Sabtu, 04 Mei 2013

TERA ERRAU


SEDANG DIEDIT UNTUK DIAPLOD SEBANYAK MUNGKIN

SUWAT - Sumber Waras Tidak


SUWAT
Sumber Waras Tidak
(Sedang digarap, mudah-mudahan bisa lekas terbit)



Suwat I
SANG IMIGRAN

Dia sudah tinggal di bumi selama dua puluh lima tahun, sebelum akhirnya bertemu denganku enam hari yang lalu. Ini pertemuan ketiga, di sebuah cafe kecil yang sore, yang dingin, yang bagus, di bulan Oktober yang baik. 2001 masehi.

Dia bertanya lagi:
“Jadi, menurutmu, siapa dirimu, Basile?”.
“Aku?”
“Iya, kamu”
“Aku adalah bajingan yang bergerak bersama waktu, Gioia”
Dia mulai mencoba lagi mempermanis dirinya dengan senyuman, dan selalu berhasil.
“Hmmm. Dari mana asalmu?”. Matanya bekerja dengan baik untuk membuat dirinya menjadi makin penuh pesona sebagai seorang mahasiswi jurusan filsafat dari Universitas terkenal di dunia.
“Aku ini, imigran dari sorga, Gioia, yang diselundupkan ke bumi oleh ayahku yang tegang di kamar pengantin”
“Oh ya? Ha ha ha. Mengapa harus tegang?”, Dia memegang cangkir kopinya sambil ketawa.
“Supaya bisa memenuhi alasan atas apa yang harus dilakukannya itu”
“Juga harus keras ya?!”
“Oh, tentu ha ha ha!”
“Kalau tidak, pasti akan susah menyelundupkanmu”
“Ha ha ha”

Angin laut telah diadakan di cafe ini sebelum kami datang. Keindahannya terbuat dari ranting-ranting pohon yang tumbuh di tepi jalan. Satu matahari di sana, sedang pergi ke area yang lebih gelap, didorong oleh awan berwarna-warni. Kami datang, untuk kopi, dan lainnya, dalam perjalanan pulang dari kampus.
“Dan ibumu?”
“Ibuku?”
“Iya. Apa peran ibumu sampai kamu bisa ke bumi?”
“Tugas ibuku, ya dia menyimpan hasil selundupan"
"Hmmm"
"Di tempat yang kokoh selama sembilan bulan”
Dia tersenyum. Seorang wanita dengan rambutnya yang bagus dalam dua kepang besar. Tubuhnya dilindungi oleh jaket tebal agar bisa membentuk sebuah keserasian. 

Betul, jika ada jin yang akan mengabulkan permintaanku, salah satu dari keinginanku adalah, pasti, ingin menikah dengannya.
“Aku tidak tahu apa yang dirasakan ibuku.....ketika dia melibatkan dirinya dengan rasa sakit, untuk bisa mengeluarkanku dari lubang khusus yang ada di tubuhnya itu”
“Lubang kemana kamu diselundupkan? Ow, dan dari situ juga kamu keluar ya?”
“Lubang yang tidak dimiliki oleh laki-laki”
“Aku tahu yang kau maksud”
“Untuk itu, ibu dibantu oleh dokter dan suster”
“Ya”
“Dengan bayaran yang akan ditanggung oleh ayahku”
“Itu ayah yang baik. Tapi pelaku penyelundupan tetap harus ditangkap”.
“Kalau ayah dan ibuku ditangkap, pihak rumah sakit juga harus, Gioia”
“Karena mereka juga terlibat dalam konspirasi menyelundukan kamu ke bumi?”
“Iya”
"Oke"

Betapa hangat dia di dalam jaketnya itu! Aku merasa bahwa aku suka dengan semua yang ada padanya!
Angin berhembus seperti napasku. Beberapa daun berguguran. Parfumnya melayang adalah keinginannya. Dari semua bintang yang ada, hanya dia yang hidup di mataku, rasanya.



