Minggu, 15 Februari 2015

Bersama Akademi Berbagi

Bersama Akademi Berbagi, mengunjungi kawan-kawan Bantar Gebang. Karena mereka adalah juga kita. Satu. Jika kita tidak berbagi bersama dengan mereka, maka kita inilah sampah”

Kemudian bikin lagu. Itu, bagiku, sangat menyenangkan
"Bagaimana kalau kita bikin lagu?"
"Mauuuuu!!!!"
"Lagu buat kamu! Buat kamu!"
"Mauuuuu!!!!"

"Kami Anak Bantar Gebang" 
Kami anak-anak Bantar Gebang
Satu selalu, kasih sayang
Bisa senang, bisa menang
Bisa renang, bisa sayang
Bisa terbang, bisa kayang
Selamanya


Asiiik, di bawah ini ada videonya, 
direkam diam-diam oleh Tita Larasati. 
video

Senin, 17 November 2014

MANUSKRIP AMSTERDAM



MANUSKRIP AMSTERDAM


1
Itu adalah sebuah Coffee Shop bernama “De Dampkring”, di mana sejumlah kecil ganja dijual. Terletak di sudut jalan Haarlemmerstraat, Amsterdam, tidak jauh dari Central Station,

Setelah bersepeda sendirian, Basile duduk di sana, di ruangan yang didominasi oleh cahaya warna merah dengan kualitas tingkat rendah.

Suasana saat itu cukup tenang bersama alunan musik dengan volumenya yang tepat.

Langit abu-abu dan rendah tetapi belum hujan. Cuaca memang sedang benar-benar buruk, bahkan di seluruh Eropa.

Itu bulan Mei 2001 dan itu dingin!

2
Pada waktu cerita ini dibuat, Basile sedang merampungkan gelar master Filsafat di Universitas Amsterdam, dan magang di majalah Het Parool untuk Jurnalisme Budaya.

Basile mengenal dirinya sebagai seorang Indonesia yang pergi ke Amsterdam sejak setahun yang lalu. “Ah, sudahlah. Bukan siapa aku, tetapi apa yang aku lakukan”

Basile adalah yang berfikir tentang manusia, yang tinggal di tempat berbeda di seluruh dunia, untuk mencari kehidupan lebih baik. Dan merenungkan tempat lain yang lebih memungkinkan untuk meraih masa depannya.

Hari itu, Amsterdam bukan hari yang baik untuk pergi, tapi Basile pergi untuk bertemu dengan Sarah. Seorang gadis dari kota Israel yang sudah ada di Amsterdam pada waktu yang sama dengan Basile, juga kuliah di kampus yang sama dengan Basile, tetapi berbeda jurusan.

Kemarin, di kampus, mereka hanya punya waktu sepuluh menit untuk bertemu.
"Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi?", Tanya Basile
"Bisa bertemu di “De Dampkring”, jawab Sarah, sambil berkemas untuk pergi.
“De Dampkring?” Tanya Basile, berusaha yakin dia tahu tempat itu. “Oh. Oke”
"Besok, pukul 22:00", kata Sarah
"Tapi aku tidak punya nomor teleponmu" kata Basile.
"Aku curiga kamu sudah mendapatkannya dari Isaac”
“Ha ha ha belum”
“Dan mencatatnya dalam buku yaa. Diam-diam"
“Ha ha ha. Aku serius. Aku belum punya"
"Oke sampai jumpa di De Dampkring"
"Ah! Ya sudah"
"Bye! Syalom Alaihim! (Alechem)"
"Bye!"

3.
Hari itu, mereka benar-benar bertemu. Percakapan membaur di udara, di atas makanan.

Mereka diskusi, sebagai satu dialektika tentang perbedaan yang tidak dilarang oleh perasaan dan kebijaksanaan.

Itu menyenangkan bahwa mereka terlihat santai dan tidak memiliki sepenuhnya naluri kesukuan. Bertindak tidak seperti orang lain yang memiliki pemikiran sempit.
“Aku sudah terlatih sejak bayi untuk menjadi Yahudi”, kata Sarah ketawa. Lalu ia hirup lagi kopinya.
“Dan berkembang menjadi cantik untuk duduk denganku sekarang”, kata Basile
“Kau yakin gak salah lihat?”. Sarah tersenyum.
"Aku senang bersamamu dan itu yang penting."
"Ha ha ha"
"Hari ini, Aku hanya ingin tinggal jauh dari orang-orang"
"Kenapa?", tanya Sarah
"Aku sedang tidak ingin membaca atau berpikir. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bertemu denganmu"

Sarah tersenyum bersama hujan yang turun secara dramatis hari itu. Awan gelap berguling di atas kanal, meninggalkan segala sesuatu yang diwarnai oleh kegelapan.



