Rabu, 16 Maret 2016

MILEA, SUARA DILAN



"MILEA"
SUARA DILAN
- Seperti yang diceritakan oleh Dilan kepadaku -


(Belum diedit)


BAB I
Buku itu

1
Aku tidak jadi nelepon si Komar, tapi sudah membaca dua buku yang ditulis oleh Pidi Baiq, judulnya “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” dan “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991”.

Kedua buku itu, bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia (Milea Adnan Hussain) pada waktu masih duduk di bangku SMA, tahun sembilan puluhan di Bandung.

Sebetulnya aku tidak ingin berpikir apapun soal itu. Tapi setelah kedua buku itu aku baca, terus terang, aku mendapatkan kehidupanku yang lama sedang kembali. Serasa seperti hidup lagi.


Aku juga gak mau menilai lebih jauh mengenai isi bukunya. Tapi waktu kubaca, aku banyak menghabiskan waktu untuk menelaah lebih jauh. Apa sih yang Lia pikirin? Apa sih yang Lia rasakan saat itu? Kukira semua itu bukanlah omong kosong. Itu, buatku, sangat menarik, termasuk aku jadi tahu bagaimana dulu ia memandang diriku.

Meski sebagian besar yang dikatakan oleh Lia pernah Lia ungkapkan sendiri secara langsung ke aku, tapi, di buku itu, sepertinya Lia bercerita dengan tanpa penghalang. Rasanya, gimana ya? Sangat ekspresif dan bebas merdeka.

Di dalam buku itu, aku menikmati cukup banyak momen-momen berharga yang diceritakan oleh Lia. Sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Dia memberitahu bagaimana dia merasakan kembali hal-hal yang sudah lama berlalu. Sampai-sampai aku mengira dia sedang berusaha menggali perasaanku untuk merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan.

Aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghargainya. Aku memliki rasa hormat untuk mengatakan kepadanya bahwa itu adalah sepenuhnya hak Lia untuk bebas bicara dan kemudian tetap saja adalah sejarah.

2
Samasekali gak pernah kuduga kalau kisahku dengan Lia akan ditulis jadi buku. Dan aku malu, karena di buku itu ngerasa jadi tokoh utama yang cukup istimewa, terutama kalau Lia sudah mulai muji-muji.

Juga risih, karena di situ aku betul-betul seperti orang yang amat dimaui. Seolah-olah, aku ini, yang barusan makan nasi bakar, adalah orang yang paling menakjubkan di dunia dan juga romantis dengan apa yang pernah aku lakukan kepadanya. Sebagian besar yang bisa aku lakukan untuk itu adalah tersenyum

Tapi, kukira, kalau Lia dulu bersikap macam itu ke aku, harusnya bisa kuanggap normal, karena kalau ada orang yang cinta ke kamu, dia hanya akan melihat sisi baikmu. Dan kalau kamu berpikir tentang hal ini, kebanyakan kisah cinta memang selalu dimulai dari hal yang macam itu.

3
Kupikir, harusnya aku merasa beruntung dengan adanya buku itu. Nyatanya memang iya. Kedua, buku itu sudah membantuku mengingat masa lalu, maksudku aku cuma tinggal baca aja, gak usah capek-capek nulis kalau ingin mengenang apa yang dulu pernah kami alami.

Apalagi sebagian besar cerita yang ada di dalam buku, memang sangat sesuai dengan kejadian sebenarnya, malahan aku merasa itu cukup detil. Entah bagaimana dia bisa mengingat semuanya, padahal kejadiannya sudah lama sekali.

4
Biar bagaimanapun aku mau berterimakasih ke Pidi Baiq, pertama untuk kedua bukunya yang kudapatkan secara gratis. Tanpa harus melihat situasi ekonomi saat ini, kita perlu memahami alasan mengapa kebanyakan dari kita lebih suka dikasih daripada membeli, atau minjem.

Aku juga mau bilang terimakasih ke Lia, karena kata Pidi Baiq, data dan informasi untuk menulis buku itu 70% adalah bersumber dari Lia sendiri. Pidi Baiq hanya mengolahnya untuk kemudian ditulis menjadi sebuah buku novel, dan dari itu maka Pidi Baiq mendapat uang royalti. (Pidi bilang, Lia juga dapat bagian, yaitu sekian persen dari uang royalti yang didapatnya. Syukurlah)

Katanya semua alur cerita dikendalikan oleh apa yang diingat Lia dan kukira itu adalah haknya. Tapi aku bisa jujur bahwa cerita di buku itu telah menjadi hal yang membuat aku tersenyum dan juga termenung. Kadang-kadang aku jadi tahu tentang sesuatu yang pada waktu itu kuanggap benar (karena belum benar-benar tahu) malah justeru sekarang rasanya memalukan.

5
Tapi tanggal 15 Agustus 2015, Sabtu malam, Pidi Baiq datang ke rumahku. Kami ngobrol cukup lama. Dia bilang katanya mau nulis Suara Dilan, serta merta aku ketawa mendengarnya. Dia bilang ingin nulis dari sudut pandangku. Katanya biar ada keadilan cerita.

Untuk apa lagi? Kan sudah Lia ceritakan semuanya?

Aku lebih suka cerita Spiderman menurut versiku. Kamu harus tahu bagaimana Spiderman dikalahkan oleh hanya cucu Kelongwewe. Atau cerita lain, tentang si Piyan yang pernah nyihir aku jadi kucing, cuma agar untuk bisa dia kejar-kejar. Oleh itu aku sampai depresi dan kehilangan nafsu makan. Si Piyan itu sedikit lebih baik dari kuman, makanya banyak kuman yang mau ke dia.

Cerita tentang itu kurasa lebih oke daripada harus bercerita tentang Lia. Maaf, maksudku pada situasi yang serius, sebetulnya aku merasa gak enak kalau harus nyeritain lagi apa-apa yang dulu pernah aku alami dengan Lia,  mengingat Lianya juga sekarang sudah menjadi istri Mas Herdi yang sangat aku hormati. Maksudku aku tidak ingin kelak ada salah tanggap dengan apa yang akan aku ceritakan tentang Lia. Tapi itulah yang aku pikirkan.

Oke, ada yang bilang, intinya bukan lagi soal aku dan Lia. Diceritain itu biar bisa jadi pelajaran buat yang baca. Tapi Pelajaran macam apa?

Ada orang bilang novel Dilan itu kayak buku taktik menguasai wanita. Menurutku, di buku itu ada pelajaran ekonomi, yaitu pas aku ngasih kado TTS yang sudah diisi, itu ngajarin irit tapi capek, karena harus begadang semalaman mengisi jawabannya. Ada pelajaran olah raga juga. Menurutku Berantem itu olahraga. Mengeluarkan keringat! Sedangkan di buku kedua, Lia banyak menangis! Mari, anggaplah itu pelajaran Biologi

6
Aku tidak mau berdebat soal ini. Meski sebetulnya aku tidak benar-benar memiliki waktu yang dijadwalkan untuk duduk dan menulis macam dia. Dan, aku juga bukan orang yang terbaik untuk menceritakan kisah-kisah macam ini, tapi sepertinya aku siap. Mudah-mudahan aku bisa menikmatinya meskipun aku tidak pernah terpikir berencana untuk menulis hal macam ini.

Baiklah, kalau begitu, aku mau cerita. Maaf, kalau aku tidak sepandai Lia di dalam mengatakan perasaan. Aku hanya akan menulis apa-apa yang diperlukan.


BAB II
AKU
1
Sebelum menyampaikan cerita, aku akan mulai dengan pengenalan singkat tentang diriku dan beberapa informasi yang menjadi latar belakang hidupku, baik sebagai kenangan atau sebagai sesuatu yang mempengaruhi kepribadianku di dalam berbagai cara, langsung maupun tidak langsung. 

Namaku Dilan, laki-laki, dan bernafas dengan paru-paru, sama seperti paus. Aku punya sepeda trek macam BMX ketika aku masih usia 13 tahun. Aku datang dari keluarga yang sangat menyenangkan dan bahagia. Aku merasa nikmat kalau sedang di rumah berada dengan mereka, apalagi kalau ada roti, mentega, coklat dan buku. Jika ada marah, itu tidak dimaksudkan untuk berlama-lama. 

2
Menurut pendapatku, aku tidak seperti setiap anak lainnya, yang bercita-cita ingin menjadi seorang astronot, pilot atau dokter. Saat SMA pun aku merasa jadi orang yang berfikir bahwa ketidakpastian tidak akan memakanku hidup-hidup. 
“Kalau aku, aku sih ingin jadi musuh Superman”, kataku pada suatu hari ketika aku mampir ke kantin sekolah karena diajak oleh Lia. Aku sudah lupa bagaimana awal mulanya sampai aku bicara soal itu, yang pasti aku sudah pacaran dengan Lia waktu itu.
“Karena?”, Lia nanya. Dia selalu bisa meladeniku bicara.
“Karena kalau gak ada musuhnya, Superman nganggur”
“Kan musuh Superman jahat?”, waktu Lia nanya ini, aku suka melihat dia tersenyum.
“Kalau gak ada penjahatnya, film Superman gak akan rame”
“Tapi, di film, penjahat pasti mati”, kata Rani yang ada bersama kami saat itu.
“Semuanya akan tua, akan mati. Kamu juga”
“Mmm..tapi kalau kamu jadi penjahat, aku gak akan mau ke kamu. Takut malahan”, kata Lia sambil mengunyah makanannya
“Waktu aku jadi penjahat Superman, tobatnya bukan oleh Superman, tapi karena ketemu kamu. Jadi rajin sholat. Suka bayar zakat”
“Wew!”, kata Rani
“Pas Superman nyari penjahat, dia terharu, karena melihat aku sedang nyantunin anak yatim. Filmnya jadi film keagamaan”  
“Ha ha ha. Harus karena Allah, jangan karena Lia”, kata Rani
“Ha ha ha”, Lia ketawa sambil melempar tissue ke arahku. 

Sedikit pemberitahuan bahwa, sampai aku pacaran dengan Lia, aku tetap jarang nongkrong di kantin sekolah, kecuali sesekali. Entah gimana, aku sedang agak males menjelaskan alasannya. 

Meskipun ada banyak kegembiraan di kantin sekolah, tapi aku lebih suka nongkrong di warung bi Eem, tempat yang bagiku mengandung banyak ketenangan dan kenyamanan. Di sanalah aku berdiri, dan juga duduk sampai ketiduran. Lama-lama Lia juga jadi suka nongkrong di warung Bi Eem. 
“Terus?”, tanya Lia, suatu hari ketika ngobrol di warung Bi Eem
“Aku dimarah”
“Enggak dikerjain?”
“Dikerjain”
“Kenapa dimarah?”
“PR kan Pekerjaan Rumah, ngapain dibawa ke sekolah?”
“Bener!”, kata si Akew ketawa

Tentu saja, tiap orang akan melakukan yang terbaik untuk dirinya. Barangkali aku juga begitu, tapi aku bukan tipe siswa yang akan kamu lihat berkerumun di depan papan pengumuman, termasuk mencari info tentang perguruan tinggi atau bea siswa. Soal semua itu, gak masalah bagiku, aku akan tahu dari si Piyan atau yang lainnya sambil main domino.    

