Minggu, 15 Februari 2015

Bersama Akademi Berbagi

Bersama Akademi Berbagi, mengunjungi kawan-kawan Bantar Gebang. Karena mereka adalah juga kita. Satu. Jika kita tidak berbagi bersama dengan mereka, maka kita inilah sampah”

Kemudian bikin lagu. Itu, bagiku, sangat menyenangkan
"Bagaimana kalau kita bikin lagu?"
"Mauuuuu!!!!"
"Lagu buat kamu! Buat kamu!"
"Mauuuuu!!!!"

"Kami Anak Bantar Gebang" 
Kami anak-anak Bantar Gebang
Satu selalu, kasih sayang
Bisa senang, bisa menang
Bisa renang, bisa sayang
Bisa terbang, bisa kayang
Selamanya


Asiiik, di bawah ini ada videonya, 
direkam diam-diam oleh Tita Larasati. 
video

Senin, 17 November 2014

MANUSKRIP AMSTERDAM



MANUSKRIP AMSTERDAM


1
Itu adalah sebuah Coffee Shop bernama “De Dampkring”, di mana sejumlah kecil ganja dijual. Terletak di sudut jalan Haarlemmerstraat, Amsterdam, tidak jauh dari Central Station,

Setelah bersepeda sendirian, Basile duduk di sana, di ruangan yang didominasi oleh cahaya warna merah dengan kualitas tingkat rendah.

Suasana saat itu cukup tenang bersama alunan musik dengan volumenya yang tepat.

Langit abu-abu dan rendah tetapi belum hujan. Cuaca memang sedang benar-benar buruk, bahkan di seluruh Eropa.

Itu bulan Mei 2001 dan itu dingin!

2
Pada waktu cerita ini dibuat, Basile sedang merampungkan gelar master Filsafat di Universitas Amsterdam, dan magang di majalah Het Parool untuk Jurnalisme Budaya.

Basile mengenal dirinya sebagai seorang Indonesia yang pergi ke Amsterdam sejak setahun yang lalu. “Ah, sudahlah. Bukan siapa aku, tetapi apa yang aku lakukan”

Basile adalah yang berfikir tentang manusia, yang tinggal di tempat berbeda di seluruh dunia, untuk mencari kehidupan lebih baik. Dan merenungkan tempat lain yang lebih memungkinkan untuk meraih masa depannya.

Hari itu, Amsterdam bukan hari yang baik untuk pergi, tapi Basile pergi untuk bertemu dengan Sarah. Seorang gadis dari kota Israel yang sudah ada di Amsterdam pada waktu yang sama dengan Basile, juga kuliah di kampus yang sama dengan Basile, tetapi berbeda jurusan.

Kemarin, di kampus, mereka hanya punya waktu sepuluh menit untuk bertemu.
"Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi?", Tanya Basile
"Bisa bertemu di “De Dampkring”, jawab Sarah, sambil berkemas untuk pergi.
“De Dampkring?” Tanya Basile, berusaha yakin dia tahu tempat itu. “Oh. Oke”
"Besok, pukul 22:00", kata Sarah
"Tapi aku tidak punya nomor teleponmu" kata Basile.
"Aku curiga kamu sudah mendapatkannya dari Isaac”
“Ha ha ha belum”
“Dan mencatatnya dalam buku yaa. Diam-diam"
“Ha ha ha. Aku serius. Aku belum punya"
"Oke sampai jumpa di De Dampkring"
"Ah! Ya sudah"
"Bye! Syalom Alaihim! (Alechem)"
"Bye!"

3.
Hari itu, mereka benar-benar bertemu. Percakapan membaur di udara, di atas makanan.

Mereka diskusi, sebagai satu dialektika tentang perbedaan yang tidak dilarang oleh perasaan dan kebijaksanaan.

Itu menyenangkan bahwa mereka terlihat santai dan tidak memiliki sepenuhnya naluri kesukuan. Bertindak tidak seperti orang lain yang memiliki pemikiran sempit.
“Aku sudah terlatih sejak bayi untuk menjadi Yahudi”, kata Sarah ketawa. Lalu ia hirup lagi kopinya.
“Dan berkembang menjadi cantik untuk duduk denganku sekarang”, kata Basile
“Kau yakin gak salah lihat?”. Sarah tersenyum.
"Aku senang bersamamu dan itu yang penting."
"Ha ha ha"
"Hari ini, Aku hanya ingin tinggal jauh dari orang-orang"
"Kenapa?", tanya Sarah
"Aku sedang tidak ingin membaca atau berpikir. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bertemu denganmu"

Sarah tersenyum bersama hujan yang turun secara dramatis hari itu. Awan gelap berguling di atas kanal, meninggalkan segala sesuatu yang diwarnai oleh kegelapan.



BERSAMBUNG YA :)





Senin, 27 Oktober 2014

DILAN, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991



01. AKU

1
Aku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan. Lahir di Jakarta, tanggal 10 Oktober 1972. Sekarang tinggal di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Di sebuah rumah dengan luas tanah 124 meter persegi, luas bangunan 185 meter persegi. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi dan tidak dijual.

Malam ini, Minggu, tanggal 25 Januari 2015, pukul 22:19. Aku sedang sendiri di kamar, setelah tadi baru selesai shalat Isya, dan terus makan rambutan yang kubeli sepulang dari stasiun kereta api, untuk mengantar suamiku yang pergi ke Cirebon karena mendapat tugas dari kantornya.

Anakku sudah tidur di kamarnya yang nyaman, dari semenjak pukul 21:00 tadi. Sekarang aku sedang berusaha menyesuaikan diriku dengan cuaca Jakarta, dengan kopi susu dan sebuah buku yang kuambil dari dalam laci mejaku, yaitu buku yang aku tulis sendiri dan sudah beredar di semua toko buku. Judulnya: “Dilan, Dia Adalah Dilanku, Tahun 1990”. 


Buku itu bercerita tentang kenangan yang pernah aku alami dengan orang bernama Dilan. Dia warga Bandung, berjenis kelamin laki-laki yang kemudian resmi menjadi pacarku sejak tanggal 22 Desember 1990. 

Aku mulai mengenalnya pada awal musim hujan, yaitu di bulan September tahun 1990 di sekolahku yang baru, karena aku pindah bersama keluargaku dari Jakarta ke Bandung, yaitu Bandung yang dulu, yang masih sejuk dan suka ada kabutnya kalau pagi. Bukan Bandung yang ada sekarang ini.

Aku suka Dilan bukan karena Dilan anggota geng motor. Sama sekali bukan. Dan percayalah, menyangkut soal itu, dulu aku pernah berharap punya mantra yang bisa membuat Dilan berhenti menjadi gengmotor, tapi nyatanya gak pernah ada!

Aku juga sudah berusaha untuk bicara dengan Dilan, siapa tahu bisa ngasih pengaruh sehingga Dilan tidak lagi ikut-ikutan geng motor, tetapi Dilan malah berkata: 
”Lia, senakal-nakalnya anak gengmotor, mereka juga sholat pada waktu ujian praktek Agama”, katanya.

Mendengar itu langsung kuacak-acak rambutnya, karena aku kesal!
“Aku juga rajin sholat Idul Fitri”, katanya
“Iya. Setahun sekali!!!”
“Ha ha ha”

Aku suka Dilan bukan juga oleh karena dia anak yang bandel, bukan juga oleh karena dia suka berantem. Aku juga tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tak baik, yang tidak bagus dicontoh oleh seluruh anak-anak di dunia, walau masih bisa dianggap hal lumrah sebagai hal biasa pada anak usia remaja, tetapi bagiku, itu adalah hal buruk yang tidak aku sukai dari Dilan. Bukan apa-apa, aku takut dia akan mendapat hal buruk dari oleh karena itu.

Aku suka Dilan lebih karena sikapnya kepadaku selama ini. Apa yang ia lakukan kepadaku selalu adalah hal lain daripada yang lain. Hal berbeda yang sulit kuduga untuk selalu membuat aku merasa surprise dan merasa menjadi seseorang yang begitu istimewa, merasa menjadi wanita yang begitu dihargai. 

Setiap kali aku di sampingnya hatiku selalu senang, terutama ketika aku sedang bercakap-cakap dengannya. Aku selalu tersenyum setiap kali aku dengannya. Dia selalu bisa membuat aku sangat bahagia. Dia selalu melengkapi hari-hariku. Selalu akan membuat aku terjebak pada suatu keadaan yang lebih dari cuma sekedar rasa senang. 

Aku suka cara dia peduli kepadaku. Aku suka bagaimana dia bisa membuat aku merasa aman di dunia yang katanya penuh bahaya ini. Begitu banyak hal yang aku sukai tentang dia, sampai sulit kalau harus dikatakan semuanya. Memang, di antaranya ada juga yang membuat aku jengkel, tetapi tetap saja itu akan selalu bisa membuat aku tersenyum.

Ya. Cinta mungkin aneh, tapi dengan orang seperti dia di dunia, kerasa menjadi lebih asik, kerasa lebih seru dan menyenangkan! Jika kau anggap aku berlebihan di dalamnya menilainya, aku bisa maklum, itu karena kamu tidak pernah mendapat apa yang kurasakan selama hidupmu.

Sebenarnya aku tidak mau lagi berpikir mengapa kemudian aku memiliki rasa suka kepadanya. Lebih mudah kukatakan bahwa aku tidak tahu mengapa kemudian aku jatuh cinta kepadanya. Pokoknya Dilan sudah menyalakan api dan sihir di dalam diriku untuk percaya pada adanya cinta sejati. 

Bagiku, itu adalah skenario yang paling menakjubkan dalam hidupku. Bagaimana kemudian dia bisa mengubah pikiranku. Bagaimana kemudian dia bisa mendekor ulang dan mengubah warna hidupku. 

Kalau dulu aku berkata bahwa aku mencintai dirinya, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak hanya sampai di hari ini, melainkan untuk selama-lamanya. Karena, sekarang aku mungkin bukan aku yang dulu, waktu membawa aku pergi, tetapi Perasaan tetap sama, bersifat menjalar, hingga ke depan

2

Kembali ke buku “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990”. Di buku itu, aku hanya bisa menyelesaikan ceritanya sampai aku resmi berpacaran dengan Dilan.  Kamu boleh bilang ceritanya menggantung, tapi aku merasa perlu untuk membaginya ke dalam beberapa periode di dalam rangka membagi rangkaian peristiwa itu berdasarkan pada masing-masing kejadian. 

Nah, di buku yang pertama itu adalah merupakan periode awal yang menceritakan saat-saat di mana Dilan mulai melakukan pendekatan sampai akhirnya resmi berpacaran denganku! Sekarang, malam ini, mau aku terusin lagi ceritanya, untuk kujadikan sebagai buku kedua, yang aku beri judul: “Dilan, Dia Adalah Dilanku, Tahun 1991”. Judulnya hampir sama, tetapi cuma beda tahunnya saja. Ini adalah periode berikutnya yang akan menceritakan saat-saat aku sudah mulai berpacaran dengan Dilan! 

3

Terimakasih aku sampaikan untuk Piyan, untuk Akew, untuk Wati dan beberapa kawan SMA-ku yang lain, yang berusaha menghubungiku setelah membaca buku itu, dengan harapan bisa membantu aku mengingat lagi apa yang dulu pernah terjadi. 

Cukup bermanfaat, bagaimana akhirnya aku bisa mendapat referensi agar bisa membuat cerita sambungannya menjadi lebih lengkap. Apalagi, jika harus jujur, sebenarnya aku sering mendapat kesulitan karena mengalami kesusahan ketika harus mengkaji kembali kejadian yang sudah lama berlalu secara rinci. 

Begitulah, meskipun aku tidak ahli di dalam menulis, tetapi aku akan berusaha untuk bisa, berusaha juga untuk menceritakan semuanya dengan jujur, dan dengan keadaan diriku yang kini sudah menjadi sarang rindu, berisi oleh banyak hal yang pernah kulalui di masa itu. Dan dengan keadaan diriku yang masih merasakan segala macam emosi yang berkaitan dengan itu.

Di dalam ceritaku nanti, ada beberapa nama yang terpaksa harus kuganti dengan nama yang lain. Hal itu kulakukan demi untuk menjaga kerahasiaan identitas dari orang yang bersangkutan. Bahkan di bukuku yang pertama, aku tidak pernah menyebut nama tempat di mana aku sekolah dan tidak pernah menyebut nama geng motor Dilan secara jelas. Salah satu alasannya adalah aku tidak ingin merembet menjadi suatu persoalan karena dianggap sudah merusak kredibilitas atau membuat mereka bangga diri karena memujinya.   

Tidak bisa dihindari, bahwa di dalamnya, aku juga membuat banyak opini terhadap sesuatu, atau terhadap seseorang, tetapi kita semua memiliki pendapat yang berbeda terhadap hal-hal itu. Memang, kita tidak akan selalu bisa setuju antara satu sama lainnya, dan aku menyebutnya hal itu sebagai sesuatu yang lumrah. Hanya saja untunglah kita masih diberi kesadaran untuk saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain. 

Oke, sebelum malam jadi larut, sebelum aku nanti ngantuk, atas nama masa lalu mari aku lanjutkan ceritanya:



02. HARI JADI

1
Waktu itu, tanggal 22 Desember 1990, sekitar pukul 3 sore, aku dan Dilan berdua naik motor menyusuri jalan Buah Batu untuk mengantar aku pulang. 

Rasanya, jalan yang dulu masih sepi itu, jalan yang dulu belum banyak kendaraan itu, bukan lagi milik Pemkot, melainkan milik aku dan Dilan. Sebagai keindahan yang nyata bahwa Dinas Bina Marga telah sengaja membuat jalan itu memang khusus untuk kami. Khusus untuk merayakan hari resmi mulai berpacaran di hari itu.




Perasaanku, terasa lebih deras dari hujan, dan melambung lebih ringan dibanding udara. Di hatiku adalah dia, dengan perasaan hangat yang kupunya. Di kepalaku adalah dia, dengan semua sensasiku dan alam imajinasiku yang melayang. 

Kupeluk Dilan bagai tak boleh ada yang ngambil selain diriku. Kupeluk Dilan, sambil mengenang lagi saat pertama kali aku mulai mengenalnya dan aku tersenyum bahwa panglima tempur itu adalah yang kini jadi milikku, yaitu orang yang bisa kuacak-acak rambutnya kalau aku sedang kesal kepadanya. Yaitu orang yang pernah aku datangi ketika dia sedang ngumpul bersama teman-temannya di warung Bi Eem untuk aku suruh mengerjakan tugas-tugas PR-ku: 
“Kerjain ya?! Ya ya ya?!” kataku sambil senyum menatap wajahnya dan menyerahkan dua buku yang ada tugas PR-nya. “Aku mau main ke Palaguna sama-teman-teman. Dadaaah!”

