Rabu, 16 Maret 2016

MILEA, SUARA DILAN



"MILEA"
SUARA DILAN
- Seperti yang diceritakan oleh Dilan kepadaku -


(Belum diedit)

BAB I
PENGANTAR BUKU

1
Aku tidak jadi nelepon si Komar, tapi sudah membaca dua buku yang ditulis oleh Pidi Baiq, judulnya “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” dan “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991”.

Kebetulan kedua buku itu bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia (Milea Adnan Hussain) pada waktu masih duduk di bangku SMA, tahun sembilan puluhan di Bandung.

Sebetulnya aku tidak ingin berpikir apapun soal itu. Tapi setelah kedua buku itu aku baca, terus terang, aku seperti merasa mendapatkan kehidupanku yang lama sedang kembali. Otomatis semuanya serasa seperti hidup lagi.

Aku juga gak mau menilai lebih jauh mengenai isi bukunya. Tapi waktu kubaca, aku banyak menghabiskan waktu untuk menelaah lebih jauh apa sih yang Lia pikirin, apa sih yang Lia rasakan saat itu. Kukira semua itu bukanlah omong kosong. Itu, buat aku pribadi, sangat menarik, termasuk aku jadi tahu bagaimana dulu Lia memandang diriku melalui apa yang dia ungkapkan.

Meski sebagian besar yang dikatakan oleh Lia pernah Lia ungkapkan sendiri secara langsung ke aku, tapi di buku itu, Lia seperti bercerita dengan tanpa penghalang. Rasanya, gimana ya? Bebas merdeka tanpa tedeng aling-aling.

Di dalam buku itu, aku sendiri menikmati cukup banyak momen-momen berharga yang diceritakan oleh Lia. Sesuatu yang perlu dipertimbangkan kalau aku ingin kembali mengenang. Di sana Lia ngasih tahu bagaimana dia merasakan kembali hal-hal yang sudah lama berlalu. Sampai-sampai aku mengira, dengan buku itu Lia sedang berusaha menggali perasaanku untuk merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan saat itu.

Aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghargai apa yang jadi pendapatnya. Aku memliki rasa hormat setinggi-tingginya untuk mengatakan kepadanya bahwa itu adalah sepenuhnya hak Lia untuk bebas bicara, dan kemudian tetap saja semuanya adalah sejarah.

2
Samasekali gak pernah kuduga kalau kisahku dengan Lia akan ditulis jadi buku. Dan sebetulnya aku malu, karena di buku itu aku ngerasa jadi tokoh utama yang punya kedudukan cukup istimewa, terutama kalau Lia sudah mulai memujiku.

Juga sekaligus jadi risih, karena di situ aku betul-betul jadi kayak orang yang amat dimaui. Seolah-olah, aku ini, yang barusan makan nasi bakar, adalah orang yang paling menakjubkan di dunia dan juga romantis dengan apa yang pernah aku lakukan kepadanya. Sebagian besar yang bisa aku lakukan untuk hal itu adalah cuma tersenyum.

Tapi, kukira, kalau dulu Lia punya sikap macam itu ke aku, harusnya bisa kuanggap sebagai hal yang normal, karena kalau ada orang yang sudah cinta ke kamu, dia hanya akan melihat sisi baikmu. Dan kalau kamu berpikir tentang hal ini, kebanyakan kisah cinta memang selalu dimulai dari hal macam itu.

3
Kupikir, harusnya aku merasa beruntung dengan adanya buku itu, nyatanya memang iya. Kedua buku itu sudah membantuku mengingat masa-masa yang sudah berlalu, maksudku aku cuma tinggal baca saja, gak usah capek-capek nulis kalau ingin mengenang apa yang dulu pernah aku dan Lia alami.

Apalagi sebagian besar cerita yang ada di dalam buku itu, memang sangat sesuai dengan kejadian sebenarnya, malahan aku merasa ceritanya cukup detil. Entah bagaimana Lia bisa mengingat semuanya, padahal kejadiannya sudah lama sekali.

4
Gak tahulah. Pokoknya aku mau berterimakasih ke Pidi Baiq, pertama-tama untuk kedua bukunya yang kudapatkan secara gratis. Maksudku, tanpa perlu melihat situasi ekonomi saat ini, kita perlu memahami alasan mengapa kebanyakan dari kita lebih suka dikasih daripada membeli. Kedua, ya itu tadi, bisa membantu aku mengingat lagi masa-masa remajaku di saat aku masih bersama dengan Lia.

Sekalian aku juga mau bilang terimakasih ke Lia, karena kata Pidi Baiq, data dan informasi untuk menulis buku itu 60% adalah bersumber dari Lia sendiri. Itu artinya Pidi Baiq hanya mengolah data yang bersumber dari Lia untuk kemudian dia susun menjadi sebuah buku novel yang lengkap, dan dari apa yang sudah dia lakukan itu, segalapuji bagi Allah, Pidi Baiq dapat uang royalti.
“Tapi setengahnya, aku kasih ke Lia”, katanya
“Royalti?”
“Iya”, jawabnya. “Lia juga harus dapat”

Ini berarti bisa sama-sama kita katakan, bahwa buku “DILAN, dia adalah Dilanku”, semua cerita di dalamnya berdasar pada apa yang bisa diingat dan dikatakan oleh Lia, dan kukira itu adalah haknya karena selain diriku, Lia juga adalah pemilik masa lalu yang bersangkut paut dengan kisah asmara antara aku dan dia. 

5
Tanggal 15 Agustus 2015, Pidi Baiq datang ke rumahku. Kami ngobrol berdua cukup lama, terutama membahas buku itu, sampai kemudian dia bilang bahwa katanya dia mau nulis buku “Suara Dilan”, itu membuat aku ketawa karena merasa aneh ada novel macam gini. Dia juga ketawa, dan bilang “Suara Dilan” itu adalah buku yang berisi kisah aku dan Lia, sama seperti buku “Dilan, dia adalah Dilanku” tetapi bersumber dari sudut pandangku. 

Hmm. Sebenarnya aku pribadi lebih suka cerita Spiderman, yaitu Spiderman menurut versiku sendiri. Kamu harus tahu bagaimana Spiderman bisa dikalahkan oleh hanya dua cucu Kelongwewe. 
Atau kalau bukan yang itu, aku lebih suka cerita tentang si Piyan yang pernah nyihir aku jadi seekor kucing, cuma agar dengan itu aku bisa dikejar sampai depresi dan kehilangan nafsu makan. Si Piyan emang gitu, menurut pribadiku dia itu sedikit lebih baik dari kuman, makanya jangan sampai kamu heran kalau ada banyak kuman yang mau ke dia.

Cerita tentang Spiderman versiku, atau cerita tentang aku yang disihir jadi kucing garong, kurasa lebih oke daripada harus bercerita tentang kisah asmaraku dengan Lia. Maaf, maksudku pada situasi yang serius, sebetulnya aku merasa gak enak kalau harus nyeritain lagi apa-apa yang dulu pernah aku alami dengan Lia, mengingat Lianya juga sekarang sudah menjadi istri Mas Herdi yang sangat aku hormati. 

Biar bagaimanapun soal ini harus aku katakan karena, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin kelak ada salah tanggap dengan apa yang aku ceritakan tentang Lia dan orang yang sudah bersamanya sekarang.  Samasekali aku tidak bermaksud mau berdebat soal ini, tetapi itulah yang aku pikirkan. 

6
Pidi Baiq mengerti, dan kemudian dia bilang, bahwa pada intinya bukan lagi soal asmara. Novel “Suara Dilan” harus bisa menjadi pelajaran buat mereka yang baca. Hah? Pelajaran macam apa? Entahlah, tapi setidaknya ada orang yang bilang bahwa novel Dilan itu bisa dianggap seperti buku taktik menguasai wanita. Mungkin Pidi Baiq bercanda, tetapi bisa jadi begitu oleh orang yang menganggapnya begitu.  

Katanya, di buku itu ada juga pelajaran ekonomi, terutama cerita tentang aku ngasih kado ulangtahun berupa buku TTS yang sudah kuisi. Aku ketawa karena aku berpikir barangkali itu berdasar pada seolah-olah aku sedang berusaha ngajarin bagaimana caranya ngasih kado dengan biaya yang irit, meskipun jujur saja, sebetulnya bikin capek, karena harus begadang semalaman untuk bisa mengisi jawabannya. Tapi justeru emang di situlah nilainya: Perjuangan he he he!  

Ada juga pelajaran olah raga. Berantem itu, katanya, sama seperti olahraga. Sama-sama melakukan gerakan badan sampai ngeluarin keringat, meskipun badan kita jadi sakit dikarenai oleh luka! Tapi harus mikir panjang, jangan sampai asal berantem. 

Sedangkan di buku DILAN kedua, di situ sepertinya Lia banyak nangis! Tapi katanya, itu juga memberi kita pelajaran, yaitu pelajaran Biologi, bahwa air mata itu, air mata yang mengalir di pipi itu, adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membantu membersihkan dan melumasi mata kita he he he.

7
Pidi Baiq terus membujukku untuk mau membantu dia mewujudkan buku “Suara Dilan”, oke, tapi aku tidak benar-benar punya waktu yang dijadwalkan untuk duduk dan menulis macam dia. 
Juga, bukan orang terbaik yang bisa menceritakan kisah-kisah macam itu. Tapi kalau cuma ngasih masukan sebagaimana Lia lakukan, sepertinya aku siap. Mudah-mudahan bisa aku nikmati meskipun aku tidak pernah berpikir berencana untuk menulis cerita macam ini.

Siaplah kalau begitu, aku mau cerita. 

Tapi maaf, kalau aku tidak sepandai Lia di dalam mengatakan perasaan. Aku hanya akan menulis apa-apa yang diperlukan dengan tanpa harus mengulang apa yang sudah Lia kisahkan. Semua yang aku katakan hanya akan mengacu kepada apa yang bisa kuingat dan kepada apa yang ingin aku katakan. 

Aku akan menceritakannya dengan berusaha sedikit memilah mana-mana yang aku rasa perlu saja. Dan dengan cara tertentu aku juga akan coba mengatur, agar apa yang aku katakan tidak sampai menyinggung perasaan seseorang yang terlibat di dalamnya. 

Cerita ini akan aku mulai dengan pengenalan singkat tentang diriku, dan beberapa informasi yang menjadi latar belakang hidupku, baik sebagai kenangan atau mungkin bisa dianggap sebagai sesuatu yang cukup andil di dalam mempengaruhi sifat dan kepribadianku. Karena pengalaman akan terus sepanjang waktu mempengaruhi hidup seseorang 

Mudah-mudahan, setelah ini, kita bisa menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini.


BAB II

AKU


1
Langsung saja. Namaku Dilan, jenis kelamin laki-laki, bernafas menggunakan paru-paru, sama seperti seekor paus. Tahun 1977, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin.

Aku lahir di Bandung, dari seorang Ibu yang oleh anaknya dipanggil Bunda, kecuali kalau akunya sedang mau minta uang, aku memanggilnya “Bundahara” (seperti yang sudah Lia  ceritakan di dalam buku itu). Tapi aku pernah sekali memanggilnya Sari Bunda, yaitu pada kasus di saat aku ingin makan.

Asal tahu saja, ibuku, si Bunda itu, adalah Pujakesuma, tetapi bukan bunga, melainkan akronim dari Putri Jawa Kelahiran Sumatera, karena dia lahir di Aceh, tepatnya di kota Sigli, ibu kota kabupaten Pidie. Dia alumnus IKIP Bandung, jurusan Sastra dan Bahasa. Ayahnya seorang guru SD, yang dulu di daerahnya dikenal sebagai seorang penyair kelas lokal.  

Sejak nikah dengan Ayah, dia selalu dibawa pindah, yaitu ke berbagai daerah di Indonesia. Hidup ini, kata Einstein, bagai naik sepeda. Untuk tetep bisa di dalam keseimbangan, harus terus bergerak. Tapi bukan karena itu ayahku pindah, melainkan karena tugas dari komandan, salah satunya ke daerah Teluk Jambe, Karawang.

Waktu aku duduk di kelas 3 SD, kami pernah tinggal di Kabupaten Manatuto, salah satu kota di daerah Timor-Timur yang dulu masih bagian dari wilayah Indonesia sebagai propinsi. Terus pindah lagi ke Ambon, terus pindah lagi ke Manahan, Solo, tapi cuma sebentar, gak tau kenapa. 