Suwat II
IBU


Pada matanya aku selalu merasakan sensasi yang akrab. Segalanya, termasuk helaian rambut di keningnya, tampak cocok untuk disesuaikan dengan dirinya. Hingga kiamat dan bahkan mungkin setelah itu.
“Bagimana rasanya saat kamu sampai di bumi ini, Basile?”
“Pertama kali di bumi, yang aku dapat adalah cahaya matahari”
“Terbukti, kamu bukan Drakula!"
"Karena?"
"Kalau iya, sudah hangus sejak itu”
“He he he. Aku merasa mendapat kebahagiaan"
"Ya"
"Kebahagiaan yang bisa dilihat dari pancaran wajah orang-orang yang datang menengok”
“Saudara-saudaramu”
“Aku dipeluk ibu, dengan pelukan yang selalu dirasa kurang oleh ibuku”
“Mengapa?”
“Dia terlalu ingin memastikan bahwa saya aman, Gioia, bahwa saya nyaman”
“Aman dari siapa?”
“Termasuk dari tentara pencabut nyawa. Bisa saja, jika harus, mereka akan mendeportasi aku kembali ke sorga”
“Bagaimana rasanya dipeluk ibu di bumi?”
“Satu keadaan di mana saya merasa sangat dicintai”
“Hmm”
“Merasa sangat dihargai, untuk pikiran dan hatiku”
“Ya”
“Saat itu aku langsung tahu, itu mungkin akan selalu”
“Tentu, Basile. Kemarin kamu pernah bilang tentang sorga di bawah telapak kaki ibu. Bagaimana itu bisa kamu katakan?”
“Itu nabiku yang bilang begitu. Aku setuju. Sorga adalah pondasi untuk kedudukan istimewa seorang ibu”
“Aku juga setuju”
 “Sesekali aku suka membayangkan, bagaimana dulu ayah dan ibu melakukan pertemuan”
“Pertemuan untuk?”
“Mungkin diskusi. Berdua di sebuah tempat khusus. Berdua membuat sebuah rencana besar menyelundupkan aku ke bumi”
“Ya”. Dia tersenyum.
“Meskipun aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar merancangnya”
“Kalau benar?”
“Kalau benar, mereka mungkin melakukannya dengan melalui beberapa tahapan yang harus dilalui”
“Tahapannya?”
“Itu akan dimulai dari mata”
“Ya”
“Lalu turun ke hati”
“Dari mata turun ke hati, ya itu cinta”
“Dan turun lagi”
“Ke?”
“Ke bawah perut”
“Hmm”
“Diubah menjadi nafsu”
“Untuk?”
“Untuk mereka kelola di tempat sunyi, sebelum lalu pergi ke sorga”
“Wow”. Dia minum lagi kopinya.
“Mereka melayang ke angkasa, bersama gelora perasaan yang dialaminya”
“Terbang dengan penuh kenikmatan”. Dia tersenyum, bukan disebabkan oleh karena di adik angkatanku, tapi dia makin manis kalau begitu. 
“He he he. Iya. Lalu kembali ke bumi. Lunglai sesaat setelah aku tersimpan di dalam perut ibuku”
“He he he”
“Bagi mereka, sebelum semua itu, mereka harus lebih dulu pergi ke Kantor Urusan Agama”
“Apa itu?"
"Instansi pemerintah, di Indonesia, yang mencatat legalitas formal pernikahan”
“Ya"
"Mereka ke sana untuk tidak mendapatkan kecelakaan sebelum pergi ke sorga mengambilku”
“Kecelakaan?”
“Maksudku supaya tidak dianggap kecelakaan”
“Oh, aku mengerti Married By Accident maksudmu? Ha ha”
“Kamu sudah mengatakannya”
"Ya ya ya"
Suaranya seperti laut yang bergumam. Apakah aku menyukainya begitu cepat? Semua orang akan begitu. 



Suwat III
BUMI

Malam sudah sedang merayapi langit. Membimbing kami untuk mulai berasa lebih dekat. Musik cafe adalah sesuai dengan yang ingin kami dengar. Dan kata-kata, saling mencari pemahaman perasaan untuk menemukan satu sama lain di sana.
“Hai, Imigran dari sorga”. Dia tersenyum.
“Ya, Gioia?”
“Apa pandanganmu tentang bumi?”
“Aku melihat banyak hal aneh di sini, setidaknya itulah pendapatku”
“Anehnya?”
“Matahari malah menyala ketika siang, bukan justeru di malam hari. Kukira, itu akan lebih bermanfaat untuk membuat malam menjadi terang”
“Ha ha ha. Aneh yang lainnya?”
“Orang gila difasilitasi telepon genggam, agar ada benda dengan siapa dia harus ngomong dan ketawa sendiri”
“Ha ha ha”
“Jangan ketawa, Gioia, aku serius”
“Aku juga ketawanya serius”
“Dan berjalan di atas bumi ini, Gioia”
“Ya. Bagaimana menurutmu?”
“Di atas bumi yang terus berputar ini”
“Ya?”
“Bagiku seperti sedang bermain sirkus”
“Aku setuju”
“Bukan hal mudah melakukannya”
“Hmm”
“Membutuhkan keseimbangan"
"Iya betul"
"Sampai-sampai aku baru bisa berjalan setelah dua tahun tinggal di bumi”
“Aku juga ha ha”
“Orangtuaku mengajarkan aku untuk bisa”
“Hmm. Bumi yang menakjubkan”
“Ya, Gioia. Oleh itu semua aku dibuatnya terkesima”
“Ya”
“Aku betul-betul terkesima, sampai membuat aku tidak bisa berkata-kata hampir setahun lamanya”
“Aku juga! Baru bisa ngomong setelah 2 tahun!”
“Ha ha. Jangan-jangan kau juga sama imigran dari sorga?”
“Kukira begitu”
“Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan ada di sini, Gioia. Dan bersamamu malam ini”
“Inilah bumi, Basile. Selamat datang”
“Telat”
“Telat bagaimana?”
“Telat mengucapkannya”
“Iya, maaf”
“Ha ha tidak apa-apa”

Di kepalaku tidak ada tempat yang begitu menyenangkan, Gioia, selain duduk bersama denganmu.
Aku ingin berjalan-jalan di bawah pohon berdua denganmu, dari pagi sampai malam, atau di mana pun, semuanya aku yakin akan indah.