Dan dia cuma tersenyum, ketika aku pergi bersama Revi, Ratih dan Wati. Kukira itu juga adalah hal manis yang pernah kualami dengan Dilan sebagai kenangan yang membuat malam ini aku tersenyum. 

Tugas-tugas PR-ku itu memang Dilan kerjakan, tapi dengan dia tambahi puisi di halaman belakang bukunya:

KALAU
Kalau limun menyegarkan, kamu lebih.
Kalau coklat diisi kacang mete katanya enak, kamu lebih.
Atau ada roti diisi ikan tuna berbumbu daun kemangi, kamu lebih.
Kamu itu lebih sehat dari buah-buahan. Tahu gak?
Lebih berwarna dari pelangi.
Lebih segar dari pagi.
Jadi kamu harus mengerti ya,
aku menyukaimu sampai tujuh ratus turunan ditambah 500 lagi.
-DILAN

Atau ini

Kalau aku jadi Presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya,
Aduh, maaf, aku tidak bisa karena aku cuma suka kamu”
-DILAN-

Atau ini:

“Aku ingin sekolah yang memberitahu lebih banyak tentangmu 
melalui pendekatan Fisika dan Biologi”

Aku nebak, puisi itu pasti ada hubungannya dengan aku sebagai anak Biologi dan Dilan anak Fisika

02

22 Desember 1990 adalah harinya, hari yang menyenangkan bagiku. 

Di bawah guyuran hujan, kami tertawa terbahak-bahak dan telibat ke dalam berbagai perbincangan. Seolah-olah semuanya berakhir dengan baik setelah semua peristiwa yang aku alami. 

Kira-kira setelah melewati perempatan jalan BKR, itu sekitar daerah SMK Bina Warga, Dilan bertanya apa cita-citaku. Kujawab saja seenaknya, bahwa aku ingin jadi Pilot, meskipun tentu saja aslinya enggak. 
“Kalau kamu?” kutanya balik. 
Aku juga ingin tahu apa cita-citanya.
“Aku?”
“Iya...”, kataku
“Aku ingin menikah denganmu!”, katanya, menjawab dengan cepat. 

“Ha ha ha ha!!!”

Aku ketawa, setelah terperangah sebelumnya. 

Gampang sekali rasanya ketika dia harus mengatakan hal itu. Asli, terdengar menjadi begitu sederhana. 

Bagiku, Dilan adalah salah satu dari sedikit orang di dunia ini yang mengatakan pada apa pun yang dia inginkan, tanpa ragu-ragu.
“Kau mau?”, Dilan nanya.
“Mauuuuuuuuuuuuuu!!!!”.

Suaraku mampu menembus deru hujan.
“Ha ha ha ha!!”. 
Dilan ketawa. 

Itu adalah hari yang cukup indah. Rasanya aku seperti orang yang siap untuk membiarkan dirinya membawa aku pergi, ke tempat terjauh manapun di dunia. 

Tapi yang ia lakukan malah membawa aku pulang, karena motornya dibelokin ke arah jalan Mutiara, untuk menuju rumahku yang ada di jalan Banteng, yaitu jalan Banteng yang dulu masih nyaman dan cukup menyenangkan. Rasanya teduh, karena dirimbuni oleh aneka dedaunan dari pohon-pohon besar yang banyak tumbuh di kanan kiri jalan itu. Trotoar masih oke, belum dipenuhi pedagang kaki lima.   

Aku gak punya pilihan, meski masih ingin bersamanya.
“Nanti kau sakit” katanya, “Pulang aja”
“Iya”, kataku, “Kamu juga”. 
Suaraku pelan, tapi Dilan pasti bisa mendengar, karena pipi kananku merebah di punggungnya. 

Kukira itu adalah hal paling romantis yang pernah aku berikan ke Dilan, dengan tujuan agar aku juga bisa merasakan hal yang sama he he he!

“Liaaa! Liaaaa! Mau Mileaaa??”
Mendengar Dilan meneriakkan namaku, langsung kuangkat kepalaku dari punggungnya.
“Apa?”, tanyaku bingung.
“Pak, mau Milea?”, tanya Dilan, dengan suara sedikit agak keras, kepada orang yang sedang berteduh di emper toko. Orang itu hanya melongo karena tidak menyadari apa yang dimaksud oleh Dilan.
“Heh?!” Seruku. 
Dan yang bisa kulakukan adalah mengacak-acak rambutnya.
“Ha ha ha ha!!!”. 
Dia ketawa.
“Ditawar-tawarin!”, kataku, “ Emangnya aku kue!!??”
“Ha ha ha”
“Gimana kalau dia mau?”, kutanya
“Ga apa-apa,” jawabnya. “Kan aku tau, kamunya gak akan mau”
“Aku maunya ke siapa?”, kutanya Dilan. Aku selalu bisa membuat pertanyaan untuk mendorong Dilan bicara karena aku senang mendengarnya.   
“Ke siapa ya?”, Dilan malah balik nanya
“Ke siapa?”, kutanya lagi sambil senyum dengan nada sedikit mendesak. “Jawab!” kataku sambil menodongkan telunjukku yang kubentuk seperti pistol ke perutnya
“Aku sebutin satu-satu ya?”, Tanya dia, 
Aku diam
“Ke Nandan bukan?”, Tanya Dilan
“Enggaaaaaakkk!”, jawabku langsung dengan sedikit teriak
“Ke Beni?”, Tanya Dilan dengan nada suara meledek
“Enggak”, jawabku menggerutu sambil kuacak-acak rambutnya. Dilan memang sudah tahu Beni, karena aku pernah cerita. 
“Ke Anhar?”
“Gak!!!!”, jawabku tegas dan langsung
“Ke aku?”
“He he he”, aku ketawa sedikit dan kemudian kujawab: “Iya” dengan suara pelan di telinganya
“Kalau akunya gak mau?”, Tanya Dilan
“Heh!? Kamu yang duluan mau!!!”, kataku dengan suara nyaris teriak sambil pelan kupukul bahunya.
“Ha ha ha”
“Sok pake ramal-ramal segala”, kataku
“Ha ha ha”
“Sok pake ngaku-ngaku utusan kantin segala”
“Ha ha ha. Kamu suka?”
“Iya”
Aku tersenyum dan kupererat pelukanku. 

 3

Ketika sudah sampai di depan rumahku, aku turun dari motornya.
“Cium jangan?”, tanya Dilan tiba-tiba.
Serius, kata-kata itu membuat aku langsung kaget.  
“Heh?”

Mukaku pasti merah, berdiri dan senyum di samping Dilan yang masih bertengger di motornya dan  memandangku.

“Heh apa?”, tanya Dilan 

Betul-betul aku jadi salah tingkah, tidak tahu harus gimana. Sebentar kutoleh ke arah rumahku dan lalu kupandang lagi Dilan dengan senyum malu-malu.

Sebenarnya bisa saja kulakukan, tapi aku tidak akan pernah benar-benar nyaman kalau kulakukan hal itu di tepi jalan depan rumahku!
“Nanti, nanti” kataku berusaha membuatnya merasa nyaman dengan gagasannya yang tiba-tiba itu. “Nanti ya ha ha ha”.

Dilan cuma senyum. 
“Apa yang nanti?” tanya Dilan sok serius.

Dengan hati yang masih berdegup, kusentuhkan jari telunjukku ke bibirnya yang tersenyum. Dilan ketawa. 

Kukira dia mengerti, aku sedang memberi isyarat bahwa yang aku maksud dengan “nanti” adalah soal ciuman. 

“Atau…gini aja”, kata Dilan sambil mengangkat tangan kirinya. 
Jari-jarinya dibuat memoncong, membentuk seperti ular yang siap mematuk. 
“Ikuti ya”, katanya

Kulakukan hal yang sama. Kemudian dia menyentuhkan ujung moncong tangannya itu ke ujung moncong tangan kananku untuk membuat gerakan seperti sedang melakukan ciuman.

Aku ketawa dan dia juga. 

Kukira itu adalah ciuman pertamaku dengan Dilan yang dilakukan secara simbolis! Ha ha ha!

Ah, Dilan! Kau masih ingat itu?

4

Di rumah, kudapati Ibu sedang nelepon, Airin sedang main game Nintendo, si Bibi sedang nyetrika. 
“Kamu gak les?”, tanyaku ke Airin
“Nanti jam empat”, jawab Airin
“Basah-basahan gitu!”, kata Ibu, setelah dia selesai nelepon.
“Iya, tadi naik motor sama Dilan”
“Udah. Sana mandi”, kata Ibu sambil jalan ke kamarnya.
“Siap, Ibuku” 

Tadinya aku mau bilang ke Ibu bahwa hari itu aku sudah resmi berpacaran dengan Dilan, tapi gak jadi, entah mengapa aku merasa lebih baik jangan dulu, meskipun mudah saja bagiku untuk ngomong. Kupikir gak perlu buru-buru juga. Akan ada waktunya yang tepat kapan aku harus bilang soal itu. 

Dengan hati yang tetap dipenuhi rasa rindu ke Dilan, kuambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk lalu berendam di air hangat. Nyanyi-nyanyi bahagia sambil senyum. Kamu pasti mengerti mengapa aku begitu. 

Iya, karena aku senang, hari itu sudah resmi menjadi pacar Dilan. 
Kukira aku dan Dilan sangat semangat untuk itu, dan untuk apa-apa yang akan datang!

***


03 CERITA DILAN

1

Sorenya, kira-kira pukul lima, Wati nelepon menggunakan telepon umum, katanya dia lagi berdua dengan Piyan di warung mie kocok Mang Dadeng. 
“Oh? Deket dong?,” kataku, karena tempat itu memang tidak jauh dari rumahku. Di seberang jalan hotel Horison. 
“Sini mampir ke rumah, Wat”, kuajak dia
“Iya. Nanti bilang dulu ke Piyan”
“Ditunggu ya”
“Iya,” katanya. “Dilan gimana?”, tanya Wati”
“Udah, nanti aja ngobrolnya, di rumah”
“Siap”

Gak lama dari itu, Wati dan Piyan datang dengan menggunakan sepeda motor Honda Super Cup. 
“Sepi,” kata Wati, “Pada kemana?”
“Ibu lagi nganter Airin, les bahasa Inggris”, kujawab 

Kalau tidak salah waktu itu Airin baru seminggu les bahasa Inggris di Harvard English Course, jalan Buah Batu. Tempatnya tidak jauh dari rumahku.

Kemudian kami ngobrol, termasuk membahas soal kemungkinan Dilan akan dipecat karena hal itu terjadi pada masa di mana Dilan masih dalam status hukuman percobaan. Aku langsung merasa risau. 
“Udahlah, kita lihat aja nanti”, kata Piyan berusaha membuat aku tenang, “Mudah-mudahan gak dipecat”
“Aamiin”, kataku

2

“Dilan itu..,” kata Piyan, “Sebetulnya anak baik”
“Aku tau”, kataku

Terus, Piyan cerita, bahwa dia sudah berkawan dengan Dilan dari semenjak masih kecil. (Sebetulnya Piyan juga dulu pernah cerita sih). Katanya, Dari SD, SMP, sampai SMA, Dilan dan Piyan sekolah di tempat yang sama. Wati juga cerita, terutama tentang keluarga besar Dilan.  Membuat aku jadi rindu ke Bunda, membuat aku jadi rindu ke Disa. 

Serius, hari itu aku merasa terhibur oleh cerita-cerita mereka tentang Dilan. Sejenak bisa membantu melupakan rasa risauku karena memikirkan nasib Dilan yang mungkin akan dipecat oleh pihak sekolah.  

Aku merasa sangat beruntung memiliki teman yang berada bersamaku di saat aku betul-betul membutuhkan. Sesuatu yang baik untuk merasa terhibur dan merasa tidak pernah kehilangan harapan!  
“Dulu,” Piyan mengenang. “Waktu kelas satu. Wali kelas kami, Bu Dewi, pernah bilang di depan kelas, katanya Dilan itu biang kerok”
“Kenapa gitu?”, tanya Wati.
“Waktu kelas satu, Piyan sekelas juga?”, kutanya
“Iya”
“Kenapa dibilang biang kerok?”, kutanya
“Kasus apa ya waktu itu?”, Piyan bagai mikir, berusaha mengingat kejadiannya. “Oh, itu…berantem di kelas sama si Yopi”
“Yopi, anak Pak Ade?”, Tanya Wati. Entah siapa Pak Ade yang dimaksud oleh Wati
“Iya”
“Gara-gara apa berantem?”, kutanya
“Gak tau tuh. Si Yopinya nantang. Katanya jangan ngejago”
“Emang Dilan ngejago?”, kutanya
“Mungkin Yopi belum tau, kan baru pada kelas satu. Belum pada kenal”
“Oh”
“Dibilang biang kerok, apa kata Dilan?”, tanya Wati
“Ya gitu aja. Gak bilang apa-apa”, jawab Piyan, “Tau gak, habis itu, pas pelajaran Ibu Dewi lagi, Dilan bawa obat nyamuk”
“Buat apa?”, tanya Wati
“Obat nyamuknya dia nyalain, yang tau cuma Piyan sama si Bambang. Terus obat nyamuknya disimpen di bawah mejanya” 
“Banyak nyamuk?” Tanya Wati
“Bukan. Di atas obat nyamuknya disimpen petasan. Kan apinya ngerembet tuh, jadi pas kena petasan langsung meledak”
 “Ha ha ha ha”. Wati ketawa. “Ngapaiiiin!!?”
“Sekelas gempar tau gak?”, kata Piyan
“Bom bunuh diri”, kata Wati dengan masih ketawa
“Terus?”, kutanya
“Iya. Terus Dilan kayak yang lemes gitu. Dia bilang ke Bu Dewi, katanya bukan cuma dia yang biang kerok di kelas. Dia juga jadi korban”
“Ha ha ha ha ha”
Aku ketawa, Wati juga, Piyan juga.
“Terus Bu Dewi marah”, lanjut Piyan
“Apa katanya?”, kutanya sambil senyum.
“Keterlaluan, katanya!”, jawab Piyan. “Pelakunya harus ngaku!!! Perbuatan siapa itu?”
“Terus Dilannya gimana?”, kutanya sambil senyum
“Si Dilannya duduk lemes gitu, kayak yang beneran korban teraniaya ha ha ha”
“Ha ha ha”
“Pasti pelakunya lebih biang kerok lagi!’, kata Wati
Aku, Wati dan Piyan ketawa. Si Bibi datang bawa minuman.
“Penjahat aja jadi korban, pasti pelakunya lebih jahat lagi”, kata Piyan
“Ha ha ha ha” 
“Pas pulangnya, Dilan ketawa-ketawa. Dia bilang ke Piyan, jangankan manusia, Jin aja aku fitnah katanya. Ha ha ha”
“Fitnah gimana?”
“Iya, katanya, dulu, waktu SMP, pas bulan puasa, kan suka pada tidur di Mesjid tuh. Nah, jam 3 malam, si Dilan diam-diam tidurnya pindah ke dalam bedug”
“Pindah sendiri?”, aku senyum
“Iya. Pindah sendiri, “ jawab Piyan. 