Hidup berkembang, di saat anak-anak sudah mulai tumbuh besar, Bunda sudah merasa cukup baik untuk memilih tinggal di Bandung, yaitu di kota tempat dulu dia kuliah, sekaligus menjadi mungkin untuk bisa lebih dekat dengan saudara-saudara ayahku yang pada tinggal di Bandung, karena ayahku adalah asli orang Bandung. 

Waktu aku duduk di kelas 5 SD, ayah membeli rumah di komplek perumahan Riung Bandung, sebagai fasilitas untuk membangun rumah tangga yang sakinah dan mawardah di bawah iringan lagu-lagu Rolling Stones kesukaan si Bunda, dan suara gelak tawa dari kawan-kawan kuliahnya kalau mereka sedang pada ngumpul di rumah. 

Si Bunda tidak bisa ikut ayah yang harus tinggal di rumah dinasnya di Karawang, karena harus ngajar di salah satu SMA yang ada di Bandung. Melalui semua itu kami hanya bisa bertemu ayah kalau ayah pulang ke Bandung, yaitu setiap dia bebas tugas atau karena ambil cuti. 

Awalnya si Bunda hanya guru biasa yang ngajar bahasa Indonesia. Entah bagaimana, tahun 1989, dia naik jabatan menjadi seorang kepala sekolah di salah satu SMA yang ada di Bandung. Mengenai soal ini, ada yang harus aku syukuri, yaitu: si Bunda bukan Kepala Sekolah di SMA-ku. Sebab kalau iya, pernah aku bayangkan aku akan dimarah dua kali, ya di sekolah ya di rumah. 

Itulah ceritaku tentang si Bunda, ibuku. Jangan sampai banyak-banyak, biar buku ini tidak melenceng menjadi buku biografi si Bunda. Apalagi Lia sudah bercerita cukup banyak tentang si Bunda di dalam buku “Dilan, dia adalah Dilanku”. 

2
Sekarang tentang ayahku. Dia lahir di Bandung. Dulu aku mengira, pekerjaan ayahku adalah berpindah-pindah tempat, seperti nabi Ibrahim yang nomaden, nyatanya ayahku adalah seorang anggota TNI-AD yang suka lagu “What A Wonderful World” nya Louis Armstrong atau “My Way” nya Frank Sinatra dan ditambah lagu-lagu perjuangan Indonesia.   

Selain sebagai seorang prajurit sejati yang lumayan cukup galak, ayahku bisa berubah menjadi seorang pria yang manis, dan juga romantis. Dia tidak pernah lupa nulis surat untuk kami di saat mana dia sedang jauh di tempat tugasnya. Seperti yang bisa kuingat, dia nulis kira-kira begini: “Jangan kuatir, ayah hanya jalan-jalan. Di sini, ayah terus gembira karena Ayah yakin akan segera bertemu dengan kalian. Ayah tidak punya musuh. Ayah membela Indonesia dari mereka yang mau ganggu”

Ayahku orang yang tegas kalau bicara tetapi cepat untuk tertawa. Dia dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya di dalam berbagai cara. Suatu hari, waktu aku masih duduk di kelas 6 SD, aku pulang ke rumah terlalu malam karena ada acara bersama teman-teman. Aku kaget, karena pintu rumah dibuka oleh ayah. Kupikir dia tak akan pulang ke Bandung malam itu.  Aku benar-benar berhadapan dengan ayahku yang berdiri kokoh menghadang:  
“Siapa kamu?!”, tanya dia seperti kepada orang asing. Tangannya berkacak pinggang. Mukanya serius. Matanya menatapku dengan pandangan yang tajam. Awalnya aku bingung, setelah aku merasa harus ikut permainannya, kujawab dia dengan sambil memandangnya:
“Dilan!”
“Siapa ibumu?”
“Bunda!”
“Siapa ayahmu?”
“Kamu!”, jawabku spontan. Aku tidak bermaksud untuk menjawab tidak sopan. Itu, aku menjawab dengan refleks karena dia bertanya cukup cepat. Ayah langsung ketawa dan kamu jadi tahu dia tidak benar-benar serius menginterogasi. Aku selalu memiliki beberapa momen terbaik bersamanya. 

Sepertinya dia tahu dia memiliki waktu yang sibuk sehingga merasa harus menghemat waktu yang baik untuk keluarganya. Jika ada waktu, kami suka pergi ke tempat-tempat wisata di bawah jaminan tiket diskon khusus untuk keluarga anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekarang TNI). 

Atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang ada di Bandung. Aku pernah diajak ke tempat billiard di daerah Kiara Condong. Sebagai seorang anak SMP kelas satu, tentu saja itu bukan tempat yang baik menurut para pakar pendidikan, tapi malam minggu itu ayah mengajak aku dan kakakku pergi ke sana.

Apa yang aku dan kakak aku lakukan hanya duduk minum Green Spot dan kacang goreng sambil nonton ayah bermain billiard. Masih bisa aku ingat waktu itu ayah main billiard bersama Abah Apeng (Bandar togel dari Cicadas) dan Kang Ceper (penguasa tempat itu). Tentu saja aku mengenalnya karena ayah pernah cerita tentang mereka. 
“Kalau Abah Apeng itu, bandar judi”, kata Ayahku di perjalanan kami pulang
“Gak boleh judi, Ayah”, kata Bang Landin
“Iya dong. Gak boleh,” jawab Ayah. “Ayah cuma berteman”
“Ayah ikut judi gak?”, kutanya
“Ayah sudah bilang cuma berteman”, jawab Ayah
“Iya”
“Jangan bilang ke Bunda, kita dari tempat billiard,” kata ayahku kemudian. 
“Jangan bohong, Ayah”, kata kakakku.
“Oh iya”, jawab ayahku. “Bilang ke Bunda udah dari tempat Billiar, terus nanti kita janji gak 
akan ke sana lagi”

Sesampainya di rumah, si Bundanya sudah tidur, sehingga yang buka pintu Bi Diah. Besoknya Bunda tidak bertanya dari mana kami semalem. Syukur alhamdulilah, sehingga dengan itu kami jadi gak perlu janji ke si Bunda untuk tidak akan pernah datang lagi ke tempat billiard. 

Tahun 1997 (kalau gak salah), yaitu waktu aku sudah tingkat akhir kuliah, ada khabar bahwa tempat billiard itu diserbu oleh kelompok tertentu, kemudian aku tidak pernah melihat tempat itu lagi sampai sekarang. 

Aku tidak mau memberi pandangan tentang apa yang dilakukan oleh kelompok agama itu, yang  pasti, biar bagaimana pun, tempat itu menjadi salah satu saksinya untuk banyak kenangan yang pernah aku alami bersama ayah. 

Mau gimana lagi, apapun yang kau katakan, secara pribadi aku berterimakasih kepada Ayah bahwa aku pernah punya kesempatan untuk pernah datang ke tempat itu dan aku tidak pernah datang lagi ke tempat seperti itu sampai sekarang. 

Setiap aku mengenang ayah, aku masih ingat bagaimana ayahku begitu riang dan nyanyi dengan suara keras di kamar mandi, seolah-olah dia tidak akan pernah lupa untuk melakukan hal itu setiap kali sedang mandi:

“Hampir malam di Jogya
Ketika keretaku tiba
Remang remang cuaca
Terkejut aku tiba tiba”

Kalau ada anaknya yang cemberut disebabkan karena ngambek oleh masalah yang sepele, biasanya dia datang untuk duduk di sampingnya dan aku masih ingat dia pernah bicara: 
“Tak ada yang selesai dengan menangis”, katanya.
“Aku gak nangis”
“Masa ada air matanya?”
“Gak tau”, kataku langsung telungkup di atas sofa, sambil menghapus air mata diam-diam. Aku masih TK waktu itu.
“Bunda! Air mata siapa di pipi Dilan?”, Ayah nanya ke Bunda dengan agak teriak karena si Bundanya sedang ada di ruang tengah.
“Air matanya laaah!!”, jawab Bunda
“Bukan katanya”
“Diaaaam!”, kataku sambil terus telungkup.

Pada masa mudanya, ayahku cukup dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Selain dekat dengan Pak Asni, ulama di daerahku, dia juga dekat dengan preman-preman di wilayah tertentu yang ada di Bandung. 

Kadang-kadang ayahku sering nyuruh Mang Saman untuk ngantar dia ke tempat yang mau dia tuju, menjadi seperti sopir pribadi. Dan kamu harus tahu Mang Saman itu siapa, dia adalah salah seorang preman yang ada di daerah Buahbatu. 

Sesekali Mang Saman suka datang ke rumahku bersama istrinya, termasuk untuk membetulkan mobil Nissan si Bunda kalau mogok. Sedangkan istrinya akan diam di dapur untuk membantu Bi Diah membuat masakan. 

Kalau ayah lagi di rumah, kadang-kadang suka nyuruh Mang Saman ngajak aku dan Disa  jalan-jalan. 
“Asiiik!”, kata Disa. Kalau gak salah waktu itu Disa masih TK dan aku sudah kelas 5 SD (Aku hanya bisa ngira-ngira, karena benar-benar sudah lupa)

Kami pergi dengan Mang Saman menggunakan mobil Nissan. Tidak jauh, hanya menyusuri jalan di komplek perumahan yang belum rame kayak sekarang. Betul-betul masih sepi sehingga Mang Saman bisa nyetir dengan cara turun dari mobil. Entah bagaimana, dia bisa melakukannya. Dia benar-benar lari di samping mobil yang pintunya dia buka, sementara tangannya masih terus megang setir, sehingga mobil yang sedang maju pelan bisa tetap di dalam kendalinya. Aku ketawa menyaksikan akrobat yang hanya berlangsung sebentar itu:
“Lagiiii!!!”, kataku, setelah Mang Saman loncat dan duduk lagi di bangku sopir.
“Udah ah”, kata Mang Saman, “Nanti dimarah Ayah”
“Ayah di rumah!”, kata Disa tiba-tiba.

Tidak jarang Mang Saman ngajak kami untuk nongkrong di warung kopi yang dulu dikenal sebagai sarang preman, sehingga oleh itu kami bisa mengenal beberapa orang di antaranya. 
“Siapa, Man?”, tanya orang gemuk bertatto ke Mang Saman. Aku lupa namanya. Dia memakai jaket jeans belel yang bagian tangannya digunting.
“Anak Pak Ical”, jawab Mang Saman
“Oh?”, kata dia. 
“Siapa namamu?”, tanya orang itu ke aku dengan muka yang ramah
“Aku Dilan, kelas 5 SD”, kujawab dengan lantang.
“Waah”, katanya
“Aku Disa!”, Disa menjawab 
“Dilan, Disa”, katanya. “Mau jajan apa?”
“Krupuk!”, kujawab sambil mengacungkan krupuk yang sebagiannya sedang kukunyah.
“Ambil aja ya. Nanti Om yang bayar”, kata dia kemudian kepadaku.  

Sekitar tahun 1983, preman-preman itu habis karena dibunuh oleh para penembak misterius atau Petrus, entah bagaimana hatiku merasa seperti berhenti saat itu. Banyak orang menduga Petrus adalah operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto untuk menanggulangi tingkat kejahatan. 

Selama persitiwa itu, Mang Saman sembunyi di rumahku. Dia selamat, tapi yang lain tidak. Mayoritas yang tewas adalah preman yang tubuhnya dipenuhi oleh tatto. Jenazahnya dimasukin ke dalam karung dan dibuang di tempat umum, salah satunya adalah kang Oji. Aku sedih karena anaknya Kang Oji adalah temanku, namanya Uung. Istri Kang Oji datang ke rumahku bersama Uung dan menangis di teras rumah di saat mereka sedang ngobrol dengan Bunda. 

Aku sangat dekat dengan Mang Saman, aku pikir dia adalah temanku. Dia meninggal tahun 1988 disebabkan oleh karena dia sakit. Sebelum meninggal dia dikenal sebagai orang yang agamis dan menjadi pengurus DKM di salah satu masjid yang ada di daerahnya. Siapa akan nyangka di ujung hidupnya Mang Saman menjadi orang yang baik sekaligus dikenal sebagai seorang Muadzin. Aku melihat ayah menangis di kuburan Mang Saman sore itu.

