknya. 
“Bunda mengerti, namanya juga anak muda. Ya ada yang nakal, ya ada yang tidak”
“Aku yang nakal ya?”
“Bunda gak bilang kamu nakal. Bunda tadi bilang ada yang nakal ada yang tidak”
Aku ingin bilang: “Iya, aku yang nakal”, tapi aku memilih untuk diam
“Ya, kalau misal kamu nakal, buat Bunda gak masalah. Selama nakalnya itu menyenangkan orang banyak. Selama nakalnya itu enggak bikin rugi orang. Enggak ngerugiin diri kamu juga. Enggak ngerugiin hidupmu, agamamu, masa depanmu. Gak apa-apa buat Bunda. Bunda gak mau ngekang kamu. Buat Bunda terlalu mengekang juga gak baik”
“Iya, Bunda”
“Bunda ngebebasin kamu itu, karena Bunda percaya. Bunda percaya kamu tahu batasnya. Kalau enggak percaya, mana akan Bunda bebasin”
Hmm, aku merasa apa yang dikatakannya adalah sebuah kehormatan yang besar, tetapi juga sekaligus menjadi tanggung jawab yang besar. 
“Siap Bunda”

Pada akhirnya, harus aku katakan, Bunda selalu benar tapi entah bagaimana aku selalu merasa ketika sedang dinasehati oleh si Bunda, itu adalah saatnya untuk aku mendengar segala yang Bunda ingin katakan. Dan aku merasa senang sudah membiarkannya bicara. 

Biasanya dia bicara tanpa rasa menghakimi atau membuatku terpojok. Biasanya dia bicara dengan kata-kata yang tidak membuat aku frustasi dan justeru malah bisa aku terima seolah-olah dia sedang menawarkan dukungan sepanjang jalan. Dia hanya mendorong pertumbuhan yang sehat dan membimbing langkah berikutnya. 

Terserah apa pendapatmu tentang dia, tetapi itulah yang biasanya aku rasakan. Terserah mau menjadi orangtua seperti apa dirimu, tapi tolong jangan memaksakan kehendak.

6
Pada dasarnya aku lebih menikmati periode waktu untuk hidup dalam damai dengan siapa pun. Tapi jika benar-benar harus berantem, kami adalah orang-orang yang siap untuk menang atau pun kalah. Kami adalah orang yang akan saling mendukung ketika menghadapi apapun atas nama solidaritas.
“Ditampar?”, kutanya Anhar untuk meyakinkan kebenaran cerita tentang si Zael ditampar Pak Suripto. 
Katanya Si Zael ditampar karena kesiangan ke sekolah. Ditampar karena nyelonong masuk kelas tanpa bilang apa-apa ke Pak Suripto yang sedang ngajar pelajaran teori olahraga saat itu.
“Si Zael bilangnya gitu”, kata Anhar
“Ya iya lah! Harusnya si Zael bilang dulu,” kataku
“Tapi kan gak harus nampar”
“Iya juga sih,” kataku. “Terus gimana si Zaelnya?”
“Tadinya mau dia lawan katanya. Tapi gak enak ke guru”
“Sok jago dia itu”, kata Bowo
“Siapa?”, kutanya
“Si Suripto”, jawab Bowo
“Kamu tau, si Yanti ditelepon Pak Suripto?” kata Anhar. “Diajak nonton”
“Eh? Beneran?”
“Si Yanti bilang ke saya”, kata Anhar
“Hah?”
“Iya”, jawab Anhar
“Terus dianya mau?”, tanya Bowo
“Dia nolak, bilangnya gak dikasih izin sama orangtuanya”, jawab Anhar
“Pak Suripto kayaknya pengen ke si Yanti ya?”, kata Bowo
“Kan, habis itu, waktu olahraga praktek renang, si Yanti dipegangin sama Suripto,” kata Anhar
“Emang harus dipegangin”, kataku dengan sedikit ketawa. “Biar gak tenggelam”
“Iya, tapi si Yantinya nangis habis itu”
“Kok nangis?”
“Ya gak tau”, jawab Anhar. “Besoknya, orangtua si Yanti datang nemui wali kelas”
“Ngapain?”
“Ya gak tau”, jawab Anhar
“Banyak gak taunya kamu”, kataku
“Pelecehan”, kata Bowo sok tahu
“Orang-orang kan sempet pada ngebahas soal si Yanti”
“Kok aku gak denger?”, kutanya seperti nanya ke diri sendiri
“Ngomongnya kan bisik-bisik”
“Ha ha ha”
“Takut kedenger Suripto”, lanjut Anhar
“Iya nih. Lama-lama sok jago,” kata Anhar. “Kesel”
“Selama cuma negur, guru ya gitu” kataku. “Tapi kalau udah nampar sih emang kelewatan”
“Iya”
“Kalau namparnya ke aku, pasti kutampar lagi dia”, kataku lagi
“Bener. Keroyok aja”, kata Anhar
“Gak usah”, kataku

7
Di jalanan, aku merasa seperti tidak sedang sekolah, tapi aku mendapat banyak pelajaran Pengalaman kerasa sangat nyata di dalam memberi aku banyak pelajaran. Aku belajar untuk tidak menyerah atau berputus asa, dan selalu menjadi diriku sendiri. Kukira aku tidak akan menjadi bagaimana diriku tanpa pengalaman-pengalaman yang aku dapatkan. 

Atau gini, mudah-mudahan kamu bisa ngurus hidupmu sendiri, daripada harus repot mengurus kehidupan orang lain. Tenang, kami tidak akan mengganggumu, kecuali kamu duluan yang melakukan hal itu. Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu!

8
Sedangkan sekolah, jika aku merasa cukup senang untuk ada di sana, tapi lebih karena aku yakin akan bertemu dengan teman-temanku. 

Menurutku, belajar di kelas itu membosankan. Ini terjadi sebelum aku cukup dewasa untuk benar-benar bisa dimaklumi apabila aku masih bertindak dengan fokus pada diriku sendiri.

Aku tahu bagaimana rasanya duduk di kelas dan merasa diriku sangat konyol di antara deretan orang-orang yang ngantuk, menguap tak berdaya, tanpa ada Pahlawan yang akan datang membantu. Benar-benar tak ada harapan, hanya berfikir kapan lonceng tanda bubar sekolah akan bunyi. 

Ada hal-hal yang kita harap akan berbeda, tapi nyatanya dari hari ke hari belajar di kelas itu sama saja. Kalau aku salah tentang semua yang aku pikirkan ini, aku akan dengan senang hati meminta maaf.

Sebenarnya mengenai soal ini, aku pernah bilang ke Ibuku yang kebetulan adalah seorang guru. Dia menjawab:
“Sorry ya, di sekolah Bunda tidak begitu”
“Gimana?”
“Di sekolah Bunda gak ada orang yang ngritik macam kau. Jadi aman-aman aja”
“Ha ha ha”

9
Meskipun aku tidak ada masalah di dalam menghadapi pelajaran di sekolah, tapi seperti yang sudah aku katakan, aku lebih suka nongkrong di warung Kang Ewok atau di warung Bi Eem tiap saat istirahat.

