Senin, 17 November 2014

MANUSKRIP AMSTERDAM



MANUSKRIP AMSTERDAM


1
Itu adalah sebuah Coffee Shop bernama “De Dampkring”, di mana sejumlah kecil ganja dijual. Terletak di sudut jalan Haarlemmerstraat, Amsterdam, tidak jauh dari Central Station,

Setelah bersepeda sendirian, Basile duduk di sana, di ruangan yang didominasi oleh cahaya warna merah dengan kualitas tingkat rendah.

Suasana saat itu cukup tenang bersama alunan musik dengan volumenya yang tepat.

Langit abu-abu dan rendah tetapi belum hujan. Cuaca memang sedang benar-benar buruk, bahkan di seluruh Eropa.

Itu bulan Mei 2001 dan itu dingin!

2
Pada waktu cerita ini dibuat, Basile sedang merampungkan gelar master Filsafat di Universitas Amsterdam, dan magang di majalah Het Parool untuk Jurnalisme Budaya.

Basile mengenal dirinya sebagai seorang Indonesia yang pergi ke Amsterdam sejak setahun yang lalu. “Ah, sudahlah. Bukan siapa aku, tetapi apa yang aku lakukan”

Basile adalah yang berfikir tentang manusia, yang tinggal di tempat berbeda di seluruh dunia, untuk mencari kehidupan lebih baik. Dan merenungkan tempat lain yang lebih memungkinkan untuk meraih masa depannya.

Hari itu, Amsterdam bukan hari yang baik untuk pergi, tapi Basile pergi untuk bertemu dengan Sarah. Seorang gadis dari kota Israel yang sudah ada di Amsterdam pada waktu yang sama dengan Basile, juga kuliah di kampus yang sama dengan Basile, tetapi berbeda jurusan.

Kemarin, di kampus, mereka hanya punya waktu sepuluh menit untuk bertemu.
"Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi?", Tanya Basile
"Bisa bertemu di “De Dampkring”, jawab Sarah, sambil berkemas untuk pergi.
“De Dampkring?” Tanya Basile, berusaha yakin dia tahu tempat itu. “Oh. Oke”
"Besok, pukul 22:00", kata Sarah
"Tapi aku tidak punya nomor teleponmu" kata Basile.
"Aku curiga kamu sudah mendapatkannya dari Isaac”
“Ha ha ha belum”
“Dan mencatatnya dalam buku yaa. Diam-diam"
“Ha ha ha. Aku serius. Aku belum punya"
"Oke sampai jumpa di De Dampkring"
"Ah! Ya sudah"
"Bye! Syalom Alaihim! (Alechem)"
"Bye!"

3.
Hari itu, mereka benar-benar bertemu. Percakapan membaur di udara, di atas makanan.

Mereka diskusi, sebagai satu dialektika tentang perbedaan yang tidak dilarang oleh perasaan dan kebijaksanaan.

Itu menyenangkan bahwa mereka terlihat santai dan tidak memiliki sepenuhnya naluri kesukuan. Bertindak tidak seperti orang lain yang memiliki pemikiran sempit.
“Aku sudah terlatih sejak bayi untuk menjadi Yahudi”, kata Sarah ketawa. Lalu ia hirup lagi kopinya.
“Dan berkembang menjadi cantik untuk duduk denganku sekarang”, kata Basile
“Kau yakin gak salah lihat?”. Sarah tersenyum.
"Aku senang bersamamu dan itu yang penting."
"Ha ha ha"
"Hari ini, Aku hanya ingin tinggal jauh dari orang-orang"
"Kenapa?", tanya Sarah
"Aku sedang tidak ingin membaca atau berpikir. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bertemu denganmu"

Sarah tersenyum bersama hujan yang turun secara dramatis hari itu. Awan gelap berguling di atas kanal, meninggalkan segala sesuatu yang diwarnai oleh kegelapan.



BERSAMBUNG YA :)





Senin, 27 Oktober 2014

DILAN, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991


DILAN
Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Seri Kedua

1
Waktu itu, jalan Buah Batu rasanya bukan lagi milik Pemkot, melainkan milik aku dan Dilan, yang sedang berdua di atas motor.

Sebagai keindahan yang nyata bahwa Dinas Bina Marga Bandung telah sengaja membuat jalan itu, khusus untuk kami merayakan hari resmi mulai berpacaran.

Entah bagaimana dengan Dilan, tapi perasaanku saat itu, terasa lebih deras dari hujan dan seperti melambung lebih ringan dari udara.

Entah bagaimana dengan Dilan, tapi di hatiku adalah dia, dengan perasaan hangat yang kupunya. Di kepalaku adalah dia, dengan semua sensasiku dan alam imajinasiku yang melayang.

Kupeluk Dilan sambil mengenang saat pertama kali aku mulai mengenalnya. Teringat kembali tentang semua hal yang sudah dia lakukan selama ini kepadaku. Di antaranya, ada juga yang menjengkelkan, tetapi tetap bisa membuat aku tersenyum.

Sikapnya kepadaku selama ini, agak susah kujelaskan. Dan, selalu sulit bagiku untuk tidak menyukai apa yang sudah ia lakukan. Secara khusus akan bisa membuat aku tertawa, atau minimal membuat aku tersenyum, sisanya membuat aku terjebak pada suatu keadaan yang lebih dari cuma rasa senang.

Ini skenario yang paling menakjubkan dalam hidupku. Bagaimana kemudian dia bisa mengubah pikiranku. Bagaimana kemudian dia bisa mendekor ulang, dan mengubah warna hidupku. Aku tidak mau lagi berpikir mengapa kemudian aku memiliki rasa suka kepadanya. Hidup, memang, tak terduga.

Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.


2
Itulah harinya, hari yang kuingat, sebagai hari yang menyenangkan bagiku, berdua di atas motor dalam guyuran hujan akhir Desember, pada tahun 1990, di Bandung.

Berasa sangat dingin, tetapi pada kenyataannya, menyenangkan! Berdua dengan Dilan, bersama cinta yang dapat dirasakan tanpa perlu banyak penjelasan!