Itulah ayahku, sebagian tentang dia sudah Lia ceritakan di dalam buku “Dilan, Dia Adalah Dilanku”. Biar bagaimana pun, aku merasa cerita di atas perlu aku sampaikan untuk bisa memahami bagaimana aku tumbuh. 


BAB III

KEHIDUPAN REMAJAKU

1
Waktu aku SMP, aku punya sepeda. Aku pergi sekolah dengan pake sepeda sampai kelas 3 SMP, karena jaraknya tidak jauh dari rumahku. 

Sepedaku namanya “Mobil Derek”. Dulu, kalau kamu mendengar aku pergi ke sekolah dengan naik Mobil Derek, harusnya sudah tidak perlu kaget lagi karena kamu sudah tahu maksudku.

Apakah dengan memberinya nama itu aku punya tujuan biar sepedaku jadi keren dan gagah? Oh, aku gak tahu. Mungkin semacam terserah aku mau ngasih nama apa, karena itu sepedaku. Tetapi pamanku protes. Dia itu ayahnya si Wati, namanya Ibrahim, aku biasa memanggilnya Mang Iim.
“Masa’ sepeda namanya Mobil Derek?”. 
“Iya. Namanya Mobil Derek. Mobil Derek bin Kontainer”, kataku ke dia tanpa maksud menjawab omongannya. Itu aku bicara sebagai seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP.

Berbeda dengan si Bunda, kalau dia bisa cuek. Menurutku, dia itu orang dewasa yang bisa bicara sebagai seorang anak kecil ketika sedang berbicara dengan anak yang masih kecil. 
“Bunda, lihat Mobil Derek?”, tanyaku ke si Bunda sambil nyari sepeda di halaman depan rumah karena mau kupake.
“Mobil Derekmu?” Bunda nanya balik, seperti sama sedang nyari. 
“Iya”
“Oh, dipake Bi Diah”, katanya kemudian. “Minjem bentar, ke warung”
“Bi Diah gak boleh naik Mobil Derek”, kataku dengan sedikit agak kesal
“Sebentar kok”

Sejak mulai kelas satu SMA, aku ke sekolah tidak pake sepeda lagi, karena jaraknya cukup jauh. Sebetulnya bisa saja pake sepeda, tapi capek. Gak mau. Kadang-kadang aku naik angkot ke sekolah, tapi lebih sering naik motor. 

Pulangnya nongkrong di daerah Gatot Subroto, yaitu semacam warung kopi punya Kang Ewok. Dipanggil Ewok karena dia itu brewok. Tempatnya enak untuk nongkrong. Di sana, aku biasa kumpul bersama Burhan, Ivan dan lain-lain. 

Kami bergaul dan melakukan hal bersama-sama yang nampaknya lebih menyenangkan daripada diam gak jelas di rumah yang dulu belum ada internet. Dan di sana juga untuk pertama kalinya aku mulai merokok, tentu dengan perasaanku yang cemas karena kuatir ketauan sama si Bunda.



Kamis, 07 Januari 2016

BARACAS



1
Ajo adalah anak Bu Asih. Adiknya bernama Rini. Mereka tinggal di Bandung, di daerah jalan Cilaki.

Ajo itu laki-laki, masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung. Dia ngambil jurusan Ilmu Komunikasi. Sedangkan Rini adalah perempuan, dia masih SMA kelas dua.

Suami Bi Asih sudah lama tiada, meninggal dunia karena sakit. Ibu Asih mengandalkan usahanya di bidang garmen untuk biaya hidup keluarganya.

2
Hari itu, bada maghrib, hujan turun sangat lebat, sesekali terdengar suara petir. Ada suara televisi yang bunyi bersamaan dengan suara hujan di atas genting.

Ibu Asih duduk di bangku dengan masih mengenakan mukenanya. Dia sedang serius, bicara ke Ajo untuk melarang Ajo pergi.

Ajo dilarang pergi bukan disebabkan oleh karena di luar sedang hujan, melainkan karena Bu Asih tidak setuju kalau Ajo pergi karena ingin bergabung jadi anggota BARACAS, yang bermarkas di daerah Dago Utara itu.

"Denger Mama, Jo…..”, kata Bu Asih dengan nada suaranya yang nyaris putus asa.
Ajo berdiri, Bi Asih ikut berdiri, lalu memegang tangan Ajo untuk mencegah Ajo jangan pergi.
“Ajo pengen nyepi dulu…”, kata Ajo. Suaranya mengandung rasa kesal, entah pada siapa.
“Jangan, Jooo!!!”, kata bu Asih dengan agak teriak. Dia tarik tangan Ajo. Ibu Asih benar-benar tidak ingin Ajo pergi.

Bersamaan dengan itu, Rini keluar dari kamarnya. Sebetulnya Rini sudah tahu dari awal mengenai persoalan yang sedang dihadapi oleh kakaknya, sehingga Rini juga tahu masalah apa yang sedang dipersoalkan oleh Ibu dan kakaknya saat itu.

Tapi Rini bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain masuk kamar dan telungkup di atas kasurnya selepas shalat maghrib. Rini juga tak ingin kakaknya pergi bergabung dengan BARACAS.

Saat dia keluar lagi dari kamarnya, dia hanya bisa nyandar di tembok yang dekat pintu kamarnya. Di pipinya adalah air mata.

Di luar, terdengar suara petir.

“Biar Mama yang ngomong ke Winny..!”, kata bu Asih. “Obrolin dulu sama Winni. Biar Winny jelasin masalahnya”
“Mama, jangan sebut nama dia!”, Ajo teriak.  “Males dengernya! Cewek tai lah!”
“Tapi jangan ke Baracas, Jo!”, kata Bu Asih setelah diam sebelumnya. Nampaknya bu Asih sangat bimbang.
“Aa, jangan, A”, Rini teriak, berharap bisa mencegah Ajo pergi. Dia membawa handphone dan kemudian mulai menghubungi seseorang.
Ajo melepas tangan Ibunya yang sedari tadi memegang tangan Ajo.
“Gak apa-apa, Ma”
“Jangan ke BARACAS, Jo”, kata Bu Asih, suaranya mulai kedenger seperti orang yang sedang nahan untuk jangan sampai nangis.
“Tenang, Ma. Gak apa-apa. Di sana juga banyak orang”, kata Ajo. Ia pandang ibunya. “Ajo akan baik-baik aja”

3
Ketika Ajo pergi, bu Asih langsung duduk dengan keadaan dirinya yang lunglai. Dia benar-benar merasa tak berdaya, hanya bisa memandang Ajo mulai membuka pintu rumah.

Seseorang yang dihubungi via handphone oleh Rini itu ternyata adalah Winny, pacar Ajo.
“Teteh,...Aa.....”, Ucap Rini ke Winny dengan suaranya yang lirih sambil ia dudukkan dirinya di ubin.
Entah apa yang dikatakan oleh Winny ke Rini, cuma Rini yang tahu.

Ajo keluar dari rumah, tak lama kemudian terdengar suara motor. Itu adalah motor Ajo yang siap membawa Ajo pergi kemana Ajo ingin.

“Joooo!!!!”, bu Asih teriak sambil bangkit dari duduknya berusaha mengejar Ajo, tapi yang nyata kemudian bu Asih malah terkulai di ubin. Dia pingsan.
“Teteeeeeehhh!!!” , Rini teriak ke Winny, lalu dia berdiri, bergegas hendak membantu ibunya. “Mamahhh..!!!!”

Oh, Ajo sudah pergi.

4
Dengan susah payah, Rini memindahkan ibunya ke kursi, bersamaan dengan aliran listrik seluruh Bandung mendadak padam!

Di dalam rumah bu Asih jadi gelap dan hujan masih turun.
“Mamaaaaahh…”, Rini menjerit. Dia menangis.

5
Rini merasa takut oleh banyak hal yang tidak jelas tetapi itu kuat, yang ia tahu hanya dirinya yang sedang merasa tak berdaya.

Hanya ini yang dia pikirkan: Mama pingsan. Listrik padam dan Ajo bergabung dengan BARACAS!!

6
Kasihan Rini! Kasihan Bu Asih!


(BERSAMBUNG)

Rabu, 05 Agustus 2015

DILAN, DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 (Edisi Revisi)




1. AKU
 
1
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan jeruk.

Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah prajurit TNI Angkatan Darat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Ibuku, namanya Marissa Kusumarini. Oleh teman-temannya biasa dipanggil Icha. Dia mojang Bandung yang lahir di Buah Batu. Sebelum dinikah dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya.

Ibuku, meski waktu itu masih remaja, tapi sudah bermain musik sama orang-orang yang sudah tua dan keren, seperti Uwak Gito Rollies, Kang Deddy Stanza. Juga dengan Kang Harry Rusli, yang waktu itu bikin kelompok musik Gang of Harry Roesli. Dan kata ibu, mereka semua adalah gurunya.

Menurutku, ibu punya suara yang bagus. Sepanjang waktu selalu siap untuk nyanyi atau bersenandung di mana saja, terutama di kamar mandi dan di dapur ketika masak. Dia juga suka bermain gitar sambil nyanyi di ruang tamu dan menyebut nama Bee Gees ketika kutanya lagu siapa itu?
“Ini judulnya 'I Started A Joke',” jawab ibu.
“Bagus! Aku suka.”

Oleh dirinya, musik benar-benar menjadi bagian dari keluarga. Dan ayah mendukungnya dengan kekuatan militer.

Aku merasa bersemangat tentang hal ini. Dia menyambut anak-anaknya kepada pengalaman seninya. Membantuku untuk melihat banyak hal dalam lebih dari satu sudut pandang. Menjadi terbuka untuk semua ekspresi. Ini menjadi hal penting untuk kau bisa memahami kepribadianku.

2
Sejak kecil, aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan Slipi. Tahun 1990, ayahku dipindah tugas ke Bandung, sehingga ibuku, aku, adik bungsuku, pembantuku, dan semua barang-barang di rumah pun jadi pada ikut pindah.

Rumahku, yang di Buah Batu, tepatnya di Jalan Banteng, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi, kakekku sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989.

Kabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum kami pindah, nenekku wafat.
Rumah nenek yang berukuran type 70 itu, kemudian jadi milik ibuku sepenuhnya, karena ibuku anak tunggal. Ada halaman di depannya, meskipun ukurannya tidak luas, tapi cukup. Tempat tumbuh berbagai bunga dan satu pohon jambu, yaitu jambu batu, yang ibuku suka kesel kalau sudah mulai banyak ulatnya.

3
Aku juga pindah sekolah ke SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu, Bandung.

Bagiku, itu adalah sekolah yang paling romantis sedunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia, lah. Bangunannya sudah tua, tapi masih bagus karena keurus.

Di halaman depan sekolah, ada tumbuh pohon besar. Cabangnya banyak dan bagus kalau dilihat senja hari, dan siang kalau mendung, juga pagi kalau mau. Sebagian orang percaya pohon itu berhantu, tapi aku gak takut, kecuali kalau harus tidur sendirian di situ malam hari.

Tahun 2001, waktu aku datang untuk reuni, aku sudah tidak melihat ada pohon itu lagi di sekolah. Entah kapan ditebangnya.

Dulu, jalan yang ada di depan sekolahku, cuma jalan biasa. Lebarnya kira-kira tiga meter dan belum banyak kendaraan yang lewat, termasuk angkot. Sehingga untuk bisa nyampe di sekolah, aku harus mau berjalan sepanjang kira-kira 300 meter, yaitu setelah aku turun dari angkot di daerah
pertigaan jalan itu.

Sekarang jalan itu sudah berubah, sudah jadi jalan raya yang dipadati oleh banyak kendaraan. Dulu, motor juga belum banyak. Hanya beberapa orang saja yang pake. Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo.

Rasanya, waktu itu, Bandungnya masih sepi, masih belum banyak orang. Tiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk memakai sweater atau jaket kalau punya. Dan kalau cuaca sangat dingin, akan keluar uap dari mulutmu, yaitu ketika kau bicara.

Bagiku, selain bagus dan romantis, sekolah itu adalah tempat khusus yang menyimpan kenangan masa laluku ketika masih remaja, terutama menyangkut seseorang yang pernah bersamaku, yang
pernah selalu mengisi hari-hariku.