Warung Bi Eem adalah tempat terbuka untuk aku menemukan diriku, untuk bebas ngomong apapun, meninggalkan sistem pendidikan yang menurutku membosankan, tertawa lepas tanpa jaminan asuransi, tetapi gak apa-apa.

Aku mendapat kepuasan bersama kawan-kawan meskipun tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi kami benar-benar seperti orang yang ingin menikmati masa muda.

Di sana aku bisa membuktikan pada dunia bahwa aku bisa menghibur diri sendiri hanya dengan bala-bala, main domino dan catur. Waktu berasa hebat oleh semua hal sederhana macam itu.

Dan Bi Eem adalah seorang wanita yang nyata. Dia percaya kepada kami akan mengaku berapa makanan yang sudah kami makan. Mungkin karena Bi Eem percaya, kalau bukan dia yang nyatat, ada Malaikat yang akan siap mencatat untuk kelak ditagih di akhirat.

Pokoknya secara keseluruhan, Bi Eem melakukan tugasnya sebagai pemilik warung yang menyenangkan di Republik Indonesia!

10
Di warung Bi Eem itulah, aku mengenal nama Milea, yaitu  pada waktu kami sedang ngumpul setelah bel istirahat. Serius, aku belum pernah melihat atau mendengarnya sebelum hari itu.

Kata si Piyan namanya Milea. Kami percaya Piyan, karena meskipun gak sering gabung motor-motoran, si Piyan itu kan informan yang berguna buat kelompok kami.

Gak Cuma Piyan sih, Kojek juga informan. Kami butuh orang macam Piyan dan Kojek. Gak usah dijelasinlah seberapa pentingnya mereka buat kami. Aku merasa tidak perlu membahas soal itu.
“Asalnya dari mana?”, tanya Anhar ke Piyan sambil ngunyah makanan
“Jakarta”, kata Piyan
“Anak Biologi ya?”, Tanya Akew
“Iya”, jawab Piyan
“Harus dimapram dulu”, kata Anhar sambil ketawa.
Mapram itu apa ya? Mapram itu semacam ospek lah.
“Saya pernah lihat sih, sekali”, kata Akew. “Cantik dia”
“Yang mana sih?”, kata Anhar penuh penasaran.
“Lihat sendiri aja lah”, kata Piyan
“Suruh sini, Yan”, kata Anhar. “Culik aja”
“Gak usah”, kataku, akhirnya ikut bicara juga sambil makan mie instan bersamaan dengan Susi datang membawa dua kawannya. Aku lupa dengan siapa waktu Susi datang.
“Sus, bayarin ya”, kata Anhar sambil ngacungin bala-bala
“Enak aja!”, jawab Susi, “Emang saya ibu kamu”
“Jadi ibu tiri saya deh”, kata Anhar ketawa
“Asal mau disiram air panas”, jawab Susi menerin rambutnya.
“Air panas Ciater sih mau”, jawab Anhar ketawa. 
Ciater adalah tempat pemandian air panas yang ada di daerah Subang.
“Lan, pulang sekolah ada acara gak?”, tanya Susi sambil mindahin kursi plastic untuk membuat dia bisa duduk di sampingku
“Mau tidur siang”, kujawab
“Tadinya mau ngajak nonton”
“Nonton apa?”, kutanya
“Film”, jawab Susi, “Di Regent”. 
Regent adalah merupakan bioskop yang cukup terkenal saat itu. Lokasinya di daerah jalan Sumatera, Bandung. Sejak tahun 2011, bioskop itu resmi ditutup. 
“Jam?”
“Jam lima”, jawab Susi, maksudnya jam 5 sore.
“Ikut dong”, kata Anhar
Susi diam, kayak yang males ngeladenin si Anhar. Tapi entah bagaimana, akhirnya Susi berhasil membuat aku bilang: “Oke”
“Beneran?”, tanya Susi seperti gak percaya
“Beneran, Susi Susiana”
“Asiiik”, katanya. “Aku pulang dulu ya”
“Kok?”
“Iya. Ganti baju. Nanti kamu jemput ke rumah ya”

11
Karena sudah janji mau jemput si Susi, setelah ngobrol dengan Burhan, Remi Moore, Ivan, Akew dan lain-lain, aku langsung berangkat untuk pergi ke rumah Susi di daerah jalan Karapitan. 
Setibanya di Regent, Susi kaget, karena melihat ada Anhar, Burhan, Piyan dan Akew. Kalau gak salah Akew bawa perempuan waktu itu, entah dapat dari mana. Aku lupa namanya. (Ah, Akew itu) 
“Kok ada kalian?”, tanya Susi ke mereka
“Ya nonton lah”, jawab Akew 
“Aneh”
“Kenapa?”, tanya Akew
“Aneh aja”
”Gak boleh gitu?”,
“Ganggu!”, jawab Susi dengan sedikit cemberut
“Ha ha ha”

12
Aslinya aku gak suka nonton film, tapi sore itu, untuk pertama kalinya, aku nonton film di Regent tidak berdua dengan Susi, melainkan juga dengan kawan-kawanku. 

Aku sudah lupa judul filmnya, tapi yang bisa kuingat adalah itu film tentang percintaan remaja, pemainnya Rano Karno dan Meriam Belina. Susi mengajakku nonton di bangku belakang. Aku lupa, entah bagaimana kami bisa seenaknya memilih tempat duduk. Mungkin karena kosong, karena penontonnya tidak terlalu banyak saat itu. Atau gak tahu deh, tapi nyatanya bisa. 
“Di sini aja”, kata Susi. 
Eh, bentar. Kenapa waktu itu aku nurut ya? Mungkin karena aku merasa gak enak sudah dibayarin oleh Susi.
“Mereka ajak ke sini juga?”
“Biarin aja lah”, jawab Susi  

Pada saat film sudah berlangsung setengah jalan, apa yang dialami oleh Lia waktu nonton sama Yugo, sebetulnya dialami juga oleh aku. Tiba-tiba, Susi yang duduk di sampingku, bicara pelan di kupingku:”Aku suka kamu” lalu mencium bibirku dengan penuh usaha yang memaksa. Kepalaku sampai sedikit tertekan ke arah sandaran kursi. (Nah untuk soal ini, dengan harapan bisa menjaga nama baik Susi, aku tidak pernah cerita ke Lia sampai bisa aku tulis sekarang) 

Aku benar-benar kaget dan gelagapan karena dapat serangan mendadak. Habis itu aku tertegun, tidak percaya dengan apa yang sudah Susi lakukan. Aku bingung dan tidak tahu harus gimana. 

Itu berlangsung hanya sebentar karena tidak aku layani. Aku tidak punya pengalaman untuk memanfaatkannya, dan aku tidak yakin dengan apa yang dia lakukan. Aku tidak pernah mencium dan dicium bibir oleh seseorang sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang Susi pikirkan. Itu adalah tahun 1990, di bulan September yang banyak hujan. Meskipun itu kejadian buruk bagiku, untuk beberapa alasan aku tidak bisa melupakannya dengan mudah. 