Aku senyum

“Pas subuh, pas bedugnya ada yang mukul, si Dilan langsung teriak. Semua orang yang ada di mesjid jadi pada kaget lah! Yang mukul bedug juga kaget ha ha ha”
“Ha ha ha. Terus apa kata orang-orang?”,Tanya Wati
“Iya, pada nyangka si Dilan dipindahin sama jin”
“Ha ha ha ha kayak film si Kabayan!”, kata Wati
“Jin aja sama dia mah difitnah kan?”, kata Piyan. “Pasti jinnya pada ngomong: Bohong, bukan aku ha ha ha”
“Ha ha ha”

Beneran, aku seneng sore itu. Aku seneng karena mereka cerita tentang Dilan. Aku langsung rindu Dilan. Aku ingin Piyan dan Wati terus cerita tentang Dilan. Sampai kiamat kalau perlu.

“Sebenernya Dilan itu rame”, kata Piyan
“Iya. Sayangnya suka berantem”, sambung Wati, “Gara-gara ikut gengmotor sih”
“Kan yang bukan gengmotor juga ada yang berantem”, jawab Piyan. 
Perhatikan bagaimana Piyan selalu berusaha membela Dilan. 
“Iya, tapi jadi banyak musuh, tau?!”, kata Wati.
“Iya itu!”, kataku. “Aku juga jadi cemas. Tapi Dilan berantem sama Anhar emang salahku sih”

Lalu aku cerita, bagaimana sampai Dilan berantem sama Anhar. Kubilang, itu diawali oleh karena aku panik. Aku panik karena sudah merasa berbohong ke Dilan, gara-gara pergi dengan Kang Adi, padahal sebelumnya aku sudah bilang ke Dilan bahwa aku akan nolak ajakan Kang Adi main ke ITB. 
“Kang Adi, pembimbing kamu itu?” tanya Piyan.

Aku memang pernah cerita ke Piyan soal Kang Adi.

“Iya”, kujawab. “Kang Adi”
“Tau dari mana Dilan?”, Tanya Wati
“Dilan nelepon, yang nerima si Bibi”, kujawab. “Aku lupa, gak kongkalikong dulu sama si Bibi ha ha ha”

Mereka harus tahu bahwa aku tidak benar-benar bermaksud mau bohong ke Dilan, jadi aku juga cerita tentang alasan mengapa akhirnya aku pergi dengan Kang Adi ke ITB. 
“Ooh. Si Bibinya bilang ke Dilan, kamu pergi sama Kang Adi?”, Tanya Wati senyum
“Iya ha ha ha”, kujawab
“Ha ha ha”

Nah. Aku panik. Aku takut Dilan marah. Tadi pagi kucari Dilan, sampai ke warung Bi Eem. Tapi di sana cuma ada si Anhar sama si Susi.

“Ada Piyan juga kan?” Tanyaku
“Iya”, kata Piyan, “Oh tadi tuh gitu?”
“Iya. Terus, ya itu..aku berantem sama Anhar. Habisnya aku kesel ke dia”
“Terus , soal kamu bohong, kata Dilan apa?”, Tanya Wati
“Katanya, kalau kamu bohong, itu hak kamu, asal jangan aku yang bohong ke kamu”
Wati dan Piyan tersenyum.
“Katanya, apalagi ya?”, kataku sambil mikir untuk mengingat lagi apa yang sudah dikatakan oleh Dilan. “Oh. Katanya kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa”
“Edan!”, kata Wati sambil senyum
“Iya, dia bilang gitu”, kataku tersenyum
Wati memandangku.
“Kamu emang udah jadian sama Dilan?”, tanya Wati.
Kujawab dengan anggukan. 
“Iya, aku udah jadian sama Dilan”, kujawab untuk memberinya penegasan.
“Kapan?”, Wati nanya
“Tadi siang,” kujawab, “Pas habis dari ruang guru itu. Jadiannya di warung Bi Eem”

Lalu kujelaskan semuanya, soal kisah aku jadian sama Dilan.
“Waah! ”, kata Piyan
“Ha ha ha, iya pake materai segala”, kataku
“Kayak perusaahan”, timpal Wati
“Berarti resminya baru tadi siang ya?”, Tanya Piyan
“Iya he he he”
“Selamat ya”, kata Wati
“Makasih”, kujawab. “Kamu dulu jadian sama Piyan, gimana?”, kutanya Wati
“Emang kita pacaran?”, Tanya Wati ke Piyan
“Ngaku ajaaa”, kataku, tersenyum, “Udah tau kok”
“He he he”. Wati ketawa
“Kita sih dijodohin sama Dilan ha ha ha”, jawab Piyan langsung
“Iya. Sebenernya aku mah, mau juga kepaksa ha ha ha”, kata Wati
“Tapi suka kan?”, kutanya
“Ya suka sih ha ha ha”, jawab Wati.

Kami ketawa.

“Pas udah jadian, Dilan bilang ke Piyan: Kamu jaga Wati ya” kata Piyan. “Soalnya kalau aku yang jagain, dia mah suka minta uang, katanya ha ha ha”
“Ha ha ha”. Wati ketawa, aku juga, Piyan juga
“Oh iya. Pas kamu habis ditampar si Anhar itu”, kata Piyan. “Piyan kan ke warung Bi Eem lagi. Di sana udah ada Dilan. Kayaknya Dilan tau dari Bi Eem kalau Anhar nampar kamu”
“Iya kayaknya”, kataku
“Sebelum berantem Dilan bilang mau nyari si Anhar. Katanya si Anhar harus tau siapa pacar Lia. Gitu”, kata Piyan

Pas Piyan ngomong gitu, aku nyaris terperangah. 

Jadi, sebetulnya, waktu itu, Dilan sudah menganggap diriku sebagai pacarnya. 
“Kenapa enggak dicegah?” kata Wati
“Udah!”, jawab Piyan “Dia bilang, siapa yang mengganggunya harus hilang”
“He he he”, aku ketawa

Tiba-tiba telepon rumah berdering, Si Bibi yang ngangkat, terus dengan berbisik dia bilang, katanya itu telepon dari Dilan. 

Aaaaah senangnya! 

“Dilan nelepon”, kataku dengan girang, pada Wati dan Piyan, lalu bergerak untuk nerima telepon dari Dilan.
“Hey”, kusapa Dilan dengan semangat
“Hey!”
“Di mana?”, kutanya
“Di mana ya ini?”
“Di bumi”, kataku tersenyum
“Kok tau?”
“Aku harus tau kamu di mana”
“He he he. Tetanggamu udah makan belum?”, tanya Dilan
“Ih! Kok tetangga? Bukan aku yang ditanyain?”
“Iya. Tetanggamu aja aku pikirin”
“Ha ha ha ha”
“Kalau tetanggamu lapar, takut nanti kau dimakan”
“Kalau aku dimakan?”, kutanya
“Habis deh”
“Kalau habis?”
“Bikin lagi”
“Bikin, bikin! Emang kamu bisa bikin aku?”
“Si Ibu yang bikin!”, jawab Dilan. Maksudnya ibuku. “Bilang deh ke si ibu, bikin anaknya jangan dua”, kata Dilan
“Kenapa?”
“Kan cantik-cantik, “jawab Dilan. “Sayang kalau cuma dua”
“Ha ha ha”
“Dunia butuh banyak anak-anak dari si Ibu”
“Makasih, Dilan”
“Biar Kang Adi kebagian”
“Gak boleh!”
“Biar semua orang di dunia senang, kebagian semua”, kata Dilan
“Ibu harus melahirkan jutaan anak kalau gitu”
“Eh, udah dua aja deh”
“Kenapa?”, kutanya
“Biar cuma aku yang senang”
“He he he. Ini, lagi ada Piyan sama Wati di rumah”, kataku
“Ngapain?”
“Main aja” kujawab, “Sini, Dilan”
“Besok aja ya, “ kata Dilan. “Besok kusamper kamu ya?”
“Asiiik”
Tiba-tiba Wati teriak dari jauh:
 “Lia, bilangin minta uang”
“Tuh, Wati minta uang katanya”, kataku ke Dilan
“Photo copyannya aja. Mau gak?”, Tanya Dilan
“Photo copyannya mau gak?”, kutanya Wati dengan sedikit agak teriak
“Yang asli!!”, jawab Wati teriak
“Yang asli katanya”, kataku ke Dilan
“Photo Copyan aja. Nanti ke Bank Indonesia, minta dileagilisir, biar laku”
“Ha ha ha. Photo copyan aja katanya, Wat. Nanti dilegalisir”
“Emangnya ijazah?!”, jawab Wati, “Embung!” (Artinya: Gak mau!)
“Ha ha ha” 

Piyan ketawa. Aku juga.

Aku ingin terus ngobrol dengan Dilan di telepon, tapi katanya dia mau pergi. Mau ketemu temannya. 
Aku kembali bergabung dengan Wati dan Piyan.

“Dilan pernah bilang gak soal Lia?”, tanyaku sambil senyum
“Banyak ha ha ha”, jawab Piyan
“He he he apa aja?”, kutanya
“Banyak ah, bingung yang mana”, kata Piyan lagi
“Tau gak, awal kenalannya dia pake sok ngeramal gitu”
“Ha ha ha! Iya. Piyan tau. Kan, pas istirahat, kami ke kantin, tapi kamunya gak ada”, kata Piyan
“Oh ya? Ha ha ha ha. Terus?”
“Iya, terus Piyan disuruh nganterin surat itu”
“Ha ha ha. Kasihan”, kataku, “Suratnya masih ada lho? Kusimpan”
“He he he”
“Terus Piyan juga ikut Dilan, datang ke rumah. Inget gak? Nganterin surat undangan”, kataku

Piyan ketawa

“Undangan apa?”, tanya Wati
“Diundang datang ke sekolah, Watiii, disuruh datang dari Senin sampai Sabtu”
“Gak diundang juga, pasti datang atuh. Kan sekolah?”
“Iya itu, makanya ha ha ha”
“Orang aneh ha ha ha”, kata Wati
“Tapi Lia seneng”

Aku ceritakan semuanya ke mereka. Aku cerita tentang Dilan yang datang malam hari ke rumahku, dan mengaku sebagai Utusan Kantin Sekolah. 
“Ha ha ha”. Wati ketawa. Piyan senyum.
“Dia pernah datang ke rumahku,” kata Piyan, “Masuk ke ruang tamu sama motornya”
“Hah?”
“Terus pas udah duduk, dia bilang: Yan, kayaknya motor disimpen di luar aja ya?”
“Ha ha ha ya iya atuuh!” kata Wati

Aku ketawa, Piyan juga.

Aku juga cerita tentang Dilan yang suka ngasih cokelat tapi disampaikan oleh tukang koran, tukang sayur sampai petugas PLN. Aku juga cerita Dilan ngasih kado ulangtahun berupa TTS yang sudah diisi. Aku juga cerita pernah datang ke rumah Dilan, ketemu Bunda, Disa dan yang lainnya. Aku juga cerita tentang Beni yang akhirnya putus denganku gara-gara berantem di Jakarta itu. 
“Terus Beni gimana sekarang?”
“Ya gitu lah. Masih suka nelepon”
“Oh”
“Ngajak balikan terus”

Aku menceritakannya dengan penuh semangat. Entah gimana, seneng rasanya, kalau udah cerita tentang Dilan. Mungkin kamu tidak, tapi aku suka.

Aku juga cerita tentang Kang Adi, pembimbing belajarku, yang mau ke aku. Aku juga cerita tentang Nandan yang berusaha mendekatiku. Aku juga cerita tentang Dilan kalau nelepon tapi akunya gak ada, dia akan ngobrol sama si Bibi. Aku juga cerita bahwa awalnya aku takut sama Dilan karena dia adalah anggota geng motor. Aku ceritakan semuanya, sambil ketawa-ketawa. 
“Makanya, aku pasti sedih kalau Dilan dipecat”, kataku. “ Nanti di sekolah gak akan rame”. 
“Iya sih”

3

Malamnya, kurisaukan lagi soal Dilan akan dipecat. Perasaanku diliputi oleh rasa takut dan putus asa. Tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa kewalahan oleh ketidakberdayaanku sendiri. 

Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku betul-betul merasa belum siap, kalau seandainya Dilan dipecat! Pertama, masa depannya mungkin hancur. Kedua, di sekolahku gak aka nada Dilan lagi

Dan kucoba juga melihat ke jauh dalam diriku, untuk bertanya  siapa aku, dan apa yang kuinginkan. 
Ya, aku adalah Milea, Milea Adnan Hussain, yang sudah resmi menjadi pacar Dilan, dinyatakan secara lisan dan di atas selembar kertas yang dibubuhi oleh meterai, sebagai alat bukti tentang adanya perbuatan dan kenyataan. 

Ya, aku adalah Milea, Milea Adnan Hussain, pacar Dilan, dan menginginkan yang terbaik buat Dilan, untuk kehidupan dan masa depannya! Sehingga keputusan sekolah yang akan memecat Dilan, pasti akan langsung memberi efek mendalam dan begitu sangat kupikirkan! 

Dengan kata lain, malam itu aku mulai merasa kuatir! Lalu segera kutelepon Dilan tapi yang ngangkat Bi Diah. 
“Ada Dilan, Bi?”
“Dilan?”
“Iya”
“Ada,’ katanya, “Maaf, dari siapa ya?’
“Lia, Bi, “jawabku, “Milea”
“Oh, Teh. Bentar ya”

Selagi kutunggu Dilan, kupejamkan mataku untuk membiarkan pikiranku mengalir. 