Itu adalah kenangan yang paling susah kulupakan, bahkan ketika aku ingin. Dan malam ini akan aku ceritakan kisahnya, bersama rindu yang tak bisa kuelakkan

4
Kisah itu akan aku tulis semuanya sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu, meskipun tidak akan mungkin detail, tetapi itulah intinya. Beberapa nama tempat dan nama orang ada yang sengaja kusamarkan, untuk tidak merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan orang yang bersangkutan.

Semua, akan kutulis dengan menggunakan cara si dia di dalam bergaya bahasa. Entah gaya apa, pokoknya kalau dia bicara, bahasa Indonesianya cenderung agak Melayu dan nyaris seperti baku. Kedengernya sedikit tidak lazim, seperti bahasa Melayu Lama yang biasa digunakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Tapi, itu bukan hal yang penting untuk kita persoalkan, ini cuma caraku saja untuk sekadar bisa mengenang khas dari dirinya

5
Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang.

Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan Jakarta Pusat yang gerah.

Mari kita mulai, dan inilah ceritanya:


2. SANG PERAMAL


1
Pagi itu, di Bandung, pada bulan September tahun 1990, setelah turun dari angkot, aku berjalan bersama yang lain untuk menuju ke sekolah.

Sebagian ada yang jalan berkelompok, sedangkan aku berjalan sendirian, menembus kabut tipis bersama udaranya yang dingin. Cahaya matahari yang menerobos dedaunan, membuat bercakan cahaya di jalan aspal yang sedang aku lalui.

Saat itulah aku mendengar suara sepeda motor yang datang dari arah belakang. Suara knalpotnya sedikit agak berisik, lalu kutengok sebentar, pengendaranya memakai seragam SMA, kemudian aku mencoba untuk tidak fokus pada itu.

Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman, bahkan aku gak tahu apa yang harus kulakukan selain terus berjalan. Aku gak tahu apa yang dia inginkan.

Aku hanya berpikir dia adalah salah satu dari anak nakal di dunia, yang suka menggoda perempuan di jalanan. Pikiranku mengembara. Meskipun saat itu banyak orang yang pada mau pergi sekolah, aku merasa harus tetap waspada, khawatir barangkali dia mau berbuat buruk kepadaku.

Aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa dia akan menyapaku kemudian:
“Selamat pagi,” katanya.

Sebenarnya aku bingung bagaimana harus memahami situasi macam itu. Aku mencoba menyembunyikan diriku yang gugup.

Kulihat wajahnya sebentar, dia tersenyum. Aku menjawab sambil mendorong helaian rambutku ke belakang telinga: “Pagi,”
“Kamu Milea, ya?”, tanya dia kemudian, mencoba membuat percakapan
“Eh?” Aku tersentak. Kutoleh lagi dirinya, memastikan barangkali aku kenal, nyatanya tidak.

Dia menatapku dan tersenyum.
“Iya.”, kataku. Alasan utamaku menjawab adalah sekadar untuk bisa bersikap ramah
“Boleh gak aku ramal?” dia nanya lagi
“Ramal?”

Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Apa maksudnya? Kok, meramal? Kok, bukan kenalan? Aku tidak mengerti.

“Iya,” katanya. “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin.”

Dia pasti ngajak bercanda, tapi aku gak mau. Maksudku, aku tidak mau bercanda dengan orang yang belum kukenal. Asli, aku gak tahu siapa dia. Betul-betul gak tahu. Mungkin satu sekolah denganku, tapi aku belum mengenal semua siswa yang ada di sekolahku, termasuk dirinya. Harap maklum, aku hanya murid baru. Baru dua minggu.

“Mau ikut?” dia nanya.

Enak aja, belum kenal sudah ngajak semotor. Bagaimana bisa begitu mudah baginya? Aku tidak bisa mengerti!
“Makasih,” jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Oke,” katanya. “Suatu hari, kamu akan naik motorku. Percayalah.”

Kupilih diam, karena gak tahu harus gimana.
“Duluan, ya!” katanya kemudian.
Kupakai bahasa wajah, untuk mengungkap kata “iya”.
Habis itu, dia pergi, memacu motornya.

Kupandang dia yang berlalu. Baju seragamnya berkelebatan, dan rambutnya berantakan diembus oleh angin.

Huh!

2
Di kelas, sebelum pelajaran dimulai, aku cerita ke Rani dan Nandan (teman sekelasku yang sudah agak akrab denganku) tentang ada seorang anak SMA bermotor yang tadi bilang mau meramalku.
“Siapa?” tanya Rani.
“Gak kenal,” kujawab bersamaan dengan guru masuk untuk memulai pelajaran.

Waktu jam istirahat, tadinya aku mau ke kantin, tapi sama sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. Boro-boro, kepikiran juga enggak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk kuminum. Tapi Nandan, Ketua Murid kelas 2 Biologi 3, minta waktu ingin ngobrol denganku, katanya ada yang mau dibahas. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar diasaja yang beli. Makasih kataku, kemudian dia pergi ke kantin.

Ketika balik lagi, dia membawa beberapa teh kotak. Saat itu, di kelas, selain ada Nandan, juga ada Rani dan Agus. Hal yang dibahas adalah tentang keinginan mereka untuk menunjuk aku menjadi sekretaris, dan sekaligus menjadi bendahara kelas 2 Biologi 3. Aku, sih, oke-oke saja. Bagiku, gampang, lah, itu.

Pada waktu kami sedang ngobrol, muncul seseorang yang bilang permisi, lalu masuk ke kelas. Nandan, Rani, dan Agus, tahu siapa dia. Orang itu namanya Piyan, siswa dari kelas 2 Fisika 1,
datang memberi aku surat, katanya itu surat titipan dari kawannya, tapi dia tidak menyebut nama kawannya itu.

Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca surat itu:

"Milea, ramalanku, kita akan ketemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi, aku mau meramal lagi: Besok, kita akan ketemu.”

Habis itu aku langsung bisa tahu siapa gerangan pengirim surat. Ini pasti dia, orang yang tadi pagi naik motor dan bilang mau meramal.

Nandan nanya ingin tahu surat apa itu, tapi kubilang itu surat biasa saja.

Aku masukkan surat itu ke dalam tas sekolah, untuk kembali menyimak Nandan yang banyak bicara tentang ini itu dan lumayan membosankan.

Serius, dari semenjak kudapat surat itu, aku sudah tidak bisa lagi konsentrasi dengan kata-kata mereka. Entah Nandan ngomong apa. Pikiranku, entah gimana, sebagian besar, mendadak melayang kepada Sang Peramal

3
Hari hujan ketika bubar sekolah. Aku dijemput pamanku. Dia itu adik dari ayahku, mahasiswa Jurusan Arsitektur tingkat akhir di perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung, namanya Fariz. Dia sudah lama di Bandung dan kos di jalan Ciumbuleuit.

Ayah nyuruh paman menjemputku, supaya bisa lekas datang ke rumah dinasnya, karena ada sedikit keperluan.

Di jalan pulang, entah gimana, ramalan orang itu yang bilang bahwa besok akan bertemu, terus saja kepikiran.

4
Apa? Besok bertemu? Bukankah besok itu hari Minggu?

Segera aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. Bagaimana mungkin bisa bertemu, kalau tidak di sekolah?

Dari awal, aku sudah tahu dia itu memang tukang ramal amatir! Aslinya sih hanya anak nakal, yang suka iseng menggoda perempuan. Huh!

Atau kalau itu baginya adalah modus untuk mendekati diriku, dia harus segera tahu bahwa aku ini orangnya selektif.

5
Di hari Minggu, waktu aku sedang nyuci sepatu, aku mendengar bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku teriak manggil Si Bibi untuk meladeni tamu itu.

Kebetulan, hari itu, di rumah, hanya ada aku dan Si Bibi. Ayah, ibu, dan adik bungsuku sedang pergi ke Cijerah untuk acara pernikahan saudara.

Si Bibi bergegas nemui tamu itu, lalu balik kembali menemuiku:
“Tamu,” katanya. “Mau ke Lia.” Lia itu nama panggilanku di rumah.

Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana, nemui tamu itu.

Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah Sang Peramal.

Aku senyum kepadanya yang tersenyum kepadaku. Entah gimana, saat itu aku merasa seperti sedang menjalin kontak batin antara aku dengannya, membahas apa yang diramalnya benar-benar terjadi, tetapi tidak saling dikatakan.
“Hei,” kusapa dia.
“Ada undangan,” dia langsung bilang begitu, seraya menyodorkan sebuah amplop dan berdiri, di depan pintu.
“Undangan apa?” kupandangi amplop itu dan sedikit agak bingung.
“Bacalah,” katanya. “Tapi nanti.”
“Oke,” kataku memandangnya.
“Bacalah bahasa Arabnya apa, Yan?”
Dia nanya ke Piyan yang saat itu datang bersamanya.
“Apa, ya?” Piyan balik nanya.
“Oh! Iqra,” katanya menjawab pertanyaan sendiri.
“Iqra, Milea!” kata dia lagi kepadaku.
Aku ketawa tapi sedikit. Entah mengapa, hanya bisa sesekali saja kupandang matanya.
“Aku langsung, ya?” katanya permisi untuk pergi.
“Kok, tahu rumahku?” kutanya.
“Aku juga akan tahu kapan ulang tahunmu.”
“He he he.”
“Aku juga tahu siapa Tuhanmu.”
“Allah,” kujawab sendiri.
“Iya, kan?”
Aku jawab hanya dengan senyum.
“Aku pergi dulu, ya?” kata dia.
“Iya,” kujawab.
“Assalamu ‘alaikum jangan?!” dia nanya.
“Assalamu ‘alaikum,” jawabku.
“Alaikum salam,” katanya.
Aku gak tahu harus bilang apa, selain cuma bisa senyum.

6
Aduh, Tuhan, siapa, sih, dia itu! Tanyaku dalam hati.

Maksudku, selain seorang peramal, aku ingin tahu siapa dia itu sesungguhnya. Dan, mengapa tadi aku harus gugup di depannya?

Aku masuk kamar dan senyum sendiri, terutama karena memikirkan soal ramalannya yang benar. Tapi, kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal ramalan itu? Atau sengaja? Ah, entahlah.

Aku baca surat undangan darinya itu sambil selonjoran di atas kasur.

Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” 

Semua nama hari di jadwal itu, lengkap disertai dengan tanggal. Aku senyum. Di dalamnya ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. Itu adalah nama kepala sekolahku, ditulis sebagai orang yangturut mengundang. Aku istigfar! Di tiap sisi kertas, ada gambar hiasannya. Dibikin pake
spidol. Gambarnya bagus. Entah bikinan siapa. Aku suka.

Setelah aku baca surat itu, aku tak mengerti mengapa aku langsung merasa tak ingin pergi dari atas kasurku, aku benar-benar seperti orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia itu sebenarnya.

Sambil tiduran, aku jadi seperti orang yang sedang menerawang, memandang atap kamarku. Ketika ada terbayang wajahnya, langsung kupejamkan mataku, agar dengan begitu aku bisa mengusirnya,
karena aku merasa itu gak perlu dan gak penting!

7
Ah, sial.
Semua hal tentang dirinya hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan tugas nyuci sepatu. Langsung kusimpan surat itu di dalam laci meja belajar, sambil senyum-senyum sendirian, dan langsung pergi ke kamar mandi, menemui sepatuku.

Kucuci sepatu itu dengan pikiran yang penuh dengan dirinya, dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. Tapi susah, tetap saja kepikiran meskipun sesekali.

Aduh, siapa, sih, dia itu? Setahuku, dia satu sekolah denganku, tapi tidak sekelas denganku. Cuma itu. Itu saja. Tapi, aku tidak tahu siapa namanya. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat pertama kali jumpa itu? Haruskah aku yang nanya?

Oh, sori, ya, gak mau!

8
Kudengar telepon rumah berdering. Aku senang, karena itu dari Beni, pacarku di Jakarta. Dia satu sekolah denganku waktu masih di Jakarta, dan sekarang kami menjalin pacaran jarak jauh.

Beniku keren, kau harus tahu itu. Dia tampan, meskipun tidak tampan-tampan amat, tapi cukup dan kukira dia baik. Ayahnya seorang artis film terkenal yang kadang-kadang suka aku banggakan kepada ayah-ibuku dan teman-temanku.

Beni sangat menyayangiku. Aku juga begitu kepadanya. Meskipun suka bertengkar, tapi selalu bisa diselesaikan dengan baik. Sayangnya habis itu suka bertengkar lagi. Hampir setiap hari, Beni selalu meneleponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain sebagainya.