Setelah acara nonton selesai, aku anterin Susi pulang. Di sepanjang perjalanan, aku jadi merasa canggung dengannya, bahkan saling diam, sampai kemudian Susi berkata di belokan jalan Cikawao:  
“Maaf ya yang tadi”
“Aku juga minta maaf”, kataku setelah diam sebentar. Susi diam, gak tahu mikir apa.
“Aku minta maaf,” kataku lagi, “tadi gak aku layani”
Susi masih diam dan itulah Susi Susiana

13
Di rumahku, malam harinya, Piyan sama si Bowo datang ke rumah. Seperti biasanya cuma main, tapi gak tahu kenapa waktu itu jadi ngobrol membahas soal Milea, murid baru pindahan dari Jakarta.
“Dia cantik ya?”, kataku ke mereka. Aku pernah melihatnya sekali, yaitu pada waktu istirahat, dia berjalan dengan Rani dan Nandan di lorong kelas.
“Katanya deket sama Nandan”, kata Piyan sambil masang senar gitar
“Oh”, kataku
“Nandan aja itu sih yang mau”, kata Bowo
“Gimana kalau aku yang mau?”, tanyaku ke mereka
“Didukung!!!”, jawab Piyan semangat dan sambil ketawa
“Aku sih gak usah didukung,” kataku. “Dia aja yang didukung, biar mau”.
“Siap, Bos”, jawab Piyan ketawa.

Sekonyong-konyong Bunda datang, berdiri di muka pintu kamarku, katanya dia mau cerita dan dia tahu akan selalu mudah baginya untuk mendapatkan anaknya yang akan langsung diam mendengar apa yang ia katakan, seperti punya majik dia itu!

Bunda cerita tentang ada siswa di sekolahnya yang berani melawan guru termasuk ke si Bunda sebagai Kepala Sekolah. Anak itu ngamuk dan kemudian dibawa ke ruang BP. Awalnya, saat itu aku mengira Bunda sedang berusaha menyindirku.
“Terus?” kutanya
“Bunda nanya ke dia: Kamu kenal Dilan?”, kata si Bunda. “Kayakanya dia satu geng
denganmu”, lanjut Bunda ke aku.
“Siapa?”, kutanya
“Namanya Dendi,” jawab Bunda. “Kau kenal?”
“Dendi?”, aku sedikit mikir berusaha untuk yakin aku mengenalnya.
“Oh Dendi”, kata Piyan. “Dendi Sadil”
“Ah, gak tau”, kataku. “Terus?”
“Ya, Bunda nanya ke dia: Kamu kenal Dilan? Dia jawab: Iya, kenapa?”

Aku diam. Aku memang berbakat menjadi pendengar yang baik ketika Bunda cerita. Kalau Piyan dan Bowo juga bisa jadi pendengar yang baik, mungkin karena ia tamu yang sudah aku suguhi roti bakar dan kopi.

“Terus Bunda bilang ke dia: Dilan itu anakku. Diem dia. Kayak gak percaya. Terus Bunda bilang lagi: Ya, Dilan. Dia itu anakku. Kau tanya coba ke Dilan. Dia diem. Terus Bunda bilang lagi ke dia: Sebelum melawan ibunya, lawan dulu anaknya

Kami semua mulai ketawa. Bunda meneruskan ceritanya:
“Terus dia nanya sambil melongo: Ibu, ibunya Dilan? Bunda jawab: Iya. Kenapa? Perlu gak Ibu bilang ke Dilan kalau kamu melawan ibunya? Dia langsung ngomong: Oh, jangan, Bu. Saya gak tau kalau Ibu, ibunya Dilan
Itu sudah cukup untuk membuat kami kembali ketawa.
“Dendi mana sih?”
"Itu. Si Deni Sadil", jawab Piyan.
“Yang rumahnya dijalan Guntur?”, tanya Bowo ingin pasti
“Iya”, jawab Piyan
“Oh”
“Mau diterusin gak ceritanya?”
“Mau, Bunda”, jawab Piyan
“Denger! Nah. Bunda tanya lagi ke si Dendi itu: Bilang jangan? Dia bilang:“Jangan, Bu. Maaf, Bu
“Ha ha ha”
“Terus si Dendinya gimana, Bunda?”, Piyan nanya ke si Bunda
“Cium tangan lah dia!!”
“Ha ha ha”

Ini terdengar sedikit seperti cerita karangan, tapi itu betul-betul terjadi! Apakah ini cerita biasa atau entahlah. Otakku tahu siapa si Bunda, dia sedang mengatakan sebenarnya.

Apa yang harus aku katakan untuk ini? Tidak boleh ada yang mengganggu ibuku. Itu pasti. Tapi aku mengerti maksud Dendi dengan mencium tangan ibuku, itu adalah pilihannya. Apa yang dia lakukan setelah dia tahu bahwa Kepala Sekolah yang dilawannya adalah ibuku, itu upaya membangun apa yang dinamakan menghargai persahabatan.

Bagiku, aku tidak mau berfikir bahwa Dendi takut kepadaku, dia sedang menunjukkan bahwa dirinya memiliki kebijaksanaan (padahal masih SMA). Tapi tiap orang menghendaki hubungan persahabatan yang hebat, dan aku benar-benar percaya kepadanya.

14
Di malam itu juga, setelah minum di dapur, aku datangi si Bunda sambil membawa segelas air. Kemudian aku duduk di sampingnya yang sedang nulis di kursi malas ruang tengah. Aku bilang ke si Bunda supaya air di gelas itu diberinya bacaan Al-fatihah. Merasa bukan ustadzah, tentu saja dia kaget.
“Heh? Buat apa?”
“Doa ibu”
“Iya, buat apa?”
“Udah bacain aja”, kataku ke si Bunda dan senyum. Bunda senyum juga, kemudian meraih segelas air di tanganku. Aku lihat si Bunda komat-kamit, entah apa yang dibacanya. Harusnya sih Al-Fatihah, biar sesuai pesanan.
“Udah”, kata Bunda menyodorkan gelas itu.
“Makasih, Bunda”
“Buat apa?”, tanya Bunda meraih tanganku
“Besok mau ngedeketin cewek...”, kataku membungkuk untuk bisa berbisik di kupingnya.
“Ah kau! Apa iya?,” katanya. “Terus airnya?”, tanya dia. Maksudnya, Bunda ingin tahu apa hubungannya dengan air yang sudah dia bacain.
“Diminum, Bundaaaa. Biar lancar,” Kataku sambil berlalu ke kamar yang tidak jauh dari tempat si Bunda duduk. “Do’a Ibu. Biar kayak tulisan di truk”
“Ha ha ha”

Dan cewek yang akan aku dekati itu adalah Milea Adnan Hussain, anak ibu Ica yang pernah kondang di Bandung sebagai seorang penyanyi pop rock tahun 80an. Aku tidak pernah berfikir akan bertemu dengannya di Bandung ketika dia pindah dari Jakarta pada bulan September tahun 1990.

Waktu itu, aku setuju dengan yang lain bahwa Milea Adnan Hussain itu cantik, dan aku percaya ada hal indah lagi dari apa yang bisa kulihat selain dari rambutnya yang panjang dan tebal pirang alami, hal itu adalah apa yang bisa aku rasakan. Seolah-olah dia sengaja, datang ke Bandung hanya dengan tujuan untuk menjatuhkan hatiku. Tidak bisa tidak, aku merasa harus menghadapi cobaan itu bermodalkan uang saku sekolah.