(BERSAMBUNG)


Sabtu, 06 April 2013

I Am Sterdam -dinukil dari buku saya: Drunken Molen

Di hari pertama kamu datang, kamu bisa tinggal dulu di rumahnya Larasati. Di Tweede Jacob Van Campenstraat 126A 1073XX, Amsterdam. Kamu juga makan di sana dan harus nyuci sendiri piring bekas makanmu. Kamu juga pipis di sana dan siram sendiri bekasnya. Kamu juga ee di sana dan kamu harus mau cebok sendiri. Memakai sabun, sampo dan pasta giginya Larasati juga.
"Ga tau mana arah kiblat" Larasati bilang begitu ke kamu waktu kamu mau shalat. Kamu lupa ya? Dia kan Nasrani, tidak akan tahu ke mana arah kiblat.
"Mana arah barat?"
"Ini Barat"
"Ha ha. Ke arah mana matahari tenggelam?"
"Sana"
Lalu kamu shalat dengan menghadap ke arah barat seperti yang Larasati tunjukkan dan itu bukan menghadap ke arah Ka'bah di Arab. Kamu sadar hal itu setelah shalatmu selesai dan ketawa.
"Larasati! Aku shalat menghadap Inggris! Inggris di sana kan?"
"Harusnya?"
"Ke Arab ih!"
"Arab di sana!". Larasati menunjukkan tangannya ke arah sebelah timur.
"Waaah. Aku shalat menghadap Elizabeth"
"Ha ha ha"
"Anjing! Ha ha Aku shalat bukan menghadap Pangeran Gusti Allah, tapi Pangeran Charles!"
"Ha ha ha"
"Kupikir ini Indonesia"

***

Kamu tidur di kamar belakang. Kamar dengan jendela yang bila kau buka, kau akan bisa melihat apartemen di Quelijnstraat.
"Itu apartemen, penghuninya kebanyakan orang Maroko" Larasati bilang begitu, dan kamu memandangnya sambil merokok di halaman belakang rumah. Memandang apartemen itu yang di pagarnya hampir selalu dijem ur karpet dengan motif gaya Timur Tengah.
"Mereka.."
"Ya..."
"Setiap malam selalu menghisap hashish. Kamu tahu hashish gak?"
"Bagaimana kamu tahu mereka menghisap hashish?"
"You know laaah, tetangga"
"Oh. Iya".

***

"Kalau kamu mau lihat-lihat kampus. Kamu ke sana aja sendiri. Dekat. Bisa jalan kaki"
"Aku manja. Ada angkot gak?"
"Kamu bisa naik trem nomor 10 kalau begitu"
Lalu kamu merasa sedikit risau. Karena kamu tahu kamu baru sehari di sana. Larasati tidak bisa mengantarmu, karena malas dan banyak urusan, termasuk harus mengurus suami dan anaknya yang masih kecil itu, si Dhanu. Termasuk harus menghitung uang karena dia kebetulan ditunjuk jadi bendahara acara pameran komik Indonesia di Rijkmuseum Voor Volkenkunde, Leiden. Termasuk sibuk harus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya biar bisa menjadi Doktor.
"Sibuk sekali"
"Sampau lupa diet"
"Ha ha ya sudah, aku pergi sendiri ke sana. Nih, Belanda sih sudah ada dalam genggaman tanganku", katamu sambil kamu tunjukkan tulisan Belanda di telapak tanganmu.
"Ha ha ha"
"Ada mistar gak?", tanya kamu sambil meraih kapur tulis yang ada di atas meja kerjanya.
"Buat apa?'
"Ini. Pinjam ya?", katamu sambil mengambil mistar di antara tumpukan kertas.
"Buat apaan?!"
"Ini denahnya!" Larasati memberi kamu denah yang sudah dia bikin seperti yang kamu minta.
"Sip. Aku pergi dulu"
"Oke. Kamu pasti bisa lah. Inget-inget aja jalannya, biar kamu bisa kembali ke rumah"
"Iya"
"Kalau kamu lupa jalan pulang...."
"Iya?"
"Kamu ambil taksi minta antar ke Schipol". Larasati bilang Schipol itu maksudnya nama bandara
"Ngapain?"
"Langsung pulang ke Indonesia"
"He he he"
"Minta pesawat yang ke Buahbatu"
"Buah Batu Air Lines"
"Kalau ada apa-apa di jalan, kamu tinggal nanya, kamu kan punya mulut"
"Oh iya. Siap grak". Kamu pergi sambil mikir: Iya, kalau aku tersesat aku mau nanya pake bahasa Indonesia. Biar orang bisa maklum kenapa aku tersesat. Pantes lah tersesat karena aku bukan warga negara Belanda. Kedua, kalau mereka benar Belanda, harusnya mereka sudah bisa bahasa Indonesia, karena pernah lama di Indonesia, bahkan katanya sampai 350 tahun. Kalau ternyata tidak bisa, itu bukan bodoh, melainkan karena ketika Belanda di Indonesia, mereka sibuk membuat tata kota yang baik yang sekarang malah diacak-acak oleh orang Indonesianya sendiri. Membangun gedung-gedung yang bagus yang sebagian sudah dirobohkan oleh para bandit pengusaha untuk dirubah menjadi bangunan mall yang menggelikan.

***

Kalau tidak salah, itu adalah tahun 2002, ketika kamu tiba di sana. Bulannya sedang Juni, sedang siap-siap mau masuk musim panas. Musim panas yang penuh dengan angin dan oleh karena itu mengapa maka dingin. Kamu keluar dari rumah Larasati dengan berbalut jaket tebal. Berjalan sendiri, menyusuri trotoar berwarna merah jingga. Jika orang melihatmu dari atas, orang akan melihat sebuah gari putih memanjang di atas trotoar.

Itu adalah garis kapur tulis, kapurnya terikat diujung mistar yang kau seret dimulai dari depan rumah Larasati. Panjang sekali garis itu dan kamu sengaja membuatnya, untuk berguna menjadi petunjuk saat kamu harus kembali ke rumah Larasati. Harusnya, juga berguna untuk Larasati, kalau dia ingin tahu ke mana kamu pergi. Ke sana, melewati jembatan angkat di  atas sungai Amstel. Ke sana, ke kampus yang tinggi besar dengan pagar besinya yang juga tinggi. Gedung yang dingin dan sunyi karena itu hari minggu.