Kami tertawa terbahak-bahak dan terlibat ke dalam berbagai perbincangan. Ketika Dilan bertanya apa cita-citaku, kujawab aja seenaknya, bahwa aku ingin jadi Pilot, aslinya sih enggak.
“Kalau kamu?” kutanya balik. Aku juga ingin tahu apa cita-citanya.
“Aku?”
“Iya...”
“Aku ingin menikah denganmu!”
Dilan menjawabnya dengan cepat.
“Ha ha ha ha!!!”
Gampang sekali rasanya ketika dia harus mengatakan hal itu. Terdengar jadi begitu sederhana.
“Kau mau?”, Dia nanya.
“Mauuuuu!!!!”. Suaraku mampu menembus deru hujan.
“Ha ha ha ha!!”

Hari itu, aku merasa seperti orang yang siap untuk membiarkan dirinya, membawa aku pergi, ke tempat terjauh manapun yang ada di dunia. Tapi yang ia lakukan malah membawa aku pulang, ke jalan Banteng. Aku gak punya pilihan, meski masih ingin bersamanya.

“Nanti kau sakit” katanya, “Pulang aja”
“Iya....” kataku. Cukup dengan suara pelan, dia pasti bisa mendengar, karena pipi kananku merebah di punggungnya.

Kukira itu adalah hal romantis yang pernah aku berikan ke Dilan agar aku juga bisa sama merasakannya.
“Liaaa! Liaaaa! Mileaaa!”
Mendengar Dilan meneriakkan namaku, serta merta kuangkat kepalaku.
“Apa?”, tanyaku bingung.
“Pak, mau Milea gak?”, tanya Dilan kepada orang yang sedang berteduh di emper toko itu. Suaranya sedikit agak keras dan dengan laju motor yang sengaja dibikin lambat. Orang itu, pedagang kue, agak jauh dari kami, hanya bisa melongo.
“Heh?!!!!” Seruku ke Dilan, sesaat setelah aku memberi senyuman gak jelas ke orang itu sebagai memohon maklum.

Dan yang kemudian kulakukan adalah mengacak-acak rambut Dilan. “Emangnya aku kue!!??”
"Ha ha ha"

Setelah mengantar aku pulang, hujan belum sepenuhnya reda. Aku langsung ingin segera bertemu lagi dengan Dilan, sedetik sehabis dia pamit!

Ah, Dilan, setelah semua ini, bisakah aku bertahan jika jauh darimu?

3
Masih ingat peristiwa Dilan berantem dengan Anhar? Ya, malamnya, aku benar-benar merisaukan hal itu.

Otoritas sekolah pasti sudah tidak bisa nerima lagi. Mereka sudah punya alasan yang cukup kuat untuk segera memecatnya, karena terjadi pada masa di mana Dilan masih dalam status mendapat hukuman percobaan.

Kukira tidak ada satu pun yang mengharapkan semua ini terjadi. Sehingga aku merasa tak perlu lagi nuduh-nuduh siapa yang jadi biang kerok atas adanya kejadian itu.

Begitu dramatis! Dan sekaligus juga ironis, di saat dia sudah resmi menjadi pacarku, malah justeru harus pergi!

Ah, jika benar terjadi, aku merasa belum siap!

Aku tidak bisa berbuat banyak. Perasaanku diliputi oleh rasa takut dan putus asa . Tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan merasa kewalahan oleh ketidakberdayaanku sendiri.

Kucoba juga melihat ke jauh dalam diriku, untuk bertanya  siapa aku, dan apa yang aku inginkan.

Ya, aku adalah Milea, Milea Adnan Hussain, yang sudah resmi menjadi pacar Dilan dengan kekuatan bukti secarik surat bermaterai! Dan menginginkan yang terbaik buat Dilan, untuk kehidupan dan masa depannya!

Sehingga keputusan sekolah yang akan memecat Dilan, pastinya langsung memberi efek mendalam dan begitu sangat kupikirkan! Dengan kata lain, malam itu, aku merasa gelisah!

Kira-kira pukul delapan, aku telepon Dilan, entah untuk apa, tetapi itu yang kulakukan. Bi Diah yang ngangkat.
“Ada Dilan, Bi?”
“Dilan?”
“Iya”
“Ada", katanya, “Maaf, dari siapa ya?’
“Lia, Bi ", jawabku. "Milea”
“Oh, Teh. Bentar ya”

Selagi nunggu Dilan, kupejamkan mataku untuk membiarkan pikiranku mengalir.
“Hey!”
“Hey!”, kusambut.
“Ini Lia mana ya?”
“Belum tidur?”
“Lia mana dulu, ini?”
“Aku! Heh?! Milea!”
“Apaan suara doang? Gak ada orangnya?”, tanya Dilan seperti kepada dirinya sendiri. “Bohong yaaa?”
“Dilan, please!”
“Bentar. Jangan serius. Biar Neil Armstrong aja yang serius mah”
“He he he”
“Gak kelihatan juga, aku pasti bisa nebak deh”
“Nebak apa?”
“Kamu, orangnya pasti cantik ya?”
“He he he “
“Matanya bagus ya?”
“He he he. Terus?”
“Pake kaos merah kaan?”
“Salah!”
“Hah?”
“Salah!”
“Kok dijadwalnya, hari ini pake kaos merah?”
“Ha ha ha”
“Salah nih yang bikin jadwal!”
“Ha ha ha ha”
“Gimana ya? Atau kamu ganti kaos dulu deh”
"Gak mau!"
"Ha ha ha"

Aku tidak tahu, entah mengapa, sesaat itu, isi pikiranku langsung berubah. Menjadi tidak ada lagi hal penting, selain hal yang gak jelas dari apa yang ia katakan.

Semuanya buyar! Tapi kukira perlu, untuk menyegarkan pikiran.