Ia selalu menampakkan dirinya dalam cara yang baik bahkan ketika sedang makan kupat tahu gak enak di kantin sekolah. Dia berjalan dengan postur yang baik dan dengan pakaiannya yang cocok, bahkan aku yakin dia akan tetap indah meskipun tidak berpakaian. Aku benar-benar yakin meskipun tidak pernah melihatnya sampai sekarang.

Kalau boleh berpendapat, aku rasa itu bukan karena masalah penampilan, tetapi juga karena refleksi dari kepribadiannya yang menyenangkan. Dengan sikap bahagia, dia bisa nerima orang yang hidupnya tidak serius dan tidak merasa aneh oleh hal itu.

Dia bisa membuat percakapan jadi menarik untuk diajak bercanda bersama-sama dan selalu bisa meladeniku, seolah-olah memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara apa saja. Dan ketika dia ketawa, itu hanya akan membuat aku ketawa juga.

Kukira dia adalah salah satu jenis manusia yang sudah merasa nyaman jadi dirinya, sehingga menjadi tidak perlu mencoba untuk menjadi orang lain. Dia bukan gadis yang harus nampak mewah agar dilihat keren oleh isi dunia, dan tidak merasa harus memiliki apa-apa yang tidak dia butuhkan hanya agar bisa sama dengan yang lain. Bahkan dia tidak memakai anting, jam tangan atau kalung meskipun sangat pasti dia bisa membelinya karena dia lahir dari keluarga berada.

Setidaknya itulah Milea Adnan Hussain menurutku. Benar-benar fakta yang penuh pesona di sekolah sarang geng motor. Jadi harus segera aku bilang, sebenarnya dia sendirilah yang sudah memberi aku kekuatan untuk dulu berani mendekatinya.

Dan bagaimana cerita sesungguhnya, sudah Lia jelaskan di dalam buku itu. Tidak perlu lagi aku ulang. Aku hanya akan memberi tanggapan bagaimana aku secara pribadi berfikir tentang hal itu. Aku hanya akan memberi penjelasan mengenai semua hal yang dulu aku lakukan berkaitan dengan cerita yang sudah Lia katakan di dalam buku itu. Meski sekarang semuanya sudah berbeda, aku juga akan mengungkap semua yang aku rasakan tentang banyak kejadian yang aku alami di masa itu.

Mungkin ada tambahan cerita, tetapi itu hanya karena kuanggap perlu saja, lumayan, sekedar untuk barangkali bisa membuat cerita menjadi tambah lengkap. Sedangkan kalau aku mencoba membuat klarifikasi, itu aku maksudkan agar bisa memberi pemahaman yang lebih dari apa yang sudah Lia ungkapkan.

Lepas dari semua itu, barangkali ada satu lagi yang ingin aku sampaikan: Jangan remehkan cerita masa lalu, ketika kita semua diberkati oleh itu


BAB IV
MILEA ADNAN HUSSAIN

1
Setelah banyak yang sudah aku lakukan di dalam rangka mendekati Milea Adnan Hussain, Waktu akhirnya datang, tanggal 22 Desember tahun 1990, di Bandung, tepatnya di warung Bi Eem, aku resmi berpacaran dengan Milea Adnan Hussain, baik secara lisan atau berupa tulisan, yang lengkap dibubuhi tandatangan oleh kedua belah pihak di atas meterai.

Saat itu, masing-masing merasa sangat dimaui, merasa sangat diterima dan membiarkan diri dikuasai oleh harapan untuk mencapai kesempurnaan di dalam berpacaran. Masing-masing merasa layak bahagia dan hanya selalu ingin berdua.

Saat itu, aku pribadi tidak tahu apa lagi yang aku inginkan, barangkali hanya ingin oksigen dan tetap bernafas, agar bisa bersamanya setiap saat. Dan juga bensin, untuk bisa mengajak Lia jalan-jalan keliling kota Bandung.

Cukup sederhana, dia adalah perempuan yang memiliki semua yang aku suka. Aku suka ketika dia ada. Aku suka ketika dia ketawa. Aku suka ketika dia tersenyum. Aku suka ketika dia bicara. Aku suka ketika dia memelukku di atas motor. Aku suka ketika dia mampu meladeniku bicara. Tak lama dari itu aku dipecat dari sekolah karena berantem dengan si Anhar, yaitu di masa mendapat hukuman percobaan akibat berantem dengan guru yang aku anggap tidak pantas jadi guru. Kamu tahu gurunya, dia bernama Suripto yang tinggal di jalan Cijagra (Sebetulnya ngontrak). Sehingga oleh karena itu aku pindah sekolah di tempat yang berbeda dengan Lia.

Aku senang berfikir tentang Lia yang bisa nerima aku bukan idola, tapi cuma anggota geng motor amatir yang suka makan roti isi coklat dan telor setengah matang yang dibikinin oleh si Bunda. Aku gembira berfikir tentang Lia yang bisa nerima aku bukan Superman tapi cuma siswa SMA kelas dua yang rumahnya di Riung Bandung. Tapi pada hari kamis sore itu, tepatnya sehari sebelum aku resmi jadi pacaranya, aku kecewa karena berfikir tentang Lia yang pergi dengan Kang Adi ke ITB!!!!

Aku kecewa karena Lia sudah bilang gak akan pergi dengan kang Adi, tapi nyatanya dia pergi. Aku sudah bilang ke Lia di hari sebelumnya, kalau kamu pergi dengan Kang Adi, aku akan merasa sama seperti yang Lia rasakan saat mendengar aku naik motor sama Susi, nyatanya dia pergi. Oleh semua itu, kuharap kau mengerti kalau aku merasa Lia sengaja membuat dirinya jadi brengsek dengan membuat aku cemburu!!!

Saat itu aku langsung merasa tidak nyaman. Jantungku berdebar. Seluruh darahku seperti bergegas menuju kepalaku, tapi sialnya aku gak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa seperti melayang atau boleh dibilang seperti bergerak ke arah yang berbeda dari biasanya.