Ada suara burung dan derit sepeda yang lalu lalang di jalanan. Sebuah kolam, atau mungkin danau kecil, di seberang jalan itu, kamu melihat di atasnya beberapa itik yang bagus sedang berenang disaksikan oleh daun-daun pohon Willow. Pohon menangis. Benar-benar, seperti ada orang kaya yang sengaja menghabiskan uangnya untuk membuat keadaan bisa menghanyutkan setiap perasaan  bagi siapa pun yang ada di sana. Uh, cabang-cabang ranting pohon yang banyak di sepanjang jalan itu, adalah cabang-cabang ranting pohon yang sangat cocok ada di sana, membuat sore menjadi bagus untuk diphoto.

Kamu kembali ke rumah Larasati dengan menyusuri garis putih sambil tersenyum dan berhenti sebentar di suatu daerah yang sepi untuk membuat sketsa di atas kertas yang kau bawa. Daerah itu, lalu kamu tahu nyatanya memang selalu sepi, hampir setiap hari. Itu di sekitar belokan yang mau ke arah rumah Larasati. Di sana, kamu  membaca tulisan vandalisme yang dibuat dari pilox: The Faults pada sebuah tembok yang sedang direhab

"Mungkin itu gengmotor" jawab Larasati, ketika kamu bertanya apa maksud dari The Faults.
"Oh"
"Atau gak tau apa"
Dua hari kemudian, kamu sengaja membeli pilox dan pergi ke sana untuk membuat tanda silang dan tulisan TAI pada tulisan The Faults itu, lalu membuat tulisan baru di bawahnya: XTC, salah satu nama gengmotor yang ada di Bandung.
"Yes" katamu dalam hati dan senang.

***

Lama-lama, kamu mulai diserang rindu. Rindu akan banyak hal yang berhubungan dengan Indonesia, termasuk makanannya.
"Apa itu filsafat?" Larasati bertanya kepadamu, di kesempatan ketika kamu main lagi ke rumahnya.
"Filsafat adalah, tapi aku sedang ingin jengkol sekarang dan sambal!"
"Coba kamu pergi ke Albert Cuypstraat"
"Ada di sana?"
"Di ujung pasar Albert Cuyp, ada toko. Namanya toko Ramee. Kamu bisa beli mie instan, tauco. Rokok Indonesia juga ada. Borong aja semuanya, barangkali kamu tolol"
"Ayo, besok"
Ya harus besok, karena kamu harus pulang dulu dan tidur malam itu setelah usai membaca buku Rumah Kaca karya Pramudya Anata Toer yang dulu dilarang beredar di Indonesia. Tidur bersama rasa rindu yang entah mengapa mampu membuatmu sedikit kacau di sore hari yang tadi, barangkali juga disebabkan oleh kamu yang sedang demam waktu itu.

***

Tapi besoknya, kamu malah ke sana, menyusuri sungai Amstel dengan membawa kail yang dibuat dari peniti dan diikat oleh tali seperti benang kasur, tujuanmu hanya satu untuk: mencari belut! Waw, udara yang dingin dan usaha yang sia-sia. Kamu lalu pulang 
"Ngapain?" Larasati bilang begitu ketika kamu ceritakan kepadanya.
"Ha ha ha Kampungan ya?"
"Bukan kampungan itu, itu namanya belegug!"
"Ha ha ha Ga apa-apa deh"
Pada dasarnya kamu tahu, kamu bukan bermaksud semata-mata ingin mendapat belut. Toh kamu juga tahu, kalau cuma ingin belut (di sana disebut paling), kamu bisa tinggal pergi ke New King, ke rumah makan Chinese Food, di Zeedijk, di daerah deket Red Light District itu. Kamu mungkin hanya ingin, entahlah apa itu, susah sekali menerjemahkan perasaan.

Sekarang kamu di sini. Sudah di Indonesia lagi. Sudah pulang sejak beberapa tahun lalu. Coba lihat photo-photomu itu, salah satunya photo kamu yang telanjang dada sedang turun ke kanal kecil di Haarlem dan mengeduk airnya dengan ember, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, sedang menyapu jalanan di daerah pecinan, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, seolah-olah sedang jualan hot dog di lapangan deket Musium Van Gogh, apakah kamu tersenyum melihatnya? Kalau iya, tapi ibumu tidak, dia malah terkejut.
"Ngapain kamu di sana?!!"
"Kerja sambilan"
"Membersihkan sampah?"
"Memangnya kenapa kalau membersihkan sampah? Dat is  goed, Moeder!"
"Mana kincir anginnya?"
"Ha ha di sana laah!"

Bandung, Februari 2008 




   




 



    


 


   




 

Jumat, 05 April 2013

CUIDAD DE LA HABANA CUBA - diambil dari bukuku "Drunken Molen"





CUIDAD DE LA HABANA 

Orang Kuba tidak menerima bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena mereka tidak akan mengerti ..........

Dan, di Havana. Yaitu di Cuidad De La Habana, Kuba.  Apa kau pernah di sana? Menyusuri trotoar jalan di hari sore berangin bersama Juanita? Bersama Juanita Yoani Sanchez nama lengkapnya. Perempuan Kuba yang bagus kalau senyum, dan tetap bagus meskipun diam. Hari itu adalah hari terakhir kamu tinggal di Kuba karena besok kamu akan kembali ke negaramu, ke Republik Indonesia, meskipun kamu sudah hampir setahun tinggal di sana. 