4
Hari sabtu, pagi-pagi, orang di rumah, pada sibuk dengan perbuatannya masing-masing.

Ibu sedang meracik roti tawar pake mentega dan susu. Aku sudah berseragam sekolah, dan duduk di kursi makan, untuk mengenakan kaos kaki.
“Ayah pulang hari ini, Bu?”
“Bilangnya gitu”, jawab Ibu. “Airin! Cepetan mandinya!”. Ibu teriak.
“Aku pergi sama Dilan”, kataku pelan.
“Tadi dia nelepon”
“Oh. Apa katanya?”
“Iya, bilang mau jemput”
“Iya”
“Katanya masih nyiapin sound dulu”
“Hah?”, aku kaget. “Sound buat apa?”
 “Buat ibu-ibu senam katanya”
“Ha ha ha”
“Itu beneran?”
“Ha ha ha”

Tak lama terdengar suara motor. Itu jelas Dilan. Kupakai sepatu. Kucium tangan ibu:
“Sarapan aja dulu!”
“Takut telat”

Kubersihkan tanganku dengan lap yang ada di atas meja, lalu berjalan keluar seraya membawa setangkup roti berisi susu coklat.
“Bawa buat Dilan”, kata Ibu menyuruh aku bawa roti untuk Dilan.
“Ini juga cukup,” jawabku. “Assalamualaikum!”
“Alaikumsalam”, jawab ibu. “Hati-hati”
“Iya”

Dilan sudah sedang berdiri di teras rumah ketika aku membuka pintu. Dia memakai baju seragam yang dibalut oleh jaket jeansnya. Gak tahu mengapa, padahal dia tidak sekolah, karena masih diskorsing.
“Hey!”, kusapa Dilan.
“Mana, Ibu?”
“Di dalam”

Dilan bergerak, untuk melongok ke dalam rumah
“Bu, berangkat dulu!”, Dilan teriak.
“Iya! Hati-hati”, jawab ibu.

Aku sudah berdiri di sampingnya “Mau?”. Kutawari Dilan roti, sesaat sebelum berjalan pergi menuju motor.
 “Apa itu?”, tanya Dilan
“Roti”, jawabku. “Aa!!” Kuminta Dilan mangap. Saat mulutnya kebuka, langsung kusuapkan rotinya.
“Gengster kok disuapin!” kataku sesaat setelah berada di atas motor.
“Ha ha ha” Dilan ketawa dengan roti yang masih sedang dikunyah.
“Ngurus ibu-ibu senam juga. Baik sekali”
"Ha ha ha"

Motor sudah meninggalkan halaman rumahku, ketika Dilan masih ketawa.
“Gengster teladan.....”
“Sibuk rindu kamu juga”, kata Dilan
“He he he”
“Mencintai kamu juga”
“Makasih he he he”
“Sibuk sekali aku ini ya?”
“Iya, ya!”
“Ha ha ha”

Saat itu, sebenarnya aku ingin membahas soal serius, yaitu soal kemungkinan Dilan akan dipecat oleh sekolah. Tapi aku tidak ingin merusak suasana, dan sepertinya dia juga tidak ingin membicarakan soal itu.

Kira-kira sebelum sampai di perempatan jalan Peta, kutanya Dilan, karena mendadak laju motornya melambat:
“Kenapa?”
“Rotinya habis”
“Gak ngerti!”
“Rotinya habis...”. Dilan menunjuk mulutnya
“Oh! Ha ha ha”, aku ketawa. “Nih!”. Kusodorkan roti ke mulutnya dan langsung dia makan.

Setelah itu motor maju lagi dengan kecepatan yang normal sampai mau masuk ke arah jalan sekolah.
“Kamu mau kemana?”, tanyaku, mengingat dia masih belum diperbolehkan untuk masuk sekolah.
“Sekolahku di warung Bi Eem. Di sana banyak tahu”
"Tahu Sumedang"
"He he he"

Ketika motor berhenti di depan gerbang sekolah, aku langsung turun, dan memberikan uang seribu ke Dilan yang masih duduk di motornya. Itu adalah uang yang sudah aku siapkan sebelum sampai.
"Apa ini?", tanya Dilan bingung, sambil meraih uang itu.
“Ongkosnya, Maaaaaang!!!" , kataku sambil senyum dan berjalan pergi meninggalkan Dilan yang ketawa karena sudah kuperlakukan sebagai tukang ojek.

Aku hampir yakin tak ada orang yang punya otoritas untuk melakukan hal itu kepadanya selain aku.
“Lumayan!”, katanya sambil pergi untuk ke warung Bi Eem.
“Ha ha ha”

5
Di kelas, sebelum pelajaran dimulai, aku ngobrol sebentar dengan Rani dan Wati, soal kejadian Dilan berantem dengan Anhar dan resiko yang akan didapat oleh Dilan berupa pemecatan. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku cuma bisa bingung!

Setelah bel istirahat, aku bergegas untuk langsung pergi ke warung Bi Eem, tapi Nandan ngajak ngobrol menyangkut rencana membuat kaos kelas. Tak lama kemudian datang Piyan, berdiri di pintu kelas dengan sikap seperti orang yang ingin segera pergi lagi:
“Lia!”, katanya, “Dilan!”
“Kenapa?”
“Berantem!”
“Hah?!!”
Aku terkejut. Aku tidak bisa menahan diri, kutinggalkan Nandan, dan segera lari ke warung Bi Eem mengikuti Piyan yang juga lari. Kalau kamu punya situasi yang sama denganku, pasti kamu juga akan panik.

Sesampainya di sana, aku melihat sudah ada sekitar 4 orang di warung Bi Eem, termasuk Akew, yang sedang berusaha mengobati luka pada wajah Dilan. Aku duduk mencoba untuk mendapatkan lebih dekat dengannya. Tanganku gemetar membersihkan sisa darah di mukanya.
“Berantem sama siapa?” Tanyaku pada orang-orang yang ada di situ.
“Gak tau siapa”, jawab Akew

Aku belum pernah melihat Dilan dengan mata kananya yang lebam, dan luka kecil di beberapa bagian. Pakaiannya penuh darah.

Itu benar-benar mengerikan dan aku nyaris merasa bahwa tak pernah ada hal buruk dari itu. Walaupun tidak terlalu parah, tetapi itu luka dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain bingung atas dasar apa mereka mengeroyoknya. Itu adalah hal yang besar bagiku dan menakutkan meski Dilan bersikap sebagai hal biasa baginya.
 “Sama siapa?”, kutanya Dilan
“Agent CIA”, jawab Dilan.
"Aku serius!”, kataku nyaris seperti membentak. Aku benar-benar ingin tahu siapa yang sudah ngeroyok Dilan, seolah-olah saat itu aku ingin segera membunuh pelakunya.
“Bi Eem, berantem sama siapa?”, kutanya Bi Eem yang keluar dari dalam rumahnya.