Aku hanya mengandalkan kewarasanku untuk membuat aku sedikit bisa tenang. Kuambil motor dan dengan itu aku ke warung Kang Ewok, di daerah jalan Gatsu, tapi di sana hanya ada Kang Ewok karena dialah penjualnya.
“Dari mana?”
“Rumah”, kujawab
“Kayak yang capek gitu?,” tanya Kang Ewok setelah aku duduk dan pesan kopi.
“Barudak can kadieu?”, kutanya balik (Yang lain belum ke sini?”)
“Tadi, si Akew sama si Ivan”, jawab Kang Ewok sambil membuat kopi untukku. “Pergi dulu katanya. Gak tau kemana”
Aku nyalakan rokokku.
“Mana Lia?”, tanya Kang Ewok sambil menyimpan kopi pesananku di atas meja.
“Ke laut!”, kujawab singkat sambil langsung kuminum kopi itu.
“Eh?”, kata Kang Ewok sedikit kaget. “Kunaon euy?” (Kenapa nih?”)
“Gak apa-apa”
“Pasea ieu mah nya?”, tanya Kang Ewok (Ini mesti berantem ya?)
“Enggak”, kataku sambil menghirup kopiku.
Gak lama kemudian datang Burhan, lalu Akew dan Anhar.
“Ke Dago, yuk?”, kataku langsung ke mereka. Dago yang aku maksud adalah Dago Atas.
“Hayu!”, jawab Anhar.
“Ajak Susi”, kata Akew
“Bener”, jawab Anhar ketawa. “Gak punya uang nih”
“Lila-lila, si Susi mah jadi indung sia”, jawab Akew. (Lama-lama, si Susi itu jadi ibu kamu)
“Ha ha ha ha”
“Ajak, Lan”, kata Anhar lagi
“Lia kemana?”, tanya Burhan. Akew terus ngobrol dengan Bowo.
“Ah, bawa Lia mah, nanti Dilannya harus sama dia terus”, kata Anhar seperti menyindirku, tetapi aku yakin dia tidak bermaksud.
“Gak tau kemana” kujawab Burhan yang tadi nanya Lia kemana. “Kita-kita aja”, kataku kemudian.
“Saya mau ngafdruk foto heula euy”, kata Bowo. Maksud Bowo dia mau nyuci cetak film dulu. Jaman dulu belum ada foto digital. “Aku nyusul”

Biar bagaimana pun, mereka adalah kawan-kawanku, barometerku, yang bisa membantuku menjalani kehidupan sebagai remaja di muka bumi yang terus berputar. Jika dunia ini luas, tapi sempit juga gak apa-apa, asal dipenuhi oleh mereka.

Kadang-kadang aku ingin membangun sebuah rumah untuk ditinggali mereka, dan tumbuh, menjalankan hidup yang nyata bersamaku. Meski akan menghabiskan banyak nasi, tapi aku bisa tertawa bersama tanpa alat peredam dan teriak kepada orang yang lewat terutama perempuan: “Neng, sini ah gabung, temani kami gapleh!!”

Kami akhirnya pergi ke Dago dan itu sudah sore. Tidak ada yang istimewa, tapi itu adalah yang terbaik untuk hanya pergi jalan-jalan. Jaman itu jalanan belum ramai oleh banyak kendaraan sehingga masih kerasa leluasa. Menyadari hal itu, anak remaja macam si Akew kadang-kadang akan merasa oke bisa menjalankan motornya dengan zigzag di depan kami yang tertawa melihatnya.

Terimakasih, Tuhan, untuk Dago Atas dan cuaca 18 derajat celciusnya sore itu. Dago Atas yang aku maksud adalah Dago Atas tahun 1990, yang masih tenang, dan udaranya masih segar. Belum ada bangunan-bangunan aneh atau yang sama seperti itu. Hanya bukit dan hijau. Hanya langit dan biru yang jika senja akan ditambahi warna merah, orange dan jingga. Hanya lembah dan subur oleh aneka macam tanaman yang tumbuh di sana.

Kami, yang sering dinilai sebagai anak-anak nakal ini, memandang kota Bandung dari atas bukit di sebuah warung kecil di pinggir jalan: Itu Bandung kami, tempat lahir kami.

Aku merasa sangat bersemangat, memiliki percakapan yang rame sehingga sedikit bisa membantu mengubah pikiranku dan juga perasaanku yang sudah terkuras oleh karena sedang kesal ke Lia saat itu.

Sepulang dari sana, aku menjadi seperti orang linglung, yang melalui dunia, berkeliaran tanpa tujuan, hanya menunggu kejelasan dari Lia tentang apa artinya semua itu? Aku mampir sebentar untuk membeli sesuatu di Gelael jalan Ir. Haji Djuanda dan kemudian langsung pulang kira-kira pukul sepuluh atau lebih.

Pintu rumah dibuka oleh Bi Diah.
“Tadi, Teh Lia nelepon”, kata Bi Diah.
“Apa katanya?”, kutanya sambil membuka jaketku.
“Kurang tahu. Ngobrolnya sama Bunda”
“Oke”

Setelah bersih-bersih, aku langsung masuk kamar. Dengan diiringi lagi-lagu Rolling Stones, aku bercakap-cakap dengan diriku sendiri:
Aku tahu Lia belum resmi jadi pacarku. Dia masih bisa bebas dengan siapa saja mau pergi.
Oke. Kalau aku jangan cemburu, mungkin aku hanya merasa kecewa!
Mengapa kecewa? Kalau kecewa, itu gak adil buat Lia, karena Lia bukan pacarku, dia bisa pergi dengan siapa pun selain aku, bahkan tanpa harus bilang kepadaku.
Oke
Juga jangan marah. Aku harusnya jangan berfikir apa yang Lia inginkan dengan pergi bersama Kang Adi ke ITB. Harusnya aku lebih berfikir apa yang aku inginkan ketika aku merasa harus marah ke Lia?
Oke
Dan juga jangan bodoh dengan berpikir Lia tidak boleh bergaul dengan yang lain dan hanya harus dengan diriku.
Oke
Ingat, Lia bukan pacarku, dia hanya orang yang dekat denganku.
Oke. Kalau begitu, mari kita membuat hal yang jelas untuk itu. Waktunya sudah datang, besok aku akan bilang ke Lia bahwa aku ingin berpacaran dengannya.

Tempo hari aku sudah nyuruh Lia untuk membeli meterai. Tadinya meterai itu mau aku pakai untuk puisi khusus yang akan aku tandatangani buat Lia. Jika Tuhan menghendaki, aku akan memakainya untuk hal yang lebih penting dari itu. Dan ini adalah apa yang aku pikirkan.

Tetapi sebelum itu tiba, aku harus tidur karena ngantuk. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa kosong.
“Lia, aku rindu”