Kepada Juanita, kawan baikmu itu, kamu minta diantar untuk membeli oleh-oleh sambil masih tetap duduk di kursi kayu dan menggenggam surat khabar GRANMA. Surat khabar yang bila kau baca kau akan pusing karena kamu tahu kamu tidak terlalu mengerti bahasa Spanyol. 

Lalu Juanita membawa kamu ke sana, sore itu, ke tempat yang sebenarnya bukan toko oleh-oleh. Cuma toko biasa dengan bangunannya yang tua bergaya Baroque. Kamu ingat, temboknya warna biru yang sudah dibikin pudar oleh waktu. Di bagian tertentu ada sedikit warna kuning, pasti sengaja, mungkin untuk berguna bisa memberi sedikit aksen.

Kamu masuk bersama Juanita dengan cara membuka pintu yang ada tulisan: ABIERTO nya. Di dalam toko, pada sebuah pilar yang melengkung, kamu membaca sebuah tulisan besar berbahasa Spanyol: INI HAVANA DAN KAMU BAHAGIA”, kira-kira begitu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ada sebuah meja tua yang panjang, tempat tinggal mesin hitung, tumpukan buku, daun kering, cerutu dan banyak lainnya lagi yang akan panjang kalau kamu sebutkan semuanya secar detail.
 “Kalau kamu ingin cerutu dan CafĂ© Cubano”, kata dia dalam bahasa Inggrisnya yang khas, “Di sini kamu bisa dapat”.
“Kalau tidak ingin?”
“Sudah jangan beli!”. Kamu ketawa dan dia juga. 

Juanita menyapa seorang bapak tua dan gemuk. Bapak tua itu asalnya duduk, lalu berdiri untuk menyambut kalian datang.
“Hello”, katanya.
“Hello. Assalamualaikum, Pak Haji!”. Kamu berseru, menyapanya.
“Ya? Bisa saya bantu?”, kira-kira begitu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Mau beli oleh-oleh, Pak Haji!”, katamu lagi.
“Haji? No. I am Jose”
“Ya Haji Jose. Saya mau membeli oleh-oleh”, kamu menjawab dalam bahasa Inggrismu. Juanita tersenyum, entah mengapa, dan pergi ke sana untuk melihat barang dagangan yang ada di sana, tapi maksudnya lebih seperti sengaja untuk tidak ikut terlibat dalam percakapan itu. Kayak yang malu punya kawan macam kau. Kamu diantar Jose melihat benda-benda itu juga.
“Berasal dari mana kamu?”, Jose bertanya
“Indonesia, Pak Haji”
Jose tersenyum. Mungkin dia berpikir: “Anak muda ini mengapa selalu memanggil aku Haji? Apa sih Haji itu?”
“Indonesia? India? Bombay?”, Jose bertanya lagi.
“Bukan, Pak Haji. Kamu tahu Indonesia?”
“Di mana itu?”
“Di mana ya? Kamu tahu Sokearno?”
“Soekarno? Tidak”
“Lady Diana? Tahu Lady Diana?”
“Ya. Lady Diana. Kamu dari England?”
“Bukaaaaan. Saya dari Indonesia, Pak Hajiii”
“Lady Diana dari England, bukan?”
“Dia lahir di Indonesia. Tapi tidak mau ngaku”
“Oh ya?”
“Nyatanya begitu”
“Aku baru tahu”
“Pak Haji, Tahu Pele?”
“Ya aku tahu Pele. Pemain sepakbola. Saya suka dia”
“Dia lahir di Brazil”
“Ya. Aku tahu. Hmm Indonesia nama daerah di Brazil?”
“Ih. Bukan. Udah ah, pusing”
“Oke, kalau begitu. Ga apa-apa”. Jose bilang begitu sambil tersenyum.

Lalu kamu nanya ke “haji” Jose soal barang yang kamu ingin tahu apa itu. Jose menjelaskannya dengan baik. Juanita datang seraya menyenggolmu untuk minggir. Dia membawa sebuah boneka aneh seperti boneka dari Voodo dan bertanya kepada Jose agar bisa mendapatkan penjelasan. Kukira, Jose pasti suka ketika menjelaskannya karena dia tahu Juanita memang cantik.

Kamu akhirnya membeli beberapa ikat cerutu Cubano, dan yang lainnya lagi yang kamu sudah lupa apa saja. Juanita tidak membeli apa-apa, karena dia tahu, dia bisa membelinya kapan saja bila mau. Tak lama dari itu, lalu datang seorang ibu tua dengan rambutnya yang dikuncir. Itu ibu gemuk, segemuk Jose. Kalau tidak salah, waktu itu, dia memakai tank top berwarna biru tua. Kamu sudah lupa siapa namanya, tapi dia adalah manusia dan istrinya Jose. 