Kemudian Bi Eem menjelaskan, katanya: Dilan sedang sendiri saat itu, tiba-tiba datang empat orang, memasuki halaman dengan menggunakan dua motor, kemudian mereka menyerangnya. Bi Eem ingin menolong, tapi yang bisa ia lakukan hanya sembunyi di balik meja dagangan.
“Siapa?”, kutanya Dilan
“Udah kubilang agent CIA”, jawab Dilan.
“Bi Eem kenal?”, kutanya Bi Eem.
“Gak kenal, jawabnya. “Gak pernah lihat”
“Kamu kenal?”, kutanya Dilan
“Enggak”, jawab Dilan sambil merogoh saku bajunya, mengeluarkan uang seribu: “Ini, uangmu,” katanya, sambil berusaha untuk senyum. “Gak usah bayar”, katanya lagi. Maksudnya dia mau mengembalikan ongkos ojek yang tadi pagi kuberikan kepadanya.

Aku tidak percaya dia masih sempat melakukannya.  Aku hanya menggelengkan kepala. Aku betul-betul masih bingung dan sangat emosionil saat itu. Kutepis tangannya untuk meyakinkan dia bahwa bukan saatnya untuk bercanda.

“Udah selesai?”, Dilan tanya, untuk ingin tahu apakah aku sudah selesai sekolahnya atau belum?  “Kalau udah selesai, hayu pulang”, katanya lagi, sambil berdiri.

Entah bagaimana aku berhasil mengangguk. Aku akan izin untuk pulang. Harus, agar bisa sekalian bawa Dilan ke rumah sakit. 

BERSAMBUNG YA


Sabtu, 04 Mei 2013

TERA ERRAU


SEDANG DIEDIT UNTUK DIAPLOD SEBANYAK MUNGKIN

SUWAT - Sumber Waras Tidak


SUWAT
Sumber Waras Tidak
(Sedang digarap, mudah-mudahan bisa lekas terbit)



Suwat I
SANG IMIGRAN

Dia sudah tinggal di bumi selama dua puluh lima tahun, sebelum akhirnya bertemu denganku enam hari yang lalu. Ini pertemuan ketiga, di sebuah cafe kecil yang sore, yang dingin, yang bagus, di bulan Oktober yang baik. 2001 masehi.

Dia bertanya lagi:
“Jadi, menurutmu, siapa dirimu, Basile?”.
“Aku?”
“Iya, kamu”
“Aku adalah bajingan yang bergerak bersama waktu, Gioia”
Dia mulai mencoba lagi mempermanis dirinya dengan senyuman, dan selalu berhasil.
“Hmmm. Dari mana asalmu?”. Matanya bekerja dengan baik untuk membuat dirinya menjadi makin penuh pesona sebagai seorang mahasiswi jurusan filsafat dari Universitas terkenal di dunia.
“Aku ini, imigran dari sorga, Gioia, yang diselundupkan ke bumi oleh ayahku yang tegang di kamar pengantin”
“Oh ya? Ha ha ha. Mengapa harus tegang?”, Dia memegang cangkir kopinya sambil ketawa.
“Supaya bisa memenuhi alasan atas apa yang harus dilakukannya itu”
“Juga harus keras ya?!”
“Oh, tentu ha ha ha!”
“Kalau tidak, pasti akan susah menyelundupkanmu”
“Ha ha ha”

Angin laut telah diadakan di cafe ini sebelum kami datang. Keindahannya terbuat dari ranting-ranting pohon yang tumbuh di tepi jalan. Satu matahari di sana, sedang pergi ke area yang lebih gelap, didorong oleh awan berwarna-warni. Kami datang, untuk kopi, dan lainnya, dalam perjalanan pulang dari kampus.
“Dan ibumu?”
“Ibuku?”
“Iya. Apa peran ibumu sampai kamu bisa ke bumi?”
“Tugas ibuku, ya dia menyimpan hasil selundupan"
"Hmmm"
"Di tempat yang kokoh selama sembilan bulan”
Dia tersenyum. Seorang wanita dengan rambutnya yang bagus dalam dua kepang besar. Tubuhnya dilindungi oleh jaket tebal agar bisa membentuk sebuah keserasian. 

Betul, jika ada jin yang akan mengabulkan permintaanku, salah satu dari keinginanku adalah, pasti, ingin menikah dengannya.
“Aku tidak tahu apa yang dirasakan ibuku.....ketika dia melibatkan dirinya dengan rasa sakit, untuk bisa mengeluarkanku dari lubang khusus yang ada di tubuhnya itu”
“Lubang kemana kamu diselundupkan? Ow, dan dari situ juga kamu keluar ya?”
“Lubang yang tidak dimiliki oleh laki-laki”
“Aku tahu yang kau maksud”
“Untuk itu, ibu dibantu oleh dokter dan suster”
“Ya”
“Dengan bayaran yang akan ditanggung oleh ayahku”
“Itu ayah yang baik. Tapi pelaku penyelundupan tetap harus ditangkap”.
“Kalau ayah dan ibuku ditangkap, pihak rumah sakit juga harus, Gioia”
“Karena mereka juga terlibat dalam konspirasi menyelundukan kamu ke bumi?”
“Iya”
"Oke"

Betapa hangat dia di dalam jaketnya itu! Aku merasa bahwa aku suka dengan semua yang ada padanya!
Angin berhembus seperti napasku. Beberapa daun berguguran. Parfumnya melayang adalah keinginannya. Dari semua bintang yang ada, hanya dia yang hidup di mataku, rasanya.