“Hey!”
“Hey!”, kusambut.
“Ini Lia mana ya?”
“Belum tidur?”
“Bentar, “ kata Dilan. “Lia mana dulu, ini?”
“Aku! Heh?!,” kataku: “Milea!”
“Apaan suara doang? Gak ada orangnya?”, tanya Dilan seperti kepada dirinya sendiri. “Bohong yaaa?”
“Dilan, please!”
“Bentar”, katanya. 
“Aku serius”
“Jangan serius,’ katanya. “Biar Neil Armstrong aja yang serius mah”
“He he he”
“Gak kelihatan juga, gak apa-apa deh. Aku pasti bisa nebak”, katanya
“Apanya?”
“Aku bisa nebak siapa kamu!”
“Siapa?”
“Kamu pasti cantik ya?”
“He he he “
“Matanya bagus ya?”
“Makasih,” kujawab. “Terus?”
“Rambutnya panjang, agak kepirang-pirangan ya?”
“Terus?”
“Sekarang pake kaos merah kan?”
“Salah!”, kujawab sambil senyum
“Hah?”
“Salah!”
“Kok dijadwalnya pake kaos merah?”
“Ha ha ha”
“Salah nih yang bikin jadwal!”
“Ha ha ha ha. Siapa yang bikin jadwal?”
“Gak apa-apa deh salah juga”

Entah mengapa, isi pikiranku langsung berubah. Menjadi tidak ada lagi hal penting, selain hal yang gak jelas yang Dilan katakan.
Byar! Semuanya buyar! 

Tapi kukira itu bagus, untuk menyegarkan pikiran.
“Besok jadi jemput?”, kutanya
“Siap grak!”
“Jam berapa?”, kutanya
“Terserah konsumen”
“Emang kamu tukang ojek?”
“Yang penting mencintaimu”
“He he he iya”, kataku. “Dilan, aku rindu”
“Bunda, ada yang rindu aku”, kata Dilan, tiba-tiba teriak ke si Bunda. 

Heh? Aku terkejut.

“Siapa?”, tanya Bunda, kudengar dia teriak dari jauh.
“Nih!”, kata Dilan, sepertinya dia langsung menyerahkan gagang telepon itu ke si Bunda. “Pemakan lumba-lumba”, kata Dilan
“Hallooww”, kata Bunda menyapaku dengan suara yang lembut dan manis
“Bundaaa!!!!”, kataku dengan teriak penuh semangat
“Hey!”, jawab Bunda. “Ini yang rindu Dilan?”
“Ha ha ha. Iya, Bunda”, kujawab. “Rindu Bunda juga”
“Barusan tadi Bunda marahin dia”
“Siapa, Bunda?”
“Dilanmu itu”
“Oh, kenapa, Bunda?”
“Berantem lagi dia kan?”
“Iya, Bunda”, kujawab. 
“Bunda gak ingin semua itu! Apa tidak ada cara lain nyelesain masalah selain berantem?”
“Iya, Bunda”, kujawab. “Apa kata, Dilan, Bunda?”
“Katanya bukan dia yang mulai”, jawab Bunda, “Katanya, dia kepaksa karena orang ngelunjak”

Aku diam
“Tapi kan gak harus berantem”, kata Bunda lagi
“Ya udah lah, Bunda”, kataku. 

Aku merasa harus bilang begitu ke Bunda, biar tidak terus membahas soal Dilan berantem, karena aku kuatir Dilan akan menyangka aku yang ngadu ke si Bunda. Aku takut Dilan gak suka karena itu. Aku takut Dilan gak senang karena itu, walau sebetulnya tentu saja aku ingin ada waktu berbicara dengan Bunda, membahas soal Dilan yang akan dipecat oleh sekolah, juga membahasa bagaimana caranya Dilan tidak lagi terlibat dengan hal-hal yang akan merugikan diri dan masa depannya.

“Kasian kamu. Pasti kamu pusing punya pacar suka berantem”, kata Bunda. “Udah resmi pacaran kan?”
“Iya, Bunda”, kataku tersenyum
“Dilan sudah bilang ke Bunda”
“Lia senang”
“Nah, sekarang Lia boleh negur dia. Boleh marahin dia kalau salah”
“Dilan juga boleh marahin Lia. Boleh negur Lia kalau salah”, kataku
“Berarti Dilan harus negur kamu”
“Kenapa, Bunda?”, kutanya
“Karena Lia salah udah mau ke Dilan”
“Ha ha ha”
“Masa’ secantik kamu mau ke Dilan?”
“Dilan juga salah, harus ditegur, Bunda”
“Kenapa tuh?”, nada suara Bunda seperti sedang tersenyum
“Masa’ sebaik Dilan mau ke Lia”
“Ya, mau laaaah!”, kata Bunda langsung. “Orang bodoh lah dia kalau gak mau ke perempuan cantik macam Lia nih!”
“Berarti Dilan pintar, Bunda. Kan mau?”
“Ha ha ha”, Bunda ketawa. “Alamak! Rupanya Bunda punya calon menantu yang cerdas”
“Ha ha ha. Belajar dari Dilan, Bunda”

Dibilang calon menantu sama si Bunda, seneeeng sekali rasanya waktu itu. 

“Katanya rindu, tapi malah bicara sama Bunda?”, Tanya Bunda
“Kan sama Bunda juga rindu”
“Sekarang kau mau manggil Bunda atau Camer?”, Tanya Bunda, nadanya seperti sedang menahan untuk tidak tertawa. Camer yang dimaksud oleh Bunda adalah akronim dari Calon Mertua. Tahu bahasa gaul juga rupanya.
“Ha ha ha. Apa ya?”, aku balik nanya. “Bingung”
“Ya, sesekali kau panggil lah Bunda: Camer”, kata Bunda sambil ketawa
“Ha ha ha siap, Bunda”
“Oke. Bunda mau beres-beres kerjaan dulu ya?” 
“Iya, Bunda”
“Ke Dilan lagi ya?”
“Iya, Bunda”
“Bunda, Bunda terus. Kapan Camer nya?”
“Ha ha ha, iya Camer”
“Ha ha ha. Oke. Langsung ke Dilan ya”
“Iya”, kataku dengan nada sisa ketawa

Bunda yang rame! Terus aku ngobrol lagi dengan Dilan:
“Habis dimarah Bunda ya?”, kutanya Dilan. “Tadi Bunda bilang”
“Iya”
“Aku juga boleh marah ke kamu, kalau kamu berantem?”, kutanya
“Si Bunda kalau mau marah, dia bilang dulu”
“Bilang gimana?”
“Bunda mau marah ke kamu, siap-siap, dikasih waktu 10 menit”
“Oh. Terus?”
“Udah 10 menit, aku duduk di bangku ruang tengah, itu artinya aku siap”
“Kalau belum siap?”
“Tinggal bilang”
“Bilang belum siap?”
“Iya”
“Kalau gak pernah siap?”
“Berarti, katanya, aku pecundang”
“Oh”
“Kalau udah Pecundang, ayahku yang akan turun tangan”
“Buat marahin?”
“Iya. Biasanya dia lebih keras”
 “Ke Disa juga begitu?”
“Ke semua,” jawab Dilan. “Harus tanggungjawab kalau salah katanya”
“Iya,” kataku. “Kamu suka cara Bunda begitu?”
“Gimana si Bunda aja”
“Kok kamu bisa ngomong serius? He he he”
“Kan kamu yang ngajarin. Kamu suka bilang: Aku serius!”
“Ha ha ha”
“Kalau serius terus, lama-lama aku jadi Neil Amstrong”, kata Dilan
“Bagus kan?”
“Iya. Tapi percuma”, kata Dilan
“Kenapa?”, kutanya
“Buat apa jadi Neil Amstrong, kalau enggak pacaran sama kamu”
“Ha ha ha”
“Neil Amstrong pasti kecewa deh, udah cape-capek jadi Neil Amstrong tapi gak pacaran sama kamu”
“Ha ha ha”
“Neil Amstrong, sekarang pasti ingin jadi aku”
“Biar bisa pacaran denganku?”
“Biar bisa diacak-acak rambutnya”, jawab Dilan.
“Ha ha ha” 
“Malam ini tidur bareng yuk?”, Tanya Dilan tiba-tiba.
“Eh?”. Aku kaget
“Iya, kamu tidur di rumahmu. Aku tidur di rumahku”, katanya. “Kita tidur bareng waktunya”
“Oh. Kirain,” kataku: “Sekarang?”
“Iya. Kita nanti tidur jam 21:00”, katanya. “Bisa?”
“Ayo”, kataku senyum dengan perasaan yang girang.
“Samain jamnya dulu”, kata Dilan. “Sekarang di rumahku jam 20:40”
“Di sini jam 20:41, “ kataku. “Beda semenit”
“Pukul 21:00, kita tidur bareng ya”
“Ha ha ha siap”, kataku, “Berarti kalau di sini tidurnya pas jam 21:01 ya?”
“Iya”, jawab Dilan. “Nanti, pas udah mulai mau tidur, masing-masing bilang: Selamat tidur”
“He he he iya”
“Ya udah, kamu siap-siap sekarang”, kata Dilan
“Iya, Dilan”
“Laksanakan!”
“Siap grak, Gengster”
“Dadah, Lia”
“Dadah, Dilan”

Setelah itu, sambil melihat ke jam dinding, aku pergi ke kamar mandi untuk segera bersih-bersih. 

Ini sedang berpacu dengan waktu, jangan sampai telat, karena pukul 21:01 aku harus segera naik ke kasur, kalau mau tidur bareng dengan Dilan. 

Setelah selesai urusan di kamar mandi, aku bergegas masuk ke kamar tidur. Kulihat lagi jam dinding kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul 20:51. Ah, sepuluh menit lagi. Berlekas kugantai pakaian, lalu duduk di kursi, menunggu waktu tepat pukul 21:01, dan ketika itu tiba, aku langsung naik ke kasur, untuk tidur dengan Dilan. 

Kupeluk bantalku dan aku menggumam di dalam hangatnya selimut sambil senyum:
“Selamat tidur, Dilan. Dilanku, Sayangku. Aku rindu”

Itu adalah malam pertama aku tidur dengan Dilan di tempatnya masing-masing pada waktu yang sama. 

Ah, Dilan 

***




04. DIKEROYOK AGENT CIA

1

Hari sabtunya, pagi-pagi, orang-orang di rumah pada sibuk dengan perbuatannya masing-masing.
Ibu sedang meracik roti tawar, untuk dibubuhi susu dan mentega. Aku sudah berseragam sekolah, dan duduk di kursi makan, untuk mengenakan kaos kaki.
“Ayah pulang hari ini, Bu?”
“Bilangnya gitu”, jawab Ibu. “Airin! Cepetan mandi!”. Ibu teriak. 
“Iya!”, jawab Airin dari dalam kamarnya. Tak lama kemudian Airin keluar membawa handuk.
“Nanti sore, Ibu, Ayah sama Airin ke rumah dinas ayah,” kata Ibu ke aku. 
“Asiiik”, jawab Airin. “Nginep di sana?”, Tanya Airin 
“Iya”, jawab Ibu.”Cepet sana mandi”

Airin bergegas pergi ke kamar mandi.

“Gak jadi ke rumah Tante Nisa?”, kutanya
“Jadi,” jawab Ibu. “Berangkat dari rumah dinas Ayah. Nanti kamu dijemput Bang Fariz ya”
“Iya”
“Tadi Dilan nelepon”, kata Ibu
“Oh. Apa katanya?”
“Iya, bilang mau jemput kamu”, jawab Ibu
“Iya. Semalem bilang”
“Katanya masih nyiapin sound dulu”
“Hah?”, aku kaget. “Sound buat apa?”
“Buat ibu-ibu senam katanya”
“Ha ha ha”
“Itu beneran?”, tanya Ibu.
“Ha ha ha”

Tak lama dari itu, terdengar suara motor. Itu jelas Dilan. Senangnya hatiku. Segera kupakai sepatuku 
“Sarapan aja dulu!” 
“Takut telat”, kataku. 

Kubersihkan tanganku dengan lap yang ada di atas meja, lalu berjalan keluar seraya membawa setangkup roti berisi susu coklat.

“Bawa buat Dilan”, kata Ibu menyuruh aku bawa roti untuk Dilan. 
“Ini juga cukup,” jawabku sambil mencium tangan ibu.. 
“Assalamualaikum!”, aku berlalu 
“Alaikumsalam”, jawab ibu. “Hati-hati”
“Iya”

Dilan sudah sedang berdiri di teras rumah ketika aku membuka pintu. Dia memakai baju seragam yang dibalut oleh jaket jeansnya. Gak tahu mengapa, padahal dia tidak sekolah, karena masih diskorsing. 
“Hey!”, kusapa Dilan.
“Mana, Ibu?”
“Di dalam”

Dilan bergerak, untuk melongok ke dalam rumah
“Bu, berangkat dulu!”, Dilan teriak.
“Iya!” jawab ibu di dalam rumah. “Hati-hati”,
Aku sudah berdiri di sampingnya:
“Mau?”. Kutawari Dilan roti, sesaat sebelum berjalan pergi menuju motor.
 “Apa itu?”, tanya Dilan
“Roti”, jawabku. “Aa!!” Kuminta Dilan mangap. 

Saat mulutnya kebuka, langsung kusuapkan rotinya. Dilan mengunyahnya sambil jalan denganku menuju motornya. 
“Gengster kok disuapin!” kataku sesaat setelah berada di atas motor.
“Ha ha ha” 
“Ngurus ibu-ibu senam juga lagi”, kataku
“Kata siapa?”
“Ibu”
“Ha ha ha”



Motor sudah meninggalkan halaman rumahku, ketika Dilan masih ketawa. 
“Gengster teladan”, kataku
“Aku sih sibuk.”, kata Dilan. “Sibuk rindu kamu juga
“He he he”
“Sibuk mencintai kamu juga”
“Makasih he he he”
“Sibuk sekali aku ini ya?”, Tanya Dilan seolah kepada dirinya sendiri.
“Iya, yaaaa!?”
“Ha ha ha”

Saat itu, sebenarnya aku ingin membahas soal serius, yaitu soal kemungkinan Dilan akan dipecat. Tapi aku tidak ingin merusak suasana, dan sepertinya Dilan juga tidak ingin membicarakan soal itu. 
Terserah Dilan deh!
“Semalam tidur jam 21:00?”, kutanya
“Iya”
“Ngomong apa pas mau tidur?”
“Ngomong: Iya, iya aja”
“Kok?”
“Kan ngejawab omongan kamu”
“Emang kamu tau aku ngomong apa?’, kutanya
“Dilan aku rindu”
“Ha ha ha iyaaaaaa!!!”

Kira-kira sebelum sampai di perempatan jalan BKR, kutanya Dilan, karena mendadak laju motornya melambat:
“Kenapa?” 
“Rotinya habis”
“Roti apa!?”, tanyaku karena gak ngerti apa maksudnya
“Rotinya habis...”. Dilan menunjuk mulutnya
“Oh! Ha ha ha”, aku ketawa. “Nih!”. Kataku sambil nyodorin roti yang tinggal sedikit ke mulutnya dan langsung dia makan.