3. DIA ADALAH DILAN

1
Hari Senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara, aku berharap tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa diam-diam mataku mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari. Mungkin cuma ingin lihat saja. Tidak lebih. Boleh, kan?

Tapi sampai upacara bendera sudah akan selesai, orang itu, Sang Peramal itu, tak berhasil kutemukan.
Di manakah dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!

Emang, siapa dia?

2
Seorang guru, tiba-tiba memberi komando dengan melalui pengeras suara meminta seluruh siswa untuk jangan dulu bubar dari barisan.

Kupandang ke depan karena ingin tahu soal apa gerangan,tapi justru di saat itulah aku bisa melihat dirinya.Sang Peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya.

Dia berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP (BimbinganPenyuluhan), setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.

Dia dan dua orang temannya disebut PKI oleh guru BPitu. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampaidisebut PKI hanya gara-gara tidak ikut upacara bendera. Entahlah. Apakah karena saat itu aku hidup di jaman ORBA (Orde Baru)?

Nun di sana, di tempat dia berdiri, entah gimana aku merasa yakin, dia sedang menyadari bahwa ada seseorang bernama Milea yang sedang memandangnya di tengah barisan peserta upacara.

Atau tidak?

Tapi yang pasti, sebagaimana yang lainnya, aku juga sedang memandang dia dari jauh dengan perasaan yang sulit kumengerti.
“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong pada dirinya
sendiri.
Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.
“Siapa dia?” kutanya Revi
“Dilan.”
“Oh.”

Sejak saat itu aku jadi tahu namanya. Kata Rani, di kelas, setelah upacara bendera, Dilan itu
anak kelas 2 Fisika 1 dan anggota geng motor yang terkenal di Bandung. Jabatannya adalah Panglima Tempur.

Ya namanya Dilan!

Kalau tidak salah aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Baru tahu, ternyata dia orangnya!

Sejak semua itu aku betul-betul jadi merasa takut. Aku juga jadi langsung berpikir Dilan pasti sangat nakal dan mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus takut, toh, siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan siap menembaknya jika harus.

Tapi, tetap aja aku merasa harus menjauh darinya. Jangan biarkan dia melakukan apa pun yang akan membuatku dalam kesulitan. Aku tidak ingin membuangbuang
waktu untuk mengenal anak nakal seperti itu secara lebih jauh.

Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati. Dan tidak perlu terlalu menggubris apa pun yang ia lakukan padaku, jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan. Ini bukan aku bermaksud kasar kepadanya, tapi karena aku tahu itu harus. Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Harusnya, dia mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.

3
Bubar dari sekolah, cuaca sedang mendung, aku pulang bersama kawan-kawan. Ada Dilan menyusulku dengan motornya. Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang bersamanya naik motor. Nyatanya tidak, padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya.

“Kamu pulang naik angkot?” dia nanya.
Kujawab dengan anggukan yang sedikit agak judes. Harusnya itu cukup untuk membuat dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin diganggu, bahkan tidak ingin membuat obrolan dengannya. Pokoknya saat itu aku merasa sedang berubah di
dalam menilainya.
“Aku ikut ...,” katanya di atas motor yang lajunya sengaja dibikin pelan untuk bisa sejajar denganku.
“Ikut apa?” tanyaku tanpa menoleh. Aku hanya tidak ingin menjadi akrab dengannya.
“Naik angkot,” jawabnya.
Aku diam, gak mau meladeni omongannya.
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku ingin bilang: ”Terserah,” tapi aku kuatir dengan jawaban itu nanti dia akan nyangka seolah-olah aku sudah membolehkan. Karena bingung, jadi aku memilih untuk diam.
“Boleh aku ikut denganmu?” dia nanya lagi.
“Gak usah,” kataku akhirnya sambil memandangnya
sebentar.
“Kan, angkot buat siapa aja.”
 Aku diam. Bahkan aku gak tahu harus bersikap gimana ke dia.

Ah! Apa sih maunya orang ini? Lagian kalau dia ikut, emang mau ikut kemana? Kalau mau pulang, pulang aja sendiri!
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku masih diam.
“Boleh?” dia nanya lagi.
“Kamu, kan, naik motor?” kataku dengan nada sedikit ketus.
“Oh! Gampang. Nanti, motorku dibawa kawan,”
katanya.

Terserah deh! Aku diam dan terus berjalan dengan memandang ke depan, bersikap seolah-olah gak mau peduli kepadanya.
“Oke. Aku nyimpen motor dulu ya?” katanya sambil pergi.
“Eh?”

Ah! Sial.

Tak lama setelah itu, dia datang lagi dengan sedikit berlari. Aku tak ingin tahu disimpan di mana motornya. Itu bukan urusanku, termasuk kalau hilang.

Di angkot, dia duduk di sampingku. Itu membuat aku benar-benar jadi kikuk dan mati gaya.
“Ini hari pertama aku duduk denganmu,” bisiknya.
Tidak kurespons, karena gak penting.

Kuambil buku, lalu kubaca. Mudah-mudahan bisa membantu mengalihkan pikiranku kepadanya. Mudah-mudahan bisa membantu membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang sedang baca buku. Tapi dia berbisik, suaranya kudengar pelan sekali menyebut namaku:
“Milea.”
Aku diam. Tidak kutanggapi.
“Kamu cantik,” katanya sesaat kemudian, dengan suara yang pelan tanpa memandangku.

Heh?

Serius, aku kaget. Hampir-hampir tak percaya diaakan bicara begitu.

Aku bingung harus gimana dan berusaha memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot, tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku merasa seperti malu.
“Makasih,” akhirnya kujawab juga sambil tetap baca buku, dengan intonasi yang datar, tanpa memandang dirinya.

Dengan suara yang pelan bagai berbisik, kudengar dia bicara lagi:
“Tapi, aku belum mencintaimu,” katanya.
Aku diam.
“Enggak tahu kalau sore,” katanya lagi kemudian.

Ih! Suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir.

Aku diam, tidak mau merespons omongannya. Dia ngomong lagi: “Tunggu aja.”
Aku masih diam tapi sebetulnya ingin teriak tepat di kupingnya:
“Apa, sih, kamu ini?!” Tapi tidak kulakukan. Aku hanya berusaha untuk bersikap tidak akrab.
Dia bicara lagi setelah diam beberapa saat sebelumnya.
“Aku ramal,” katanya. “Kamu akan segera tahu namaku.”
Mendengar dia ngomong gitu, demi Tuhan, aku ingin langsung bilang ke dia: “Udah tahuuu! Gak usah ramal-ramalan, deh. Udah, deh! Udah tahu! Kamu Dilan, kan? Panglima Tempur geng motor, kan? Geng motor yang suka bikin onar itu, kan? Anak jalanan yang suka nulis namanya pake pilox di tembok rumah orang itu, kan? Kamu Dilan, kan? Udah tahuuu! Udah deh! Mendingan kamu turun.”
Tapi, kata-kata yang keluar malah: “Iya.”

Ketika sudah sampai di pertigaan Jalan Gajah, aku turun dari angkot, dan langsung kaget, karena dia juga ikut turun. Saat itu aku nyaris khawatir bahwa dia akan ikut ke rumahku. Jika benar, aku akan sebisa mungkin berusaha melarangnya. Pokoknya jangan sampai terjadi!

Syukurnya tidak. Dilan pamit pergi, naik angkot lagi, menuju arah sekolah. Aku ramal, dia pasti mau mengambil motornya.

Tadi, sebelum naik angkot, dia sempat bilang:
“Kamu tau, semua siswa itu sombong?”

Aku merasa dia sedang menyindir sikapku kepadanya hari itu. Karena malas menjawab, kupilih diam. Dia berdiri di sampingku yang berdiri di atas trotoar. Aku se-ngaja gak mau langsung pulang, karena khawatir nanti dia akan ikut.

Mengetahui aku diam, dia ngomong lagi:
“Siapa yang mau datang ke ruang BP nemui Suripto?”
Asalnya aku diam, tapi akhirnya kutanya: “Siapa?”
Entah gimana aku seperti gak bisa nahan bicara.
Dia senyum: “Cuma aku.”
“Ooh!” kataku dengan bersikap dingin kepadanya.
“Maaf kalau aku mengganggumu,” katanya kemudian dengan suara pelan.
“Iya,” kujawab. “Tuh angkotnya,” kataku menunjuk angkot yang akan lewat. Aku tahu harusnya gak usah ngomong gitu, karena akan berkesan seolah-olah aku sedang mengusirnya, tapi justeru itu maksudku.
“Aku cuma nganter, takut ada yang mengganggumu,” katanya sambil senyum dan melambaikan tangannya meminta angkot berhenti.

4
Ketika dia pergi, aneh, kemudian ada muncul perasaan bersalah karena sudah bersikap judes kepadanya. Pastilah dia sedih. Pastilah dia kesal. Aku juga pasti akan merasakan hal yang sama kalau diperlakukan orang seperti aku kepadanya.

Sesampainya di rumah, Si Bibi memberi aku surat. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu.

Itu surat dari Beni!

Kubaca suratnya, sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku.Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren kau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan kepadamu?

Maaf.

Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi soal cinta dan rindu itu.
Kata-kata indah yang dijiplak dari buku Kahlil Gibran dan puisi-puisi yang dia ambil dari majalah remaja tanpa ia cantumkan sumbernya agar aku menyangka itu adalah karyanya. Dia pikir, aku tidak pernah membaca puisi dan kata-kata itu sebelumnya.

Ah, Beni kurang asyik! Maksudku, mungkin aku merasa bosan dengan Beni yang itu-itu melulu. Monoton dan juga biasa!

5
Si Bibi ngetuk pintu, manggil-manggil, menyuruh aku untuk makan. Aku keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh pikiran tentang omongan Dilan di angkot itu:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu.Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Kata-kata aneh yang terus nempel di kepalaku bahkan sampai malam harinya. Kata-kata itu, ketika kuingat lagi berhasil membuat aku ketawa sendirian di kamar, dan teriak dalam hati, seolah-olah aku tujukan ke Dilan:

“Mau cinta, mau enggak. Dengar, ya, hai, kamu yang namanya Dilan. Terseraaahhh! Itu urusanmu! Emang gua pikiriiin!?”
Tapi aku senyum habis itu.

Setelah usai shalat Isya, aku dapat telepon dari Beni. Dia bicara lama sekali. Atau sebentar ya? Tapi, aku merasa itu lama sekali.Dan kata Beni, dia mau ke Bandung, nanti, minggu depan. “Lu senang?” Beni nanya apakah aku senang jika dia ke Bandung menemuiku?
Kujawab: “Iya.”

Memang, harusnya aku senang, Beni.

Oke, kalau begitu. Baiklah, aku akan berusaha untuk senang. Insya Allah.
Doain.

6
Itu hari Selasa, aku dapat surat dari Dilan. Entah bagaimana dia bisa nitip suratnya ke Rani. Isi suratnya pendek:

”Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu – Dilan!”

Aku langsung terkesiap membacanya. Lalu dengan cepat, kututup surat itu. Aku jadi malu sendiri rasanya, dan aku berharap Rani tidak sudah membacanya, tapi kayaknya belum
 4. WARUNG BI EEM

1
Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Nandan, Dito, Jenar, dan Rani.

Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak penting. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
“Semua siswa makan di sini, ya?” tanyaku ke Rani.

Sebetulnya itu adalah caraku untuk ingin tahu mengapa aku tidak pernah lihat Dilan ada di kantin? Kata Rani beberapa siswa tertentu lebih memilih nongkrong di warung Bi Eem.
“Oh,” kataku.
Langsung kutebak Dilan pasti di sana.
“Biar pada bisa merokok,” kata Nandan.
“Iya,” kata Rani.
“Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku dengan diriku yang makin yakin bahwa Dilan selalu nongkrong di sana setiap waktu istirahat.
“Iya,” jawab Nandan.
“Pada gak berani datang ke situ,” kata Jenar.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, males aja kali gabung sama mereka,” jawab Jenar.
“Emangnya pada galak?” tanyaku.
“Enggak, sih,” jawab Rani. “Ya, anak-anak nakal gitu, lah.”
“Katanya suka pada minum-minum di situ ...,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku, sedikit agak kaget mendengar informasi dari Nandan.
“Di sana?” Rani juga nanya.
“Katanya ...,” jawab Nandan.
“Anak SMA lain juga suka pada nongkrong di situ,” kata Dito.
“Iya, kan, markasnya ...,” Nandan menimpali.