Aku juga bukan tipe orang yang suka jalan-jalan dan nongkrong di mall dengan pakaian yang tepat untuk itu. Aku bisa menghargai mereka yang begitu, tapi aku lebih memilih pergi naik motor ke daerah Gatsu di sisa hari. 

Entah bagaimana, aku selalu punya perasaan senang dengan cuma nongkrong di warung Kang Ewok untuk memberiku kesempatan menjalankan diriku sebagai seorang remaja yang menikmati kopi pahit. Setelah aku pacaran dengan Lia, aku suka membawanya ke warung Kang Ewok, atau ke tempat lain seperti itu.

Ada banyak waktu untuk bisa sama dengan orang lain, yaitu pacaran dengan pergi ke mal atau ke tempat-tempat wisata. Ini bukan masalah yang berkaitan dengan uang ketika aku memilih tidak membawa Lia ke sana. Daripada harus menjelaskan alasannya, lebih baik aku berterimakasih ke Lia yang bisa menyesuaikan dirinya dengan cara dan gaya hidupku. Tapi inti dari apa yang aku inginkan, terlepas dari masalah tempat, adalah untuk ngasih tahu ke Lia bahwa aku mencintainya.  

"Kita harus berterimakasih ke pahlawan", kataku ke Lia waktu aku mengajaknya ke Taman Makam Pahlawan Cikutra sore itu, sepulang dari sekolah. Lia hanya tersenyum sambil menaburkan bunga yang kami beli sebelum tiba di sana. (Saat itu benar-benar tidak pernah kusadari bahwa kelak waktu ayahku wafat, dia kan dikubur di tempat yang kami datangi itu)
"Tanpa mereka, Indonesia gak akan meredeka", kataku lagi
"Iya", jawab Lia.
"Kalau sekarang masih dijajah, aku gak akan ketemu kamu, kan akunya gerilya ke hutan"
"Kan aku bisa nyusul"
"Naik apa?"
"Naik kamu"
"Digendong?"
"Iya ha ha ha"

Kemana kami pergi, meskipun bukan ke tempat umum yang biasa didatangi oleh orang berpacaran, kurasa aku merasa senang dengan hal-hal yang sama persis Lia katakan di buku itu bahwa kami selalu memiliki percakapan yang paling menakjubkan, seolah-olah hal itu sudah menjadi bagian rutin dari kehidupanku dengan Lia

3
Waktu SD, daripada mikirin soal cita-cita, aku lebih tertarik membuat rumah di atas pohon. Dengan rumah pohon itu, aku berharap bisa memanggil anjingku dari atas, kalau dia kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya bisa naik, maka itu adalah salah satu tujuannya, tapi rumah pohon itu tidak pernah terwujud sampai sekarang.

Bukan cuma kamu, aku juga suka membaca, tapi sebetulnya aku adalah orang yang banyak bermain. Kemudian secara bertahap aku ikutan geng motor, yaitu waktu aku duduk di kelas 1 SMA. 

Aku melakukan apa yang harus aku lakukan hingga kemudian aku diangkat untuk menjabat sebagai Panglima Tempur. Sama sekali tidak pernah kusadari bahwa kiranya ada orang-orang yang punya pikiran buruk mengenai hal itu.

Hendaknya orang mengerti, ini adalah hidupku, dan aku bisa baik-baik saja dengan itu. Kepercayaan diriku justeru tumbuh, aku bisa mengidentifikasi diriku dengan banyak bergaul dan dengan tantangan yang aku hadapi tanpa ada orang yang mendikteku. Aku tahu dalam hatiku bahwa jika aku tinggal di mana ada orang yang mendikteku, hidupku akan selalu menjadi pemberontakan.

Menurutku, itu adalah gengmotor biasa, tidak benar-benar seperti yang dikatakan di dalam buku itu, di mana seolah-olah sepenuh hidupku aku persembahkan untuk meraih kejayaan geng motorku. Tidak sama sekali. Bahkan aku tidak menempatkan perkelahian sebagai hal yang penting. 

Pada dasarnya aku lebih menikmati periode waktu untuk hidup dalam damai dengan siapa pun. Tapi jika benar-benar harus berantem, kami adalah orang-orang yang siap untuk menang atau pun kalah. Kami adalah orang yang akan saling mendukung ketika menghadapi apapun.

Di jalanan, aku merasa seperti tidak sedang sekolah, tapi aku mendapat banyak pelajaran. Aku belajar untuk tidak menyerah atau berputus asa, dan selalu menjadi diriku sendiri.

Pengalaman kerasa sangat nyata di dalam memberi aku banyak pelajaran. Kukira aku tidak akan menjadi bagaimana diriku hari ini tanpa pengalaman-pengalaman yang aku dapatkan di masa lalu. Mudah-mudahan kamu bisa mengurus hidupmu sendiri, daripada harus repot mengurus kehidupan orang lain. Tenang, kami tidak akan mengganggumu, kecuali kamu duluan yang melakukan hal itu. Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu!

4
Waktu aku sekolah, aku merasa cukup senang untuk berada di sana, karena aku akan bertemu dengan teman-temanku. 

Menurut aku, belajar di kelas itu membosankan. Ini terjadi sebelum aku cukup dewasa untuk benar-benar bisa dimaklumi apabila aku masih bertindak dengan fokus pada diriku sendiri.

Aku tahu bagaimana rasanya duduk di kelas dan merasa diriku sangat konyol di antara deretan orang-orang yang ngantuk, menguap tak berdaya, tanpa ada Pahlawan yang akan datang membantu.

Benar-benar tak ada harapan, hanya berfikir kapan lonceng tanda bubar sekolah akan bunyi. 
Ada hal-hal yang kita harap akan berbeda, tapi nyatanya dari hari ke hari belajar di kelas itu sama saja. Kalau aku salah tentang semua yang aku pikirkan, aku akan dengan senang hati meminta maaf.

Sebenarnya mengenai soal ini, aku pernah bilang ke Ibuku yang kebetulan adalah seorang guru. Dia menjawab:
“Sorry ya, di sekolah Bunda tidak begitu”
“Gimana?”
“Di sekolah Bunda gak ada orang yang ngritik macam kau. Jadi aman-aman aja”
“Ha ha ha”

5.
Meskipun aku tidak ada masalah di dalam menghadapi pelajaran di sekolah, tapi seperti yang sudah aku katakan, aku lebih suka nongkrong di warung Bi Eem tiap saat istirahat atau setelah bubar sekolah.

Warung Bi Eem adalah tempat terbuka untuk aku menemukan diriku, untuk bebas ngomong apapun, meninggalkan sistem pendidikan yang membosankan, tertawa lepas tanpa jaminan asuransi, tetapi gak apa-apa.

Aku mendapat kepuasan bersama kawan-kawan meskipun tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi kami benar-benar seperti orang yang ingin menikmati masa muda.

Di sana aku bisa membuktikan  pada dunia  bahwa aku bisa menghibur diri sendiri hanya dengan bala-bala, main domino dan catur. Waktu berasa hebat oleh semua hal sederhana macam itu.

Dan Bi Eem adalah seorang wanita yang nyata. Dia percaya kepada kami akan mengaku berapa makanan yang sudah kami makan. Mungkin karena Bi Eem percaya, kalau bukan dia yang nyatat, ada Malaikat yang akan siap mencatat untuk kelak ditagih di akhirat.

Pokoknya secara keseluruhan, Bi Eem melakukan tugasnya sebagai pemilik warung  yang menyenangkan di Republik Indonesia!

Bersambung :)


Kamis, 07 Januari 2016

BARACAS



1
Ajo adalah anak Bu Asih. Adiknya bernama Rini. Mereka tinggal di Bandung, di daerah jalan Cilaki.

Ajo itu laki-laki, masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung. Dia ngambil jurusan Ilmu Komunikasi. Sedangkan Rini adalah perempuan, dia masih SMA kelas dua.

Suami Bi Asih sudah lama tiada, meninggal dunia karena sakit. Ibu Asih mengandalkan usahanya di bidang garmen untuk biaya hidup keluarganya.

2
Hari itu, bada maghrib, hujan turun sangat lebat, sesekali terdengar suara petir. Ada suara televisi yang bunyi bersamaan dengan suara hujan di atas genting.

Ibu Asih duduk di bangku dengan masih mengenakan mukenanya. Dia sedang serius, bicara ke Ajo untuk melarang Ajo pergi.

Ajo dilarang pergi bukan disebabkan oleh karena di luar sedang hujan, melainkan karena Bu Asih tidak setuju kalau Ajo pergi karena ingin bergabung jadi anggota BARACAS, yang bermarkas di daerah Dago Utara itu.

"Denger Mama, Jo…..”, kata Bu Asih dengan nada suaranya yang nyaris putus asa.
Ajo berdiri, Bi Asih ikut berdiri, lalu memegang tangan Ajo untuk mencegah Ajo jangan pergi.
“Ajo pengen nyepi dulu…”, kata Ajo. Suaranya mengandung rasa kesal, entah pada siapa.
“Jangan, Jooo!!!”, kata bu Asih dengan agak teriak. Dia tarik tangan Ajo. Ibu Asih benar-benar tidak ingin Ajo pergi.

Bersamaan dengan itu, Rini keluar dari kamarnya. Sebetulnya Rini sudah tahu dari awal mengenai persoalan yang sedang dihadapi oleh kakaknya, sehingga Rini juga tahu masalah apa yang sedang dipersoalkan oleh Ibu dan kakaknya saat itu.

Tapi Rini bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain masuk kamar dan telungkup di atas kasurnya selepas shalat maghrib. Rini juga tak ingin kakaknya pergi bergabung dengan BARACAS.

Saat dia keluar lagi dari kamarnya, dia hanya bisa nyandar di tembok yang dekat pintu kamarnya. Di pipinya adalah air mata.

Di luar, terdengar suara petir.

“Biar Mama yang ngomong ke Winny..!”, kata bu Asih. “Obrolin dulu sama Winni. Biar Winny jelasin masalahnya”
“Mama, jangan sebut nama dia!”, Ajo teriak.  “Males dengernya! Cewek tai lah!”
“Tapi jangan ke Baracas, Jo!”, kata Bu Asih setelah diam sebelumnya. Nampaknya bu Asih sangat bimbang.
“Aa, jangan, A”, Rini teriak, berharap bisa mencegah Ajo pergi. Dia membawa handphone dan kemudian mulai menghubungi seseorang.
Ajo melepas tangan Ibunya yang sedari tadi memegang tangan Ajo.
“Gak apa-apa, Ma”
“Jangan ke BARACAS, Jo”, kata Bu Asih, suaranya mulai kedenger seperti orang yang sedang nahan untuk jangan sampai nangis.
“Tenang, Ma. Gak apa-apa. Di sana juga banyak orang”, kata Ajo. Ia pandang ibunya. “Ajo akan baik-baik aja”

3
Ketika Ajo pergi, bu Asih langsung duduk dengan keadaan dirinya yang lunglai. Dia benar-benar merasa tak berdaya, hanya bisa memandang Ajo mulai membuka pintu rumah.

Seseorang yang dihubungi via handphone oleh Rini itu ternyata adalah Winny, pacar Ajo.
“Teteh,...Aa.....”, Ucap Rini ke Winny dengan suaranya yang lirih sambil ia dudukkan dirinya di ubin.
Entah apa yang dikatakan oleh Winny ke Rini, cuma Rini yang tahu.