Suwat II
IBU


Pada matanya aku selalu merasakan sensasi yang akrab. Segalanya, termasuk helaian rambut di keningnya, tampak cocok untuk disesuaikan dengan dirinya. Hingga kiamat dan bahkan mungkin setelah itu.
“Bagimana rasanya saat kamu sampai di bumi ini, Basile?”
“Pertama kali di bumi, yang aku dapat adalah cahaya matahari”
“Terbukti, kamu bukan Drakula!"
"Karena?"
"Kalau iya, sudah hangus sejak itu”
“He he he. Aku merasa mendapat kebahagiaan"
"Ya"
"Kebahagiaan yang bisa dilihat dari pancaran wajah orang-orang yang datang menengok”
“Saudara-saudaramu”
“Aku dipeluk ibu, dengan pelukan yang selalu dirasa kurang oleh ibuku”
“Mengapa?”
“Dia terlalu ingin memastikan bahwa saya aman, Gioia, bahwa saya nyaman”
“Aman dari siapa?”
“Termasuk dari tentara pencabut nyawa. Bisa saja, jika harus, mereka akan mendeportasi aku kembali ke sorga”
“Bagaimana rasanya dipeluk ibu di bumi?”
“Satu keadaan di mana saya merasa sangat dicintai”
“Hmm”
“Merasa sangat dihargai, untuk pikiran dan hatiku”
“Ya”
“Saat itu aku langsung tahu, itu mungkin akan selalu”
“Tentu, Basile. Kemarin kamu pernah bilang tentang sorga di bawah telapak kaki ibu. Bagaimana itu bisa kamu katakan?”
“Itu nabiku yang bilang begitu. Aku setuju. Sorga adalah pondasi untuk kedudukan istimewa seorang ibu”
“Aku juga setuju”
 “Sesekali aku suka membayangkan, bagaimana dulu ayah dan ibu melakukan pertemuan”
“Pertemuan untuk?”
“Mungkin diskusi. Berdua di sebuah tempat khusus. Berdua membuat sebuah rencana besar menyelundupkan aku ke bumi”
“Ya”. Dia tersenyum.
“Meskipun aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar merancangnya”
“Kalau benar?”
“Kalau benar, mereka mungkin melakukannya dengan melalui beberapa tahapan yang harus dilalui”
“Tahapannya?”
“Itu akan dimulai dari mata”
“Ya”
“Lalu turun ke hati”
“Dari mata turun ke hati, ya itu cinta”
“Dan turun lagi”
“Ke?”
“Ke bawah perut”
“Hmm”
“Diubah menjadi nafsu”
“Untuk?”
“Untuk mereka kelola di tempat sunyi, sebelum lalu pergi ke sorga”
“Wow”. Dia minum lagi kopinya.
“Mereka melayang ke angkasa, bersama gelora perasaan yang dialaminya”
“Terbang dengan penuh kenikmatan”. Dia tersenyum, bukan disebabkan oleh karena di adik angkatanku, tapi dia makin manis kalau begitu. 
“He he he. Iya. Lalu kembali ke bumi. Lunglai sesaat setelah aku tersimpan di dalam perut ibuku”
“He he he”
“Bagi mereka, sebelum semua itu, mereka harus lebih dulu pergi ke Kantor Urusan Agama”
“Apa itu?"
"Instansi pemerintah, di Indonesia, yang mencatat legalitas formal pernikahan”
“Ya"
"Mereka ke sana untuk tidak mendapatkan kecelakaan sebelum pergi ke sorga mengambilku”
“Kecelakaan?”
“Maksudku supaya tidak dianggap kecelakaan”
“Oh, aku mengerti Married By Accident maksudmu? Ha ha”
“Kamu sudah mengatakannya”
"Ya ya ya"
Suaranya seperti laut yang bergumam. Apakah aku menyukainya begitu cepat? Semua orang akan begitu. 



Suwat III
BUMI

Malam sudah sedang merayapi langit. Membimbing kami untuk mulai berasa lebih dekat. Musik cafe adalah sesuai dengan yang ingin kami dengar. Dan kata-kata, saling mencari pemahaman perasaan untuk menemukan satu sama lain di sana.
“Hai, Imigran dari sorga”. Dia tersenyum.
“Ya, Gioia?”
“Apa pandanganmu tentang bumi?”
“Aku melihat banyak hal aneh di sini, setidaknya itulah pendapatku”
“Anehnya?”
“Matahari malah menyala ketika siang, bukan justeru di malam hari. Kukira, itu akan lebih bermanfaat untuk membuat malam menjadi terang”
“Ha ha ha. Aneh yang lainnya?”
“Orang gila difasilitasi telepon genggam, agar ada benda dengan siapa dia harus ngomong dan ketawa sendiri”
“Ha ha ha”
“Jangan ketawa, Gioia, aku serius”
“Aku juga ketawanya serius”
“Dan berjalan di atas bumi ini, Gioia”
“Ya. Bagaimana menurutmu?”
“Di atas bumi yang terus berputar ini”
“Ya?”
“Bagiku seperti sedang bermain sirkus”
“Aku setuju”
“Bukan hal mudah melakukannya”
“Hmm”
“Membutuhkan keseimbangan"
"Iya betul"
"Sampai-sampai aku baru bisa berjalan setelah dua tahun tinggal di bumi”
“Aku juga ha ha”
“Orangtuaku mengajarkan aku untuk bisa”
“Hmm. Bumi yang menakjubkan”
“Ya, Gioia. Oleh itu semua aku dibuatnya terkesima”
“Ya”
“Aku betul-betul terkesima, sampai membuat aku tidak bisa berkata-kata hampir setahun lamanya”
“Aku juga! Baru bisa ngomong setelah 2 tahun!”
“Ha ha. Jangan-jangan kau juga sama imigran dari sorga?”
“Kukira begitu”
“Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan ada di sini, Gioia. Dan bersamamu malam ini”
“Inilah bumi, Basile. Selamat datang”
“Telat”
“Telat bagaimana?”
“Telat mengucapkannya”
“Iya, maaf”
“Ha ha tidak apa-apa”

Di kepalaku tidak ada tempat yang begitu menyenangkan, Gioia, selain duduk bersama denganmu.
Aku ingin berjalan-jalan di bawah pohon berdua denganmu, dari pagi sampai malam, atau di mana pun, semuanya aku yakin akan indah.