BERSAMBUNG YA :)





Sabtu, 04 Mei 2013

TERA ERRAU


SEDANG DIEDIT UNTUK DIAPLOD SEBANYAK MUNGKIN

SUWAT - Sumber Waras Tidak


SUWAT
Sumber Waras Tidak
(Sedang digarap, mudah-mudahan bisa lekas terbit)



Suwat I
SANG IMIGRAN

Dia sudah tinggal di bumi selama dua puluh lima tahun, sebelum akhirnya bertemu denganku enam hari yang lalu. Ini pertemuan ketiga, di sebuah cafe kecil yang sore, yang dingin, yang bagus, di bulan Oktober yang baik. 2001 masehi.

Dia bertanya lagi:
“Jadi, menurutmu, siapa dirimu, Basile?”.
“Aku?”
“Iya, kamu”
“Aku adalah bajingan yang bergerak bersama waktu, Gioia”
Dia mulai mencoba lagi mempermanis dirinya dengan senyuman, dan selalu berhasil.
“Hmmm. Dari mana asalmu?”. Matanya bekerja dengan baik untuk membuat dirinya menjadi makin penuh pesona sebagai seorang mahasiswi jurusan filsafat dari Universitas terkenal di dunia.
“Aku ini, imigran dari sorga, Gioia, yang diselundupkan ke bumi oleh ayahku yang tegang di kamar pengantin”
“Oh ya? Ha ha ha. Mengapa harus tegang?”, Dia memegang cangkir kopinya sambil ketawa.
“Supaya bisa memenuhi alasan atas apa yang harus dilakukannya itu”
“Juga harus keras ya?!”
“Oh, tentu ha ha ha!”
“Kalau tidak, pasti akan susah menyelundupkanmu”
“Ha ha ha”

Angin laut telah diadakan di cafe ini sebelum kami datang. Keindahannya terbuat dari ranting-ranting pohon yang tumbuh di tepi jalan. Satu matahari di sana, sedang pergi ke area yang lebih gelap, didorong oleh awan berwarna-warni. Kami datang, untuk kopi, dan lainnya, dalam perjalanan pulang dari kampus.
“Dan ibumu?”
“Ibuku?”
“Iya. Apa peran ibumu sampai kamu bisa ke bumi?”
“Tugas ibuku, ya dia menyimpan hasil selundupan"
"Hmmm"
"Di tempat yang kokoh selama sembilan bulan”
Dia tersenyum. Seorang wanita dengan rambutnya yang bagus dalam dua kepang besar. Tubuhnya dilindungi oleh jaket tebal agar bisa membentuk sebuah keserasian. 

Betul, jika ada jin yang akan mengabulkan permintaanku, salah satu dari keinginanku adalah, pasti, ingin menikah dengannya.
“Aku tidak tahu apa yang dirasakan ibuku.....ketika dia melibatkan dirinya dengan rasa sakit, untuk bisa mengeluarkanku dari lubang khusus yang ada di tubuhnya itu”
“Lubang kemana kamu diselundupkan? Ow, dan dari situ juga kamu keluar ya?”
“Lubang yang tidak dimiliki oleh laki-laki”
“Aku tahu yang kau maksud”
“Untuk itu, ibu dibantu oleh dokter dan suster”
“Ya”
“Dengan bayaran yang akan ditanggung oleh ayahku”
“Itu ayah yang baik. Tapi pelaku penyelundupan tetap harus ditangkap”.
“Kalau ayah dan ibuku ditangkap, pihak rumah sakit juga harus, Gioia”
“Karena mereka juga terlibat dalam konspirasi menyelundukan kamu ke bumi?”
“Iya”
"Oke"

Betapa hangat dia di dalam jaketnya itu! Aku merasa bahwa aku suka dengan semua yang ada padanya!
Angin berhembus seperti napasku. Beberapa daun berguguran. Parfumnya melayang adalah keinginannya. Dari semua bintang yang ada, hanya dia yang hidup di mataku, rasanya.