2
Sebelum kuteruskan ceritanya, aku ingin menjelaskansedikit tentang warung Bi Eem, biar kamu jadi punya gambaran setiap kali aku menceritakan tempat itu.

Sebetulnya yang disebut warung Bi Eem itu, adalah berupa rumah zaman baheula, yaitu rumah antik peninggalan orang yang lumayan kaya di zaman dulu.

Rumah itu tidak keurus karena suami Bi Eem, sebagai keturunannya, secara ekonomi tidak senasib dengan leluhurnya, bahkan suami Bi Eem berstatus pengangguran.

Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Dicat warna hijau toska tapi sudah pudar karena sudah tidak pernah dicat ulang.

Kamar yang paling depan, oleh Bi Eem disulap jadi warung, menghadap ke arah ruang tamu yang ada di sampingnya. Ruang tamu itu dindingnya cuma setengah, tempat duduk orang-orang yang jajan di warung Bi Eem.

Posisi rumahnya berada di tikungan jalan itu, kalau gak salah bernomor 32. Di sampingnya berdiri sebuah gereja.

Untuk bisa ke warung Bi Eem, kamu harus mau jalan sejauh kira-kira 100 meter dari sekolah.

Di depan dan di samping rumah Bi Eem terdapat halaman. Di halaman depan ada tumbuh dua pohon jambu air. Halaman itu juga sering dijadikan tempat parkir motor oleh beberapa siswa tertentu. Luas halaman yang ada di depannya kurang lebih berukuran 2 kali 8 meter, sedangkan luas halaman yang ada di sampingnya kira-kira berukuran 1 kali 20 meter. Pagarnya berupa tembok yang sering dijadikan tempat duduk oleh siswa yang pada nongkrong di sana.

Tahun 2001, waktu aku ke Bandung, aku merasa sedih ketika tahu rumah Bi Eem sudah gak ada. Sekarang
telah berdiri di sana sebuah gedung mewah sebagai gantinya.

Itulah gambaranku tentang warung Bi Eem.

3
Oke, kembali ke cerita, di mana aku sedang ngobrol bersama Nandan, Dito, Jenar, dan Rani di kantin.Tak lama dari itu, aku terkejut karena melihat Dilan datang ke kantin. Dia datang bersama Piyan dan satu orang lagi yang aku sudah lupa namanya (kalau gak salah Si Akew).

Aku tahu harusnya aku bersikap biasa saja, tapi entah gimana, saat itu secara reflex aku menjadi salah tingkah.

Dia datangi meja kami dan menyapaku:
“Hei, Milea!”
“Hei,” kujawab langsung dengan suara grogi.
“Cuma nyapa,” katanya.
“Iya,” jawabku dengan senyum dan sedikit agak kaku.
Kamu harus tahu deh, mengapa saat itu aku bersikap jadi sedikit baik kepadanya. Bagiku, itu seperti aku sedang menebus dosa oleh sikap judesku kepadanya waktu dia ikut naik angkot bersamaku.
“Eh, Yan,” tiba-tiba Rani nanya ke Piyan. “Wati gak sekolah, ya?”
“Sakit katanya,” jawab Piyan. “Kenapa?”
“Ada bukunya ketinggalan.”
“Oh, ya, udah,” jawab Piyan. “Pulangnya nanti kuam46
bil.”
“Oke.”
Setelah cuma makan bala-bala (semacam bakwan), Dilan pergi bersama kedua temannya, entah ke mana, mungkin ke kelas, tapi sebelum dia pergi, dia sempat bicara ke Nandan:
“Kamu tau gak?”
“Tau apa?” Nandan balik nanya.
“Aku suka Milea.”
Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku.Rani, Dito, dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah dengan senyuman rasa bingung.
“Tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“Itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa kesalnya
“Aku, kan, bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“Dia denger, kan?” tanya Nandan.
“Mudah-mudahan.”

Bisa kubaca mata Nandan, kayaknya dia merasa keganggu oleh kata-kata Dilan. Aku tebak, sih, gitu. Cuma nebak. Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh. Hanya aku yakin, Nandan pasti langsung gak suka ke Dilan dari semenjak saat itu, dari semenjak Nandan tahu bahwa Dilan menyukaiku. Karena, kata Rani, Nandan itu naksir aku, tapi aku cuma senyum saja mendengarnya, karena mengenai soal itu, aku sudah bisa menduganya sendiri.

Aku bisa tahu dari sikap dan perilaku Nandan kepadaku, termasuk suka nelepon malam hari untuk nanya-nanya soal PR, juga suka nraktir kami makan di kantin.

Dia juga selalu berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam bahan lawakan yang sudah sering kudengar dari orang lain, bagiku, itu tak lain dan tak bukan, adalah modus untuk mengambil hatiku.


Tapi Nandan berbeda dengan Dilan, Nandan tidak bisa bebas seenaknya bicara terus terang seperti Dilan.

Aku setuju, kalau ada yang bilang Nandan orangnya baik. Dan, kalau aku boleh jujur, Nandan lebih tampan dari Dilan. Nandan juga jago basket, dan lain-lain. Pokoknya Nandan adalah lelaki idaman tiap wanita pada masanya. (Lima tahun kemudian, aku melihat fotonya nampang di sampul majalah Gadis)

Nandan juga masih jomblo, masih belum punya pacar. Pernah, sih, dekat dengan Pila, anak kelas 2 Sosial, tapi gak tahu kenapa, belakangan hubungan mereka jadi renggang. Tapi jangan nyalahin aku.

4
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya.

Kamu tahu ke mana Dilan?

Dia masuk ke kelasku, dan duduk di bangku sebelahku, membuat Rani jadi pindah ke kursi belakang yang memang kosong.

Kok, Rani mau, ya? Heran.

Aku juga heran, kenapa tidak seorang pun yang berani ngusir Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid, cuma bisa diam saja.

Sejujurnya, aku sendiri merasa risih dengan kehadiran Dilan. Tapi, mau gimana lagi? Masa, harus kuusir. Gak enak.

Dia minta kertas, lalu kukasih. Di kertas itu, dia nulis:

Informasi:
Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu:
1. Nandan (Kelas 2 Biologi)
2. Pak Aslan (Guru Olahraga)
3. Tobri (Kelas 3 Sosial)
4. Acil (Kelas 2 Fisika)
5. Dilan (Manusia)


Aku senyum membacanya. Kemudian, kulihat dia mencoret semua nama di daftar itu, kecuali nama dirinya.
“Kenapa?” kutanya, maksudnya kenapa semua dicoret kecuali nama dirinya?
“Semuanya akan gagal,” dia bilang begitu dengan berbisik.
“Kecuali kamu?” tanyaku.
“Iya,” kata Dilan sambil senyum. “Doain.”
"Iya", kataku pelan sekali. Ah! Jantungku berdenyut.

Waktu itu, kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri, seolah-olah tidak merasa terganggu oleh hadirnya Dilan, meskipun aku yakin mereka pasti gak suka.

Kulihat Nandan, duduk terus di bangkunya, seperti orang bingung yang gak suka ke Dilan, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Pak Atam, guru pelajaran Bahasa Indonesia, sudah datang masuk kelas, tapi Dilan tidak pergi. Tetap saja dia duduk.

Edan ini orang, pikirku! Dia benar-benar ikut pelajaran Pak Atam.

Sambil berbisik, aku ngomong ke dia:
”Nanti, kamu dialpain di kelasmu.”
“Gak apa-apa,” jawabnya seraya tetap memandang ke depan, menyimak pelajaran, sampai akhirnya Pak Atam tahu ada seorang penyelundup:
“Kenapa di sini?” tanya Pak Atam.
Semua kawan-kawan sekelas memandang ke arah Dilan. Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu dan menegurnya.
“Salah masuk,” jawab Dilan.
Dilan beranjak dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak respek kepadanya.

5
Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul untuk jalan di sampingku dan bilang:
“Aku harusnya ngajak kamu pulang naik motor.”
Kujawab, “Gak usah.”
“Tapi gak jadi,” kata Dilan. “Karena aku tahu kamu akan bilang gak usah.”

Mendengar itu aku senyum, kupandang dia sebentar dan dia juga senyum.

Kalau harus jujur, sebetulnya aku bisa aja nerima ajakan Dilan untuk pulang naik motor berdua dengannya, tapi aku merasa belum waktunya. Benar-benar itu lebih karena aku tidak ingin dilihat terlalu dekat dengan dia dan aku tidak tahu mengapa. Soal bahwa Dilan adalah anggota geng motor yang harus aku waspadai, kukira Dilan tidak seperti yang aku duga. Dia malah selalu bisa membuat aku tersenyum. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan saat itu.
“Aku mau datang ke rumahmu,” katanya tiba-tiba. “Malam ini.”
Hah? Aku kaget.
“Jangan!”
“Kenapa?” dia nanya.
“Ayahku galak.”
“Menggigit?”
“Serius, jangan!”
“Aku tidak takut ayahmu.”
“Jangan!” kataku. “Pokoknya jangan.”
“Aku mau datang,” katanya sambil berlalu.
“Jangan, ih!”

Tanpa aku sadar, aku bicara dengan sedikit agak teriak. Aku jadi merasa malu. Kupandangi banyak arah, berharap tak ada orang yang akan denger.

6
Malamnya, beneran Dilan datang.

Itu, kira-kira pada pukul tujuh malam. Awalnya kudengar suara motor, masuk ke halaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung bisa yakin, tidak salah lagi, itu pasti Dilan. Aku Kenal suara motornya.

Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku dan bersama perasaanku yang langsung tak
karuan. Biasanya ayahku jarang ada di rumah, tapi sudah hampir tiga hari ini dia cuti.

Malam itu, ayahku sedang ada di ruang tengah, sibuk membetulkan radio CB-nya. Ibuku juga di sana,
sedang mencatat urusan kegiatan anggota Persit Kartika Chandra Kirana (PERSIT adalah akronim dari Persatuan Istri Tentara).

Kutebak jika bel rumah berbunyi, maka salah satu di antara merekalah yang akan membuka pintu, menyambut Dilan (kalau benar tamu itu adalah Dilan).

Ya, Tuhan, bisikku dalam hati. Kututupi kepalaku dengan bantal sambil tiduran di kasur. Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog di sana, bicara dengan Dilan, tapi tidak bisa kudengar. Aku ingin tahu, tapi aku merasa akan lebih baik jika tetap diam di kamar.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara motor yang pergi dari halaman rumahku. Ya, jika benar itu Dilan, maka dia sudah pergi.

Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajarku, meneruskan makan malamku sampai habis, sambil terus kepikiran soal Dilan yang datang. Lepas itu, aku keluar dari kamar untuk menyimpan piring makanku.
“Tadi ada tamu,” kata ibu yang berpapasan denganku.
“Oh? Siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Nanyain kamu,”
“Siapa?” kutanya.
“Katanya utusan kantin sekolah,” jawab ibu sambil memasukkan buku ke dalam laci di meja tengah.
“Utusan, apa, sih? Kayak nabi aja,” kudengar ibu seperti menggerutu.