4
Besoknya, pagi-pagi, aku nelepon ke rumah Lia untuk rencana mau jemput, tapi yang ngangkat ibunya dan Lia sudah pergi ke sekolah. Aku jadi ngobrol dengan Ibunya. Lalu katanya setelah kami ngobrol tentang hal lain:
“Dilan”.
“Ya, Bu”
“Ibu mau bicara serius sama kamu. Boleh?”
“Oh. Boleh”
“Soal....Gimana ya ngomongnya?”,
“Ngomong seperti biasa aja, Bu”
Dia ketawa dan “Oke”, katanya
“Bahasa Indonesia”, kataku
“Siap. Tapi santai aja ya”
“Iya”
“Itu, Dilan. Semalam. Lia cerita ke ibu. Dia sedih katanya”
“Sedih? Kenapa?”
“Lia nangis”
“Kenapa?”
“Iya. Kemarin kan, dia pergi sama Kang Adi”, jawab Ibunya Lia. “Ke ITB. Kamu tau kan?”
“Tau, Bu. Dari Bibi”
“Iya. Itu. Katanya Lia udah janji ke Dilan gak akan pergi. Iya kan?”
“Iya”
“Nah. Dia nangis. Dia ngerasa udah bohong ke Dilan katanya”
“Oh itu. Padahal gak apa-apa kok”
“Bener?”
“Bener apa?”, aku balik nanya
“Bener gak apa-apa?”
“Eh? Iya. Gak apa-apa”
“Kamu gak marah?”
“Enggak”
“Jangan bohong. Bilang aja, jujur”, kata Ibunya Lia.
“Jujur”
“Iya. Pas tau Lia tetep pergi sama Kang Adi, kamu marah ke Lia?”
“Ng...”
“Kecewa?”
“Enggak sih”
“Anaknya Bunda pasti berani terus terang”, katanya pelan. “Kamu marah?”
“Mungkin. Tapi sedikit, Bu”
“Mau sedikit. Mau banyak, sama, tetep aja kecewa”
“He he he”
“Lia bilang ke ibu, kemaren dia pergi karena kepaksa. Soal ini, nanti Lia aja deh yang jelasin ke Dilan”
“Iya”
“Kata Lia, sebetulnya Lia gak mau pergi waktu itu”
Aku diam untuk membiarkan Ibunya Lia bicara.
“Semalem Lia nangis ke Ibu. Lia takut kamu marah katanya”
“Oh? Enggak marah kok, Bu,” kujawab. “Ini kan nelepon, mau jemput”
“Tadi kamu bilang marah sedikit?”
“Ha ha ha. Lupa”
“Eh? Sudah jam berapa ini? Sudah, sana sekolah”
Sepertinya dia belum tahu aku kena hukuman skorsing.
“Siap, Bu”
“Temui Lia ya, Dilan”
“Siap grak”
“Lia pasti seneng kalau tau Dilan gak marah”

Setelah itu, aku pergi ke sekolah, tapi di jalan mampir dulu ke bengkel si Toni, untuk sedikit ada bagian motor yang harus diservis.

5
Aku tiba di sekolah ketika hari sudah siang. Karena aku masih kena hukuman skorsing, aku hanya bisa mampir ke warung Bi Eem. Tak ada satu pun orang di sana, padahal aku ingin minta untuk tolong panggilin Lia. Bi Eem sedang di dalam rumahnya, ketika keluar dia langsung duduk di sampingku.
“Lia berantem”, katanya pelan
Awalnya aku hampir gak percaya.
“Hah? Sama siapa?”
“Sama Anhar”
“Kok?”
“Lia nangis tuh, ditampar Anhar”
“Kok? Kenapa?”
“Gak tau. Saling omong gitu”
“Ditampar?”.
“Iya”
“Kok bisa?”
“Gak ngerti”
“Di mana Anharnya sekarang?”
“Masuk kayaknya”

Tak lama dari itu, aku masuk ke sekolah dan berjalan menyusuri lorong kelas, tujuanku adalah masuk ke kelas si Anhar yang ada di ujung gedung itu (Agak di belakang). Di sana aku sempet berpapasan dengan guru yang baru selesai ngajar di kelas si Anhar (Aku lupa namanya).

Ketika aku masuk, kulihat Anhar sedang ngobrol dengan si Ade. Anhar nampak kaget bercampur gugup ketika melihatku. Kutarik Anhar dengan cara menarik kerah baju bagian depannya, lalu kuseret dia keluar. Aku merasa semua orang berdiri dan terkejut karena itu.
“Kau nampar Lia?”, kutanya si Anhar di lorong depan kelas. Tanganku masih memegang kerah bagian depan bajunya. Wajahku cukup dekat dengan wajahnya. Orang-orang pada nongol di kaca jendela kelas. Ada juga yang di pintu, tetapi mereka diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bentar, Lan. Bentar, Lan”, kata Anhar memandangku dengan nada suara menenangkan .
“Kau nampar Lia?”, kuulangi pertanyaanku. Aku betul-betul tidak perlu penjelasan. Bahkan
meskipun Lia yang salah, aku tidak bisa terima kalau Anhar sampai berani menamparnya.
Saat itu aku hanya butuhan jawaban: Iya atau Tidak.
“Gini”, kata Anhar masih berusaha membuat aku tenang
“Kau nampar Lia? !”
Dia membeku. Pandangan matanya mulai ia turunkan
“Kau nampar Lia!!!????”
Anhar masih diam. Dia mulai memandangku.
“Lan, udah, Lan”, tiba-tiba ada Bowo. Aku tepiskan tangannya. Bowo langsung diam. Ada Piyan di sampingku tapi cuma diam dan kemudian dia pergi.
“Jawab, Anjing!!!!”, kataku ke Anhar dengan intonasi yang tinggi tepat di mukanya.
“Iya”, kata Anhar akhirnya. Matanya tajam memandangku.

Kemudian kuhajar Anhar. Lalu terjadilah perkelahian. Akew dan yang lainnya berusaha melerai. Kukejar Anhar yang lari ke lapang basket. Aku berhasil menendangnya sampai membuat dia jatuh dan kemudian kupukuli. Anhar lebih banyak tidak melawan, ia hanya terus menangkis, bahkan nyaris tidak memukul, seperti orang yang bingung karena harus melawan sahabatnya. Beberapa guru datang untuk melerai, bersamaan dengan aku mendengar suara Lia:
“Dilan!”

Dan kemudian begitulah, seperti yang Lia ceritakan di dalam bukunya.

6
Kalau aku harus bilang, dengan siapapun aku berantem, itu sangat tidak menyenangkan, terutama dengan sahabat karib. Itu adalah ide yang paling mengerikan. Dan akan aku akui, tindakanku ke Anhar adalah tindakan yang buruk.

Oleh itu, aku minta dimaklumi, dengan segala latar belakang hidupku, dulu aku hanya seorang anak SMA yang sedang marah dengan emosi tingkat tinggi dan tidak benar-benar tahu bagaimana menangani persoalan tanpa harus berantem.

Kamu jangan berharap aku bisa bersikap dewasa ketika aku masih SMA kelas dua. Bagaimana dulu,
rasanya lebih mudah untuk marah daripada bijaksana. Waktu mendengar Lia ditampar oleh Anhar, sebetulnya aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri.

Rasanya itu adalah hari yang sangat buruk bagiku untuk bisa mikir panjang. Dan kemudian di luar kendaliku aku berantem dengan Anhar di dalam rangka untuk menyampaikan kepadanya bahwa dia tidak bisa memperlakukan Lia seperti itu.

Beberapa lama kemudian, Anhar bilang waktu kami berkumpul di rumah si Burhan. Katanya waktu itu dia tidak pernah merasa harus melawanku. Dia hanya merasa sangat heran mengapa jadi berantem denganku. Padahal selama ini, dia selalu bertempur bersamaku. Istilahnya jika aku berdarah maka dia juga akan siap mengalami.

Tapi kukira masalahnya adalah karena Anhar merasa Lia seperti sudah mengambilku sepenuhnya dan sudah membuat semakin sedikit waktu bagiku untuk berkumpul dengan teman-temanku. Aku ingin kau benar-benar memahami  maksudku, kalau aku bilang bahwa apa yang dirasakan oleh Anhar itu, semacam kecemburuan di dalam persahabatan, sementara aku merasa apa yang dilakukan Anhar ke Lia adalah mencoba untuk ikut campur dengan urusan pribadiku.