Suwat II
IBU


Pada matanya aku selalu merasakan sensasi yang akrab. Segalanya, termasuk helaian rambut di keningnya, tampak cocok untuk disesuaikan dengan dirinya. Hingga kiamat dan bahkan mungkin setelah itu.
“Bagimana rasanya saat kamu sampai di bumi ini, Basile?”
“Pertama kali di bumi, yang aku dapat adalah cahaya matahari”
“Terbukti, kamu bukan Drakula!"
"Karena?"
"Kalau iya, sudah hangus sejak itu”
“He he he. Aku merasa mendapat kebahagiaan"
"Ya"
"Kebahagiaan yang bisa dilihat dari pancaran wajah orang-orang yang datang menengok”
“Saudara-saudaramu”
“Aku dipeluk ibu, dengan pelukan yang selalu dirasa kurang oleh ibuku”
“Mengapa?”
“Dia terlalu ingin memastikan bahwa saya aman, Gioia, bahwa saya nyaman”
“Aman dari siapa?”
“Termasuk dari tentara pencabut nyawa. Bisa saja, jika harus, mereka akan mendeportasi aku kembali ke sorga”
“Bagaimana rasanya dipeluk ibu di bumi?”
“Satu keadaan di mana saya merasa sangat dicintai”
“Hmm”
“Merasa sangat dihargai, untuk pikiran dan hatiku”
“Ya”
“Saat itu aku langsung tahu, itu mungkin akan selalu”
“Tentu, Basile. Kemarin kamu pernah bilang tentang sorga di bawah telapak kaki ibu. Bagaimana itu bisa kamu katakan?”
“Itu nabiku yang bilang begitu. Aku setuju. Sorga adalah pondasi untuk kedudukan istimewa seorang ibu”
“Aku juga setuju”
 “Sesekali aku suka membayangkan, bagaimana dulu ayah dan ibu melakukan pertemuan”
“Pertemuan untuk?”
“Mungkin diskusi. Berdua di sebuah tempat khusus. Berdua membuat sebuah rencana besar menyelundupkan aku ke bumi”
“Ya”. Dia tersenyum.
“Meskipun aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar merancangnya”
“Kalau benar?”
“Kalau benar, mereka mungkin melakukannya dengan melalui beberapa tahapan yang harus dilalui”
“Tahapannya?”
“Itu akan dimulai dari mata”
“Ya”
“Lalu turun ke hati”
“Dari mata turun ke hati, ya itu cinta”
“Dan turun lagi”
“Ke?”
“Ke bawah perut”
“Hmm”
“Diubah menjadi nafsu”
“Untuk?”
“Untuk mereka kelola di tempat sunyi, sebelum lalu pergi ke sorga”
“Wow”. Dia minum lagi kopinya.
“Mereka melayang ke angkasa, bersama gelora perasaan yang dialaminya”
“Terbang dengan penuh kenikmatan”. Dia tersenyum, bukan disebabkan oleh karena di adik angkatanku, tapi dia makin manis kalau begitu. 
“He he he. Iya. Lalu kembali ke bumi. Lunglai sesaat setelah aku tersimpan di dalam perut ibuku”
“He he he”
“Bagi mereka, sebelum semua itu, mereka harus lebih dulu pergi ke Kantor Urusan Agama”
“Apa itu?"
"Instansi pemerintah, di Indonesia, yang mencatat legalitas formal pernikahan”
“Ya"
"Mereka ke sana untuk tidak mendapatkan kecelakaan sebelum pergi ke sorga mengambilku”
“Kecelakaan?”
“Maksudku supaya tidak dianggap kecelakaan”
“Oh, aku mengerti Married By Accident maksudmu? Ha ha”
“Kamu sudah mengatakannya”
"Ya ya ya"
Suaranya seperti laut yang bergumam. Apakah aku menyukainya begitu cepat? Semua orang akan begitu. 