Ajo keluar dari rumah, tak lama kemudian terdengar suara motor. Itu adalah motor Ajo yang siap membawa Ajo pergi kemana Ajo ingin.

“Joooo!!!!”, bu Asih teriak sambil bangkit dari duduknya berusaha mengejar Ajo, tapi yang nyata kemudian bu Asih malah terkulai di ubin. Dia pingsan.
“Teteeeeeehhh!!!” , Rini teriak ke Winny, lalu dia berdiri, bergegas hendak membantu ibunya. “Mamahhh..!!!!”

Oh, Ajo sudah pergi.

4
Dengan susah payah, Rini memindahkan ibunya ke kursi, bersamaan dengan aliran listrik seluruh Bandung mendadak padam!

Di dalam rumah bu Asih jadi gelap dan hujan masih turun.
“Mamaaaaahh…”, Rini menjerit. Dia menangis.

5
Rini merasa takut oleh banyak hal yang tidak jelas tetapi itu kuat, yang ia tahu hanya dirinya yang sedang merasa tak berdaya.

Hanya ini yang dia pikirkan: Mama pingsan. Listrik padam dan Ajo bergabung dengan BARACAS!!

6
Kasihan Rini! Kasihan Bu Asih!


(BERSAMBUNG)

Rabu, 05 Agustus 2015

DILAN, DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 (Edisi Revisi)




1. AKU
 
1
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan jeruk.

Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah prajurit TNI Angkatan Darat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Ibuku, namanya Marissa Kusumarini. Oleh teman-temannya biasa dipanggil Icha. Dia mojang Bandung yang lahir di Buah Batu. Sebelum dinikah dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya.

Ibuku, meski waktu itu masih remaja, tapi sudah bermain musik sama orang-orang yang sudah tua dan keren, seperti Uwak Gito Rollies, Kang Deddy Stanza. Juga dengan Kang Harry Rusli, yang waktu itu bikin kelompok musik Gang of Harry Roesli. Dan kata ibu, mereka semua adalah gurunya.

Menurutku, ibu punya suara yang bagus. Sepanjang waktu selalu siap untuk nyanyi atau bersenandung di mana saja, terutama di kamar mandi dan di dapur ketika masak. Dia juga suka bermain gitar sambil nyanyi di ruang tamu dan menyebut nama Bee Gees ketika kutanya lagu siapa itu?
“Ini judulnya 'I Started A Joke',” jawab ibu.
“Bagus! Aku suka.”

Oleh dirinya, musik benar-benar menjadi bagian dari keluarga. Dan ayah mendukungnya dengan kekuatan militer.

Aku merasa bersemangat tentang hal ini. Dia menyambut anak-anaknya kepada pengalaman seninya. Membantuku untuk melihat banyak hal dalam lebih dari satu sudut pandang. Menjadi terbuka untuk semua ekspresi. Ini menjadi hal penting untuk kau bisa memahami kepribadianku.

2
Sejak kecil, aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan Slipi. Tahun 1990, ayahku dipindah tugas ke Bandung, sehingga ibuku, aku, adik bungsuku, pembantuku, dan semua barang-barang di rumah pun jadi pada ikut pindah.

Rumahku, yang di Buah Batu, tepatnya di Jalan Banteng, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi, kakekku sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989.

Kabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum kami pindah, nenekku wafat.
Rumah nenek yang berukuran type 70 itu, kemudian jadi milik ibuku sepenuhnya, karena ibuku anak tunggal. Ada halaman di depannya, meskipun ukurannya tidak luas, tapi cukup. Tempat tumbuh berbagai bunga dan satu pohon jambu, yaitu jambu batu, yang ibuku suka kesel kalau sudah mulai banyak ulatnya.

3
Aku juga pindah sekolah ke SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu, Bandung.

Bagiku, itu adalah sekolah yang paling romantis sedunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia, lah. Bangunannya sudah tua, tapi masih bagus karena keurus.

Di halaman depan sekolah, ada tumbuh pohon besar. Cabangnya banyak dan bagus kalau dilihat senja hari, dan siang kalau mendung, juga pagi kalau mau. Sebagian orang percaya pohon itu berhantu, tapi aku gak takut, kecuali kalau harus tidur sendirian di situ malam hari.

Tahun 2001, waktu aku datang untuk reuni, aku sudah tidak melihat ada pohon itu lagi di sekolah. Entah kapan ditebangnya.

Dulu, jalan yang ada di depan sekolahku, cuma jalan biasa. Lebarnya kira-kira tiga meter dan belum banyak kendaraan yang lewat, termasuk angkot. Sehingga untuk bisa nyampe di sekolah, aku harus mau berjalan sepanjang kira-kira 300 meter, yaitu setelah aku turun dari angkot di daerah
pertigaan jalan itu.

Sekarang jalan itu sudah berubah, sudah jadi jalan raya yang dipadati oleh banyak kendaraan. Dulu, motor juga belum banyak. Hanya beberapa orang saja yang pake. Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo.

Rasanya, waktu itu, Bandungnya masih sepi, masih belum banyak orang. Tiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk memakai sweater atau jaket kalau punya. Dan kalau cuaca sangat dingin, akan keluar uap dari mulutmu, yaitu ketika kau bicara.

Bagiku, selain bagus dan romantis, sekolah itu adalah tempat khusus yang menyimpan kenangan masa laluku ketika masih remaja, terutama menyangkut seseorang yang pernah bersamaku, yang
pernah selalu mengisi hari-hariku.

Itu adalah kenangan yang paling susah kulupakan, bahkan ketika aku ingin. Dan malam ini akan aku ceritakan kisahnya, bersama rindu yang tak bisa kuelakkan

4
Kisah itu akan aku tulis semuanya sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu, meskipun tidak akan mungkin detail, tetapi itulah intinya. Beberapa nama tempat dan nama orang ada yang sengaja kusamarkan, untuk tidak merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan orang yang bersangkutan.

Semua, akan kutulis dengan menggunakan cara si dia di dalam bergaya bahasa. Entah gaya apa, pokoknya kalau dia bicara, bahasa Indonesianya cenderung agak Melayu dan nyaris seperti baku. Kedengernya sedikit tidak lazim, seperti bahasa Melayu Lama yang biasa digunakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Tapi, itu bukan hal yang penting untuk kita persoalkan, ini cuma caraku saja untuk sekadar bisa mengenang khas dari dirinya

5
Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang.

Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan Jakarta Pusat yang gerah.

Mari kita mulai, dan inilah ceritanya:


2. SANG PERAMAL


1
Pagi itu, di Bandung, pada bulan September tahun 1990, setelah turun dari angkot, aku berjalan bersama yang lain untuk menuju ke sekolah.

Sebagian ada yang jalan berkelompok, sedangkan aku berjalan sendirian, menembus kabut tipis bersama udaranya yang dingin. Cahaya matahari yang menerobos dedaunan, membuat bercakan cahaya di jalan aspal yang sedang aku lalui.

Saat itulah aku mendengar suara sepeda motor yang datang dari arah belakang. Suara knalpotnya sedikit agak berisik, lalu kutengok sebentar, pengendaranya memakai seragam SMA, kemudian aku mencoba untuk tidak fokus pada itu.

Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman, bahkan aku gak tahu apa yang harus kulakukan selain terus berjalan. Aku gak tahu apa yang dia inginkan.

Aku hanya berpikir dia adalah salah satu dari anak nakal di dunia, yang suka menggoda perempuan di jalanan. Pikiranku mengembara. Meskipun saat itu banyak orang yang pada mau pergi sekolah, aku merasa harus tetap waspada, khawatir barangkali dia mau berbuat buruk kepadaku.

Aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa dia akan menyapaku kemudian:
“Selamat pagi,” katanya.

Sebenarnya aku bingung bagaimana harus memahami situasi macam itu. Aku mencoba menyembunyikan diriku yang gugup.

Kulihat wajahnya sebentar, dia tersenyum. Aku menjawab sambil mendorong helaian rambutku ke belakang telinga: “Pagi,”
“Kamu Milea, ya?”, tanya dia kemudian, mencoba membuat percakapan
“Eh?” Aku tersentak. Kutoleh lagi dirinya, memastikan barangkali aku kenal, nyatanya tidak.

Dia menatapku dan tersenyum.
“Iya.”, kataku. Alasan utamaku menjawab adalah sekadar untuk bisa bersikap ramah
“Boleh gak aku ramal?” dia nanya lagi
“Ramal?”

Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Apa maksudnya? Kok, meramal? Kok, bukan kenalan? Aku tidak mengerti.

“Iya,” katanya. “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin.”

Dia pasti ngajak bercanda, tapi aku gak mau. Maksudku, aku tidak mau bercanda dengan orang yang belum kukenal. Asli, aku gak tahu siapa dia. Betul-betul gak tahu. Mungkin satu sekolah denganku, tapi aku belum mengenal semua siswa yang ada di sekolahku, termasuk dirinya. Harap maklum, aku hanya murid baru. Baru dua minggu.

“Mau ikut?” dia nanya.

Enak aja, belum kenal sudah ngajak semotor. Bagaimana bisa begitu mudah baginya? Aku tidak bisa mengerti!
“Makasih,” jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Oke,” katanya. “Suatu hari, kamu akan naik motorku. Percayalah.”

Kupilih diam, karena gak tahu harus gimana.
“Duluan, ya!” katanya kemudian.
Kupakai bahasa wajah, untuk mengungkap kata “iya”.
Habis itu, dia pergi, memacu motornya.

Kupandang dia yang berlalu. Baju seragamnya berkelebatan, dan rambutnya berantakan diembus oleh angin.

Huh!

2
Di kelas, sebelum pelajaran dimulai, aku cerita ke Rani dan Nandan (teman sekelasku yang sudah agak akrab denganku) tentang ada seorang anak SMA bermotor yang tadi bilang mau meramalku.
“Siapa?” tanya Rani.
“Gak kenal,” kujawab bersamaan dengan guru masuk untuk memulai pelajaran.

Waktu jam istirahat, tadinya aku mau ke kantin, tapi sama sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. Boro-boro, kepikiran juga enggak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk kuminum. Tapi Nandan, Ketua Murid kelas 2 Biologi 3, minta waktu ingin ngobrol denganku, katanya ada yang mau dibahas. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar diasaja yang beli. Makasih kataku, kemudian dia pergi ke kantin.

Ketika balik lagi, dia membawa beberapa teh kotak. Saat itu, di kelas, selain ada Nandan, juga ada Rani dan Agus. Hal yang dibahas adalah tentang keinginan mereka untuk menunjuk aku menjadi sekretaris, dan sekaligus menjadi bendahara kelas 2 Biologi 3. Aku, sih, oke-oke saja. Bagiku, gampang, lah, itu.

Pada waktu kami sedang ngobrol, muncul seseorang yang bilang permisi, lalu masuk ke kelas. Nandan, Rani, dan Agus, tahu siapa dia. Orang itu namanya Piyan, siswa dari kelas 2 Fisika 1,
datang memberi aku surat, katanya itu surat titipan dari kawannya, tapi dia tidak menyebut nama kawannya itu.

Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca surat itu:

"Milea, ramalanku, kita akan ketemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi, aku mau meramal lagi: Besok, kita akan ketemu.”

Habis itu aku langsung bisa tahu siapa gerangan pengirim surat. Ini pasti dia, orang yang tadi pagi naik motor dan bilang mau meramal.

Nandan nanya ingin tahu surat apa itu, tapi kubilang itu surat biasa saja.

Aku masukkan surat itu ke dalam tas sekolah, untuk kembali menyimak Nandan yang banyak bicara tentang ini itu dan lumayan membosankan.

Serius, dari semenjak kudapat surat itu, aku sudah tidak bisa lagi konsentrasi dengan kata-kata mereka. Entah Nandan ngomong apa. Pikiranku, entah gimana, sebagian besar, mendadak melayang kepada Sang Peramal

3
Hari hujan ketika bubar sekolah. Aku dijemput pamanku. Dia itu adik dari ayahku, mahasiswa Jurusan Arsitektur tingkat akhir di perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung, namanya Fariz. Dia sudah lama di Bandung dan kos di jalan Ciumbuleuit.

Ayah nyuruh paman menjemputku, supaya bisa lekas datang ke rumah dinasnya, karena ada sedikit keperluan.

Di jalan pulang, entah gimana, ramalan orang itu yang bilang bahwa besok akan bertemu, terus saja kepikiran.

4
Apa? Besok bertemu? Bukankah besok itu hari Minggu?

Segera aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. Bagaimana mungkin bisa bertemu, kalau tidak di sekolah?

Dari awal, aku sudah tahu dia itu memang tukang ramal amatir! Aslinya sih hanya anak nakal, yang suka iseng menggoda perempuan. Huh!

Atau kalau itu baginya adalah modus untuk mendekati diriku, dia harus segera tahu bahwa aku ini orangnya selektif.

5
Di hari Minggu, waktu aku sedang nyuci sepatu, aku mendengar bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku teriak manggil Si Bibi untuk meladeni tamu itu.

Kebetulan, hari itu, di rumah, hanya ada aku dan Si Bibi. Ayah, ibu, dan adik bungsuku sedang pergi ke Cijerah untuk acara pernikahan saudara.

Si Bibi bergegas nemui tamu itu, lalu balik kembali menemuiku:
“Tamu,” katanya. “Mau ke Lia.” Lia itu nama panggilanku di rumah.

Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana, nemui tamu itu.

Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah Sang Peramal.

Aku senyum kepadanya yang tersenyum kepadaku. Entah gimana, saat itu aku merasa seperti sedang menjalin kontak batin antara aku dengannya, membahas apa yang diramalnya benar-benar terjadi, tetapi tidak saling dikatakan.
“Hei,” kusapa dia.
“Ada undangan,” dia langsung bilang begitu, seraya menyodorkan sebuah amplop dan berdiri, di depan pintu.
“Undangan apa?” kupandangi amplop itu dan sedikit agak bingung.
“Bacalah,” katanya. “Tapi nanti.”
“Oke,” kataku memandangnya.
“Bacalah bahasa Arabnya apa, Yan?”
Dia nanya ke Piyan yang saat itu datang bersamanya.
“Apa, ya?” Piyan balik nanya.
“Oh! Iqra,” katanya menjawab pertanyaan sendiri.
“Iqra, Milea!” kata dia lagi kepadaku.
Aku ketawa tapi sedikit. Entah mengapa, hanya bisa sesekali saja kupandang matanya.
“Aku langsung, ya?” katanya permisi untuk pergi.
“Kok, tahu rumahku?” kutanya.
“Aku juga akan tahu kapan ulang tahunmu.”
“He he he.”
“Aku juga tahu siapa Tuhanmu.”
“Allah,” kujawab sendiri.
“Iya, kan?”
Aku jawab hanya dengan senyum.
“Aku pergi dulu, ya?” kata dia.
“Iya,” kujawab.
“Assalamu ‘alaikum jangan?!” dia nanya.
“Assalamu ‘alaikum,” jawabku.
“Alaikum salam,” katanya.
Aku gak tahu harus bilang apa, selain cuma bisa senyum.

6
Aduh, Tuhan, siapa, sih, dia itu! Tanyaku dalam hati.

Maksudku, selain seorang peramal, aku ingin tahu siapa dia itu sesungguhnya. Dan, mengapa tadi aku harus gugup di depannya?

Aku masuk kamar dan senyum sendiri, terutama karena memikirkan soal ramalannya yang benar. Tapi, kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal ramalan itu? Atau sengaja? Ah, entahlah.

Aku baca surat undangan darinya itu sambil selonjoran di atas kasur.

Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” 

Semua nama hari di jadwal itu, lengkap disertai dengan tanggal. Aku senyum. Di dalamnya ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. Itu adalah nama kepala sekolahku, ditulis sebagai orang yangturut mengundang. Aku istigfar! Di tiap sisi kertas, ada gambar hiasannya. Dibikin pake
spidol. Gambarnya bagus. Entah bikinan siapa. Aku suka.

Setelah aku baca surat itu, aku tak mengerti mengapa aku langsung merasa tak ingin pergi dari atas kasurku, aku benar-benar seperti orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia itu sebenarnya.

Sambil tiduran, aku jadi seperti orang yang sedang menerawang, memandang atap kamarku. Ketika ada terbayang wajahnya, langsung kupejamkan mataku, agar dengan begitu aku bisa mengusirnya,
karena aku merasa itu gak perlu dan gak penting!

7
Ah, sial.
Semua hal tentang dirinya hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan tugas nyuci sepatu. Langsung kusimpan surat itu di dalam laci meja belajar, sambil senyum-senyum sendirian, dan langsung pergi ke kamar mandi, menemui sepatuku.

Kucuci sepatu itu dengan pikiran yang penuh dengan dirinya, dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. Tapi susah, tetap saja kepikiran meskipun sesekali.

Aduh, siapa, sih, dia itu? Setahuku, dia satu sekolah denganku, tapi tidak sekelas denganku. Cuma itu. Itu saja. Tapi, aku tidak tahu siapa namanya. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat pertama kali jumpa itu? Haruskah aku yang nanya?

Oh, sori, ya, gak mau!

8
Kudengar telepon rumah berdering. Aku senang, karena itu dari Beni, pacarku di Jakarta. Dia satu sekolah denganku waktu masih di Jakarta, dan sekarang kami menjalin pacaran jarak jauh.

Beniku keren, kau harus tahu itu. Dia tampan, meskipun tidak tampan-tampan amat, tapi cukup dan kukira dia baik. Ayahnya seorang artis film terkenal yang kadang-kadang suka aku banggakan kepada ayah-ibuku dan teman-temanku.

Beni sangat menyayangiku. Aku juga begitu kepadanya. Meskipun suka bertengkar, tapi selalu bisa diselesaikan dengan baik. Sayangnya habis itu suka bertengkar lagi. Hampir setiap hari, Beni selalu meneleponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain sebagainya.


3. DIA ADALAH DILAN

1
Hari Senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara, aku berharap tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa diam-diam mataku mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari. Mungkin cuma ingin lihat saja. Tidak lebih. Boleh, kan?

Tapi sampai upacara bendera sudah akan selesai, orang itu, Sang Peramal itu, tak berhasil kutemukan.
Di manakah dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!

Emang, siapa dia?

2
Seorang guru, tiba-tiba memberi komando dengan melalui pengeras suara meminta seluruh siswa untuk jangan dulu bubar dari barisan.

Kupandang ke depan karena ingin tahu soal apa gerangan,tapi justru di saat itulah aku bisa melihat dirinya.Sang Peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya.

Dia berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP (BimbinganPenyuluhan), setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.

Dia dan dua orang temannya disebut PKI oleh guru BPitu. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampaidisebut PKI hanya gara-gara tidak ikut upacara bendera. Entahlah. Apakah karena saat itu aku hidup di jaman ORBA (Orde Baru)?

Nun di sana, di tempat dia berdiri, entah gimana aku merasa yakin, dia sedang menyadari bahwa ada seseorang bernama Milea yang sedang memandangnya di tengah barisan peserta upacara.

Atau tidak?

Tapi yang pasti, sebagaimana yang lainnya, aku juga sedang memandang dia dari jauh dengan perasaan yang sulit kumengerti.
“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong pada dirinya
sendiri.
Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.
“Siapa dia?” kutanya Revi
“Dilan.”
“Oh.”

Sejak saat itu aku jadi tahu namanya. Kata Rani, di kelas, setelah upacara bendera, Dilan itu
anak kelas 2 Fisika 1 dan anggota geng motor yang terkenal di Bandung. Jabatannya adalah Panglima Tempur.

Ya namanya Dilan!

Kalau tidak salah aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Baru tahu, ternyata dia orangnya!

Sejak semua itu aku betul-betul jadi merasa takut. Aku juga jadi langsung berpikir Dilan pasti sangat nakal dan mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus takut, toh, siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan siap menembaknya jika harus.

Tapi, tetap aja aku merasa harus menjauh darinya. Jangan biarkan dia melakukan apa pun yang akan membuatku dalam kesulitan. Aku tidak ingin membuangbuang
waktu untuk mengenal anak nakal seperti itu secara lebih jauh.

Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati. Dan tidak perlu terlalu menggubris apa pun yang ia lakukan padaku, jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan. Ini bukan aku bermaksud kasar kepadanya, tapi karena aku tahu itu harus. Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Harusnya, dia mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.

3
Bubar dari sekolah, cuaca sedang mendung, aku pulang bersama kawan-kawan. Ada Dilan menyusulku dengan motornya. Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang bersamanya naik motor. Nyatanya tidak, padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya.

“Kamu pulang naik angkot?” dia nanya.
Kujawab dengan anggukan yang sedikit agak judes. Harusnya itu cukup untuk membuat dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin diganggu, bahkan tidak ingin membuat obrolan dengannya. Pokoknya saat itu aku merasa sedang berubah di
dalam menilainya.
“Aku ikut ...,” katanya di atas motor yang lajunya sengaja dibikin pelan untuk bisa sejajar denganku.
“Ikut apa?” tanyaku tanpa menoleh. Aku hanya tidak ingin menjadi akrab dengannya.
“Naik angkot,” jawabnya.
Aku diam, gak mau meladeni omongannya.
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku ingin bilang: ”Terserah,” tapi aku kuatir dengan jawaban itu nanti dia akan nyangka seolah-olah aku sudah membolehkan. Karena bingung, jadi aku memilih untuk diam.
“Boleh aku ikut denganmu?” dia nanya lagi.
“Gak usah,” kataku akhirnya sambil memandangnya
sebentar.
“Kan, angkot buat siapa aja.”
 Aku diam. Bahkan aku gak tahu harus bersikap gimana ke dia.

Ah! Apa sih maunya orang ini? Lagian kalau dia ikut, emang mau ikut kemana? Kalau mau pulang, pulang aja sendiri!
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku masih diam.
“Boleh?” dia nanya lagi.
“Kamu, kan, naik motor?” kataku dengan nada sedikit ketus.
“Oh! Gampang. Nanti, motorku dibawa kawan,”
katanya.

Terserah deh! Aku diam dan terus berjalan dengan memandang ke depan, bersikap seolah-olah gak mau peduli kepadanya.
“Oke. Aku nyimpen motor dulu ya?” katanya sambil pergi.
“Eh?”