Dia masuk ke sana untuk untuk jadi berdiri di balik meja kasir. Kepadanya kamu serahkan barang-barang yang kamu akan beli untuk dihitung, supaya menjadi jelas berapa kamu harus bayar. Oh, sekian peso dan dia sangat baik dan ramah. Tidak semua orang Kuba itu ramah, memang, tapi di sana kamu bisa pergi ke mana saja dengan hanya menyetop mobil untuk bisa mendapat tumpangan. Hal yang macam itu, di sana, disebutnya sebagai Bote.
“Dia dari Indonesia. Kamu tahu Indonesia?” Jose ngomong begitu ke istrinya sambil tersenyum.
“Indonesia? Di mana itu?”. Istrinya Jose balik bertanya seolah-olah ditujukan kepadamu.
“Dekat Antartika, Bu Hajjah”, jawabmu.
“Antartika? Oww. Hajah apa itu?” istri Jose bertanya lagi dan kamu berusaha bertahan untuk tidak ketawa. Di ujung meja, Juanita sedang berdiri bersama Jose yang sedang mebungkus barang belanjaanmu. Mereka ngobrol, tapi kamu tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Iya saya datang dari Antartika”, katamu lagi kepada istrinya Jose.
“Aku tahu Antartika. Bagimana tinggal di sini menurutmu?”
“Dingin sekali”
“Dingin? Oh ya? Ini panas. Antartika sedingin es”, kata istrinya Jose.
“Ah itu isu. Jangan asal percaya. Coba ibu pergi ke sana. Buktikan dulu”
“Tidak. Itu jauh”.

Lalu kamu bertanya kepada Juanita soal jumlah uang yang harus kamu serahkan. Juanita segera membantumu dan menyerahkan beberapa jumlah uang  kepada istrinya Jose.
“Terimakasih banyak” kata istri Jose sambil menyerahkan uang kembalian.
“Sama-sama” katamu sambil berkemas untuk siap-siap mau pergi.
“Ya”
“Pak Haji, Bu Hajjah. Mangga, ah! Assalamualaikum”, katamu sambil pergi bersama Juanita untuk meninggalkan mereka.
“Ya, terimakasih, Indonesia. Sampai Jumpa”

Kamu dan Juanita memilih berjalan kaki untuk pulang. Menyusuri trotoar jalan, menyusuri gedung-gedung tua, menysurui hari yang tak lama lagi sudah mulai akan senja. Kamu dan Juanita tertawa, termasuk ketika membicarakan orang-orang yang pada nganggur duduk di tangga yang ada di depan rumahnya. Tertawa dengan begitu banyak, seolah-olah hanya untuk itu kalian hadir ke dunia. Juga sekaligus untuk mengungkap akan semua kenangan tentang apa saja yang sudah pernah engkau dapatkan di Kuba, yaitu selain pengetahuan tentang seni liberal. Membuat semakin kuat saja desiran yang engkau rasakan di rongga mulutmu itu. Desiran khas yang muncul karena didesak oleh banyak hal yang engkau rasakan dan tidak lagi mampu kau bendung.

Minggu, 31 Maret 2013

Mesjid Rolling Stones (Bagian II)


Itulah mesjid, selain menjadi tempat shalat, adalah juga tempat anak-anak bisa merasa senang dan ramai untuk berkumpul bersama teman-teman. Bahagia rasanya bisa pergi ke sana setiap menjelang akan magrib.

Lebih lagi kalau sudah ramadhan, mesjid jadi lebih rame lagi.  Dulu, selama bulan ramadhan kegiatan sekolah diliburkan. Biasanya kami dikasih ijin oleh orangtua untuk tidur di mesjid. Untuk tidur bersama teman-teman.

Menjelang sahur, nanti bangun, untuk rame-rame keliling kampung. Membangunkan manusia, dan juga binatang karena berisik oleh ember atau kaleng yang kami pukulin. Kami lakukan sambil menyanyi dengan suara yang keras. Lagunya bebas, setiap hari selalu berganti syair:
“Mang Ajid, baaaangun, Mang Ajiiiiid!!!”. Itu kalau kami sedang tepat berada di depan rumah Mang Ajid.
“Mang Muston jangan!”.
“Ha ha ha”
“Pak Bambang banguunn, Pak Bambang! Katanya mau tidur!”
“Ha ha ha”

Pokoknya tidur di mesjid itu asik. Sebelum tidur bisa ngobrol-ngobrol dulu, atau pernah menggotong si Dedi yang sudah tidur duluan, untuk dipindah ke tempat lain.
Sayang sekali pas lagi diangkat, si Dedinya keburu bangun. Harusnya jangan, biar ketika bangun, dia kaget, karena berada di dalam keranda mayat.

Berharap dengan itu, si Dedi nanti akan cerita bahwa dia pernah dipindahkan tidurnya oleh  jin, dan juga menyesal karena berani tidur di mesjid tidak baca-baca dulu, tidak mengingat Allah dulu, melainkan malah mengingat si Dila anak Bu Kandar.  

Tiap habis shalat taraweh, sekitar jam delapanan, biasanya anak-anak akan masih main di luar. Main apa saja, bebas. Main petak umpet, main remi, atau apa saja. Itu bisa, karena selama bulan ramadhan, sekolah diliburkan. Dan  jaman dulu mobil belum banyak. Jalanan juga masih lengang. Masih sunyi.

Malam itu saya ikutan bermain petak umpet dan kebagian jadi “kucing”. Saya jongkok, sambil menutup muka saya dengan kedua belah tangan, membiarkan mereka lari nyari tempat sembunyi. Setelah itu, saya pulang.

Seandainya harus dicari, padahal saya tahu, mereka biasanya akan sembunyi di balik pohon, di samping rumah, di balik drum minyak tanah milik toko Koh Bunbun, dan di tempat lainnya yang dianggap baik untuk sembunyi. Iya. Tapi sayanya ngantuk. Jadi aja pulang. 