(BERSAMBUNG)


Sabtu, 06 April 2013

I Am Sterdam -dinukil dari buku saya: Drunken Molen

Di hari pertama kamu datang, kamu bisa tinggal dulu di rumahnya Larasati. Di Tweede Jacob Van Campenstraat 126A 1073XX, Amsterdam. Kamu juga makan di sana dan harus nyuci sendiri piring bekas makanmu. Kamu juga pipis di sana dan siram sendiri bekasnya. Kamu juga ee di sana dan kamu harus mau cebok sendiri. Memakai sabun, sampo dan pasta giginya Larasati juga.
"Ga tau mana arah kiblat" Larasati bilang begitu ke kamu waktu kamu mau shalat. Kamu lupa ya? Dia kan Nasrani, tidak akan tahu ke mana arah kiblat.
"Mana arah barat?"
"Ini Barat"
"Ha ha. Ke arah mana matahari tenggelam?"
"Sana"
Lalu kamu shalat dengan menghadap ke arah barat seperti yang Larasati tunjukkan dan itu bukan menghadap ke arah Ka'bah di Arab. Kamu sadar hal itu setelah shalatmu selesai dan ketawa.
"Larasati! Aku shalat menghadap Inggris! Inggris di sana kan?"
"Harusnya?"
"Ke Arab ih!"
"Arab di sana!". Larasati menunjukkan tangannya ke arah sebelah timur.
"Waaah. Aku shalat menghadap Elizabeth"
"Ha ha ha"
"Anjing! Ha ha Aku shalat bukan menghadap Pangeran Gusti Allah, tapi Pangeran Charles!"
"Ha ha ha"
"Kupikir ini Indonesia"

***

Kamu tidur di kamar belakang. Kamar dengan jendela yang bila kau buka, kau akan bisa melihat apartemen di Quelijnstraat.
"Itu apartemen, penghuninya kebanyakan orang Maroko" Larasati bilang begitu, dan kamu memandangnya sambil merokok di halaman belakang rumah. Memandang apartemen itu yang di pagarnya hampir selalu dijem ur karpet dengan motif gaya Timur Tengah.
"Mereka.."
"Ya..."
"Setiap malam selalu menghisap hashish. Kamu tahu hashish gak?"
"Bagaimana kamu tahu mereka menghisap hashish?"
"You know laaah, tetangga"
"Oh. Iya".

***

"Kalau kamu mau lihat-lihat kampus. Kamu ke sana aja sendiri. Dekat. Bisa jalan kaki"
"Aku manja. Ada angkot gak?"
"Kamu bisa naik trem nomor 10 kalau begitu"
Lalu kamu merasa sedikit risau. Karena kamu tahu kamu baru sehari di sana. Larasati tidak bisa mengantarmu, karena malas dan banyak urusan, termasuk harus mengurus suami dan anaknya yang masih kecil itu, si Dhanu. Termasuk harus menghitung uang karena dia kebetulan ditunjuk jadi bendahara acara pameran komik Indonesia di Rijkmuseum Voor Volkenkunde, Leiden. Termasuk sibuk harus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya biar bisa menjadi Doktor.
"Sibuk sekali"
"Sampau lupa diet"
"Ha ha ya sudah, aku pergi sendiri ke sana. Nih, Belanda sih sudah ada dalam genggaman tanganku", katamu sambil kamu tunjukkan tulisan Belanda di telapak tanganmu.
"Ha ha ha"
"Ada mistar gak?", tanya kamu sambil meraih kapur tulis yang ada di atas meja kerjanya.
"Buat apa?'
"Ini. Pinjam ya?", katamu sambil mengambil mistar di antara tumpukan kertas.
"Buat apaan?!"
"Ini denahnya!" Larasati memberi kamu denah yang sudah dia bikin seperti yang kamu minta.
"Sip. Aku pergi dulu"
"Oke. Kamu pasti bisa lah. Inget-inget aja jalannya, biar kamu bisa kembali ke rumah"
"Iya"
"Kalau kamu lupa jalan pulang...."
"Iya?"
"Kamu ambil taksi minta antar ke Schipol". Larasati bilang Schipol itu maksudnya nama bandara
"Ngapain?"
"Langsung pulang ke Indonesia"
"He he he"
"Minta pesawat yang ke Buahbatu"
"Buah Batu Air Lines"
"Kalau ada apa-apa di jalan, kamu tinggal nanya, kamu kan punya mulut"
"Oh iya. Siap grak". Kamu pergi sambil mikir: Iya, kalau aku tersesat aku mau nanya pake bahasa Indonesia. Biar orang bisa maklum kenapa aku tersesat. Pantes lah tersesat karena aku bukan warga negara Belanda. Kedua, kalau mereka benar Belanda, harusnya mereka sudah bisa bahasa Indonesia, karena pernah lama di Indonesia, bahkan katanya sampai 350 tahun. Kalau ternyata tidak bisa, itu bukan bodoh, melainkan karena ketika Belanda di Indonesia, mereka sibuk membuat tata kota yang baik yang sekarang malah diacak-acak oleh orang Indonesianya sendiri. Membangun gedung-gedung yang bagus yang sebagian sudah dirobohkan oleh para bandit pengusaha untuk dirubah menjadi bangunan mall yang menggelikan.

***

Kalau tidak salah, itu adalah tahun 2002, ketika kamu tiba di sana. Bulannya sedang Juni, sedang siap-siap mau masuk musim panas. Musim panas yang penuh dengan angin dan oleh karena itu mengapa maka dingin. Kamu keluar dari rumah Larasati dengan berbalut jaket tebal. Berjalan sendiri, menyusuri trotoar berwarna merah jingga. Jika orang melihatmu dari atas, orang akan melihat sebuah gari putih memanjang di atas trotoar.

Itu adalah garis kapur tulis, kapurnya terikat diujung mistar yang kau seret dimulai dari depan rumah Larasati. Panjang sekali garis itu dan kamu sengaja membuatnya, untuk berguna menjadi petunjuk saat kamu harus kembali ke rumah Larasati. Harusnya, juga berguna untuk Larasati, kalau dia ingin tahu ke mana kamu pergi. Ke sana, melewati jembatan angkat di  atas sungai Amstel. Ke sana, ke kampus yang tinggi besar dengan pagar besinya yang juga tinggi. Gedung yang dingin dan sunyi karena itu hari minggu.

Ada suara burung dan derit sepeda yang lalu lalang di jalanan. Sebuah kolam, atau mungkin danau kecil, di seberang jalan itu, kamu melihat di atasnya beberapa itik yang bagus sedang berenang disaksikan oleh daun-daun pohon Willow. Pohon menangis. Benar-benar, seperti ada orang kaya yang sengaja menghabiskan uangnya untuk membuat keadaan bisa menghanyutkan setiap perasaan  bagi siapa pun yang ada di sana. Uh, cabang-cabang ranting pohon yang banyak di sepanjang jalan itu, adalah cabang-cabang ranting pohon yang sangat cocok ada di sana, membuat sore menjadi bagus untuk diphoto.