Hah? Utusan Kantin? Aku nyaris ketawa. Aku makin yakin itu pasti Dilan.
“Ngapain?” tanyaku.
“Apa itu?” ibu bagai mikir. “Nawarin menu baru.”
“Menu baru kantin?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha.”
Kali ini, aku tidak bisa nahan ketawa.
“Malem-malem nawarin menu. Aneh-aneh aja,” kata ibu.
“Ha ha ha. Terus, Ibu bilang apa?” tanyaku.
“Tau, tuh! Ayah yang ngobrol.”
Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar, telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya. Tidak usah ditanya bagaimana dia tahu nomor telepon
rumahku. Kukira dia banyak akal.
“Hallo?” kusapa yang nelepon.
“Selamat malam.”
“Malam.”
“Bisa bicara dengan Milea?”
“Iya, saya.”
“Aku Dilan.”
“Hey.”
Mendadak jantungku langsung deg-degan.
“Milea, bisa bicara dengan aku?”
“Iya.”
“Tadi, aku datang.”
“Iya.”
Aku langsung senyum, mengingat apa yang dikatakan oleh ibu bahwa dia mengaku utusan kantin sekolah yang nawarin menu baru, tapi tidak kubahas soal itu ke Dilan.
“Kau tau aku datang?” tanya dia.
“Tau.”
“Kau tau kenapa aku datang?”
“Kenapa?”
“Kalau aku gak datang karena takut ayahmu, aku pecundang.”
Aku senyum
“Jadi, aku datang,” katanya. “Kalau dimarah, bagus.”
“Kok bagus?”
“Kalau dimarah, nanti kamu jadi kasihan ke aku.”
Dilan ketawa. Aku hanya senyum.
“Kasihan gak?”
“Tadi dimarah?” kutanya dia.
“Enggak.”
“Syukurlah.”
“Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur.”
“Oh.”
“Kenapa sekarang bisa ngomong?” tanya Dilan. “Kamu ngigau?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha ha.”
Waktu dia ketawa, sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Jual mahal sikit, laah!
Selain itu, aku juga khawatir ayah dan ibu mendengar obrolanku, jadi kuusahakan bicara yang singkat-singkat saja dengannya. Ingat, waktu itu aku masih anak SMA yang masih merasa gak enak kalau mereka tahu itu telepon dari laki-laki, meskipun belum tentu juga mereka akan negur.
“Di mana?” Di luar kesadaranku, tiba-tiba aku bertanya.
“Siapa?” dia nanya.
“Kamu.”
“Kamu?”
“Dilan,” jawabku.
Akhirnya, kusebut juga namanya. Ah, itu adalah hari pertama aku menyebut namanya secara langsung kepadanya. Dia harusnya kaget kenapa aku tahu namanya, atau dia gembira karena ramalannya terbukti benar bahwa aku akan tahu namanya. Tapi, dia tidak membahas soal itu.
“Aku?” tanya Dilan bagai kepada dirinya sendiri. “Aku di Mars.”
“Ketawa jangan?” tanyaku, karena aku menyangka dia sedang melawak.
“Aku di Jalan Mars, Margahayu Raya.”
“Oh, he he he.”
Di Bandung memang ada Perumahan Margahayu Raya, nama-nama jalannya diambil dari nama-nama planet.

7
Setelah usai nelepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayah nanya: “Telepon dari siapa?
Kujawab: “Dari Beni.”

Dan di kamarku, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku aku pakai untuk mikirin dialog ku dengan Dilan di telepon:
“Boleh aku ramal?” dia nanya.
“Iya.”
“Iya, apa?”
“Boleh,” jawabku.
“Aku ramal,” katanya. “Nanti, kamu akan jadi pacarku!”

Gila!

Kayaknya bagi dia itu mudah saja mau ngomong apa pun. Seolah hal itu bukan sesuatu yang berat untuk ia katakan.
“He he he.”
“Percaya gak?” tanya dia.
Maksud dia, dia nanya aku percaya gak dengan ramalannya itu?
“Musyrik,” kujawab.
“Ha ha ha,” Dilan ketawa.
Aku juga ketawa tapi kutahan.

Entah gimana, lambat laun, aku mulai merasa senang kalau sudah ngobrol dengan Dilan malahan suka berharap bisa lama. Tiap bicara dengannya, berasa mendapat sesuatu yang tidak bisa kudapatkan dari ketika ngobrol dengan yang lain. Dan kalau aku harus jujur, aku juga merasa mulai suka kepadanya.
“Hey, Milea.”
“Iya.”
“Tau gak kenapa aku gak langsung jujur ke kamu?”
“Jujur apa?”
“Jujur bilang ke kamu, aku mencintaimu?”
“He he he.”
Mukaku pasti merah.
“Kan, sudah lewat surat?” kataku senyum.
“Maksudku ngomong langsung ke kamu”
“Terus? Kenapa gak langsung?”
“Kalau mau, ya aku bisa,” katanya. “Gampang.”
“Iya. Kenapa enggak?”
“Kalau langsung, gak seru,” katanya. “Jadi biasa.”
Aku ketawa. Dilan juga.
Ah, dia pasti selalu bisa membuat aku ketawa, ya, minimal tersenyum.
“Nanti kalau kamu mau tidur,” katanya. “Percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger.”
Aku ketawa kecil

8
Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan.

Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebagaimana dia begitu mudahnya berterus terang, bahwa aku sudah punya pacar? Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebelum dia tahu sendiri, dan lalu kecewa, bahwa aku sudah punya pacar?

Iya, kayaknya harus bilang. Aku harus bilang ke Dilan bahwa aku sudah punya pacar, biar sejak itu Dilan akan berhenti mengejarku dan langsung membuat aku sedih, karena tidak akan ngobrol lagi dengannya di telepon. Tidak akan lagi dideketin orang aneh macam dia, yang kalau aku harus jujur, sebetulnya aku juga suka. Dia itu seru!

Ah tidak! Aku gak mau bilang. Biarin aja.

Atau haruskah aku bilang ke Beni, bahwa ada orang, di Bandung, satu sekolah denganku, namanya Dilan, sedang berusaha mendekatiku?

Kayaknya jangan, deh. Aku tahu Beni, jika kukatakan, justru malah akan nambah masalah daripada berusaha menyelesaikannya. Dia itu sumbunya pendek, gampang meledak.

Ah, kepada siapa aku harus membahas soal ini. Ke Beni? Itu namanya bunuh diri!

Lebih baik aku tidur.

Di luar turun hujan. Kepalaku dipenuhi kata-kata:
“Kamu di mana sekarang, Dilan?”
...
“Oh, iya lupa, tadi kamu sudah bilang: di Mars. He
he he.”
...
“Hati-hati di jalan, Dilan.”

Kututup mataku dengan bantal dan lalu kuingat lagi kata-katanya:
“Nanti kalau kamu mau tidur percayalah
aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh, kamu
gak akan denger.”

Itu membuat aku langsung menggumam:
“Selamat tidur juga, Dilan.”

Habis itu, aku senyum bagai malu pada diriku sendiri.


5. PAPAN PEMBATAS KELAS

1
Aku baru selesai dari kantin bersama Nandan, Hadi, dan Rani. Gak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung Bi Eem? Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Bicara denganku. Setidaknya dengan itu, aku
bisa tahu langsung darinya, benarkah dia suka ngeganja seperti yang dikatakan oleh Nandan dan Dito? Benarkah dia suka minum minuman keras, seperti yang dikatakan oleh Nandan, Jenar, dan Rani? Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang dikatakan oleh Nandan?

Jika aku ingin tahu tentang Dilan sebenarnya, aku tidak bermaksud mau ikut campur urusan Dilan. Siapalah aku ini. Dilan bukan pacarku, apa urusanku memikirkan diri dan kehidupannya, tapi aku tidak tahu mengapa ingin selalu mengetahui dirinya dengan lebih jauh lagi. Apalagi aku selalu mendapat informasi yang buruk tentang Dilan. Sebenarnya, aku tidak ingin langsung percaya
tentang semuanya itu dengan gampang.

Aku betul-betul ingin nanya langsung ke orangnya, dan jika rumor itu benar, ya, sudah, aku jadi tahu siapa dirinya. Habis itu bagaimana aku harus bersikap ke dia, ya, itu adalah hakku.

Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!

Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi gini?


Bersambung :)

Rabu, 15 Juli 2015

BERTEMU MILEA

Beberapa hari lalu, di sebuah café di daerah jalan Riau, Bandung, malam itu aku bertemu dengan Milea Adnan Hussain, yang datang bersama tiga kawan kantornya. Mereka adalah Mbak Astri, Mas Bambang dan Kak Meggy. Aku belum pernah mengenal teman-temannya Milea sebelum hari itu.

Pertemuan yang bagus. Setelah selesai pesan makanan, kutanya Milea, “Bolehkah aku aplod foto pertemuan ini?”
“No. Please!”, katanya, sambil mengunyah Beef Cordon Bleu
“Oke”

Ke sana, aku membawa enam buah buku Dilan, sesuai yang dipesan oleh Milea sebelum aku tiba, yaitu 3 buah buku Dilan pertama dan 3 buah buku Dilan kedua. Kemudian buku-buku itu diberikan kepada tiga kawannya setelah aku disuruh memberinya tandatangan.  Kukira mereka bahagia, setidaknya itulah yang bisa kuduga.

Di sana, kami banyak makan dan juga bicara, mulai dari membahas Ridwan Kamil, Bandung sekarang, keluarga, makanan dan banyak lagi yang lainnya. Sebagian besar diisi oleh ketawa. Aku disuruh nraktir, karena katanya aku sudah banyak uang dari hasil royalty penjualan buku Dilan, seolah-olah dia lupa bahwa sebenarnya dia juga dapat bagian.

Ketika membahas buku Dilan, Milea banyak bicara. Dia cerita tentang kisah asmaranya dengan Dilan secara lebih detail lagi daripada yang bisa aku tulis di buku. Dia juga bicara tentang Yugo dengan lebih detail lagi. Dia juga bicara tentang Bunda dengan lebih detail lagi. Dia juga bicara tentang Kang Adi dengan lebih detail lagi, sama seperti ketika dia berbicara tentang Piyan, Wati dan lainnya. Seolah-olah itu adalah waktunya untuk dia bicara sepuasnya. Dan dia nampak sedih ketika harus membahas nasib Akew.

Katanya, ketika membahas buku Dilan babak kedua, dia merasa seperti banyak menangis di situ, atau setidaknya dia jadi nampak seperti itu.
“Bagian senangnya kurang banyak diceritain tuh. Kan ada masa-masa pacaran juga di situ” katanya dan dia ketawa sebelum kemudian dia minum.
“Kalau diceritakan, takut ketebelan bukunya, ya Kang?”, kata Mas Bambang seperti membelaku dan ketawa
“Kalau diceritain semua, wah pasti tebel banget ya?”, kata Milea nyaris ketawa.
Aku harusnya bilang iya, tapi hanya ketawa. Mas Bambang bertanya kepadaku tentang berapa lama buku itu ditulis, kujawab dengan bilang:
”Lama karena Lia ngasih datanya suka telat”.
Mas Bambang ketawa.
“Aduuh. Aku sibuk ngurus dunia jaman sekarang”, jawab Milea ketawa. “Oh, hampir lupa. Coba lihat halaman ini…”, katanya sambil membuka buku Dilan pertama. “Nah, di halaman 18. Di sini kan, ditulisnya: aku nempati rumah sejak tahun 1997. Bukan ’97 deh, tapi ‘99. Aku kan nikah tahun 1999”
“Oh. Tapi kan data yang aku terima tahun 1997”, kataku membela diri
“Ya, lupa. Aku lupa. Sori. Ralat deh”
“Nanti aku sampaikan ke pembaca”, kataku kepadanya. "Di buku Dilan kedua juga ada ralat. Udah aku sampaikan ke pembaca".
“Oh yang kamu bilang itu ya?"
"Iya. Gak prinsip sih, tapi penting, karena itu data peristiwa", kataku (Bagian yang diralat itu adalah di halaman 80 harusnya Rabu, bukan Selasa. Di halaman 120 harusnya 1968, bukan 1976. Di halaman 218 harusnya Disa, bukan Airin)
"Oke"
"Ada komentar lagi?", kutanya
"Harusnya kalau republsih dibikin detail lagi"
"Siap", kataku ketawa
"Oh. Itu, Beni tuh gak cuma ngomong Pelacur ke aku. Waktu itu, dia juga ngomong: Setan Perempuan”, katanya dan ketawa. “Ah, tapi sudahlah”
“Banyak Pembaca minta Dilan bicara”, kataku tiba-tiba membelokkan pokok bahasan.
“Bicara gimana?”
“Ya bicara. Menjelaskan, terutama menyangkut buku Dilan kedua. Bagaimana menurut sudut pandangnya tentang peristiwa yang dia alami terutama di bab-bab terakhir”
Milea diam, dengan sikap bagai orang berfikir. Kulihat kedua alisnya dia naikkan ke atas.
“Aku terlalu ngontrol Dilan ya di buku kedua?”, katanya dengan wajah sedikit agak murung
“Kan sebelum diterbitkan, udah konfirmasi dulu, terus kamu setuju, ya udah”, kataku.
Dia ketawa, semua juga ketawa.
“Dilan nanti mau bicara apa?”, tanya dia dengan wajah sedikit agak cemas
“Kan dia juga berhak bicara”, kataku dan kemudian minum
“Sebelum terbit, aku baca dulu dong?”. Dia memohon dengan senyum
“Oke”

BERSAMBUNG, karena ngantuk

Selasa, 14 Juli 2015

SEJARAH PERJUANGAN THE PANASDALAM


THE PANASDALAM adalah akronim dari: THE-nya dari aTHEis, PA-nya dari PAganisme, NAS-nya dari NASrani, DA-nya dari Hindu budDA, LAM-nya dari isLAM
Didirikan tanggal 18 Agustus tahun 1995, di salah satu ruangan kuliah yang ada di kampus ITB (Institut Teknologi Bandung), jalan Ganesha 10 Bandung.
Didirikan sebagai sebuah negara dengan nama: NKRTPD, singkatan dari Negara Kesatuan Republik The Panasdalam. Menjadi sebuah negara merdeka yang memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk lampias dari rasa kecewa kepada presiden Indonesia (Bapak Suharto), yang waktu itu dianggap sudah harus meletakan jabatannya. 
NKRTPD adalah negara kecil, berukuran 8X10 meter. Penduduknya merasa kaya raya karena kalau makan atau minum pada pergi ke luar negeri, yaitu di Indonesia, demikian juga kalau ee atau pipis. Orangtua dan pacar, semuanya pada tinggal di luar negeri.