Suwat III
BUMI

Malam sudah sedang merayapi langit. Membimbing kami untuk mulai berasa lebih dekat. Musik cafe adalah sesuai dengan yang ingin kami dengar. Dan kata-kata, saling mencari pemahaman perasaan untuk menemukan satu sama lain di sana.
“Hai, Imigran dari sorga”. Dia tersenyum.
“Ya, Gioia?”
“Apa pandanganmu tentang bumi?”
“Aku melihat banyak hal aneh di sini, setidaknya itulah pendapatku”
“Anehnya?”
“Matahari malah menyala ketika siang, bukan justeru di malam hari. Kukira, itu akan lebih bermanfaat untuk membuat malam menjadi terang”
“Ha ha ha. Aneh yang lainnya?”
“Orang gila difasilitasi telepon genggam, agar ada benda dengan siapa dia harus ngomong dan ketawa sendiri”
“Ha ha ha”
“Jangan ketawa, Gioia, aku serius”
“Aku juga ketawanya serius”
“Dan berjalan di atas bumi ini, Gioia”
“Ya. Bagaimana menurutmu?”
“Di atas bumi yang terus berputar ini”
“Ya?”
“Bagiku seperti sedang bermain sirkus”
“Aku setuju”
“Bukan hal mudah melakukannya”
“Hmm”
“Membutuhkan keseimbangan"
"Iya betul"
"Sampai-sampai aku baru bisa berjalan setelah dua tahun tinggal di bumi”
“Aku juga ha ha”
“Orangtuaku mengajarkan aku untuk bisa”
“Hmm. Bumi yang menakjubkan”
“Ya, Gioia. Oleh itu semua aku dibuatnya terkesima”
“Ya”
“Aku betul-betul terkesima, sampai membuat aku tidak bisa berkata-kata hampir setahun lamanya”
“Aku juga! Baru bisa ngomong setelah 2 tahun!”
“Ha ha. Jangan-jangan kau juga sama imigran dari sorga?”
“Kukira begitu”
“Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan ada di sini, Gioia. Dan bersamamu malam ini”
“Inilah bumi, Basile. Selamat datang”
“Telat”
“Telat bagaimana?”
“Telat mengucapkannya”
“Iya, maaf”
“Ha ha tidak apa-apa”

Di kepalaku tidak ada tempat yang begitu menyenangkan, Gioia, selain duduk bersama denganmu.
Aku ingin berjalan-jalan di bawah pohon berdua denganmu, dari pagi sampai malam, atau di mana pun, semuanya aku yakin akan indah.

(BERSAMBUNG)


Sabtu, 06 April 2013

I Am Sterdam -dinukil dari buku saya: Drunken Molen

Di hari pertama kamu datang, kamu bisa tinggal dulu di rumahnya Larasati. Di Tweede Jacob Van Campenstraat 126A 1073XX, Amsterdam. Kamu juga makan di sana dan harus nyuci sendiri piring bekas makanmu. Kamu juga pipis di sana dan siram sendiri bekasnya. Kamu juga ee di sana dan kamu harus mau cebok sendiri. Memakai sabun, sampo dan pasta giginya Larasati juga.
"Ga tau mana arah kiblat" Larasati bilang begitu ke kamu waktu kamu mau shalat. Kamu lupa ya? Dia kan Nasrani, tidak akan tahu ke mana arah kiblat.
"Mana arah barat?"
"Ini Barat"
"Ha ha. Ke arah mana matahari tenggelam?"
"Sana"
Lalu kamu shalat dengan menghadap ke arah barat seperti yang Larasati tunjukkan dan itu bukan menghadap ke arah Ka'bah di Arab. Kamu sadar hal itu setelah shalatmu selesai dan ketawa.
"Larasati! Aku shalat menghadap Inggris! Inggris di sana kan?"
"Harusnya?"
"Ke Arab ih!"
"Arab di sana!". Larasati menunjukkan tangannya ke arah sebelah timur.
"Waaah. Aku shalat menghadap Elizabeth"
"Ha ha ha"
"Anjing! Ha ha Aku shalat bukan menghadap Pangeran Gusti Allah, tapi Pangeran Charles!"
"Ha ha ha"
"Kupikir ini Indonesia"

***

Kamu tidur di kamar belakang. Kamar dengan jendela yang bila kau buka, kau akan bisa melihat apartemen di Quelijnstraat.
"Itu apartemen, penghuninya kebanyakan orang Maroko" Larasati bilang begitu, dan kamu memandangnya sambil merokok di halaman belakang rumah. Memandang apartemen itu yang di pagarnya hampir selalu dijem ur karpet dengan motif gaya Timur Tengah.
"Mereka.."
"Ya..."
"Setiap malam selalu menghisap hashish. Kamu tahu hashish gak?"
"Bagaimana kamu tahu mereka menghisap hashish?"
"You know laaah, tetangga"
"Oh. Iya".