Enggak langsung tidur sih, baca buku dulu. Mereka pasti bingung, kenapa tidak juga dicari. Mau keluar, takut nanti ada “kucing”. Mau terus sembunyi, tapi lama sekali. Iya lama sekali. Entah sampai kapan akhirnya mereka sadar si “kucing” desersi. Saya gak tahu karena sayanya sudah tidur.

Besoknya saya tidak pernah diajak lagi bermain petak umpet. Biarin. Kan kalau saya gak ikutan, si Piyan juga pasti gak mau ikutan, si Wildan juga gak akan, si Entis juga gak akan. Si Nandan juga. Tidak tahu kenapa bisa begitu.

Seperti malam itu, waktu yang lain pada main petak umpet, Entis, Piyan, wildan dan Nandan pada bergabung bersama saya, duduk ngobrol di warung Bi Nae. Warung Bi Nae itu warung kecil. Seperti warung kopi, dan ada atapnya, ada pintunya juga. Tempat biasa anak-anak muda pada nongkrong.

Anak muda yang saya maksud adalah mereka yang usianya lebih tua dari kami. Tapi anak mudanya waktu itu pada gak ada, mungkin lagi pada ke sana, menghadiri di acara kendurian yang diselenggarakan di rumahnya Mang Sadeli.

Tahu rumah Mang Sadeli gak? Mudah-mudahan enggak, biar gak percuma saya jelaskan sekarang. Rumah Mang Sadeli itu letaknya di seberang jalan warung Bi Nae, tapi agak ke sebelah kanan lagi, kira-kira 10 meteran. Deket mesjid. Kalau rumah Bi Haji Acih tahu gak? Gak usah tahu lah, gak penting. 

Warung Bi Nae seperti sengaja harus ada di bumi, untuk menjadi saksi atas saya dan teman-teman berencana menyembunyikan sendal punya orang yang lagi hadir di acara kenduri itu.
Caranya gampang, tinggal pergi ke sana dengan cara diam-diam, terus diambilin deh sendalnya, untuk dibawa ke warung Bi Nae. Waktu itu Bi Naenya sedang ada di dalam warung.
“Di sini aja” kata saya.
“Hi hi iya”
“Nanti mereka nyari ke sini. Kan warung Bi Nae jadi laku” kata saya. Kamu tahu siapa Bi Nae? Bi Nae itu adalah kakak dari ibuku. Tentulah saya akan senang kalau dagangannya laku.
“Eh, jangan. Nanti yang disalahin Bi Nae”
“Terus? Di mana?”, saya nanya
“Di mana ya?”
“Eh, tulisin aja sendalnya?”, saya bilang begitu.
“Tulisin apa?”
“Tulisin nama orang”, kata saya
“Kan enggak tahu sendal siapa?”
“Biarin. Tulis asal aja”
“Hi hi iya”

Setelah saya ngambil spidol di rumah, satu persatu sendal itu ditulisin. Ditulis dengan menulis nama orang. Gak usah dipikirin deh itu sendal siapa, pokoknya tulis. Bisa jadi itu sendal Mang Opik, tapi di sendalnya ditulisin: PUNYA HAJI MUKSIN ALATAS. Bisa jadi itu sendal Mang Makmun, tapi disendalnya ditulisin: PUNYA RHOMA IRAMA. Ada juga sendal yang ditulisin PUNYA SADELI, PUNYA BU ASRI. Atau mungkin itu sendalnya Pak Latif, tapi di sendalnya ditulisin: MILIK KYAI HAJI DAROPI CAKEP.

Siapakah Daropi itu? Kenapa harus ditambahi keterangan KYAI dan CAKEP? Masa’ gak tahu? Daropi itu kakaknya si Piyan! Gak enak kalau ditulisnya MILIK DAROPI JELEK BANGET, karena ada si Piyan.

Dan, astagfirullahaladziim, ada juga sendal yang dikasih tulisan dengan hurup arab dan asma Allah. Kalau sekarang, pasti tidak akan mungkin saya lakukan. Harus bisa maklum, itu terjadi di jaman dulu, di jaman saya masih siswa SMP. 

Setelah semua ditulisin, sendal-sendal itu dibalikin lagi ke tempatnya. Lalu pergi, untuk tidak tahu apa yang kemudian terjadi. Tentu saja mereka akan mendapati sendalnya sudah ada tulisan dengan spidol permanen. Kalau saja dulu mereka minta ditulisnya pake spidol yang buat whiteboard, tentu gak akan bisa kami penuhi, karena jaman dulu belum ada spidol macam itu.

Besok harinya ada Kang Daman bercerita kepada bi Nae, katanya gara-gara itu sampai ada orang yang pulang dengan nyeker, karena di sendalnya ada tulisan huruf arab yang susah dihapus.

Di rumah, sebelum saya tidur, saya berfikir, bagaimana kalau seandainya Mas Oki tahu dan bertanya, kenapa sendalnya ditulisin dengan nama: MILIK PRIBADI IBU HAJI ITOH? Bolehkah saya menjawab:
”Saya gak tahu, Mas. Kalau tahu pasti akan ditulisin SENDAL MAS OKI, dan dikasih gambar ikan mas koki”
“Kenapa digambarin ikan mas koki?”
“Biar bagus aja, Mas”

Habis itu, saya tidur bersama buku Layar Terkembang, bersama buku Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma, yang tadi siang dibawa oleh kakak saya dari sekolah. Buku yang seru yang besoknya membuat saya jadi bikin cerpen sebanyak empat lembar dan tidak tahu harus diapain.