Kamu kembali ke rumah Larasati dengan menyusuri garis putih sambil tersenyum dan berhenti sebentar di suatu daerah yang sepi untuk membuat sketsa di atas kertas yang kau bawa. Daerah itu, lalu kamu tahu nyatanya memang selalu sepi, hampir setiap hari. Itu di sekitar belokan yang mau ke arah rumah Larasati. Di sana, kamu  membaca tulisan vandalisme yang dibuat dari pilox: The Faults pada sebuah tembok yang sedang direhab

"Mungkin itu gengmotor" jawab Larasati, ketika kamu bertanya apa maksud dari The Faults.
"Oh"
"Atau gak tau apa"
Dua hari kemudian, kamu sengaja membeli pilox dan pergi ke sana untuk membuat tanda silang dan tulisan TAI pada tulisan The Faults itu, lalu membuat tulisan baru di bawahnya: XTC, salah satu nama gengmotor yang ada di Bandung.
"Yes" katamu dalam hati dan senang.

***

Lama-lama, kamu mulai diserang rindu. Rindu akan banyak hal yang berhubungan dengan Indonesia, termasuk makanannya.
"Apa itu filsafat?" Larasati bertanya kepadamu, di kesempatan ketika kamu main lagi ke rumahnya.
"Filsafat adalah, tapi aku sedang ingin jengkol sekarang dan sambal!"
"Coba kamu pergi ke Albert Cuypstraat"
"Ada di sana?"
"Di ujung pasar Albert Cuyp, ada toko. Namanya toko Ramee. Kamu bisa beli mie instan, tauco. Rokok Indonesia juga ada. Borong aja semuanya, barangkali kamu tolol"
"Ayo, besok"
Ya harus besok, karena kamu harus pulang dulu dan tidur malam itu setelah usai membaca buku Rumah Kaca karya Pramudya Anata Toer yang dulu dilarang beredar di Indonesia. Tidur bersama rasa rindu yang entah mengapa mampu membuatmu sedikit kacau di sore hari yang tadi, barangkali juga disebabkan oleh kamu yang sedang demam waktu itu.

***

Tapi besoknya, kamu malah ke sana, menyusuri sungai Amstel dengan membawa kail yang dibuat dari peniti dan diikat oleh tali seperti benang kasur, tujuanmu hanya satu untuk: mencari belut! Waw, udara yang dingin dan usaha yang sia-sia. Kamu lalu pulang 
"Ngapain?" Larasati bilang begitu ketika kamu ceritakan kepadanya.
"Ha ha ha Kampungan ya?"
"Bukan kampungan itu, itu namanya belegug!"
"Ha ha ha Ga apa-apa deh"
Pada dasarnya kamu tahu, kamu bukan bermaksud semata-mata ingin mendapat belut. Toh kamu juga tahu, kalau cuma ingin belut (di sana disebut paling), kamu bisa tinggal pergi ke New King, ke rumah makan Chinese Food, di Zeedijk, di daerah deket Red Light District itu. Kamu mungkin hanya ingin, entahlah apa itu, susah sekali menerjemahkan perasaan.

Sekarang kamu di sini. Sudah di Indonesia lagi. Sudah pulang sejak beberapa tahun lalu. Coba lihat photo-photomu itu, salah satunya photo kamu yang telanjang dada sedang turun ke kanal kecil di Haarlem dan mengeduk airnya dengan ember, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, sedang menyapu jalanan di daerah pecinan, apakah kamu tersenyum melihatnya? Photomu yang lain, seolah-olah sedang jualan hot dog di lapangan deket Musium Van Gogh, apakah kamu tersenyum melihatnya? Kalau iya, tapi ibumu tidak, dia malah terkejut.
"Ngapain kamu di sana?!!"
"Kerja sambilan"
"Membersihkan sampah?"
"Memangnya kenapa kalau membersihkan sampah? Dat is  goed, Moeder!"
"Mana kincir anginnya?"
"Ha ha di sana laah!"

Bandung, Februari 2008 




   




 



    


 


   




 

Jumat, 05 April 2013

CUIDAD DE LA HABANA CUBA - diambil dari bukuku "Drunken Molen"





CUIDAD DE LA HABANA 

Orang Kuba tidak menerima bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena mereka tidak akan mengerti ..........

Dan, di Havana. Yaitu di Cuidad De La Habana, Kuba.  Apa kau pernah di sana? Menyusuri trotoar jalan di hari sore berangin bersama Juanita? Bersama Juanita Yoani Sanchez nama lengkapnya. Perempuan Kuba yang bagus kalau senyum, dan tetap bagus meskipun diam. Hari itu adalah hari terakhir kamu tinggal di Kuba karena besok kamu akan kembali ke negaramu, ke Republik Indonesia, meskipun kamu sudah hampir setahun tinggal di sana. 

Kepada Juanita, kawan baikmu itu, kamu minta diantar untuk membeli oleh-oleh sambil masih tetap duduk di kursi kayu dan menggenggam surat khabar GRANMA. Surat khabar yang bila kau baca kau akan pusing karena kamu tahu kamu tidak terlalu mengerti bahasa Spanyol. 

Lalu Juanita membawa kamu ke sana, sore itu, ke tempat yang sebenarnya bukan toko oleh-oleh. Cuma toko biasa dengan bangunannya yang tua bergaya Baroque. Kamu ingat, temboknya warna biru yang sudah dibikin pudar oleh waktu. Di bagian tertentu ada sedikit warna kuning, pasti sengaja, mungkin untuk berguna bisa memberi sedikit aksen.

Kamu masuk bersama Juanita dengan cara membuka pintu yang ada tulisan: ABIERTO nya. Di dalam toko, pada sebuah pilar yang melengkung, kamu membaca sebuah tulisan besar berbahasa Spanyol: INI HAVANA DAN KAMU BAHAGIA”, kira-kira begitu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ada sebuah meja tua yang panjang, tempat tinggal mesin hitung, tumpukan buku, daun kering, cerutu dan banyak lainnya lagi yang akan panjang kalau kamu sebutkan semuanya secar detail.
 “Kalau kamu ingin cerutu dan CafĂ© Cubano”, kata dia dalam bahasa Inggrisnya yang khas, “Di sini kamu bisa dapat”.
“Kalau tidak ingin?”
“Sudah jangan beli!”. Kamu ketawa dan dia juga. 