***

"Kalau kamu mau lihat-lihat kampus. Kamu ke sana aja sendiri. Dekat. Bisa jalan kaki"
"Aku manja. Ada angkot gak?"
"Kamu bisa naik trem nomor 10 kalau begitu"
Lalu kamu merasa sedikit risau. Karena kamu tahu kamu baru sehari di sana. Larasati tidak bisa mengantarmu, karena malas dan banyak urusan, termasuk harus mengurus suami dan anaknya yang masih kecil itu, si Dhanu. Termasuk harus menghitung uang karena dia kebetulan ditunjuk jadi bendahara acara pameran komik Indonesia di Rijkmuseum Voor Volkenkunde, Leiden. Termasuk sibuk harus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya biar bisa menjadi Doktor.
"Sibuk sekali"
"Sampau lupa diet"
"Ha ha ya sudah, aku pergi sendiri ke sana. Nih, Belanda sih sudah ada dalam genggaman tanganku", katamu sambil kamu tunjukkan tulisan Belanda di telapak tanganmu.
"Ha ha ha"
"Ada mistar gak?", tanya kamu sambil meraih kapur tulis yang ada di atas meja kerjanya.
"Buat apa?'
"Ini. Pinjam ya?", katamu sambil mengambil mistar di antara tumpukan kertas.
"Buat apaan?!"
"Ini denahnya!" Larasati memberi kamu denah yang sudah dia bikin seperti yang kamu minta.
"Sip. Aku pergi dulu"
"Oke. Kamu pasti bisa lah. Inget-inget aja jalannya, biar kamu bisa kembali ke rumah"
"Iya"
"Kalau kamu lupa jalan pulang...."
"Iya?"
"Kamu ambil taksi minta antar ke Schipol". Larasati bilang Schipol itu maksudnya nama bandara
"Ngapain?"
"Langsung pulang ke Indonesia"
"He he he"
"Minta pesawat yang ke Buahbatu"
"Buah Batu Air Lines"
"Kalau ada apa-apa di jalan, kamu tinggal nanya, kamu kan punya mulut"
"Oh iya. Siap grak". Kamu pergi sambil mikir: Iya, kalau aku tersesat aku mau nanya pake bahasa Indonesia. Biar orang bisa maklum kenapa aku tersesat. Pantes lah tersesat karena aku bukan warga negara Belanda. Kedua, kalau mereka benar Belanda, harusnya mereka sudah bisa bahasa Indonesia, karena pernah lama di Indonesia, bahkan katanya sampai 350 tahun. Kalau ternyata tidak bisa, itu bukan bodoh, melainkan karena ketika Belanda di Indonesia, mereka sibuk membuat tata kota yang baik yang sekarang malah diacak-acak oleh orang Indonesianya sendiri. Membangun gedung-gedung yang bagus yang sebagian sudah dirobohkan oleh para bandit pengusaha untuk dirubah menjadi bangunan mall yang menggelikan.

***

Kalau tidak salah, itu adalah tahun 2002, ketika kamu tiba di sana. Bulannya sedang Juni, sedang siap-siap mau masuk musim panas. Musim panas yang penuh dengan angin dan oleh karena itu mengapa maka dingin. Kamu keluar dari rumah Larasati dengan berbalut jaket tebal. Berjalan sendiri, menyusuri trotoar berwarna merah jingga. Jika orang melihatmu dari atas, orang akan melihat sebuah gari putih memanjang di atas trotoar.

Itu adalah garis kapur tulis, kapurnya terikat diujung mistar yang kau seret dimulai dari depan rumah Larasati. Panjang sekali garis itu dan kamu sengaja membuatnya, untuk berguna menjadi petunjuk saat kamu harus kembali ke rumah Larasati. Harusnya, juga berguna untuk Larasati, kalau dia ingin tahu ke mana kamu pergi. Ke sana, melewati jembatan angkat di  atas sungai Amstel. Ke sana, ke kampus yang tinggi besar dengan pagar besinya yang juga tinggi. Gedung yang dingin dan sunyi karena itu hari minggu.