Ah! Sial.

Tak lama setelah itu, dia datang lagi dengan sedikit berlari. Aku tak ingin tahu disimpan di mana motornya. Itu bukan urusanku, termasuk kalau hilang.

Di angkot, dia duduk di sampingku. Itu membuat aku benar-benar jadi kikuk dan mati gaya.
“Ini hari pertama aku duduk denganmu,” bisiknya.
Tidak kurespons, karena gak penting.

Kuambil buku, lalu kubaca. Mudah-mudahan bisa membantu mengalihkan pikiranku kepadanya. Mudah-mudahan bisa membantu membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang sedang baca buku. Tapi dia berbisik, suaranya kudengar pelan sekali menyebut namaku:
“Milea.”
Aku diam. Tidak kutanggapi.
“Kamu cantik,” katanya sesaat kemudian, dengan suara yang pelan tanpa memandangku.

Heh?

Serius, aku kaget. Hampir-hampir tak percaya diaakan bicara begitu.

Aku bingung harus gimana dan berusaha memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot, tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku merasa seperti malu.
“Makasih,” akhirnya kujawab juga sambil tetap baca buku, dengan intonasi yang datar, tanpa memandang dirinya.

Dengan suara yang pelan bagai berbisik, kudengar dia bicara lagi:
“Tapi, aku belum mencintaimu,” katanya.
Aku diam.
“Enggak tahu kalau sore,” katanya lagi kemudian.

Ih! Suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir.

Aku diam, tidak mau merespons omongannya. Dia ngomong lagi: “Tunggu aja.”
Aku masih diam tapi sebetulnya ingin teriak tepat di kupingnya:
“Apa, sih, kamu ini?!” Tapi tidak kulakukan. Aku hanya berusaha untuk bersikap tidak akrab.
Dia bicara lagi setelah diam beberapa saat sebelumnya.
“Aku ramal,” katanya. “Kamu akan segera tahu namaku.”
Mendengar dia ngomong gitu, demi Tuhan, aku ingin langsung bilang ke dia: “Udah tahuuu! Gak usah ramal-ramalan, deh. Udah, deh! Udah tahu! Kamu Dilan, kan? Panglima Tempur geng motor, kan? Geng motor yang suka bikin onar itu, kan? Anak jalanan yang suka nulis namanya pake pilox di tembok rumah orang itu, kan? Kamu Dilan, kan? Udah tahuuu! Udah deh! Mendingan kamu turun.”
Tapi, kata-kata yang keluar malah: “Iya.”

Ketika sudah sampai di pertigaan Jalan Gajah, aku turun dari angkot, dan langsung kaget, karena dia juga ikut turun. Saat itu aku nyaris khawatir bahwa dia akan ikut ke rumahku. Jika benar, aku akan sebisa mungkin berusaha melarangnya. Pokoknya jangan sampai terjadi!

Syukurnya tidak. Dilan pamit pergi, naik angkot lagi, menuju arah sekolah. Aku ramal, dia pasti mau mengambil motornya.

Tadi, sebelum naik angkot, dia sempat bilang:
“Kamu tau, semua siswa itu sombong?”

Aku merasa dia sedang menyindir sikapku kepadanya hari itu. Karena malas menjawab, kupilih diam. Dia berdiri di sampingku yang berdiri di atas trotoar. Aku se-ngaja gak mau langsung pulang, karena khawatir nanti dia akan ikut.

Mengetahui aku diam, dia ngomong lagi:
“Siapa yang mau datang ke ruang BP nemui Suripto?”
Asalnya aku diam, tapi akhirnya kutanya: “Siapa?”
Entah gimana aku seperti gak bisa nahan bicara.
Dia senyum: “Cuma aku.”
“Ooh!” kataku dengan bersikap dingin kepadanya.
“Maaf kalau aku mengganggumu,” katanya kemudian dengan suara pelan.
“Iya,” kujawab. “Tuh angkotnya,” kataku menunjuk angkot yang akan lewat. Aku tahu harusnya gak usah ngomong gitu, karena akan berkesan seolah-olah aku sedang mengusirnya, tapi justeru itu maksudku.
“Aku cuma nganter, takut ada yang mengganggumu,” katanya sambil senyum dan melambaikan tangannya meminta angkot berhenti.

4
Ketika dia pergi, aneh, kemudian ada muncul perasaan bersalah karena sudah bersikap judes kepadanya. Pastilah dia sedih. Pastilah dia kesal. Aku juga pasti akan merasakan hal yang sama kalau diperlakukan orang seperti aku kepadanya.

Sesampainya di rumah, Si Bibi memberi aku surat. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu.

Itu surat dari Beni!

Kubaca suratnya, sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku.Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren kau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan kepadamu?

Maaf.

Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi soal cinta dan rindu itu.
Kata-kata indah yang dijiplak dari buku Kahlil Gibran dan puisi-puisi yang dia ambil dari majalah remaja tanpa ia cantumkan sumbernya agar aku menyangka itu adalah karyanya. Dia pikir, aku tidak pernah membaca puisi dan kata-kata itu sebelumnya.

Ah, Beni kurang asyik! Maksudku, mungkin aku merasa bosan dengan Beni yang itu-itu melulu. Monoton dan juga biasa!

5
Si Bibi ngetuk pintu, manggil-manggil, menyuruh aku untuk makan. Aku keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh pikiran tentang omongan Dilan di angkot itu:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu.Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Kata-kata aneh yang terus nempel di kepalaku bahkan sampai malam harinya. Kata-kata itu, ketika kuingat lagi berhasil membuat aku ketawa sendirian di kamar, dan teriak dalam hati, seolah-olah aku tujukan ke Dilan:

“Mau cinta, mau enggak. Dengar, ya, hai, kamu yang namanya Dilan. Terseraaahhh! Itu urusanmu! Emang gua pikiriiin!?”
Tapi aku senyum habis itu.

Setelah usai shalat Isya, aku dapat telepon dari Beni. Dia bicara lama sekali. Atau sebentar ya? Tapi, aku merasa itu lama sekali.Dan kata Beni, dia mau ke Bandung, nanti, minggu depan. “Lu senang?” Beni nanya apakah aku senang jika dia ke Bandung menemuiku?
Kujawab: “Iya.”

Memang, harusnya aku senang, Beni.

Oke, kalau begitu. Baiklah, aku akan berusaha untuk senang. Insya Allah.
Doain.

6
Itu hari Selasa, aku dapat surat dari Dilan. Entah bagaimana dia bisa nitip suratnya ke Rani. Isi suratnya pendek:

”Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu – Dilan!”

Aku langsung terkesiap membacanya. Lalu dengan cepat, kututup surat itu. Aku jadi malu sendiri rasanya, dan aku berharap Rani tidak sudah membacanya, tapi kayaknya belum
 4. WARUNG BI EEM

1
Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Nandan, Dito, Jenar, dan Rani.

Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak penting. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
“Semua siswa makan di sini, ya?” tanyaku ke Rani.

Sebetulnya itu adalah caraku untuk ingin tahu mengapa aku tidak pernah lihat Dilan ada di kantin? Kata Rani beberapa siswa tertentu lebih memilih nongkrong di warung Bi Eem.
“Oh,” kataku.
Langsung kutebak Dilan pasti di sana.
“Biar pada bisa merokok,” kata Nandan.
“Iya,” kata Rani.
“Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku dengan diriku yang makin yakin bahwa Dilan selalu nongkrong di sana setiap waktu istirahat.
“Iya,” jawab Nandan.
“Pada gak berani datang ke situ,” kata Jenar.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, males aja kali gabung sama mereka,” jawab Jenar.
“Emangnya pada galak?” tanyaku.
“Enggak, sih,” jawab Rani. “Ya, anak-anak nakal gitu, lah.”
“Katanya suka pada minum-minum di situ ...,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku, sedikit agak kaget mendengar informasi dari Nandan.
“Di sana?” Rani juga nanya.
“Katanya ...,” jawab Nandan.
“Anak SMA lain juga suka pada nongkrong di situ,” kata Dito.
“Iya, kan, markasnya ...,” Nandan menimpali.

2
Sebelum kuteruskan ceritanya, aku ingin menjelaskansedikit tentang warung Bi Eem, biar kamu jadi punya gambaran setiap kali aku menceritakan tempat itu.

Sebetulnya yang disebut warung Bi Eem itu, adalah berupa rumah zaman baheula, yaitu rumah antik peninggalan orang yang lumayan kaya di zaman dulu.

Rumah itu tidak keurus karena suami Bi Eem, sebagai keturunannya, secara ekonomi tidak senasib dengan leluhurnya, bahkan suami Bi Eem berstatus pengangguran.

Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Dicat warna hijau toska tapi sudah pudar karena sudah tidak pernah dicat ulang.

Kamar yang paling depan, oleh Bi Eem disulap jadi warung, menghadap ke arah ruang tamu yang ada di sampingnya. Ruang tamu itu dindingnya cuma setengah, tempat duduk orang-orang yang jajan di warung Bi Eem.

Posisi rumahnya berada di tikungan jalan itu, kalau gak salah bernomor 32. Di sampingnya berdiri sebuah gereja.

Untuk bisa ke warung Bi Eem, kamu harus mau jalan sejauh kira-kira 100 meter dari sekolah.

Di depan dan di samping rumah Bi Eem terdapat halaman. Di halaman depan ada tumbuh dua pohon jambu air. Halaman itu juga sering dijadikan tempat parkir motor oleh beberapa siswa tertentu. Luas halaman yang ada di depannya kurang lebih berukuran 2 kali 8 meter, sedangkan luas halaman yang ada di sampingnya kira-kira berukuran 1 kali 20 meter. Pagarnya berupa tembok yang sering dijadikan tempat duduk oleh siswa yang pada nongkrong di sana.

Tahun 2001, waktu aku ke Bandung, aku merasa sedih ketika tahu rumah Bi Eem sudah gak ada. Sekarang
telah berdiri di sana sebuah gedung mewah sebagai gantinya.

Itulah gambaranku tentang warung Bi Eem.

3
Oke, kembali ke cerita, di mana aku sedang ngobrol bersama Nandan, Dito, Jenar, dan Rani di kantin.Tak lama dari itu, aku terkejut karena melihat Dilan datang ke kantin. Dia datang bersama Piyan dan satu orang lagi yang aku sudah lupa namanya (kalau gak salah Si Akew).

Aku tahu harusnya aku bersikap biasa saja, tapi entah gimana, saat itu secara reflex aku menjadi salah tingkah.