Setelah itu, motor maju lagi dengan kecepatan yang normal sampai mau masuk ke arah jalan sekolah. 

Aku langsung turun ketika motor berhenti tepat di depan gerbang sekolah dan memberikan uang seribu ke Dilan yang masih duduk di motornya.  Itu adalah uang yang sudah aku siapkan sebelum sampai.
"Apa ini?", tanya Dilan, meraih uang itu.  
“Ongkosnya, Maaaaaang!!!" , kataku sambil senyum, dan berjalan pergi, meninggalkan Dilan yang ketawa karena sudah kuperlakukan sebagai tukang ojek. Yaitu tukang ojek yang mencintaiku! 

Aku hampir yakin tak ada orang yang punya otoritas melakukan hal itu kepada Panglima Tempur selain aku.
“Lumayan!”, katanya sambil pergi untuk nongkrong di warung Bi Eem,  
“Ha ha ha”

2

Hari itu, di sekolah, tidak ada kegiatan belajar, karena guru-guru sedang rapat untuk persiapan pembagian raport yang akan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 26 Desember 1990. 

Kasus Dilan pasti masuk dalam agenda rapat guru, tapi belum ada khabar pasti, apakah Dilan akan dipecat atau tidak. 

Aku hanya bisa pasrah dan tetap berdoa mudah-mudahan mereka masih bisa memberi toleransi ke Dilan. Mudah-mudahan mereka semuanya mendadak amnesia hari itu

Di kelas, aku ngobrol sebentar dengan Rani dan Wati, soal kejadian Dilan berantem dengan Anhar. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. 
“Ya udah, aku mau ke warung Bi Eem”, kataku
“Ada Dilan?”, tanya Wati
“Tadi ke sekolah bareng dia”
“Ya udah, “ kata Wati. “Selamat berpacaran”
“He he he. Ikut?”, kuajak mereka
“Eh? Udah jadian?”, tanya Rani ke Wati, seperti kaget. Terus memandangku
“Nanti aku cerita ya”, kataku
“Pengen ikut sih” kata Wati, “Mau minta uang”
“He he he. Aku ke sana ya”
“Iya”

Waktu mau pergi ke warung Bi Eem, Nandan datang. Dia ngajak aku ngobrol menyangkut rencana membuat kaos kelas. Okelah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama karena aku rindu ketemu Dilan. 

Beberapa menit setelah ngobrol dengan Nandan, kemudian datang Piyan. Dia tidak masuk, hanya berdiri di pintu kelas seperti orang habis dikejar hantu:
“Lia!”, katanya, “Dilan!”
“Kenapa?”
“Berantem!”
“Hah?”
“Sama siapa?”, Tanya Wati sambil berdiri

Aku terkejut. Jantungku berdebar. Aku tidak bisa menahan diri, kutinggalkan Nandan, dan segera lari ke warung Bi Eem bersama Piyan. Wati juga ikut. 

Kalau kamu punya situasi yang sama denganku, pasti kamu juga akan panik. 

Sesampainya di sana, aku melihat sudah ada sekitar empat orang di warung Bi Eem, termasuk Akew, yang sedang berusaha mengobati luka pada wajah Dilan.

Aku duduk mencoba mendapatkan lebih dekat dengan Dilan. Tanganku gemetar membersihkan bercak darah di mukanya.
“Berantem sama siapa?!”, tanyaku pada orang-orang yang ada di situ. 
“Gak tau siapa”, jawab Akew

Kulihat mata kanannya lebam, dan luka kecil di beberapa bagian. Itu benar-benar mengerikan dan aku nyaris merasa bahwa tak pernah ada hal buruk dari itu. 

Walaupun tidak terlalu parah, tetapi itu luka dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain bingung. Atas dasar apa mereka mengeroyok? 

Itu adalah hal yang besar bagiku dan menakutkan meski Dilan bersikap sebagai hal biasa baginya.
“Sama siapa?”, kutanya Dilan
“Agent CIA”, jawab Dilan asal.
"Aku serius!”, kataku nyaris seperti membentak.

Aku benar-benar ingin tahu siapa yang sudah ngeroyok Dilan, seolah-olah saat itu aku ingin segera membunuh pelakunya.
“Bi Eem, berantem sama siapa?”, kutanya Bi Eem yang keluar dari dalam rumahnya. Kemudian Bi Eem menjelaskan, katanya Dilan sedang sendiri saat itu, tiba-tiba datang empat orang memasuki halaman. Mereka menggunakan dua motor, kemudian menyerangnya. Bi Eem ingin menolong, tapi yang bisa ia lakukan hanya sembunyi di balik meja dagangan. 
“Siapa?”, kutanya Dilan 
“Udah kubilang agent CIA”, jawab Dilan.
“Bi Eem kenal?”, kutanya Bi Eem. 
“Gak kenal”, jawabnya. “Gak pernah lihat”
“Kamu kenal?”, kutanya Dilan
“Enggak”, jawab Dilan sambil merogoh saku bajunya, mengeluarkan uang seribu: 
“Ini, uangmu,” katanya, sambil berusaha untuk senyum. “Gak usah bayar”, katanya lagi. Maksudnya dia mau mengembalikan ongkos ojek yang tadi pagi kuberikan kepadanya. 

Aku tidak percaya dia masih sempat melakukannya.  Aku hanya menggelengkan kepala. Aku betul-betul masih bingung dan sangat emosionil saat itu. Kutepis tangannya untuk meyakinkan dia bahwa bukan saatnya untuk bercanda. 
“Udah selesai?”, Dilan tanya, untuk ingin tahu apakah aku sudah selesai sekolahnya atau belum?  
“Kalau udah selesai, hayu pulang”, katanya lagi, sambil berdiri.

Entah bagaimana aku berhasil mengangguk. Aku akan izin untuk pulang, untuk sekalian membawa Dilan ke Rumah Sakit. Kebetulan hari itu sekolah sedang bebas. 

3

Setelah selesai dari Rumah sakit Muhammadiyah, kami pulang. Menyusuri jalan Banteng, yang dulu masih sepi. 

Sejak kejadian Dilan dikeroyok, aku mulai khawatir tentang apa yang akan terjadi padanya. Dia adalah bagian besar dari hidupku, dan sulit untuk membiarkan hal itu terjadi padanya. 
 “Aku serius. Siapa yang ngeroyokmu?”, kutanya
“Aku gak tau”
“Kok?”
“Kan gak ngobrol dulu”, katanya 
“Masalahhnya apa?, “ kutanya. “Tau-tau ngeroyok?”
“Harus ngobrol sama mereka kalau mau tau”, kata Dilan
“Aneh”
“Aneh apa?”, Tanya Dilan
“Iya, langsung main pukul aja”
“Masa’ bilang dulu: Punten ya, Dilan. Aku mau mukul kamu. Boleh?”. 
“Aku serius!!!”, kataku, terdengar seperti membentak, membuat Dilan langsung diam. 

Tetapi aku merasa harus begitu, biar dia tahu aku sedang serius. Aku suka kalau dia bercanda, tapi saat itu aku sedang ingin serius. Aku tahu Dilan sedang mencoba untuk mengabaikan kebingunganku. Aku tahu Dilan sedang berusaha untuk mengabaikan kekhawatiranku. Aku tahu Dilan sedang mencoba membatalkan perasaanku yang risau. Tapi aku juga ingin tahu siapa yang sudah ngeroyok Dilan
“Kamu tau aku cemas?!”, kataku seperti teriak yang ditahan.

Dilan masih diam

“Aku cemas, Dilan!”, sambungku, dengan suara memelan, nyaris seperti menangis. 

Dilan tetap diam.

Motor melewati rumahku, tapi tidak berhenti. 
“Mau kemana?”, kutanya Dilan
“Kamu belum selesai ngomong”, katanya.

Motor maju terus dan belok ke arah jalan Palasari, terus masuk ke jalan Lodaya, terus belok ke arah jalan Banteng Dalam.  Langit mendung. Angin sore berhembus mengatur dunianya.

Sepanjang jalan itu, aku bicara ke Dilan tentang banyak hal yang aku cemaskan. Aku cemas dengan keselamatan Dilan. Aku cemas Dilan akan dipecat dari sekolah. 
“Aku juga pasti sedih kalau gak ada kamu”, kataku
“Kan masih ada di bumi”
“Kamu tadi dikeroyok!” kataku. “Gimana kalau ada apa-apa denganmu?”

Dilan diam. Aku diam. Lalu kata Dilan:
“Kalau dipecat, aku bisa datang ke sekolahmu. Tiap hari,” lanjut Dilan. “Biarin gak sekolah juga. Asal aku bisa antar jemput kamu ke sekolah. Sampai kamu lulus”

Aku diam
“Kuliah juga. Kalau nanti kamu kuliah, biar aku juga yang antar jemput. 
“Aku juga ingin kamu sekolah”, kataku,”Aku juga ingin kamu kuliah”

Dilan diam

Jangan bilang aku terlalu mengontrolmu, Dilan!

Dengan hormat, ingin aku katakan sekarang bahwa dulu hal itu kulakukan lebih karena aku sangat peduli padamu. Hal itu aku lakukan karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, Dilan. 

Aku juga selalu khawatir dengan masa depanmu, Dilan. Menurutku kamu cerdas, kamu pintar, tapi tentunya akan menjadi sia-sia seandainya tidak kamu manfaatkan. Makanya kenapa aku begitu risau, makanya kenapa aku begitu cemas ketika aku tahu bahwa kamu pasti akan dipecat.   
  
Terserah apa yang kamu lakukan. Selama itu baik, aku siap mendukung. Tapi aku tidak suka kamu melakukan apa pun yang mungkin akan mengancam jiwamu. 

Dilan, kau harus tahu, aku selalu risau membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi padamu.  Aku selalu khawatir kamu akan berada dalam kecelakaan karena aku tahu biasanya kamu ngebut menjalankan motormu. Itu sebabnya, maafkan aku Dilan, kalau kamu merasa aku kekang, kalau kamu merasa selalu kularang-larang.    

Aku pikir, inti dari semuanya, adalah karena aku takut kehilangan orang yang aku cintai. Karena aku takut, orang yang aku cintai kehilangan masa depannya. 
Kau mengerti, Dilan? 

Setelah itu, kami tiba di rumahku. Kusuruh Dilan untuk lebih baik langsung pulang, maksudku biar dia bisa istirahat. 
“Iya”, katanya, masih di atas motor, seperti sengaja nunggu dan baru akan pergi kalau akunya sudah masuk.  
“Obatnya minum” kataku dengan sekilas memandangnya sambil berlalu dan membuka pintu pagar. 
Aku berjalan dengan perasaan yang enggan, karena aku masih ingin dengan Dilan.
“Lia”, Tiba-tiba aku mendengar Dilan manggil.
“Ya?”.

Kulihat kaki Dilan menurunkan standar motornya, dan lalu turun
“Bentar”, katanya.

Dia berjalan mendekat. Saat itu aku sudah berdiri menghadap ke arah luar, bertumpu dengan kedua belah tanganku yang kusimpan di atas pintu pagar rumahku, menunggunya. 
“Ikuti kata-kataku ya?”, kata Dilan. 

Dia sudah berdiri di depanku. Itu bisa dikatakan terlalu dekat untuk saling bicara. Aku mengira dia akan menciumku, atau setidaknya itulah yang aku pikirkan. Semua pikiran dan perasaan soal itu berkumpul di kepalaku. 
“Kata-kata apa?”, kutanya, entah mengapa terdengar suaraku agak parau. Angin sore bertiup mengenai rambutnya
“Ikuti yang aku katakan”, kata Dilan. Kedua tangannya memegang pintu pagar. “Oke?”
 “Oke”. Aku mengangguk sambil mendorong sehelai rambut ke belakang telinga
“Aku…”, kata Dilan sedikit berbisik. Dia berkata menatapku
“Aku…” kataku, mengikuti apa yang dia katakan.

Kutatap lembut matanya, sebagaimana dia juga begitu kepadaku
“Mencintai….”
“Mencintai…he he” 
“Ka..mu…”
“Ka....mu…!”

Aku senyum bahagia, lalu kupandang wajah Dilan, di saat itu aku lihat di bagian matanya terdapat luka lebam dan plester menempel di bagian pelipisnya. 

Aku ingin bilang ke Dilan bahwa aku benar-benar mengkhawatirkan dirinya, mengkhawatirkan keselamatannya. Terutama setelah serangkaian peristiwa yang terjadi kepadanya, serta peristiwa pengeroyokan di warung Bi Eem. Tapi gak jadi.
“Kok nangis?”, tanya Dilan.

Kuseka air mataku.
“Gak apa-apa”, kataku menahan senyum malu karena nangis.
“Kenapa?”
“Hati-hati, Dilan” 
“Iya, Lia”, katanya. “Jangan nangis”
“Iya,” kataku. “Enggak”
“Aku pulang ya”, katanya

Aku diam. 

Aku ingin bilang: “Jangan pulang, Dilan. Di sini aja, Dilan”. Tapi gak jadi. 
“Kau gak apa-apa?”, Tanya Dilan
“Gak apa-apa”
“Jangan terlalu dipikirin”

Aku diam, memandangnya
“Aku pulang ya?”, kata Dilan
“Iya,” kujawab. “Hati-hati, Dilan”
“Iya”
“Hati-hati”
“Iya”
“Salam buat Bunda”
“Iya”
“Disa juga”
“Iya”
“Kamu juga”
“Iya”
“Hati-hati”
“Assalamualaikum jangan?”, Tanya Dilan sambil senyum
“Assalamualaikum”, kujawab dengan sambil senyum juga
“Alaikumsalam”, katanya tersenyum

Dilan pulang, untuk aku langsung merasa sunyi.  

Hati-hati, Dilan!

4

Setelah Dilan pergi, si Bibi menyambutku, dan memberi aku surat dari Beni, tapi baru bisa kubaca setelah aku mandi. Isinya tentang dia yang rindu kepadaku dan bertanya soal khabarku.

Ada puisi juga di dalamnya, tapi aku tahu itu karya Kahlil Gibran, meskipun tidak ia cantumkan sumbernya. Satu perbuatan tercela yang membuat dirinya menjadi rendah di dalam pandanganku.
Hal lainnya adalah tentang dia yang mengajak aku untuk kembali berpacaran dengannya. 

Kamu harus tahu aku punya hak untuk memilih dengan siapa aku ingin, dan kamu juga harus tahu aku tetap gak mau kembali ke Beni. Apalagi kalau ingat dia pernah nyebut aku “Pelacur”, kayaknya Neraka menjadi jauh lebik baik dibanding dengan dirinya!