Bandung dan panas medio Juli 2012 masehi

Mesjid Rolling Stones (Bagian I)

Waktu itu saya masih SMP. Seperti biasa, menjelang magrib, pergi ke mesjid, berkumpul di tengah mesjid, agak deket dengan mimbar, mengerumuni microfon untuk mengumandangkan puja-puji kepada Allah. Ada si Piyan, ada si Entis, ada si Wildan dan lain-lain sebagainya.
“Allah pasti bilang: Berisik!”
“Kenapa?”
“Kan Allah Maha Mendengar, ditambah pake speaker”
“Iya sih”
Tapi dengan speaker, rasanya seperti keren. Suara kami tidak cuma didenger oleh Allah, tapi juga oleh semua mahluk yang ada di dunia! Termasuk oleh Ibu. Termasuk oleh Ayah. Termasuk oleh orang yang sedang sakit gigi.
“Ibu denger aku enggak? Tadi, di speaker mesjid?”
“Denger. Iya, harus begitu”
“He he he. Bukan!”
“Denger apa?”
“Tadi aku teriak: “Bi Ruah minta uang!”. Denger enggak?”
“Kamu ini!”
Bi Ruah itu pembantu di rumah saya. Nanti deh saya cerita tentang bi Ruah. Sekarang saya mau cerita tentang mas Oki dulu mumpung sudah ngantuk.
Jaman itu, mas Oki masih muda, tapi usianya jauh lebih tua dari kami. Sudah tamat SMA tapi tidak kuliah dan rambutnya ikal. Suka ada di mesjid kalau sedang tidak ikut bapaknya jualan beras di pasar. 

Di mesjid, dia suka mukul bedug sebelum adzan. Juga suka ngejemur karpet mesjid setiap hari kamis. Dia itu apa ya? Dia itu manusia dan anggota DKM, Dewan Kebersihan Mesjid, tapi dulu istilahnya bukan DKM, entah apa.

Pokoknya saya suka menyebut si mas Oki itu dengan sebutan Ikan mas Oki. Keren kan? Kedenger jadi seperti Ikan Mas Koki. Saya ngomongnya cuma ke teman, mas Oki jangan sampai tahu, nanti dia marah.

Suatu hari dia marah karena ada yang nempelin stiker Rolling Stones di podium mesjid. Mas Oki curiga, pelakunya pasti ada diantara anak-anak yang nanti akan ngaji setiap habis shalat magrib.

Bener aja, mas Oki datang. Minta izin ke Mang Auf, guru ngaji kami, untuk mau nanya siapa yang berani nempel stiker:
“Siapa yang nempelin stiker Rolling Syaiton ini!?”. Dia ngacungin stikernya. Kami semua pada diam. Tidak ada yang ngaku.

Anak-anak bingung dan takut kalau-kalau Mas Oki akan menuduhnya, karena memang tidak. Saya lihat mata Mas Oki memandang saya, sebentar sih, habis itu dia bicara:
“Sekarang kalian boleh gak ngaku. Tapi Allah pasti Maha Tahu, siapa yang nempel stiker ini di rumah-Nya. Nanti pasti akan disiksa di neraka!”
“Ngaku aja. Siapa?” Mang Auf ikut nanya. Tapi tetap tak ada yang ngaku.
“Ya sudah kalau begitu. Tanggungjawab sendiri di akhirat. Makasih Kang Auf”

Di rumah, sebelum tidur, saya senyum, inget Mas Oki bilang Rolling Syaiton. Dan langsung kepikiran juga dengan ancamannya bahwa nanti harus tanggungjawab di akhirat. Saya langsung bingung, apa yang harus saya jawab kalau ditanya malaikat:
”Pidi, kenapa kamu nempelin stiker Rolling Stones di podium mesjid Al-Muhazirin?”.
”Itu stiker punya kakakku”, dan langsung minta maaf. Minta dimaklum karena dulu saya masih anak kecil, masih belum mengerti bahwa stiker Rolling Stones tidak cocok ditempel di mesjid dan itu dosa.
“Terus, kenapa, waktu di bumi, kamu ngunci toilet dari luar padahal ada Mang Muston di dalamnya?”
“Kapan?”
“Waktu dia kencing di toilet mesjid?”
“Kok jadi nanya itu?”
“Kenapa? Jawab”
“Mang Muston itu gak asik!”
“Kenapa?”
“Kami lagi muji-muji Allah, microfonnya diambil”
“Terus?”
“Dia maunya sendirian. Kami gak boleh! Kataya berisik”
“Terus?”
“Kenapa dulu harus ada Mang Muston, bersama kami?”
“Kenapa memang?”
“Harusnya dia di Mars. Anak-anak Alien juga pasti gak akan suka?”
“Tapi kalau kalian yang megang microfon, kalian gak cuma muji Allah, kalian juga suka ngejek orang”
“Ngejek apa?”
”Halo, halo. Pengumuman, si Umang gak pernah mandi!”
“Bukan aku ih! Itu si Nandan”
“Kamu juga. Tapi nama yang diejeknya beda!”
“Si Bakri?”
“Iya, ke si Bakri, ke Mang Oman juga, kamu pernah. Ke si Entis. Ke si Dadi. Kamu itu, banyak”
Habis itu saya tidur, sebelum dia bertanya lagi di dalam kepala saya.

Bandung di awal Juli 2012 masehi