Dia datangi meja kami dan menyapaku:
“Hei, Milea!”
“Hei,” kujawab langsung dengan suara grogi.
“Cuma nyapa,” katanya.
“Iya,” jawabku dengan senyum dan sedikit agak kaku.
Kamu harus tahu deh, mengapa saat itu aku bersikap jadi sedikit baik kepadanya. Bagiku, itu seperti aku sedang menebus dosa oleh sikap judesku kepadanya waktu dia ikut naik angkot bersamaku.
“Eh, Yan,” tiba-tiba Rani nanya ke Piyan. “Wati gak sekolah, ya?”
“Sakit katanya,” jawab Piyan. “Kenapa?”
“Ada bukunya ketinggalan.”
“Oh, ya, udah,” jawab Piyan. “Pulangnya nanti kuam46
bil.”
“Oke.”
Setelah cuma makan bala-bala (semacam bakwan), Dilan pergi bersama kedua temannya, entah ke mana, mungkin ke kelas, tapi sebelum dia pergi, dia sempat bicara ke Nandan:
“Kamu tau gak?”
“Tau apa?” Nandan balik nanya.
“Aku suka Milea.”
Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku.Rani, Dito, dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah dengan senyuman rasa bingung.
“Tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“Itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa kesalnya
“Aku, kan, bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“Dia denger, kan?” tanya Nandan.
“Mudah-mudahan.”

Bisa kubaca mata Nandan, kayaknya dia merasa keganggu oleh kata-kata Dilan. Aku tebak, sih, gitu. Cuma nebak. Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh. Hanya aku yakin, Nandan pasti langsung gak suka ke Dilan dari semenjak saat itu, dari semenjak Nandan tahu bahwa Dilan menyukaiku. Karena, kata Rani, Nandan itu naksir aku, tapi aku cuma senyum saja mendengarnya, karena mengenai soal itu, aku sudah bisa menduganya sendiri.

Aku bisa tahu dari sikap dan perilaku Nandan kepadaku, termasuk suka nelepon malam hari untuk nanya-nanya soal PR, juga suka nraktir kami makan di kantin.

Dia juga selalu berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam bahan lawakan yang sudah sering kudengar dari orang lain, bagiku, itu tak lain dan tak bukan, adalah modus untuk mengambil hatiku.


Tapi Nandan berbeda dengan Dilan, Nandan tidak bisa bebas seenaknya bicara terus terang seperti Dilan.

Aku setuju, kalau ada yang bilang Nandan orangnya baik. Dan, kalau aku boleh jujur, Nandan lebih tampan dari Dilan. Nandan juga jago basket, dan lain-lain. Pokoknya Nandan adalah lelaki idaman tiap wanita pada masanya. (Lima tahun kemudian, aku melihat fotonya nampang di sampul majalah Gadis)

Nandan juga masih jomblo, masih belum punya pacar. Pernah, sih, dekat dengan Pila, anak kelas 2 Sosial, tapi gak tahu kenapa, belakangan hubungan mereka jadi renggang. Tapi jangan nyalahin aku.

4
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya.

Kamu tahu ke mana Dilan?

Dia masuk ke kelasku, dan duduk di bangku sebelahku, membuat Rani jadi pindah ke kursi belakang yang memang kosong.

Kok, Rani mau, ya? Heran.

Aku juga heran, kenapa tidak seorang pun yang berani ngusir Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid, cuma bisa diam saja.

Sejujurnya, aku sendiri merasa risih dengan kehadiran Dilan. Tapi, mau gimana lagi? Masa, harus kuusir. Gak enak.

Dia minta kertas, lalu kukasih. Di kertas itu, dia nulis:

Informasi:
Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu:
1. Nandan (Kelas 2 Biologi)
2. Pak Aslan (Guru Olahraga)
3. Tobri (Kelas 3 Sosial)
4. Acil (Kelas 2 Fisika)
5. Dilan (Manusia)


Aku senyum membacanya. Kemudian, kulihat dia mencoret semua nama di daftar itu, kecuali nama dirinya.
“Kenapa?” kutanya, maksudnya kenapa semua dicoret kecuali nama dirinya?
“Semuanya akan gagal,” dia bilang begitu dengan berbisik.
“Kecuali kamu?” tanyaku.
“Iya,” kata Dilan sambil senyum. “Doain.”
"Iya", kataku pelan sekali. Ah! Jantungku berdenyut.

Waktu itu, kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri, seolah-olah tidak merasa terganggu oleh hadirnya Dilan, meskipun aku yakin mereka pasti gak suka.

Kulihat Nandan, duduk terus di bangkunya, seperti orang bingung yang gak suka ke Dilan, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Pak Atam, guru pelajaran Bahasa Indonesia, sudah datang masuk kelas, tapi Dilan tidak pergi. Tetap saja dia duduk.

Edan ini orang, pikirku! Dia benar-benar ikut pelajaran Pak Atam.

Sambil berbisik, aku ngomong ke dia:
”Nanti, kamu dialpain di kelasmu.”
“Gak apa-apa,” jawabnya seraya tetap memandang ke depan, menyimak pelajaran, sampai akhirnya Pak Atam tahu ada seorang penyelundup:
“Kenapa di sini?” tanya Pak Atam.
Semua kawan-kawan sekelas memandang ke arah Dilan. Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu dan menegurnya.
“Salah masuk,” jawab Dilan.
Dilan beranjak dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak respek kepadanya.

5
Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul untuk jalan di sampingku dan bilang:
“Aku harusnya ngajak kamu pulang naik motor.”
Kujawab, “Gak usah.”
“Tapi gak jadi,” kata Dilan. “Karena aku tahu kamu akan bilang gak usah.”

Mendengar itu aku senyum, kupandang dia sebentar dan dia juga senyum.

Kalau harus jujur, sebetulnya aku bisa aja nerima ajakan Dilan untuk pulang naik motor berdua dengannya, tapi aku merasa belum waktunya. Benar-benar itu lebih karena aku tidak ingin dilihat terlalu dekat dengan dia dan aku tidak tahu mengapa. Soal bahwa Dilan adalah anggota geng motor yang harus aku waspadai, kukira Dilan tidak seperti yang aku duga. Dia malah selalu bisa membuat aku tersenyum. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan saat itu.
“Aku mau datang ke rumahmu,” katanya tiba-tiba. “Malam ini.”
Hah? Aku kaget.
“Jangan!”
“Kenapa?” dia nanya.
“Ayahku galak.”
“Menggigit?”
“Serius, jangan!”
“Aku tidak takut ayahmu.”
“Jangan!” kataku. “Pokoknya jangan.”
“Aku mau datang,” katanya sambil berlalu.
“Jangan, ih!”

Tanpa aku sadar, aku bicara dengan sedikit agak teriak. Aku jadi merasa malu. Kupandangi banyak arah, berharap tak ada orang yang akan denger.

6
Malamnya, beneran Dilan datang.

Itu, kira-kira pada pukul tujuh malam. Awalnya kudengar suara motor, masuk ke halaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung bisa yakin, tidak salah lagi, itu pasti Dilan. Aku Kenal suara motornya.

Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku dan bersama perasaanku yang langsung tak
karuan. Biasanya ayahku jarang ada di rumah, tapi sudah hampir tiga hari ini dia cuti.

Malam itu, ayahku sedang ada di ruang tengah, sibuk membetulkan radio CB-nya. Ibuku juga di sana,
sedang mencatat urusan kegiatan anggota Persit Kartika Chandra Kirana (PERSIT adalah akronim dari Persatuan Istri Tentara).

Kutebak jika bel rumah berbunyi, maka salah satu di antara merekalah yang akan membuka pintu, menyambut Dilan (kalau benar tamu itu adalah Dilan).

Ya, Tuhan, bisikku dalam hati. Kututupi kepalaku dengan bantal sambil tiduran di kasur. Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog di sana, bicara dengan Dilan, tapi tidak bisa kudengar. Aku ingin tahu, tapi aku merasa akan lebih baik jika tetap diam di kamar.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara motor yang pergi dari halaman rumahku. Ya, jika benar itu Dilan, maka dia sudah pergi.

Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajarku, meneruskan makan malamku sampai habis, sambil terus kepikiran soal Dilan yang datang. Lepas itu, aku keluar dari kamar untuk menyimpan piring makanku.
“Tadi ada tamu,” kata ibu yang berpapasan denganku.
“Oh? Siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Nanyain kamu,”
“Siapa?” kutanya.
“Katanya utusan kantin sekolah,” jawab ibu sambil memasukkan buku ke dalam laci di meja tengah.
“Utusan, apa, sih? Kayak nabi aja,” kudengar ibu seperti menggerutu.

Hah? Utusan Kantin? Aku nyaris ketawa. Aku makin yakin itu pasti Dilan.
“Ngapain?” tanyaku.
“Apa itu?” ibu bagai mikir. “Nawarin menu baru.”
“Menu baru kantin?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha.”
Kali ini, aku tidak bisa nahan ketawa.
“Malem-malem nawarin menu. Aneh-aneh aja,” kata ibu.
“Ha ha ha. Terus, Ibu bilang apa?” tanyaku.
“Tau, tuh! Ayah yang ngobrol.”
Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar, telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya. Tidak usah ditanya bagaimana dia tahu nomor telepon
rumahku. Kukira dia banyak akal.
“Hallo?” kusapa yang nelepon.
“Selamat malam.”
“Malam.”
“Bisa bicara dengan Milea?”
“Iya, saya.”
“Aku Dilan.”
“Hey.”
Mendadak jantungku langsung deg-degan.
“Milea, bisa bicara dengan aku?”
“Iya.”
“Tadi, aku datang.”
“Iya.”
Aku langsung senyum, mengingat apa yang dikatakan oleh ibu bahwa dia mengaku utusan kantin sekolah yang nawarin menu baru, tapi tidak kubahas soal itu ke Dilan.
“Kau tau aku datang?” tanya dia.
“Tau.”
“Kau tau kenapa aku datang?”
“Kenapa?”
“Kalau aku gak datang karena takut ayahmu, aku pecundang.”
Aku senyum
“Jadi, aku datang,” katanya. “Kalau dimarah, bagus.”
“Kok bagus?”
“Kalau dimarah, nanti kamu jadi kasihan ke aku.”
Dilan ketawa. Aku hanya senyum.
“Kasihan gak?”
“Tadi dimarah?” kutanya dia.
“Enggak.”
“Syukurlah.”
“Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur.”
“Oh.”
“Kenapa sekarang bisa ngomong?” tanya Dilan. “Kamu ngigau?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha ha.”
Waktu dia ketawa, sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Jual mahal sikit, laah!
Selain itu, aku juga khawatir ayah dan ibu mendengar obrolanku, jadi kuusahakan bicara yang singkat-singkat saja dengannya. Ingat, waktu itu aku masih anak SMA yang masih merasa gak enak kalau mereka tahu itu telepon dari laki-laki, meskipun belum tentu juga mereka akan negur.
“Di mana?” Di luar kesadaranku, tiba-tiba aku bertanya.
“Siapa?” dia nanya.
“Kamu.”
“Kamu?”
“Dilan,” jawabku.
Akhirnya, kusebut juga namanya. Ah, itu adalah hari pertama aku menyebut namanya secara langsung kepadanya. Dia harusnya kaget kenapa aku tahu namanya, atau dia gembira karena ramalannya terbukti benar bahwa aku akan tahu namanya. Tapi, dia tidak membahas soal itu.
“Aku?” tanya Dilan bagai kepada dirinya sendiri. “Aku di Mars.”
“Ketawa jangan?” tanyaku, karena aku menyangka dia sedang melawak.
“Aku di Jalan Mars, Margahayu Raya.”
“Oh, he he he.”
Di Bandung memang ada Perumahan Margahayu Raya, nama-nama jalannya diambil dari nama-nama planet.

7
Setelah usai nelepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayah nanya: “Telepon dari siapa?
Kujawab: “Dari Beni.”