Biar bagaimana pun, aku tetap harus berterimakasih atas semua yang pernah kudapatkan dari Beni. Aku menghargai apa-apa yang sudah dulu Beni berikan padaku, termasuk berupa kesempatan duduk berdua di restauran, pergi bowling atau diving bersama keluarganya ke Pulau Seribu.

Atau membawaku ke tempat favoritnya, di mana aku dapat menikmati aneka macam minuman yang mahal, yang harus membuat Beni mengeluarkan uang banyak. Atau pergi ke Ancol, menikmati sore berdua dengannya, membicarakan banyak hal termasuk film dan musik. 

Tapi aku tidak mau kembali ke Beni. Apalagi aku sudah resmi berpacaran dengan Dilan, yaitu Dilanku yang meskipun cuma membawa aku nongkrong di warung kopi tetapi aku senang. Di sana gak ada Fruity Lemon Squash, gak ada Milk Shake, gak ada Mashed Potatoes. Gak ada! Tetapi aku suka karena bersama Dilan yang selalu bisa membuat aku riang, yang selalu bisa membuat aku ketawa.  

Oke. Beni juga romantis, termasuk pas dia buka jaketnya untuk aku kenakan agar tidak merasa kedinginan. Wah dulu, hal itu rasanya keren sekali, tapi kemudian jadi biasa setelah aku bertemu dengan Dilan, yaitu Dilan yang  ketika sedang naik motor denganku, dia bilang jaketnya harus tetap dia pake. Katanya dia harus tetap sehat.
“Kalau aku sakit, nanti siapa yang akan jaga kamu” katanya.

Mendengarnya, membuat aku langsung senyum, membuat aku semakin kuat memeluknya.
“Kalau aku yang sakit?”, kutanya
“Kalau kamu yang sakit, aku akan curiga“
“Kok curiga?”
“Curiga, sakitnya pasti pura-pura” katanya, “Biar aku datang menengokmu”
“Ha ha ha Iyaaaaa!!!”
“Ha ha ha”

***


05. PERAYAAN JADIAN

1

Malam minggu, kira-kira pukul tujuh, aku sedang bicara dengan Dilan di telepon. Entah mengapa, lagi-lagi yang kubahas adalah soal aku yang cemas karena merasa kuatir Dilan akan dipecat oleh pihak sekolah. Aku tahu, aku tidak harus seperti ini. Tapi selalu kepikiran. 

Dilan menyuruh aku tenang, bahwa aku harus yakin semua akan baik-baik saja. Mending bicara tentang yang lain, katanya.
“Iya”, kataku

Aku senang kalau sudah ngobrol dengan Dilan. Rasanya hidup ini jadi ringan. Rasanya hidup ini menjadi seperti sederhana.  

Aku bilang ke Dilan kemarin waktu Piyan dan Wati ke rumah, mereka cerita banyak tentang Dilan dan aku senang
“Apa katanya?”, Dilan nanya
“Ya gitu aja”
“Piyan cerita gak, waktu SD dia cakep?”
“Enggak he he he,” kujawab. “Emang sekarang enggak?”, tanyaku tersenyum
“Sekarang?” Dilan bagai mikir. “Kasian. Sekarang jadi gitu”
“Jadi gitu gimana? Ha ha ha”
“Harus dimodif lagi”
“Udah ah, gak boleh ngomongin orang”
“Kan mereka juga ngomongin”
“Maksudnya ini mau bales dendam?” tanyaku sambil senyum. Tapi gak dia jawab, malah terus ngomongin Piyan.
“Piyan itu, kalau lari pagi, pantesnya bawa ayam”
“Kenapa bawa ayam?”
“Ya, biar disangka nyuri ayam,” katanya. “Dia sih lebih pantes jadi maling”
“Ha ha ha”
“Kalau Wati, tau gak? Waktu masih kecil pernah mau dititipin ke Ibunya Malin Kundang?”
“Kenapa emangnya?”, kataku tersenyum
“Nitip aja, biar kalau ngutuk anak, sekaligus dua. Sepaket”
“Ha ha ha”
“Tau gak dulu Laut Merah terbelah buat siapa?”
“Buat Firaun?”
“Buat Wati juga, tapi dianya belum lahir”
“Ha ha ha. Bilangin ah ke Wati”
“Jangan”
“Kenapa?”
“Nanti dia jadi tau”
“He he he. Bunda kalau marah ke kamu gimana sih?”
“Gimana ya?,” Dilan bagai mikir. “Dulu, waktu kecil,” Dilan mengenang. “Aku nyuruh Disa ngambil tas di kamar. Terus si Bunda bilang, jangan nyuruh-nyuruh, katanya, kerjain sendiri”
“Itu sih negur, bukan marah”
“Iya. Nah, waktu si Bunda nyuruh aku shalat, aku jawab aja: Bunda, jangan nyuruh-nyuruh! Kerjain sendiri”
“Ha ha ha ha”

Serius, aku senang kalau Dilan sudah cerita. Ngawur sih, tapi aku tahu dia sedang berusaha menghiburku dengan membuat aku ketawa 

“Malam ini apel gak?”, kutanya Dilan sambil ketawa 
“Mulai jam berapa?”
“Mulai jam berapa ya?”, kataku bagai bertanya pada diriku sendiri dan senyum.

Tiba-tiba pintu rumah ada yang ngetuk. 
“Bi! Ada tamu”, kataku teriak ke si Bibi

Si Bibi berjalan untuk membuka pintu. Ternyata tamunya adalah Kang Adi. Kulihat dia masuk dan duduk di ruang tamu sambil tersenyum kepadaku. Aku anggukan kepala, memberi isyarat bahwa ya aku tahu ada dia, tapi sebentar, akunya sedang nelepon.

“Ada Kang Adi”, kataku ke Dilan dengan suara jangan sampai Kang Adi dengar. “Aku males nemui”, kataku lagi dengan nada mengeluh
 “Kamu marah-marah deh ke aku”, kata Dilan
“Kenapa?”
“Pura-pura marah aja”
“Iya kenapa?”, tanyaku dengan suara pelan
“Biar dianya jadi gak enak hati kalau tau kamunya marah-marah,”
“Maksudnya?”, kutanya, masih dengan suara yang pelan
“Iya, kalau tau kamunya lagi marah-marah, nanti dia jadi serba gak enak”
“He he he. Ngerti. Ngerti!”, kataku pelan. “Oke”
“Langsung”, katanya
“Sekarang?”, kutanya
“Iya”
“Dasar, bajingan!”, kataku, benar-benar seperti orang yang sedang marah. Volume suaraku kubikin agak keras supaya Kang Adi bisa denger.

Dilan diam

“Kamu pikir aku cewek apaan?!!!”, kataku ke Dilan
“Cewek idola” jawab Dilan ketawa, nyaris saja aku ikut ketawa
“Diam!”, kataku

Dilan diam. 

“Gak tau malu!”, kataku
“Gak tau malu! Datang pake celana punya tetangga!!”, kata Dilan nun jauh di sana. 
Dilan ikut pura-pura marah juga.
“Diaaam!’ kataku sambil nahan untuk tidak ketawa 
“Pancasila!”, kata Dilan. 
->Suaranya seperti orang yang sedang membaca teks Proklamasi pada waktu upacara bendera.
“Diam!”
“Satu!”
“Diam!”
“Dua!”
“Kamu gak denger aku bilang diam?!!!”, kataku bagai orang menghardik.
“Kamu gak tau apa, aku ini pacarnya Dilan?”, kata Dilan kemudian, dengan nada seperti orang marah
Tadinya mau kujawab:”Diam!” tapi malah bilang “Iya!”. 

Dilan ketawa.

“Udah langsung tutup aja teleponnya”, kata Dilan
“Diam!!!”
“Eh. Beneran,” kata Dilan “Langsung tutup teleponnya”
Setelah sadar itu perintah, langsung kututup teleponnya. 

Habis itu, kutemui Kang Adi dan duduk di sana. Kupilih bangku yang agak jauh dari dia.
“Kenapa?”, Tanya Kang Adi memandangku, dengan nada suara bagai orang yang sedang hati-hati bicara. Hatiku tersenyum.
“Gak apa-apa”, jawabku singkat dengan sikap seperti masih menyimpan rasa kesal kepada orang yang aku marahi di telepon.
“Cowok?”, Tanya Kang Adi pelan. Dia bungkukan badannya. Dua lengan tangannya tersimpan di kedua lututnya. Lalu kujawab dengan cara mengangkat dua bahuku. 
“Sekarang banyak cowok yang nyebelin”, katanya. 

Aku diam. 

Terus, kuambil majalah yang ada di bawah meja, tapi itu lebih karena aku bingung. Aku merasa seperti terjebak di dalam waktu dan tidak tahu ngapain. Harusnya dia bisa melihat kondisiku sedang betul-betul tak bagus diajak bicara. Kayaknya dia kurang peka deh!
“Ya udah. Gak usah belajar”, katanya

Aku masih diam

“Gimana kalau jalan-jalan,” kata Kang Adi lagi. “Malam minggu nih”
“Enggak, Kang” kujawab. “Kayaknya Lia harus istirahat. Nenangin pikiran”
“Dibawa santai aja dulu”, katanya

Aku diam sambil membuka-buka halaman majalah yang sedang kupegang. Aku diam, bukan karena gak tau harus ngomong apa, tapi lebih karena memang lagi males mau ngomong.
“Iya, cowok emang harus digalakin,” katanya lagi. “Biar gak ngelunjak”
Lalu kataku sambil memindahkan pandangan dari majalah ke dia
“Termasuk ke Kang Adi?” 

Sejenak Kang Adi diam.
“Yaa, enggaklah”, katanya kemudian
“Kan Kang Adi juga cowok”, kataku, bagai orang yang sedang nyerang di dalam acara debat.
“Ya enggak semua cowok lah,” jawab dia sambil senyum. “Cowok yang brengsek aja”
“Kang bentar ya”, kataku sambil berdiri. Lalu aku pergi, berjalan menuju kamarku. 

Pikiranku tidak tahu kemana aku ingin pergi. Aku juga gak tahu mau ngapain pergi ke kamar. Kukira lebih karena aku ingin melarikan diri dari terus duduk bersamanya, dan juga bingung oleh tidak tahu harus ngapain. Aku Cuma ingin mengulur-ngulur waktu agar tidak terus duduk bersamanya.

Habisnya, satu menit saja dengan dia seperti sedang ada pertemuan resmi. Kang Adi memang tipe orang yang datar dan kurang eksperimental. Jika mengingat tentang keadaan saat itu, aku akan menyebutnya menyebalkan. 

Rasanya, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik tanpa dia. Maksudku selain kecoa dan tikus.

Aku benci untuk mengatakan hal-hal ini tetapi itu yang dapat kurasakan. Coba kau pikir bagaimana rasanya harus melewati semua itu bersama dengan orang yang sudah menyebabkan aku berantem dengan Anhar, terus membuat Dilan jadi marah ke Anhar dan kemudian menghajarnya. Di mana ujung dari semuanya adalah menyebabkan Dilan jadi dipecat!     

Sudah lama pengen bilang ke Kang Adi, untuk tidak usah membimbing aku lagi. Tapi aku merasa, untuk hal itu terlebih dulu harus bilang ke Ayah dan ibu. Aku gak bisa memutuskannya sendiri. Rasanya aku begitu kekanak-kanakan dan lemah waktu itu.

Aku merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu harus gimana. Dan aku tidak tahu kapan Dilan akan datang. Waktu tampaknya berjalan lebih lambat dari yang kumau
“Minum dulu” kata Kang Adi, ketika aku datang lagi dan duduk di bangku tempat aku duduk tadi. Aku hampir berharap tidak wajib untuk menjawab, tetapi tetap kulakukan. 
“Oh, Kang Adi mau minum?”
“Bukan”, katanya. “Lia minum dulu. Biar tenang”
“Bi!”, kataku, memanggil si Bibi
“Eh?”, kata Kang Adi

Aku pasti sedang menjadi orang yang cukup menyebalkan. Kukira kalau kita tidak menyukai seseorang pasti akan berdampak pada sikap kita kepada orang tersebut. Bukankah kamu juga akan begitu? 

Di mana pun, sepanjang jalan hidup, kita hendaknya bisa menghargai dan saling menghormati, tapi saat itu, rasanya susah. 

2

Untunglah, tak lama kemudian Dilan datang, memberi aku perasaan terbaik yang pernah bisa kurasakan.

Itu adalah hari pertama Dilan apel, tapi dia datang tidak sendiri. Dia datang sama Bowo, Akew dan banyak lagi yang lainnya. 

Aku kaget, betul-betul aku kaget, karena memang banyak sekali yang datang. Kata Dilan, semuanya ada 18 orang. Sebagian besar membawa motor sendiri. Mendadak, malam itu, halaman depan rumahku menjadi seperti lapangan parkir.

Dilan masuk, diikuti oleh Akew, Bowo dan beberapa yang lainnya. Aku berdiri dan bingung harus gimana karena gak semua bisa duduk. Sisanya hanya bisa berdiri.  
“Malem, Kang,” Sapa Dilan ke Kang Adi yang tetap duduk di tempatnya. 
“Malem” jawab kang Adi. 

Kukira Kang Adi juga kaget oleh tiba-tiba jadi begitu banyak orang yang datang. 
Aku sudah berdiri, ketika kutarik tangan Dilan untuk kubawa ke ruang tengah.

Orang-orang yang ada di ruang tamu tidak akan dapat melihat aku sedang berdiri berhadapan dengan Dilan di ruang tengah. Demikian pula sebaliknya, karena bangunan antara ruang tamu dan ruang tengah berbentuk leter L. 

Ruang tengah itu cukup panjang kira-kira 3 meter kali 7 meter. Ke belakangnya adalah ruang makan. Kalau dari ruang makan kemudian jalan lagi, kamu akan sampai tiba di dapur. Kamar ayah dan ibu menghadap ke ruang tengah. Kamarku juga. Kamar Airin juga. Kalau kamar si Bibi menghadap ke ruang makan. 

Di sana, di ruang tengah itu, aku berdiri nyandar ke tembok. Dua tanganku memegang kedua tangan Dilan. Aku memandang matanya sebagaimana dia juga begitu kepadaku. Masing-masing tersenyum. Jantungku berdenyut-denyut.
“Banyak sekaliiiiii”, kataku ke Dilan dengan suara menekan tetapi pelan berbisik. 

Dilan senyum. Kulihat si Bibi keluar dari kamarnya. 