8
Besoknya, di warung Bi Eem, aku dikeroyok. Saat itu, aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk melakukan perlawanan. Aku benar-benar tidak siap ketika mereka datang secara tiba-tiba. Aku sedang sendiri, jadi tak ada orang yang bisa memberiku bantuan. Aku gak bisa berharap ke Bi Eem yang waktu itu malah sembunyi di kolong meja.

Kemudian Lia ngotot ingin tahu siapa orang yang sudah berani mengeroyokku. Aku mengerti apa yang ia rewelkan. Aku ingin bilang bahwa salah satunya adalah Endi, kakanya Anhar, tapi tidak tahu mengapa, tidak aku katakan. Barangkali karena aku hanya ingin masalahku dengan Anhar selesai di hari itu. Sedangkan urusanku dengan si Endi adalah urusan laki-laki dan kamu harus tahu Lia adalah perempuan.

9
Malamnya aku ke rumah si Burhan. Ada Akew, Bowo, Ivan dan lainnya. Mereka membahas soal aku dikeroyok. Aku ingin balas dendam tapi sebagian melarangnya.
“Aku pergi sendiri”, kataku

Aku keluar dan langsung ambil motor. Akew, Ivan, Bowo dan lainnya, memilih ikut bersamaku. Kami pergi melalui proses kebersamaan dan berhenti di toserba TRINA untuk beberapa keperluan. Bowo sedang mencoba meyakinkanku untuk jangan melakukan balas dendam. Dan kemudian tiba-tiba datang Lia bersama Yugo seperti yang Lia ceritakan di dalam bukunya.

Saat itu, menurutku, ketika Lia datang dengan Yugo, dia sedang membuat ruang besar kesalahpahaman. Aku punya naluri ini dari apa yang bisa kusaksikan. Aku tidak tahu apakah aku terlalu cepat mengambil kesimpulan atau apa, tapi aku merasa seperti sedang cemburu dan aku benci cemburu! Aku sangat yakin beberapa orang akan merasakan hal yang sama denganku seandainya mereka juga mengalami, kecuali kalau mereka adalah robot yang hilang remotenya.

Aku gak tahu siapa dia yang saat itu bersamanya, tapi aku sedang merasa digantikan olehnya dan aku tidak bisa mentolerir.

Aku benar-benar kecewa ketika dia datang seperti itu. Bahkan Lia tidak memberi penjelasan yang resmi atau memperkenalkan siapa orang yang bersamanya. Biasanya dia berbicara tentang segala sesuatu dan apa pun, kali itu dia betul-betul seperti sedang membuat dirinya jadi manusia yang paling menyebalkan di seluruh alam semesta .

Sepenuhnya aku gelisah dan bingung. Apa yang sedang terjadi? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku hanya merasa seperti akan marah! Aku merasa dia sedang jadi monster yang mematahkan kepercayaanku. Jadi ketika Lia mengancam aku putus, apakah itu sebuah perasaan? Apakah itu sebuah keputusan? Tapi otakku berharap bahwa ini akan lebih baik kalau segera.
“Lia sama siapa?”, tanya Akew mendekat tak lama setelah Lia pergi dengan Yugo.
Aku jawab dengan mengangkat kedua bahuku untuk mengatakan aku gak tahu.
“Lan, langsung ke SMA 5”, kata Ading berbisik. Maksud Ading sudah saatnya untuk kami berangkat menuju ke tempat yang sudah disepakati, yaitu di Taman Centrum dekat SMA 5 Bandung (sekarang Taman Musik Centrum, dulu sering dijadikan tempat nongkrong sore-sore, untuk bermain musik, main basket, pacaran dan lain-lain).
“Langsung”, kataku setelah menyalakan sebatang rokok.
“Lia jeung saha tadi?”, Bowo nanya serius sambil berjalan denganku menuju motor yang diparkir. (Lia sama siapa tadi?)
“Tanya Lia”, kujawab
“Ganteng”
“Geus ah, tong ngabahas awewe”, kataku ke Bowo sambil nyetarter motor. (Sudah ah, jangan ngebahas perempuan)

Tidak lama setelah tiba di Taman Centrum, datang 5 motor dan bergabung dengan kami yang sudah duduk di teras tangga di bawah naungan daun rimbun dari pohon besar yang tumbuh di sekitar. Beberapa di antara yang datang itu, masih bisa kuingat, mereka adalah Burhan, Engkus, Adil, Soni Cikaso, Deden dan Budi. Baru kemudian aku tahu mereka datang karena ditelepon oleh Burhan dan kemudian membawanya ke Taman Centrum.

Mengenangnya sekarang seperti masih bisa kurasakan bagaimana keadaan dan situasi malam itu. Taman Centrum cukup gelap sebagaimana biasanya. Dari jalan, kamu hanya akan bisa mendengar suara kami, tapi tidak akan bisa kau lihat, kecuali hanya titik nyala api dari rokok-rokok kami. Cuacanya betul-betul sangat dingin ditambah lagi oleh gerimis yang lalu turun. Dan kabut tipis membungkus jalan Bali, jalan Belitung dan jalan Sumbawa yang sunyi itu. Lampu jalan menyala di sana, warna orange, tapi bagai lemah tak berdaya.

Jaman dulu, jam segitu, tentu saja sudah sepi, tak lagi ada suara kendaraan yang lewat, juga belum banyak pedagang kaki lima. Maksudku itu adalah tahun 1990, bahkan suara anjing yang melolong dari jauh sepertinya masih akan bisa kau dengar.

Aku menggunakan jaket korea yang tebal dengan isi kepala dipenuhi banyak pikiran, tetapi juga dibanjiri perasaan, dengan semuanya memiliki tema yang gak enak. Saat itu aku merasa seperti sedang mengalami hari yang buruk dan mendapatkan sedikit rasa kecewa karena Lia datang bersama laki-laki, kemudian oleh itu maka mengapa dia menjadi seperti mudah baginya untuk mengancam aku putus, karena dia sudah punya serep!!! Setidaknya itulah yang aku pikirkan waktu.

Engkus berdiri berhadapan denganku, nafasnya bau minuman (aku bisa nerima dia memilih jalan hidup macam itu karena dia bukan keluargaku). Dia kerempeng dan sudah agak tua, punya group band underground yang lumayan dikenal di Bandung waktu itu dan aku tahu dia suka nongkrong malam hari dengan si Anhar di taman Sorga di jalan Rangga Gading, deket toko Dago 34 (sekarang taman itu dikenal dengan Taman Flexi). Malam itu, dia berusaha menentangku ketika aku tetap ngotot pergi ke rumah si Anhar untuk membalas dendam ke kakaknya.
“Aing lain ngabela si Anhar!!”, kata Engkus. Aku diam memandang Engkus yang memandangku di antara kerumunan kawan-kawan yang sudah mulai pada berdiri
“Apa urusanmu?”, kataku kepadanya.
“Damai. Piss, Brother!”, katanya sambil mengacungkan dua jarinya. “Urang kabeh CS”. (Kita semua CS)
“Dia mengeroyokku!!!”