Dan di kamarku, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku aku pakai untuk mikirin dialog ku dengan Dilan di telepon:
“Boleh aku ramal?” dia nanya.
“Iya.”
“Iya, apa?”
“Boleh,” jawabku.
“Aku ramal,” katanya. “Nanti, kamu akan jadi pacarku!”

Gila!

Kayaknya bagi dia itu mudah saja mau ngomong apa pun. Seolah hal itu bukan sesuatu yang berat untuk ia katakan.
“He he he.”
“Percaya gak?” tanya dia.
Maksud dia, dia nanya aku percaya gak dengan ramalannya itu?
“Musyrik,” kujawab.
“Ha ha ha,” Dilan ketawa.
Aku juga ketawa tapi kutahan.

Entah gimana, lambat laun, aku mulai merasa senang kalau sudah ngobrol dengan Dilan malahan suka berharap bisa lama. Tiap bicara dengannya, berasa mendapat sesuatu yang tidak bisa kudapatkan dari ketika ngobrol dengan yang lain. Dan kalau aku harus jujur, aku juga merasa mulai suka kepadanya.
“Hey, Milea.”
“Iya.”
“Tau gak kenapa aku gak langsung jujur ke kamu?”
“Jujur apa?”
“Jujur bilang ke kamu, aku mencintaimu?”
“He he he.”
Mukaku pasti merah.
“Kan, sudah lewat surat?” kataku senyum.
“Maksudku ngomong langsung ke kamu”
“Terus? Kenapa gak langsung?”
“Kalau mau, ya aku bisa,” katanya. “Gampang.”
“Iya. Kenapa enggak?”
“Kalau langsung, gak seru,” katanya. “Jadi biasa.”
Aku ketawa. Dilan juga.
Ah, dia pasti selalu bisa membuat aku ketawa, ya, minimal tersenyum.
“Nanti kalau kamu mau tidur,” katanya. “Percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger.”
Aku ketawa kecil

8
Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan.

Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebagaimana dia begitu mudahnya berterus terang, bahwa aku sudah punya pacar? Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebelum dia tahu sendiri, dan lalu kecewa, bahwa aku sudah punya pacar?

Iya, kayaknya harus bilang. Aku harus bilang ke Dilan bahwa aku sudah punya pacar, biar sejak itu Dilan akan berhenti mengejarku dan langsung membuat aku sedih, karena tidak akan ngobrol lagi dengannya di telepon. Tidak akan lagi dideketin orang aneh macam dia, yang kalau aku harus jujur, sebetulnya aku juga suka. Dia itu seru!

Ah tidak! Aku gak mau bilang. Biarin aja.

Atau haruskah aku bilang ke Beni, bahwa ada orang, di Bandung, satu sekolah denganku, namanya Dilan, sedang berusaha mendekatiku?

Kayaknya jangan, deh. Aku tahu Beni, jika kukatakan, justru malah akan nambah masalah daripada berusaha menyelesaikannya. Dia itu sumbunya pendek, gampang meledak.

Ah, kepada siapa aku harus membahas soal ini. Ke Beni? Itu namanya bunuh diri!

Lebih baik aku tidur.

Di luar turun hujan. Kepalaku dipenuhi kata-kata:
“Kamu di mana sekarang, Dilan?”
...
“Oh, iya lupa, tadi kamu sudah bilang: di Mars. He
he he.”
...
“Hati-hati di jalan, Dilan.”

Kututup mataku dengan bantal dan lalu kuingat lagi kata-katanya:
“Nanti kalau kamu mau tidur percayalah
aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh, kamu
gak akan denger.”

Itu membuat aku langsung menggumam:
“Selamat tidur juga, Dilan.”

Habis itu, aku senyum bagai malu pada diriku sendiri.


5. PAPAN PEMBATAS KELAS

1
Aku baru selesai dari kantin bersama Nandan, Hadi, dan Rani. Gak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung Bi Eem? Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Bicara denganku. Setidaknya dengan itu, aku
bisa tahu langsung darinya, benarkah dia suka ngeganja seperti yang dikatakan oleh Nandan dan Dito? Benarkah dia suka minum minuman keras, seperti yang dikatakan oleh Nandan, Jenar, dan Rani? Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang dikatakan oleh Nandan?

Jika aku ingin tahu tentang Dilan sebenarnya, aku tidak bermaksud mau ikut campur urusan Dilan. Siapalah aku ini. Dilan bukan pacarku, apa urusanku memikirkan diri dan kehidupannya, tapi aku tidak tahu mengapa ingin selalu mengetahui dirinya dengan lebih jauh lagi. Apalagi aku selalu mendapat informasi yang buruk tentang Dilan. Sebenarnya, aku tidak ingin langsung percaya
tentang semuanya itu dengan gampang.

Aku betul-betul ingin nanya langsung ke orangnya, dan jika rumor itu benar, ya, sudah, aku jadi tahu siapa dirinya. Habis itu bagaimana aku harus bersikap ke dia, ya, itu adalah hakku.

Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!

Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi gini?


Bersambung :)

Rabu, 15 Juli 2015

BERTEMU MILEA

Beberapa hari lalu, di sebuah café di daerah jalan Riau, Bandung, malam itu aku bertemu dengan Milea Adnan Hussain, yang datang bersama tiga kawan kantornya. Mereka adalah Mbak Astri, Mas Bambang dan Kak Meggy. Aku belum pernah mengenal teman-temannya Milea sebelum hari itu.

Pertemuan yang bagus. Setelah selesai pesan makanan, kutanya Milea, “Bolehkah aku aplod foto pertemuan ini?”
“No. Please!”, katanya, sambil mengunyah Beef Cordon Bleu
“Oke”

Ke sana, aku membawa enam buah buku Dilan, sesuai yang dipesan oleh Milea sebelum aku tiba, yaitu 3 buah buku Dilan pertama dan 3 buah buku Dilan kedua. Kemudian buku-buku itu diberikan kepada tiga kawannya setelah aku disuruh memberinya tandatangan.  Kukira mereka bahagia, setidaknya itulah yang bisa kuduga.

Di sana, kami banyak makan dan juga bicara, mulai dari membahas Ridwan Kamil, Bandung sekarang, keluarga, makanan dan banyak lagi yang lainnya. Sebagian besar diisi oleh ketawa. Aku disuruh nraktir, karena katanya aku sudah banyak uang dari hasil royalty penjualan buku Dilan, seolah-olah dia lupa bahwa sebenarnya dia juga dapat bagian.

Ketika membahas buku Dilan, Milea banyak bicara. Dia cerita tentang kisah asmaranya dengan Dilan secara lebih detail lagi daripada yang bisa aku tulis di buku. Dia juga bicara tentang Yugo dengan lebih detail lagi. Dia juga bicara tentang Bunda dengan lebih detail lagi. Dia juga bicara tentang Kang Adi dengan lebih detail lagi, sama seperti ketika dia berbicara tentang Piyan, Wati dan lainnya. Seolah-olah itu adalah waktunya untuk dia bicara sepuasnya. Dan dia nampak sedih ketika harus membahas nasib Akew.

Katanya, ketika membahas buku Dilan babak kedua, dia merasa seperti banyak menangis di situ, atau setidaknya dia jadi nampak seperti itu.
“Bagian senangnya kurang banyak diceritain tuh. Kan ada masa-masa pacaran juga di situ” katanya dan dia ketawa sebelum kemudian dia minum.
“Kalau diceritakan, takut ketebelan bukunya, ya Kang?”, kata Mas Bambang seperti membelaku dan ketawa
“Kalau diceritain semua, wah pasti tebel banget ya?”, kata Milea nyaris ketawa.
Aku harusnya bilang iya, tapi hanya ketawa. Mas Bambang bertanya kepadaku tentang berapa lama buku itu ditulis, kujawab dengan bilang:
”Lama karena Lia ngasih datanya suka telat”.
Mas Bambang ketawa.
“Aduuh. Aku sibuk ngurus dunia jaman sekarang”, jawab Milea ketawa. “Oh, hampir lupa. Coba lihat halaman ini…”, katanya sambil membuka buku Dilan pertama. “Nah, di halaman 18. Di sini kan, ditulisnya: aku nempati rumah sejak tahun 1997. Bukan ’97 deh, tapi ‘99. Aku kan nikah tahun 1999”
“Oh. Tapi kan data yang aku terima tahun 1997”, kataku membela diri
“Ya, lupa. Aku lupa. Sori. Ralat deh”
“Nanti aku sampaikan ke pembaca”, kataku kepadanya. "Di buku Dilan kedua juga ada ralat. Udah aku sampaikan ke pembaca".
“Oh yang kamu bilang itu ya?"
"Iya. Gak prinsip sih, tapi penting, karena itu data peristiwa", kataku (Bagian yang diralat itu adalah di halaman 80 harusnya Rabu, bukan Selasa. Di halaman 120 harusnya 1968, bukan 1976. Di halaman 218 harusnya Disa, bukan Airin)
"Oke"
"Ada komentar lagi?", kutanya
"Harusnya kalau republsih dibikin detail lagi"
"Siap", kataku ketawa
"Oh. Itu, Beni tuh gak cuma ngomong Pelacur ke aku. Waktu itu, dia juga ngomong: Setan Perempuan”, katanya dan ketawa. “Ah, tapi sudahlah”
“Banyak Pembaca minta Dilan bicara”, kataku tiba-tiba membelokkan pokok bahasan.
“Bicara gimana?”
“Ya bicara. Menjelaskan, terutama menyangkut buku Dilan kedua. Bagaimana menurut sudut pandangnya tentang peristiwa yang dia alami terutama di bab-bab terakhir”
Milea diam, dengan sikap bagai orang berfikir. Kulihat kedua alisnya dia naikkan ke atas.
“Aku terlalu ngontrol Dilan ya di buku kedua?”, katanya dengan wajah sedikit agak murung
“Kan sebelum diterbitkan, udah konfirmasi dulu, terus kamu setuju, ya udah”, kataku.
Dia ketawa, semua juga ketawa.
“Dilan nanti mau bicara apa?”, tanya dia dengan wajah sedikit agak cemas
“Kan dia juga berhak bicara”, kataku dan kemudian minum
“Sebelum terbit, aku baca dulu dong?”. Dia memohon dengan senyum
“Oke”

BERSAMBUNG, karena ngantuk

Selasa, 14 Juli 2015

SEJARAH PERJUANGAN THE PANASDALAM


THE PANASDALAM adalah akronim dari: THE-nya dari aTHEis, PA-nya dari PAganisme, NAS-nya dari NASrani, DA-nya dari Hindu budDA, LAM-nya dari isLAM
Didirikan tanggal 18 Agustus tahun 1995, di salah satu ruangan kuliah yang ada di kampus ITB (Institut Teknologi Bandung), jalan Ganesha 10 Bandung.
Didirikan sebagai sebuah negara dengan nama: NKRTPD, singkatan dari Negara Kesatuan Republik The Panasdalam. Menjadi sebuah negara merdeka yang memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk lampias dari rasa kecewa kepada presiden Indonesia (Bapak Suharto), yang waktu itu dianggap sudah harus meletakan jabatannya. 
NKRTPD adalah negara kecil, berukuran 8X10 meter. Penduduknya merasa kaya raya karena kalau makan atau minum pada pergi ke luar negeri, yaitu di Indonesia, demikian juga kalau ee atau pipis. Orangtua dan pacar, semuanya pada tinggal di luar negeri.