“Bi!”. Kupanggil dia. “Bisa nyiapin minuman?”
“Gak usah” kata Dilan. “Aku bawa”, katanya lagi ke aku.
“Oh, gak usah katanya, Bi”
“Udah pada tidur?”, Tanya Dilan
“Ibu sama Airin nginep di rumah dinas Ayah”
“Oh”
“Ngapain bawa banyak orang?”, kutanya
“Mau ngerayain kita jadian” jawab Dilan. 

Mendengar Dilan bilang begitu, langung kututup mulutku dengan tangan bagai orang terkesiap mendengar khabar tak terduga. Tidak terbayang olehku, bagaimana rasanya jadi Kang Adi seandainya menyaksikan acara itu.
“Tapi ada, Kang Adi?!”, kataku
“Bagus lah, “ jawab Dilan. “Dia saksinya”

Aku senyum. Kupandang Dilan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hayu ke sana”, ajak Dilan, sambil ia angkat tangan kanannya dan memonyongkan semua jari-jarinya. Habis itu ia patukkan ke keningku, ke pipi dan bibirku. 

Aku tersenyum. Kutatap matanya, kemudian kulakukan hal yang sama, tetapi tanganku hanya mematuk bagian bibirnya saja. 

Dilan ketawa. 

Kulepaskan tanganku yang tadi kupakai untuk memegang tangan Dilan, lalu kembali ke ruang tamu. Aku berjalan di belakang Dilan sambil memegang ujung belakang kemejanya.  
“Aku duduk di sana, Kew”, kata Dilan, membuat Akew jadi langsung berdiri, untuk memberi Dilan tempat. 

Ketika Dilan duduk, Akew sudah berdiri di sampingku dengan bahunya yang kurangkul sambil merhatiin tingkah Dilan. Seandainya bukan Akew, harusnya Dilan akan cemburu. 
“Kang,” kata Dilan ke Kang Adi. “Maaf mengganggu. Sampai bawa banyak teman”. 
“Gak apa-apa”, jawab kang Adi. Suaranya terdengar seperti sedang kesal ke Dilan
“Ini, Kang. Mau ngadain acara”, kata Dilan. 

Aku benar-benar bisa merasakan jantungku berdetak di dadaku memikirkan apa yang akan terjadi kemudian! Aku pasrah. Aku serahkan semuanya ke Dilan. 
“Udah bilang dulu ke Lia sebelumnya?”, Tanya Kang Adi, dengan nada suara yang parau karena menahan rasa jengkel.
“Belum, Kang”

Kukira, keadaan mulai menjadi terasa menegangkan, terutama dibangun oleh nada bicara Kang Adi yang kurang bersahabat. 
“Harusnya izin dulu”, kata Kang Adi
“Siap, Kang”, kata Dilan, sambil langsung berdiri dan bergerak mendekatiku. 
“Lia,” katanya sambil meraih tanganku. Dilan berdiri di depanku. Dadaku berdenyut lebih kencang dari sebelumnya. Tentu saja orang yang ada di ruang tamu semuanya menyaksikan apa yang sedang berlangsung antara aku dan Dilan 
“Aku minta izin,” kata Dilan. Heran, dia bisa nampak begitu santai. “Aku dan kawan-kawan, mau ngadain acara syukuran kita sudah resmi jadi pacar”

Edan!! Kang Adi pasti denger, walau berusaha tidak ingin melihat. 

Segera seluruh ruangan meledak dengan suara. Semua orang bertepuk tangan, tentu saja Kang Adi tidak. 

Perasaanku campur aduk! Aku berusaha keras untuk terlihat normal, lalu aku mengangguk, untuk pengganti kata “Iya” sebagai tanda bahwa aku memberi Dilan izin mengadakan acara yang dimaksud oleh Dilan. 

Kutatap Dilan, dia tersenyum. Itu adalah senyuman hangat yang pernah kulihat.
Dilan duduk lagi di tempatnya yang tadi. Teman-teman Dilan mulai saling bicara bersamaan. 

Kusandarkan keningku di bahu Akew dengan mata yang kututup, bagai orang yang tidak ingin disalahkan oleh apa yang sudah dilakukan oleh Dilan, kalau memang hal itu sudah membuat perasaan Kang Adi menjadi hancur berantakan.

Dilan memang orang yang cukup nekad. Aku tahu dia. Jika baginya itu harus dilakukan, demi untuk menunjukkan kekuatannya, maka akan ia lakukan, persetan dengan orang nanti akan bilang apa. Itu mungkin akan terdengar liar untuk sebagian orang. 

Dan aku meyakini, malam itu adalah malam Dilan sebagi bagian dari usahanya melakukan Penaklukan! 

Iya kan, Dilan?

Harusnya malam itu adalah malam yang paling buruk buat kang Adi karena dia juga pasti mendengar apa yang dikatakan oleh Dilan. Hati Kang Adi harusnya langsung merasa tercabik oleh sabetan pedang yang tak nampak! Maksudku kalau hatinya tidak terbuat dari baja.  

“Kamu duduk di sampingku”, kata Dilan berdiri dan mendekatiku untuk meraih tanganku dan membawa aku duduk. 

Ketika aku sudah mulai duduk di sampingnya, kang Adi berdiri.
“Kang Adi pulang dulu”, katanya kepadaku. 

Kamu harus mendengar suaranya deh. Gak enak didenger.
“Oh iya, Kang,” kujawab langsung

Kang Adi berjalan untuk pergi keluar dengan cara menyelinap di antara kawan-kawan Dilan yang pada berdiri. Dan aku langsung merasa yakin Kang Adi pasti tidak akan pernah ingin bertemu lagi denganku dari semenjak saat itu.

Kang Adi pulang. 

Sebetulnya aku merasa gak enak karena aku bisa melihat dia seperti merasa sengsara dan putus asa karena dijebak oleh suatu keadaan. Dan merasa bingung oleh aku yang tiba-tiba menjadi riang kembali padahal sebelumnya dirundung rasa kesal kepada seseorang yang tadi kumarahi di telepon. 

Aku bertanya-tanya seandainya Kang Adi sudah merasa kehilangan kesempatan untuk bisa mendapatkan diriku, apakah Kang Adi sudah menganggap aku telah sengaja bersekongkol dengan Dilan untuk membuat hari Kang Adi malam itu menjadi buruk? Jika iya, aku juga pernah mengalami hari buruk yang disebabkan oleh Kang Adi!

Ya sudahlah, semua yang terjadi sudah terjadi. Harusnya justeru aku bersyukur bahwa kejadian ini cukup ampuh untuk memberitahu Kang Adi, agar tidak usah berusaha lagi mendapatkan diriku. Tidak usah lagi membuat aku merasa ingin sembunyi di dalam lemari setiap kali dia datang ke rumahku, seperti yang Dilan lakukan ketika Susi datang ke rumahnya. 

3

Acara syukurannya cuma sebentar. Tidak khidmat, karena dipenuhi oleh gelak tawa. Agendanya juga cuma satu, cuma membacakan isi surat pernyataan tentang aku dan Dilan sudah jadian, yang dulu Dilan tulis di warung Bi Eem dan dibubuhi meterai itu.

Habis itu Akew menyerahkan dua bungkusan kantong keresek ke Dilan. Lalu Dilan menyimpannya di atas meja, dan mengeluarkan isinya. Isinya adalah beberapa makanan dan dua botol minuman Coca-Cola. 
“Mamalia, boleh minta gelasnya?”. Mamalia yang dia maksud adalah aku. Harusnya dipisah: “Mama Lia”. Tapi sama aja sih! 
“He he he Iya. Bentar ya”, jawabku, sambil berlalu ke dapur untuk mengambil gelas.
“Kubantu”, kata Akew menyusulku. Bowo juga ikut.
“Aku gak enak ke Kang Adi”, kataku ke Akew
“Kang Adi tuh siapa?”
“Yang mau ke Lia”, jawabku
“Nanti jadi enak kalau dia gak datang lagi”
“He he he iya”, kataku sambil mengeluarkan gelas dalam lemari. 

Setelah kembali, aku sudah melihat mereka pada duduk di kursi, sebagian lagi masih berdiri karena kursinya kurang. 
“Ambil kursi makan aja, yuk,” kataku pada mereka
“Gak usah”, jawab Dilan sambil membuka kantong keripik. “Udah, gini aja” 
“Tapi berdiri”, kataku
“Udah, gak apa-apa,” jawab Dilan. “Kau sini lah!”, katanya memanggilku. 

Aku ke sana, duduk di samping Dilan 

Malam itu, ruangan tamu menjadi lebih hidup oleh orang-orang yang saling bicara dan tertawa.

4

Ketika Dilan izin pulang, orang-orang sudah pada siap untuk keluar rumahku. Aku dan Dilan sudah berdiri. Aku bilang ke Dilan ingin ikut. 
“Ke mana?”, tanya Dilan
“Ikut kalian”
“Pada mau pulang”, jawab Dilan
“Ikut kamu”
“Pulang?”, Tanya Dilan
“Iya”

Dilan diam.

“Beneran mau ikut?”, Tanya Dilan
“Iya”
“Sebentar aja ya?”
“Iya”, kujawab
“Ambil jaketmu”, kata Dilan

Aku senyum dan girang, lalu langsung pergi ke kamar untuk mengambil jaketku (Aslinya sih jaket Dilan). Kudengar suara motor yang sudah mulai dinyalakan. Dilan teriak:
“Kew! Tunggu! Jangan pulang dulu”

Aku bilang ke si Bibi mau jalan-jalan dulu, sebelum akhirnya aku pergi dengan Dilan dan kawan-kawannya. Maka, itulah malamnya, untuk pertama kali aku ikut konvoi dengan anak-anak gengmotor!  

5

Malam itu, sebagaimana biasanya, jalanan nampak lengang. Kami melaju dengan kecepatan yang lambat di dalam dua barisan. Kata Dilan itu namanya konvoi formasi parade. Ada jenis formasi lainnya, dipakai sesuai kebutuhan atau untuk mengacu pada situasi dan kondisi lalu lintas jalan raya. 

Motor Dilan berada di posisi kedua. Hanya dua motor yang lampunya dinyalakan, yaitu lampu motor Dilan dan lampu motor yang ada di sampingnya.
“Kenapa?”, kutanya mengapa yang lain tidak menyalakan lampu motornya.
 “Hemat”, jawab Dilan. 

Pasti itu jawaban asal. Pasti bukan itu jawaban yang sebenarnya. Pasti ada alasannya mengapa hanya dua motor saja yang lampunya dinyalakan. Entahlah.

Kami menembus angin malam, menyusuri jalan Banteng, terus belok ke jalan Laswi untuk menuju arah jalan Buah Batu. Suara deru motor merobek kesunyian. Kupeluk Dilan dengan perasaan yang menyenangkan bersama pengalaman baru yang sedang kulalui.  

Pengendara  motor paling depan selalu memberi kode dengan menggunakan tangan kirinya untuk memberitahu pengendara motor yang ada di belakangnya. Pasti terlihat, karena disorot oleh lampu motor di barisan kedua. Aku jadi ngerti apa maksudnya, karena dijelaskan oleh Dilan walaupun kadang-kadang dia memberi jawaban yang asal.
“Kalau itu?”, kutanya Dilan, ketika pengendara paling depan memberi kode lagi
“Hati-hati, daerah rawan”, jawab Dilan
“Rawan kenapa?”, kutanya lagi
“Ya, rawan aja”.

Aku diam

“Tiap malam begini?”, kutanya Dilan, maksudku aku ingin tahu apakah konvoi macam itu dilakukan setiap malam? 
“Enggak”

Dari jalan Sadakeling, kami masuk ke jalan Burangrang, terus belok ke jalan Gatsu (Gatotsubroto). Aku sudah lupa jam berapa waktu itu, pokoknya belum terlalu malam amat, tapi Bandung sudah dipenuhi kabut tipis. Udaranya cukup dingin, bahkan di saat-saat tertentu, dari mulutmu akan ada uap yang keluar ketika engkau bicara. 

Jalanan juga sangat sepi, tak ada begitu banyak orang, dan trotoar belum dipenuhi oleh pedagang kaki lima. 

Ingat, aku sedang membicarakan Bandung tahun 1990, bukan Bandung sekarang yang sudah jauh berbeda. 

Sekarang, jika kamu ke Bandung di malam minggu atau pada waktu long week end, kamu tidak akan pernah merasakan Bandung sesungguhnya!

6

Ketika mulai turun gerimis, kami masuk ke jalan Gatsu, terus belok ke arah jalan Malabar. Dari jalan Malabar langsung ke jalan Talaga Bodas untuk kemudian masuk ke jalan Palasari dan tak lama dari itu sampailah di rumahku.   

Aku sudah turun dari motornya ketika Dilan menyuruh kawan-kawannya untuk pergi duluan. Jalan Banteng langsung sunyi ketika mereka pergi. 

Aku membuka pintu pagar rumahku karena Dilan bilang dia mau masuk.

Tanpa kuketuk, si Bibi membuka pintu, mungkin dia sudah tahu kedatanganku dengan mendengar banyak suara motor di luar rumah. 

Aku dan Dilan masuk. 

Meja ruang tamu sudah bersih, pasti berkat si Bibi. Kulihat jam dinding menunjuk pukul sepuluh lebih.

Dilan duduk. 

“Mau air hangat gak?”, kataku sambil masih berdiri
“Aku yang ngambil atau kamu?”, Tanya Dilan, membuat aku jadi inget si Bunda yang selalu bilang begitu setiap kalau nyuruh orang.
“Aku aja”, kataku sambil senyum dan pergi untuk mengambil air minum. 
“Belum tidur, Bi”, kataku ke si Bibi yang sedang nonton Film Akhir Pekan yang disiarkan oleh TVRI. 

Kalau gak salah, dulu juga sudah ada stasiun teve swasta, yaitu hanya SCTV dan RCTI.

“Belum,” jawab Bibi. “Mau makan?”, Tanya Bibi berdiri dari duduknya
“Enggak, Bi”, kujawab. “Ambil air minum buat Dilan”
“Biar sama Bibi”
“Gak usah, Bi”
Si Bibi duduk lagi dan nonton. Aku kembali ke ruang tengah dengan membawa dua gelas air hangat. 

Kudengar suara hujan mulai membesar. Sesekali kudengar suara petir di tempat yang jauh. 

Suasana rumah nampak sunyi, hanya terdengar suara teve dan air hujan menimpa genteng rumah.. Semua benda yang ada di rumah bagai kaku membisu, seolah-olah hanya aku, Dilan dan si Bibi yang masih hidup di dunia.    
“Kawan-kawanmu kehujanan”, kataku ke Dilan ketika sudah duduk di sampingnya
“Baguslah. Kalau gak gitu, gak akan pada mandi”, kata Dilan setelah minum air hangatnya
“Ha ha ha”

Di saat itu, sesekali terdengar ada  suara kendaraan yang lewat di jalan Banteng 
“Sekarang kita udah jadian”, kata Dilan kemudian
“Iya,” kujawab sambil senyum. “Aku seneng”. 