Tiba-tiba, datang dua mobil dari arah jalan Kalimantan. Sirinenya baru dinyalakan setelah mereka belok ke arah jalan Bali, dan berhenti di depan SMA Negeri 5. Ketika kami menengadah ke arah mereka (Permukaan tanah Taman Centrum agak cekung) kami sudah langsung menyadari: itu adalah polisi, entah mau apa mereka.
“Aya naon euy?”, tanya Bowo merasa heran.

Polisi turun dari mobilnya. Itu benar-benar membuat kami sangat bingung, dan menegangkan yang bisa kami rasakan bersama-sama. Lalu dengan cepat, kami kabur.

Dalam situasi macam itu, sebagaimana biasanya, kami langsung melakukan strategi Amuba, yaitu semacam usaha membelah diri, dengan tujuan untuk mengcaukan konsentrasi polisi. Sebagian ada yang kabur ke arah jalan Banda, ada juga yang kabur ke arah jalan Manado, jalan Bangka dan jalan Lombok.

Polisi pasti berfikir hanya orang salah yang melarikan diri saat dikejar. Dan kesalahan kami waktu itu adalah melarikan diri saat dikejar. Atau jangan-jangan kami benar sehingga memilih kabur karena kami merasa bersalah sudah membawa beberapa alat tempur. Mereka mengejar!

Aku dan dua motor di belakangku, mengambil jalan memutar sedikit ke arah jalan Aceh bersama pikiran apa yang harus aku lakukan. Aku berpikir begitu sibuk mencari ide lolos dari kejaran, terus pergi ke jalan Riau, dilanjut ke jalan Laswi dan langsung belok menuju ke jalan Gatot Subroto.

Lia, apakah kau sudah tidur saat itu? Atau masih ngobrol di ruang tamu dengan orang yang datang bersamamu ke toko Trina?

Masing-masing dari kami sudah pasti akan tahu untuk tidak memilih Jalan Tikus, tapi kalau ada yang bilang itu cara yang baik untuk sembunyi, nyatanya malah penuh resiko, karena Jalan Tikus adalah jalan milik rumah-rumah penduduk, kalau kamu tertangkap akan langsung dihakimi oleh massa atau minimal terjebak portal dan jalan buntu.

Malam yang sunyi, rasanya di bumi hanya ada kami, polisi dan dinosaurus di jaman jutaan tahun yang lalu. Dengan bimbingan garis putih pembatas tepi jalan, kami melaju cukup kencang, menembus jalanan tanpa lampu sama sekali, bahkan motor kami, semuanya, tidak ada lampu sein-nya untuk siap sewaktu-waktu menghadapi keadaan macam itu.

Sirine polisi meraung-raung membelah kesunyian. Kupacu motorku ke arah jalan Binong, sementara dua motor temanku mengikuti dari belakang. Tujuanku adalah sampai ke Tugu di daerah  jalan terusan Buahbatu yang gelap itu, untuk melakukan strategi Amuba bagian kedua dan pulang selamat sampai tujuan untuk berkumpul lagi dengan keluarga tercinta.
“Hihaaaa!!!!”, teriak Akew seperti memberi semangat kepada dirinya. Entah mengapa aku senyum oleh itu.
“Lampu!”, kataku ke Akew dengan teriak agar bisa didengar,”Matiin!!”. Dia mendengar kemudian melakukannya.

Untung saja itu tahun 1990, jalanan masih lengang, belum banyak kendaraan dan manusia, apalagi waktu itu Bandung sudah sepi karena sudah hampir tengah malam. Jangan risau, kami sudah biasa menjadi seperti tikus yang bisa bergerak di comberan yang gelap, walau akhirnya berhasil juga dihentikan di daerah Tugu, karena ada 2 mobil Polisi yang datang menghadang dari arah berlawanan.
Salah satu dari mereka bertanya, siapa pimpinannya
“Aku”, jawabku

Polisi menemukan pistol ketika menggeledahku dan kemudian membawaku masuk ke dalam mobilnya. Aku duduk di depan, diapit oleh dua polisi. Akew dan Ivan di mobil polisi lainnya. Saat itu aku gak tahu nasib motorku. Tak ada pembicaraan. Aku langsung berfikir aku yakin masih akan bisa keluar dari masalah ini sambil memandang ke depan, ke arah jalan yang sepi, hanya satu dua motor saja yang lewat, mungkin tukang ojeg yang biasa mangkal di daerah Tugu itu. Dulu, di atas jam sembilan sudah gak ada angkot yang operasi kalau kamu lewat ke jalan Margacinta atau Ciwastra.

Di kantor polisi, kami disuruh masuk ke ruangan interogasi. Untunglah hanya kami yang ketangkap dan bersyukur masih hidup!

Salah seorang polisi yang bertugas malam itu, bertanya ke aku:
“Kamu anaknya Pak Ical?”
Aku diam tak menjawab, kemudian disuruh pada tidur di ruangan interogasi (Bukan di sel seperti yang Lia katakan). Aku sangat lelah dan tiduran di kursi yang sudah belel bersama pikiranku yang tidak bisa mencerna bagaimana Lia bisa pergi bersama laki-laki lain sementara dia sudah berpacaran denganku.

Aku, sebagai anak SMA waktu itu, betul-betul tidak mengerti ada sisi lain dari Lia yang macam itu, karena biasanya Lia pasti cerita. Malam itu, sambil merokok, aku betul-betul ingin bicara dengan Lia, dalam keadaan apa pun yang aku bisa. Dan cerita selanjutnya seperti yang sudah Lia katakan di dalam buku itu.

Pandanganku hari ini mengenai saat itu, aku sudah mampu berdamai dengan segala keputusanku di masa aku remaja, dengan menyadari bahwa sebagai anak muda, aku bisa maklum seandainya waktu itu pikiranku tidak sepenuhnya dikembangkan. Tidak peduli bagaimana pendapatmu, aku percaya setiap orang melakukan kesalahan dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan.

10
Pada awalnya, kejadian aku dikeroyok di rumah Bi Eem, sudah meningkatkan ketegangan antara aku dan Anhar, karena saat itu aku menyangka bahwa Anhar sudah mengadu ke kakaknya  yang menyebabkan hal itu terjadi. Bahkan saat itu aku mulai bertanya-tanya apakah persahabatan ini sudah berakhir? Kelak kemudian Anhar bilang di rumah Burhan pada acara pertemuan, bahwa ia sama sekali tidak lapor ke Kakaknya!

Kakaknya Anhar sekolah di salah satu sekolah kepolisian tetapi aku tidak sedang bicara bahwa kakaknya Anhar adalah utusan dari akademi kepolisian untuk menyerangku di warung bi Eem karena sudah berani berantem dengan adik dari salah satu mahasiswanya, sehingga menjadi sederhana kalau aku menganggap kakaknya Anhar adalah oknum saja. Sedangkan alasan mengapa aku membawa pistol ayahku, semata-mata karena aku kuatir Kakak si Anhar dan kawan-kawannya akan membawa senjata sama.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah, kami yang sudah berkumpul di Taman Centrum, disergap oleh pihak berwajib yang menurutku harus dipuji karena bisa bertindak sangat tanggap. Tahun 1990, berdasrkan survey majalah TIME, Bandung dikenal sebagai kota teraman di dunia.


BERSAMBUNG :) (Doain nulisnya lancar)