Di saat awal NKRTPD berdiri, Pidi Baiq mengangkat dirinya sebagai Imam Besar NKRTPD, dan menunjuk Deni Roden sebagai Presidennya. Deni Roden, adalah Presiden yang sangat dibanggakan oleh imam Besar THE PANASDALAM, karena dialah satu-satunya Presiden di dunia yang hapal nama penduduk di negaranya, karena jumlahnya cuma 18 orang

Tahun 1998, ketika Soeharto mengundurkan diri menjadi Presiden Indonesia, NKRTPD langsung mengadakan muktamar yang pertama, yang diselenggarakan di daerah Dago Tee Huis, dengan hasil keputusan bersedia bergabung lagi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengubah namanya menjadi D.I THE PANASDALAM, atau Daerah Istimewa THE PANASDALAM, untuk merasa jadi setara dengan D.I. Jogjakarta dan D.I. Aceh
Tahun 2003 D.I The Panasdalam mengadakan Muktamar yang kedua, diselenggarakan di daerah Lembang, dengan hasil keputusan D.I. THE PANASDALAM berubah menjadi sebuah group band, dengan nama: THE PANASDALAM Kaumusikampusentris ITB. Dan, hanya manggung di dalam kampus ITB saja.
Bulan Maret tahun 2004, The Panasdalam Kaumusikampusentris ITB, sesuai dengan hasil obrolan malam hari di daerah jalan Ciliwung, THE PANASDALAM Kaumusikampusentris ITB berubah menjadi THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain. Dan menjadi tahun awal untuk THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain mulai manggung di luar kampus ITB.
Bulan Desember tahun 2004, tepatnya di salah satu studio rekaman yang ada daerah jalan Purnawarman Bandung, THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain mengubah namanya lagi menjadi THE PANASDALAM BAND. 
Pertengahan tahun 2005, di bawah manajer berinisial G.I, entah bagaimana awalnya, THE PANASDALAM BAND sempat dua kali tampil di acara salah satu stasiun televisi nasional dan menjadi band yang membawakan lagu “Rintihan Kuntilanak” - sebagai soundtrack untuk di salah satu film horor.
Sebagian besar orang-orang THE PANASDALAM menentang hal itu, dan terjadilah perdebatan yang kemudian menyebabkan lahirnya kelompok “THE PANASDALAM BRENGSEK” (yaitu kubu orang-orang penentang THE PANASDALAM BAND masuk teve)
Imam Besar THE PANASDALAM membubarkan THE PANASDALAM BAND.Perselisihan yang hampir menyebabkan adu jotos itu (sempat terjadi perkelahian kecil yg bisa segera dilerai), akhirnya berakhir dengan munculnya “Kesepakatan Ciliwung” (karena dibahas di daerah jalan Ciliwung Bandung), bahwa: ”The Panasdalam harus kembali ke tujuan semula, untuk tidak masuk teve, tetapi lebih memilih masuk sorga”.

Sejak adanya “Kesepakatan Ciliwung”, THE PANASDALAM BRENGSEK langsung membubarkan diri dan Imam Besar THE PANASDALAM mendirikan kembali THE PANASDALAM BAND dengan memasukkan beberapa personil baru untuk menggantikan personil THE PANASDALAM BAND yang menyatakan mundur.
 
Salam Jari Kelingking adalah Salam Resmi The Panasdalam sejak 2002
Tahun 2006, pada muktamar THE PANASDALAM ke III, yang diselenggarakan di Lembang, melahirkan sebuah keputusan: Satu, THE PANASDALAM BAND berubah lagi menjadi THE PANASDALAM BANK. Sama sekali bukan Band. Nama Bank diambil untuk tujuan pencitraan, agar ada muncul kesan bahwa kami selalu banyak uang. Dua, THE PANASDALAM BANK harus taat pada isi “Kesepakatan Ciliwung” dari sejak itu dan untuk selama-lamanya

Tahun 2013, Posisi THE PANASDALAM BANK, berubah menjadi cuma sebagai bagian kecil dari yang kemudian disebut sebagai: THE PANASDALAM SERIKAT. 
-THE PANASDALAM SERIKAT menaungi banyak unit-unit kegiatan di dalamnya, seperti: 
-THE PANASDALAM BANK, (Band The Panasdalam)
- bieqipid, (Toko oleh-oleh tradisional The Panasdalam)
-THE PANASDALAM INSTITUTE, (bergabung dg Perusahaan Listrik MandiriRakyat, LIMAR) 
-FUCK THE PANASDALAM FOUNDATION, (Badan keuangan The Panasdalam)
-KINGDOM OF HAVE FUN THE PANASDALAM, (Pasukan khusus tour kampus)
-FPIKHB (Front Pembela Islam Kristen Hindu dan Buddha), 
-MOU THE PANASDALAM (Majlis Of understanding The Panasdalam - semacam
 MUI nya Indonesia)
-KEPALANG MERAH THE PANASDALAM (Palang Merah-nya The Panasdalam)
-PASUKAN BERANI HIDUP THE PANASDALAM (Tentaranya The Panasdalam)
-URINOIR Co.ltd 
-RUPABOS (Rumah Penampungan Anak Bolos Sekolah)
-THE PANASDALAM DISABILITAS (Kegiatan kelompok kawan-kawan Disabilitas) -KATAMORGANA (Klab menulis) dan lain-lain sebagainya


Tahun 2009, kata SERIKAT, yang ada di belakang nama THE PANASDALAM, sengaja dibuang, agar tidak terlalu boros didalam menggunakan hurup alfabet, sehingga namanya menjadi cuma THE PANASDALAM. 
Tahun 2009, Imam Besar THE PANASDALAM membubarkan THE PANASDALAM FANS CLUB. “Mari, jangan fans, ini lebih baik kalau kita jadi kawan”, katanya. 
Bahwa kemudian di awal tahun 2010-an banyak kelompok yang menyatakan dirinya sebagai sebuah NEGARA, termasuk dengan memakai embel-embel REPUBLIK atau yang sejenis dengan itu, maka dengan ini, kami umumkan, bahwa:THE PANASDALAM yang kini ada, bukan lagi sebagai sebuah negara, melainkan cuma komunitas biasa yang ada di dunia. 
Imam Besar The Panasdalam bersama 
kawan2 mahasiswa filsafat di daerah kawasan Rusia
THE PANASDALAM memiliki semboyan resmi, yaitu: “Argumentum In Absurdum” sebagai sebuah frase yang diambil oleh Imam Besar THE PANASDALAM pada isi pidato Paus Yohanes Paulus II di Polandia pada waktu musim salju.
Sedangkan motto “Ingin Berak Sejak 1995” dipake sebagai hal khusus untuk sesekali mengganti semboyan “Argumentum In Absurdum” pada saat diinginkan.k kelompok yang menyatakan dirinya sebagai sebuah NEGARA, termasuk dengan memakai embel-embel REPUBLIK atau yang sejenis dengan itu, maka dengan ini, kami umumkan, bahwa:THE PANASDALAM yang kini ada, bukan lagi sebagai sebuah negara, melainkan cuma komunitas biasa yang ada di dunia. 
SD Negeri The Panasdalam
Berikut, di bawah ini, adalah beberapa kata ungkapan yang sering dilontarkan oleh THE PANASDALAM dan oleh unit-unit yang ada di dalamnya:
“Kami tidak mencari uang dari The Panasdalam, karena kami masih bisa minta kepada orangtua” (The Panasdalam)
“Dengan musik, kami tunjukkan kelemahan kami di dalam bermusik” (The Panasdalam Bank)
“No tolerance for intolerance” (Front Pembela Islam Kristen Hindu dan Buddha)
“Bangkitlah Musik Thailand” (The Panasdalam Bank)
“Bangkitlah Mafia Musik Indonesia” (The Panasdalam Bank) 
Sekarang, sejak tanggal 12 Januari 2015, THE PANASDALAM berumah di Jalan Ambon nomor 8 A Bandung atau di hook pertigaan antara jalan Ambon dan Jalan Flores. Di sana ada Galeri The Panasdalam, untuk siapa pun yang mau pameran dan gratis. Di sana ada Panggung The Panasdalam, untuk siapa pun yang ingin tampil dan gratis. Kalau setiap Rabu sore ada acara "INSTUDENTIL", yaitu acara ngejam musik anak-anak sekolah yang ada di Bandung.
Di sana juga,  suka ada acara PENGADILAN MUSIK. Dengan Jaksa penutup Umum tetap: Pidi Baiq dan Budi Dalton. Hakimnya juga tetap, yaitu Man Jasad. Terdakwanya adalah siapa saja yang dipilih oleh kami, bisa penyanyi atau group band. Beberapa di antara yang pernah diadili adalah MUSIKIMIAnya Fadly PADI, SPEAKERFIRST, Ikhsan Skuter dll. Si terdakwa diperbolehkan membawa pembela yang dipilih sendiri oleh terdakwa, bisa seorang, dua atau lebih
Poster PENGADILAN MUSIK
Ada juga acara PENGADILAN BUKU, beberapa penulis yang pernah diadili adalah Sujiwo Tedjo dan Risa Saraswati. PENGADILAN MUSIK atau PENGADILAN BUKU diselenggarakan lebih berdasar pada oleh karena kami iri.
Foto-foto kegiatan pertunjukan di Panggung dan pameran di Galeri The Panasdalam:




Rumah The Panasdalam waktu sedang dibangun
Di sana juga ada cafe, namanya Kantin Nasi On The Panasdalam, tempat tamu bisa nongkrong sambil makan, sambil minum, nraktir atau ditraktir.
 Cafe di Rumah The Panasdalam yang rame selalu setiap hari

 Kunjungan kawan-kawan Crossboy Bandung 1970 ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan Mbak Sophi ke Rumah The Panasdalam


 Kunjungan TIM JKT48 dan Melodi JKT48 ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan kawan Komeng ke Rumah The Panasdalam

Kunjungan kawan-kawan COKELAT ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan Sultan Cirebon ke Rumah The Panasdalam
Tiap tahun sekali, The Panasdalam menyelenggarakan acara KEMAH MUSIM KEMARAU, yang diikuti oleh siapapun yang mau ikutan, asal bukan bayi, atau orangtua yang sudah uzur.
   
Logo dan poster KEMAH MUSIM KEMARAU babak II tahun 2015

Tahun 2015, The Panasdalam resmi membuat unit The Panasdalamovie, bekerjasama dengan Maxima Pictures untuk menggarap beberapa judul film. Film pertama yang sudah selesai syuting dan masih dalam proses editing, adalah BARACAS (Barisan Anti Cinta Asmara), dibintangi oleh Agus Ringgo, Tika Bravani, Stela JKT48, Ajun, Budi Doremi, Gian dll.  
Pidi Baiq menjadi sutradara film BARACAS

 Kegiatan syuting film BARACAS

 Kegiatan syuting BARACAS, setelah makan siang

Logo Thepanasdalamovie

Demikian, mudah-mudahan kamu semua masih belum mengerti. Salam sayang dan untuk selama-lamanya!

Dari @the_panasdalam