Asalnya mau kubahas soal Kang Adi yang tadi senewen, tapi gak jadi.
“Aku gak akan pernah menciummu”, kata Dilan sebelum kemudian minum lagi. Sejenak aku bingung oleh mengapa dia bilang begitu. Aku minum dan lalu kujawab:
“Ya, bagus”, kataku tersenyum. “Ciuman pake tangan aja”
“Kalau aku nyium kamu,” katanya. “Berarti aku bajingan”
“Maksudnya?”, kutanya sambil kuangkat alisku
“Iya. Kalau aku nyium kamu, berarti aku bajingan”
“Oh,” kataku berusaha mengerti maksudnya. “Oke”

Setelah beberapa detik di dalam keheningan, kudengar Dilan menyebut namaku:  
“Lia”
“Hmmm?”, kujawab sambil kusibakkan helaian rambut yang menutupi wajahku.
“Malam ini….aku pengen jadi Bajingan”, kata Dilan
“Ha ha ha ha ha”
“Boleh?”

Tidak kujawab karena setelah itu kami tidak lagi membutuhkan kata-kata.

Aku tidak bisa mengatakan apa yang aku lakukan dengan Dilan kemudian. Rasanya itu adalah hal yang paling sulit kujelaskan. 

Ah, Dilan.

***


06. TANTE ANIS

1

Hari minggu aku bangun pagi. 

Aku tidak yakin aku tidak akan pernah bisa melupakan malam tadi. Selamanya akan tertanam dalam ingatan, bersama jantung yang berdebar dan perasaanku yang bagai dialiri oleh listrik. 

Aku benar-benar membiarkan diriku jatuh cinta kepadanya. Dan aku menjadi tak terkendali untuk terus rindu kepadanya. 

Kira-kira pukul delapan pagi, Bang Fariz datang ke rumah dengan menggunakan mobil ayahku. Dia memang disuruh Ayah untuk menjemputku, karena harus datang ke rumahnya Tante Anis, di daerah jalan Riau. 

Ayah, Ibu dan Airin sih sudah lebih dulu tiba di sana. Mereka berangkatnya dari rumah dinas Ayah, tempat di mana mereka pada tidur semalam.  

Tapi, sebelum kuteruskan ceritanya, aku mau cerita tentang Tante Anis dulu:

Tante Anis adalah saudara kami. Dia anak kandung Nenek Aini. Dan Nenek Aini adalah adiknya nenekku dari pihak ayah. 

Tahun 1976, Tante Anis menikah dengan seorang warga negara Belgia, Johan De Kemmeter, yang biasa kupanggil dengan menyebut Om Johan. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak, yang lalu kukenal sebagai Yugo. Yugo Danois De Kemmeter, yang akan aku ceritakan nanti secara khusus.

Tahun 1985, Tante Anis, Om Johan dan Yugo, pada pindah ke Belgia dan membuka restaurant khusus masakan Indonesia di sana. Setelah itu aku tidak pernah tahu lagi khabarnya. Maksudku, Mungkin mereka hanya melakukan komunikasi dengan ayah dan ibuku saja. 

Setahun setelah Oom Johan meninggal, Tante Anis memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan memilih tinggal di Bandung dengan membeli sebuah rumah yang ada di daerah jalan Riau itu. Ayahku lah yang ngurus transaksi jual belinya.  

Rumah itu cukup besar, berupa bangunan tua Belanda dengan ubinnya yang antik dan bagus. Ada beberapa kursi rotan di teras depan rumahnya. Di halamannya yang luas terdapat tiga pohon pinus. Di luar pagarnya terdapat Rumput Gajah yang tumbuh bagus dan keurus. Juga ada pohon jambu batu, tempat menggantung dua ayunan yang terbuat dari setengah ban bekas. 

Tahun 1998, rumah itu dijual. Tante Anis dan Johan pindah ke Jakarta. Oleh si pembeli, rumah itu kemudian dirobohkan, diganti dengan bangunan baru yang tidak lebih baik dari bangunan sebelumnya, yaitu bangunan model baru yang dipenuhi dengan kaca. Nampak cukup modern. Dan kalau Arsiteknya memang sengaja ingin membuat bangunan yang terlihat nampak kumuh, dia sangat berhasil.       

2

Sekarang, biarkan aku menjelaskan sedikit tentang Yugo:

Aku tahu Yugo dari semenjak masih kecil, karena dulu dia tinggal di kota yang sama denganku, yaitu waktu masih tinggal di Jakarta. 

Rumah Yugo hanya berjarak lima rumah dari rumahku. Kalau ada kesempatan bertemu di rumahnya atau di rumahku, aku suka bermain dengannya, kadang-kadang saling ledek. Atau bermain game Nintendo, atau menonton film action. 

Fakta bahwa kami begitu dekat dan akrab, aku sendiri hanya menganggapnya sebagai teman bermain. 

Aku juga satu sekolah dengan Yugo. Hanya saja usia Yugo lebih tua dua tahun dariku, sehingga meskipun kami bersekolah di SMP yang sama, Yugo adalah kakak kelasku. 

Aku masih ingat, bagaimana dulu, di sekolah, Yugo banyak disukai cewek-cewek. Kadang-kadang aku suka merasa ikut bangga bahwa Yugo itu adalah saudaraku. 

Kuakui, Yugo memang tampan. Rambutnya agak pirang alami. Sepertinya ia akan selalu menjadi perhatian cewek-cewek di mana pun ia ada. Pokoknya gitu lah, akan jauh lebih menarik dengan melihatnya sendiri, daripada yang bisa kugambarkan

Lepas dari yang sudah kuceritakan tentang dia, aku bisa bilang Yugo itu cenderung aktif, dan suka melakukan hal-hal yang menurutku cukup berani. 

Dulu, dia bisa naik ke dahan pohon paling tinggi untuk mengambil jambu air. 
“Aku udah kayak monyet belum?,” teriak Yugo kepada kami yang ada di bawah.
“Udaaah”, jawabku.

Lalu Yugo turun, setelah dia lemparkan jambunya untuk kami tampung dengan menggunakan sarung yang dibentang. 

Masih bisa kuingat, bagaimana dulu Yugo membuat tumpukan kayu yang kemudian dia bakar untuk diloncati dengan memakai sepeda. Sementara Aku dan Zaini (teman Yugo) pada duduk untuk nonton di teras rumah. Pada awalnya aku pikir itu akan lucu, tapi seperti yang aku lihat kemudian Yugo terpeleset.

Melihat Yugo jatuh dari sepeda, aku dan Zaini meloncat untuk memberi pertolongan. Ada luka di lututnya dan Yugo merintih kesakitan. Segera saja aku lari dan masuk ke rumahku untuk kembali lagi membawa Betadine. 

Kuteteskan Betadine itu di lukanya.
“Gak apa-apa?”, kutanya Yugo, ketika dia sudah berdiri 
“Gak apa-apa”
“Panggil ambulance”, kata Zaini
“Gak usah”, jawabku

Pernah, waktu kami sekeluarga pada pergi ke Pangandaran, Yugo menghampiri kawanan monyet hanya untuk merebut topiku yang diambil oleh mereka.
“Yugo! Ngapain?”, Tante Anis teriak melihat Yugo bergerak menghampiri kawanan monyet itu.
“Udah! Biarin”, kata Ibuku.

Tapi Yugo terus maju. Dia melempar banyak kacang ke arah samping tempat di mana kumpulan monyet itu sedang duduk di atas bukit kecil. Karena ada kacang yang dilempar, monyet-monyet itu berlarian, untuk rebutan mendapatkan kacang itu.

Salah satu monyet yang sedang memegang topiku, ikut rebutan kacang juga. Dan ketika dia lengah, Yugo bergerak cukup cepat merebut topiku yang sedang dipegangnya. Monyet itu terkejut dan marah, berusaha mengejar Yugo. Yugo mendapat bantuan dari kami untuk mengusir monyet itu sampai lari dan kembali berkumpul dengan kawan-kawannya.

“Makasih”, kataku ke Yugo, ketika dia memberikan topiku. Tubuhku masih berasa gemetar oleh melihat aksi nekadnya Yugo.

Itulah sebagian cerita yang aku alami bersama Yugo ketika kami masih kecil. 

Hampir-hampir bisa aku katakan bahwa cerita masa kecilku menjadi ceritanya, dan cerita masa kecilnya menjadi ceritaku. 

Ketika dia harus pindah ke Belgia, kami sekeluarga mengantarnya ke bandara dan aku memeluknya sebelum benar-benar dia pergi. 

Pada awalnya tentu saja aku sedih, karena pada saat itu aku berpikir bahwa kami tidak akan pernah bersama-sama lagi, tapi seiring waktu berlalu, aku bisa mengatasinya. 

Hari itu, Yugo sudah kembali ke Indonesia dan tinggal di Bandung, sangat lumrah kalau aku merasa senang dan rindu ingin bertemu. 

3

Di perjalanan ke rumah Tante Anis, Bang Fariz bilang, katanya semalam Kang Adi mampir ke kostan dan cerita soal aku. 
“Cerita apa?”, kutanya
“Katanya kamu ikut rapat gengmotor semalam”, jawab Bang Fariz
“Hah?”
“Iya,” kata Bang Fariz lagi. “Terus habis itu, semalam pesta katanya ya?”
“Ha ha ha!!”
“Pesta apa?”, Tanya Bang Fariz
“Pesta minuman keras laaah,” kujawab. “Mabuk-mabukan. Ngeganja!”
“Serius?”
“Abang percaya?”, kutanya balik.
“Tapi, beneran semalam gengmotor pada datang ke rumah?”
“Iya”, kujawab. “Lia ditawan geng motor, Bang. Disiksa”

Bang Faris diam sambil terus konsentrasi mengendarai mobil. Kayaknya dia juga sadar bahwa aku sedang bercanda

“Hati Lia ditawan, Bang. Disiksa rindu! Ha ha ha!”, kataku lagi
“Dilan itu ya?”, Tanya Bang Fariz
“Ya,” jawabku. “Lia pacaran sama Dilan”. Kataku. 

Sejenak aku langsung kaget dengan apa yang barusan kubilang ke Bang Fariz bahwa aku berpacaran dengan Dilan. Kukira, itu di luar kesadaranku, entah mengapa, terucap begitu saja.

Langsung aku minta Bang Fariz untuk jangan dulu bilang ke Ayah dan Ibu, bahwa aku pacaran dengan Dilan. Biar aku saja yang akan bilang ke mereka. Tapi nanti, aku perlu waktu yang pas untuk itu.
“Iya,” katanya
“Kalau Bang Fariz tetap bilang, Bang Fariz gak boleh datang lagi ke rumah Lia”
“Iya” 
“Janji!”
“Iya”

Mobil mulai memasuki jalan Riau

“Kok Lia mau ke dia?”, Bang Fariz nanya 
“Kenapa gitu?”
“Nanya aja”
“Terus kenapa Abang mau ke Evi?”, kutanya dia sambil kupandang dirinya, untuk kemudian aku sandarkan kepalaku ke jok mobil. 

Evi yang aku maksud adalah pacarnya Bang Fariz. 

“Dilan kan..”, kata Bang Faris dengan suara bagai orang yang ragu mau ngomong. 
“Anak nakal?,” Langsung kutanya Bang Faris sehingga memotong omongannya, seolah-olah aku tahu bahwa Bang Fariz akan bilang begitu

Bang Fariz tidak menjawab

“Anak brengsek??”, kutanya lagi, seolah-olah aku sudah bisa menebak dia juga akan bilang begitu, walaupun belum tentu. 

Bang Faris diam, seperti orang yang nahan untuk tidak bicara.
“Kalau Bang Fariz bilang Dilan anak nakal, aku juga mau bilang Evi itu anak nakal. Anak brengsek!”, kataku

Bang Fariz masih diam. Tapi aku tahu dia sedang menyimak kata-kataku
“Kalau Bang Fariz bilang Dilan anak gak bener, Lia juga akan bilang Evi itu anak gak bener”

Bang Fariz tetap diam. Sepertinya dia bingung mau ngomong
“Gimana rasanya kalau Lia bilang pacar Bang Fariz itu anak nakal, anak gak bener, anak brengsek?,” kutanya

Bang Fariz tetap diam, tapi aku tahu dia masih terus menyimak
“Kang Adi itu mau ke Lia, Bang”, kataku
“Kayaknya”, akhirnya Bang Fariz bicara lagi.
“Bilangin ke Kang Adi, udahlah, kalau mau Lia gak usah manfaatinpaman Lia segala, biar dapat dukungan”. 

Bang Fariz diam, berusaha bersikap akomodatif
“Bilangin ke Kang Adi, Paman Lia itu keren,” kataku. “Paman Lia bukan orang bodoh yang mudah dipengaruhi. Paman Lia bukan orang dungu yang bisa dimanfaatin” 
“Mungkin dia cemas kamu berkawan sama anak gengmotor”, kata Bang Fariz
“Dia sih cemasnya takut aku pacaran sama Dilan”

Bang Fariz diam

“Bilangin ke Kang Adi, gak usah ngejelek-jelekin Dilan. Dilan sendiri udah ngaku kok kalau Dilan itu kawannya setan” 

Bang Fariz masih diam
“Kata Dilan, karena dia kawannya setan, makanya dia gak pernah berbuat salah” kataku. “Abang tahu kenapa?”, kutanya
“Kenapa?”
“Katanya, karena dia gak pernah diganggu setan. Kan setan itu kawannya, masa’ ke kawan mengganggu? Ha ha ha ha”
“Ha ha ha”

Bang Fariz ketawa
“Udah, gak usah ngebahas Kang Adi ah”, kataku. “Males!”

Aku bilang ke Bang Fariz, bahwa aku merasa aku belum siap untuk bilang bahwa aku pacaran dengan Dilan. Bukan apa-apa, aku kuatir mereka tidak akan setuju menerima kenyataan bahwa aku berpacaran dengan Dilan yang adalah anggota geng motor, karena aku yakin mereka akan berpikir Dilan itu brengsek, sebagaimana halnya dulu aku juga pernah menilai dia begitu. 

Orang-orang biasanya memang selalu stereotip. Orang baik bagi mereka adalah yang berpakaian bersih, rambut dipotong dengan rapi, tidak memiliki tatto dan tampak seperti orang suci dengan pakaiannya seperti nabi.
“Tapi si Ibu gak akan gitu laah”, kata Bang Fariz
“Tau! Pokoknya jangan bilang dulu!”


BERSAMBUNG :)