Di saat awal NKRTPD berdiri, Pidi Baiq mengangkat dirinya sebagai Imam Besar NKRTPD, dan menunjuk Deni Roden sebagai Presidennya. Deni Roden, adalah Presiden yang sangat dibanggakan oleh imam Besar THE PANASDALAM, karena dialah satu-satunya Presiden di dunia yang hapal nama penduduk di negaranya, karena jumlahnya cuma 18 orang

Tahun 1998, ketika Soeharto mengundurkan diri menjadi Presiden Indonesia, NKRTPD langsung mengadakan muktamar yang pertama, yang diselenggarakan di daerah Dago Tee Huis, dengan hasil keputusan bersedia bergabung lagi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengubah namanya menjadi D.I THE PANASDALAM, atau Daerah Istimewa THE PANASDALAM, untuk merasa jadi setara dengan D.I. Jogjakarta dan D.I. Aceh
Tahun 2003 D.I The Panasdalam mengadakan Muktamar yang kedua, diselenggarakan di daerah Lembang, dengan hasil keputusan D.I. THE PANASDALAM berubah menjadi sebuah group band, dengan nama: THE PANASDALAM Kaumusikampusentris ITB. Dan, hanya manggung di dalam kampus ITB saja.
Bulan Maret tahun 2004, The Panasdalam Kaumusikampusentris ITB, sesuai dengan hasil obrolan malam hari di daerah jalan Ciliwung, THE PANASDALAM Kaumusikampusentris ITB berubah menjadi THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain. Dan menjadi tahun awal untuk THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain mulai manggung di luar kampus ITB.
Bulan Desember tahun 2004, tepatnya di salah satu studio rekaman yang ada daerah jalan Purnawarman Bandung, THE PANASDALAM Kaumusikurangajarasain mengubah namanya lagi menjadi THE PANASDALAM BAND. 
Pertengahan tahun 2005, di bawah manajer berinisial G.I, entah bagaimana awalnya, THE PANASDALAM BAND sempat dua kali tampil di acara salah satu stasiun televisi nasional dan menjadi band yang membawakan lagu “Rintihan Kuntilanak” - sebagai soundtrack untuk di salah satu film horor.
Sebagian besar orang-orang THE PANASDALAM menentang hal itu, dan terjadilah perdebatan yang kemudian menyebabkan lahirnya kelompok “THE PANASDALAM BRENGSEK” (yaitu kubu orang-orang penentang THE PANASDALAM BAND masuk teve)
Imam Besar THE PANASDALAM membubarkan THE PANASDALAM BAND.Perselisihan yang hampir menyebabkan adu jotos itu (sempat terjadi perkelahian kecil yg bisa segera dilerai), akhirnya berakhir dengan munculnya “Kesepakatan Ciliwung” (karena dibahas di daerah jalan Ciliwung Bandung), bahwa: ”The Panasdalam harus kembali ke tujuan semula, untuk tidak masuk teve, tetapi lebih memilih masuk sorga”.

Sejak adanya “Kesepakatan Ciliwung”, THE PANASDALAM BRENGSEK langsung membubarkan diri dan Imam Besar THE PANASDALAM mendirikan kembali THE PANASDALAM BAND dengan memasukkan beberapa personil baru untuk menggantikan personil THE PANASDALAM BAND yang menyatakan mundur.
 
Salam Jari Kelingking adalah Salam Resmi The Panasdalam sejak 2002
Tahun 2006, pada muktamar THE PANASDALAM ke III, yang diselenggarakan di Lembang, melahirkan sebuah keputusan: Satu, THE PANASDALAM BAND berubah lagi menjadi THE PANASDALAM BANK. Sama sekali bukan Band. Nama Bank diambil untuk tujuan pencitraan, agar ada muncul kesan bahwa kami selalu banyak uang. Dua, THE PANASDALAM BANK harus taat pada isi “Kesepakatan Ciliwung” dari sejak itu dan untuk selama-lamanya

Tahun 2013, Posisi THE PANASDALAM BANK, berubah menjadi cuma sebagai bagian kecil dari yang kemudian disebut sebagai: THE PANASDALAM SERIKAT. 
-THE PANASDALAM SERIKAT menaungi banyak unit-unit kegiatan di dalamnya, seperti: 
-THE PANASDALAM BANK, (Band The Panasdalam)
- bieqipid, (Toko oleh-oleh tradisional The Panasdalam)
-THE PANASDALAM INSTITUTE, (bergabung dg Perusahaan Listrik MandiriRakyat, LIMAR) 
-FUCK THE PANASDALAM FOUNDATION, (Badan keuangan The Panasdalam)
-KINGDOM OF HAVE FUN THE PANASDALAM, (Pasukan khusus tour kampus)
-FPIKHB (Front Pembela Islam Kristen Hindu dan Buddha), 
-MOU THE PANASDALAM (Majlis Of understanding The Panasdalam - semacam
 MUI nya Indonesia)
-KEPALANG MERAH THE PANASDALAM (Palang Merah-nya The Panasdalam)
-PASUKAN BERANI HIDUP THE PANASDALAM (Tentaranya The Panasdalam)
-URINOIR Co.ltd 
-RUPABOS (Rumah Penampungan Anak Bolos Sekolah)
-THE PANASDALAM DISABILITAS (Kegiatan kelompok kawan-kawan Disabilitas) -KATAMORGANA (Klab menulis) dan lain-lain sebagainya


Tahun 2009, kata SERIKAT, yang ada di belakang nama THE PANASDALAM, sengaja dibuang, agar tidak terlalu boros didalam menggunakan hurup alfabet, sehingga namanya menjadi cuma THE PANASDALAM. 
Tahun 2009, Imam Besar THE PANASDALAM membubarkan THE PANASDALAM FANS CLUB. “Mari, jangan fans, ini lebih baik kalau kita jadi kawan”, katanya. 
Bahwa kemudian di awal tahun 2010-an banyak kelompok yang menyatakan dirinya sebagai sebuah NEGARA, termasuk dengan memakai embel-embel REPUBLIK atau yang sejenis dengan itu, maka dengan ini, kami umumkan, bahwa:THE PANASDALAM yang kini ada, bukan lagi sebagai sebuah negara, melainkan cuma komunitas biasa yang ada di dunia. 
Imam Besar The Panasdalam bersama 
kawan2 mahasiswa filsafat di daerah kawasan Rusia
THE PANASDALAM memiliki semboyan resmi, yaitu: “Argumentum In Absurdum” sebagai sebuah frase yang diambil oleh Imam Besar THE PANASDALAM pada isi pidato Paus Yohanes Paulus II di Polandia pada waktu musim salju.
Sedangkan motto “Ingin Berak Sejak 1995” dipake sebagai hal khusus untuk sesekali mengganti semboyan “Argumentum In Absurdum” pada saat diinginkan.k kelompok yang menyatakan dirinya sebagai sebuah NEGARA, termasuk dengan memakai embel-embel REPUBLIK atau yang sejenis dengan itu, maka dengan ini, kami umumkan, bahwa:THE PANASDALAM yang kini ada, bukan lagi sebagai sebuah negara, melainkan cuma komunitas biasa yang ada di dunia. 
SD Negeri The Panasdalam
Berikut, di bawah ini, adalah beberapa kata ungkapan yang sering dilontarkan oleh THE PANASDALAM dan oleh unit-unit yang ada di dalamnya:
“Kami tidak mencari uang dari The Panasdalam, karena kami masih bisa minta kepada orangtua” (The Panasdalam)
“Dengan musik, kami tunjukkan kelemahan kami di dalam bermusik” (The Panasdalam Bank)
“No tolerance for intolerance” (Front Pembela Islam Kristen Hindu dan Buddha)
“Bangkitlah Musik Thailand” (The Panasdalam Bank)
“Bangkitlah Mafia Musik Indonesia” (The Panasdalam Bank) 
Sekarang, sejak tanggal 12 Januari 2015, THE PANASDALAM berumah di Jalan Ambon nomor 8 A Bandung atau di hook pertigaan antara jalan Ambon dan Jalan Flores. Di sana ada Galeri The Panasdalam, untuk siapa pun yang mau pameran dan gratis. Di sana ada Panggung The Panasdalam, untuk siapa pun yang ingin tampil dan gratis. Kalau setiap Rabu sore ada acara "INSTUDENTIL", yaitu acara ngejam musik anak-anak sekolah yang ada di Bandung.
Di sana juga,  suka ada acara PENGADILAN MUSIK. Dengan Jaksa penutup Umum tetap: Pidi Baiq dan Budi Dalton. Hakimnya juga tetap, yaitu Man Jasad. Terdakwanya adalah siapa saja yang dipilih oleh kami, bisa penyanyi atau group band. Beberapa di antara yang pernah diadili adalah MUSIKIMIAnya Fadly PADI, SPEAKERFIRST, Ikhsan Skuter dll. Si terdakwa diperbolehkan membawa pembela yang dipilih sendiri oleh terdakwa, bisa seorang, dua atau lebih
Poster PENGADILAN MUSIK
Ada juga acara PENGADILAN BUKU, beberapa penulis yang pernah diadili adalah Sujiwo Tedjo dan Risa Saraswati. PENGADILAN MUSIK atau PENGADILAN BUKU diselenggarakan lebih berdasar pada oleh karena kami iri.
Foto-foto kegiatan pertunjukan di Panggung dan pameran di Galeri The Panasdalam:




Rumah The Panasdalam waktu sedang dibangun
Di sana juga ada cafe, namanya Kantin Nasi On The Panasdalam, tempat tamu bisa nongkrong sambil makan, sambil minum, nraktir atau ditraktir.
 Cafe di Rumah The Panasdalam yang rame selalu setiap hari

 Kunjungan kawan-kawan Crossboy Bandung 1970 ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan Mbak Sophi ke Rumah The Panasdalam


 Kunjungan TIM JKT48 dan Melodi JKT48 ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan kawan Komeng ke Rumah The Panasdalam

Kunjungan kawan-kawan COKELAT ke Rumah The Panasdalam

 Kunjungan Sultan Cirebon ke Rumah The Panasdalam
Tiap tahun sekali, The Panasdalam menyelenggarakan acara KEMAH MUSIM KEMARAU, yang diikuti oleh siapapun yang mau ikutan, asal bukan bayi, atau orangtua yang sudah uzur.
   
Logo dan poster KEMAH MUSIM KEMARAU babak II tahun 2015

Tahun 2015, The Panasdalam resmi membuat unit The Panasdalamovie, bekerjasama dengan Maxima Pictures untuk menggarap beberapa judul film. Film pertama yang sudah selesai syuting dan masih dalam proses editing, adalah BARACAS (Barisan Anti Cinta Asmara), dibintangi oleh Agus Ringgo, Tika Bravani, Stela JKT48, Ajun, Budi Doremi, Gian dll.  
Pidi Baiq menjadi sutradara film BARACAS

 Kegiatan syuting film BARACAS

 Kegiatan syuting BARACAS, setelah makan siang

Logo Thepanasdalamovie

Demikian, mudah-mudahan kamu semua masih belum mengerti. Salam sayang dan untuk selama-lamanya!

Dari @the_panasdalam