Juanita menyapa seorang bapak tua dan gemuk. Bapak tua itu asalnya duduk, lalu berdiri untuk menyambut kalian datang.
“Hello”, katanya.
“Hello. Assalamualaikum, Pak Haji!”. Kamu berseru, menyapanya.
“Ya? Bisa saya bantu?”, kira-kira begitu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Mau beli oleh-oleh, Pak Haji!”, katamu lagi.
“Haji? No. I am Jose”
“Ya Haji Jose. Saya mau membeli oleh-oleh”, kamu menjawab dalam bahasa Inggrismu. Juanita tersenyum, entah mengapa, dan pergi ke sana untuk melihat barang dagangan yang ada di sana, tapi maksudnya lebih seperti sengaja untuk tidak ikut terlibat dalam percakapan itu. Kayak yang malu punya kawan macam kau. Kamu diantar Jose melihat benda-benda itu juga.
“Berasal dari mana kamu?”, Jose bertanya
“Indonesia, Pak Haji”
Jose tersenyum. Mungkin dia berpikir: “Anak muda ini mengapa selalu memanggil aku Haji? Apa sih Haji itu?”
“Indonesia? India? Bombay?”, Jose bertanya lagi.
“Bukan, Pak Haji. Kamu tahu Indonesia?”
“Di mana itu?”
“Di mana ya? Kamu tahu Sokearno?”
“Soekarno? Tidak”
“Lady Diana? Tahu Lady Diana?”
“Ya. Lady Diana. Kamu dari England?”
“Bukaaaaan. Saya dari Indonesia, Pak Hajiii”
“Lady Diana dari England, bukan?”
“Dia lahir di Indonesia. Tapi tidak mau ngaku”
“Oh ya?”
“Nyatanya begitu”
“Aku baru tahu”
“Pak Haji, Tahu Pele?”
“Ya aku tahu Pele. Pemain sepakbola. Saya suka dia”
“Dia lahir di Brazil”
“Ya. Aku tahu. Hmm Indonesia nama daerah di Brazil?”
“Ih. Bukan. Udah ah, pusing”
“Oke, kalau begitu. Ga apa-apa”. Jose bilang begitu sambil tersenyum.

Lalu kamu nanya ke “haji” Jose soal barang yang kamu ingin tahu apa itu. Jose menjelaskannya dengan baik. Juanita datang seraya menyenggolmu untuk minggir. Dia membawa sebuah boneka aneh seperti boneka dari Voodo dan bertanya kepada Jose agar bisa mendapatkan penjelasan. Kukira, Jose pasti suka ketika menjelaskannya karena dia tahu Juanita memang cantik.

Kamu akhirnya membeli beberapa ikat cerutu Cubano, dan yang lainnya lagi yang kamu sudah lupa apa saja. Juanita tidak membeli apa-apa, karena dia tahu, dia bisa membelinya kapan saja bila mau. Tak lama dari itu, lalu datang seorang ibu tua dengan rambutnya yang dikuncir. Itu ibu gemuk, segemuk Jose. Kalau tidak salah, waktu itu, dia memakai tank top berwarna biru tua. Kamu sudah lupa siapa namanya, tapi dia adalah manusia dan istrinya Jose. 

Dia masuk ke sana untuk untuk jadi berdiri di balik meja kasir. Kepadanya kamu serahkan barang-barang yang kamu akan beli untuk dihitung, supaya menjadi jelas berapa kamu harus bayar. Oh, sekian peso dan dia sangat baik dan ramah. Tidak semua orang Kuba itu ramah, memang, tapi di sana kamu bisa pergi ke mana saja dengan hanya menyetop mobil untuk bisa mendapat tumpangan. Hal yang macam itu, di sana, disebutnya sebagai Bote.
“Dia dari Indonesia. Kamu tahu Indonesia?” Jose ngomong begitu ke istrinya sambil tersenyum.
“Indonesia? Di mana itu?”. Istrinya Jose balik bertanya seolah-olah ditujukan kepadamu.
“Dekat Antartika, Bu Hajjah”, jawabmu.
“Antartika? Oww. Hajah apa itu?” istri Jose bertanya lagi dan kamu berusaha bertahan untuk tidak ketawa. Di ujung meja, Juanita sedang berdiri bersama Jose yang sedang mebungkus barang belanjaanmu. Mereka ngobrol, tapi kamu tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Iya saya datang dari Antartika”, katamu lagi kepada istrinya Jose.
“Aku tahu Antartika. Bagimana tinggal di sini menurutmu?”
“Dingin sekali”
“Dingin? Oh ya? Ini panas. Antartika sedingin es”, kata istrinya Jose.
“Ah itu isu. Jangan asal percaya. Coba ibu pergi ke sana. Buktikan dulu”
“Tidak. Itu jauh”.

Lalu kamu bertanya kepada Juanita soal jumlah uang yang harus kamu serahkan. Juanita segera membantumu dan menyerahkan beberapa jumlah uang  kepada istrinya Jose.
“Terimakasih banyak” kata istri Jose sambil menyerahkan uang kembalian.
“Sama-sama” katamu sambil berkemas untuk siap-siap mau pergi.
“Ya”
“Pak Haji, Bu Hajjah. Mangga, ah! Assalamualaikum”, katamu sambil pergi bersama Juanita untuk meninggalkan mereka.
“Ya, terimakasih, Indonesia. Sampai Jumpa”

Kamu dan Juanita memilih berjalan kaki untuk pulang. Menyusuri trotoar jalan, menyusuri gedung-gedung tua, menysurui hari yang tak lama lagi sudah mulai akan senja. Kamu dan Juanita tertawa, termasuk ketika membicarakan orang-orang yang pada nganggur duduk di tangga yang ada di depan rumahnya. Tertawa dengan begitu banyak, seolah-olah hanya untuk itu kalian hadir ke dunia. Juga sekaligus untuk mengungkap akan semua kenangan tentang apa saja yang sudah pernah engkau dapatkan di Kuba, yaitu selain pengetahuan tentang seni liberal. Membuat semakin kuat saja desiran yang engkau rasakan di rongga mulutmu itu. Desiran khas yang muncul karena didesak oleh banyak hal yang engkau rasakan dan tidak lagi mampu kau bendung.