Ada suara burung dan derit sepeda yang lalu lalang di jalanan. Sebuah kolam, atau mungkin danau kecil, di seberang jalan itu, kamu melihat di atasnya beberapa itik yang bagus sedang berenang disaksikan oleh daun-daun pohon Willow. Pohon menangis. Benar-benar, seperti ada orang kaya yang sengaja menghabiskan uangnya untuk membuat keadaan bisa menghanyutkan setiap perasaan  bagi siapa pun yang ada di sana. Uh, cabang-cabang ranting pohon yang banyak di sepanjang jalan itu, adalah cabang-cabang ranting pohon yang sangat cocok ada di sana, membuat sore menjadi bagus untuk diphoto.

Kamu kembali ke rumah Larasati dengan menyusuri garis putih sambil tersenyum dan berhenti sebentar di suatu daerah yang sepi untuk membuat sketsa di atas kertas yang kau bawa. Daerah itu, lalu kamu tahu nyatanya memang selalu sepi, hampir setiap hari. Itu di sekitar belokan yang mau ke arah rumah Larasati. Di sana, kamu  membaca tulisan vandalisme yang dibuat dari pilox: The Faults pada sebuah tembok yang sedang direhab

"Mungkin itu gengmotor" jawab Larasati, ketika kamu bertanya apa maksud dari The Faults.
"Oh"
"Atau gak tau apa"
Dua hari kemudian, kamu sengaja membeli pilox dan pergi ke sana untuk membuat tanda silang dan tulisan TAI pada tulisan The Faults itu, lalu membuat tulisan baru di bawahnya: XTC, salah satu nama gengmotor yang ada di Bandung.
"Yes" katamu dalam hati dan senang.

***

Lama-lama, kamu mulai diserang rindu. Rindu akan banyak hal yang berhubungan dengan Indonesia, termasuk makanannya.
"Apa itu filsafat?" Larasati bertanya kepadamu, di kesempatan ketika kamu main lagi ke rumahnya.
"Filsafat adalah, tapi aku sedang ingin jengkol sekarang dan sambal!"
"Coba kamu pergi ke Albert Cuypstraat"
"Ada di sana?"
"Di ujung pasar Albert Cuyp, ada toko. Namanya toko Ramee. Kamu bisa beli mie instan, tauco. Rokok Indonesia juga ada. Borong aja semuanya, barangkali kamu tolol"
"Ayo, besok"
Ya harus besok, karena kamu harus pulang dulu dan tidur malam itu setelah usai membaca buku Rumah Kaca karya Pramudya Anata Toer yang dulu dilarang beredar di Indonesia. Tidur bersama rasa rindu yang entah mengapa mampu membuatmu sedikit kacau di sore hari yang tadi, barangkali juga disebabkan oleh kamu yang sedang demam waktu itu.

***

Tapi besoknya, kamu malah ke sana, menyusuri sungai Amstel dengan membawa kail yang dibuat dari peniti dan diikat oleh tali seperti benang kasur, tujuanmu hanya satu untuk: mencari belut! Waw, udara yang dingin dan usaha yang sia-sia. Kamu lalu pulang 
"Ngapain?" Larasati bilang begitu ketika kamu ceritakan kepadanya.
"Ha ha ha Kampungan ya?"
"Bukan kampungan itu, itu namanya belegug!"
"Ha ha ha Ga apa-apa deh"
Pada dasarnya kamu tahu, kamu bukan bermaksud semata-mata ingin mendapat belut. Toh kamu juga tahu, kalau cuma ingin belut (di sana disebut paling), kamu bisa tinggal pergi ke New King, ke rumah makan Chinese Food, di Zeedijk, di daerah deket Red Light District itu. Kamu mungkin hanya ingin, entahlah apa itu, susah sekali menerjemahkan perasaan.

Sekarang kamu di sini. Sudah di Indonesia lagi. Sudah pulang sejak beberapa tahun lalu. Coba lihat photo-photomu itu, salah satunya photo kamu yang telanjang dada sedang turun ke kanal kecil di Haarlem dan mengeduk airnya dengan ember, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, sedang menyapu jalanan di daerah pecinan, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, seolah-olah sedang jualan hot dog di lapangan deket Musium Van Gogh, apakah kamu tersenyum melihatnya? Kalau iya, tapi ibumu tidak, dia malah terkejut.
"Ngapain kamu di sana?!!"
"Kerja sambilan"
"Membersihkan sampah?"
"Memangnya kenapa kalau membersihkan sampah? Dat is  goed, Moeder!"
"Mana kincir anginnya?"
"Ha ha di sana laah!"

Bandung, Februari 2008